Agatha menatap penuh protes pada Mario yang dengan santainya malah tersenyum manis. Ada keinginan besar dalam benaknya untuk melemparkan sepatu miliknya pada muka menyebalkan Mario.
"Gimana? Gue cuma ngasih penawaran sekali." Mario menaik turunkan alisnya.
Bener-bener, ya!
"Yang bener aja!" protes Agatha.
Mario terkekeh. "Gak maksa sih," ucapnya dengan wajah tengilnya.
Agatha mengamati kuku di kesepuluh jari tangannya, panjangnya lumayan. Kalau kena muka Mario sepertinya cukup mengasyikan.
"Yang. cepetan dong, mau gak?"
Agatha menggeram kesal, Mario itu benar-benar menyebalkan! Kalau saja bukan karena tuntutannya sebagai ketua osis mana mau ia menurunkan harga dirinya pada makhluk abstrak macam Mario. "Ya udah," sahut Agatha ketus.
Mario tersenyum kesenangan. "Senyum dong, masa mau ngajak orang pacaran mukanya jutek. Ntar kalo gak di terima gimana?"
"Diem deh lo!"
Mario terkekeh lagi. Kemudian cowok itu seperti menengokan kepala kesana-kemari. Hingga membuat Agatha kebingungan dibuatnya. Dan selanjutnya yang cowok itu lakukan benar-benar membuat emosi yang sejak tadi ia tahan melampaui batas.
"WOI SINI DULU! AGATHA MAU NEMBAK GUE! GUE MAU KALIAN JADI SAKSINYA!" teriak Mario kepada orang yang tengah berlalu lalang di dekat keduanya. Suasana emang lagi lumayan ramai, ditambah sekarang jam istirahat tengah berlangsung.
Akibat teriakan dari Mario barusan banyak para siswa yang langsung berbondong-bondong mendekati keduanya. Malahan sampai membaut lingakaran yang menyisakan Mario dan Agatha di tengahnya.
"Ayo, Yang," interupsi Mario sembari tersenyum lebar.
Tolong ingatkan Agatha, jika semua tujuan sucinya telah terlaksana ia akan membuat perhitungan yang setimpal pada cowok gila ini! Agatha berdecak kesal, namun mau tak mau ia akhirnya menatap Mario juga. Para siswa telah menatapnya dengan penuh minat. Agatha menghela napas beratnya, kemudian mulai membuka mulutnya dan ... "Lo harus jadi pacar gue!" ucap Agatha yang mampu membuat semua orang melongo mendengarnya.
Lalu selanjutnya terdengar kekehan demi kekehan dari orang yang mengerubunginya, termasuk Mario.
"Kenapa kalian ketawa?! Lo juga, kenapa ngetawain gue!" sentak Agatha pada semua orang.
Mario menatap Agatha dengan kerlingan jahilnya. "Gak ada orang yang nembak pake cara kayak gitu, yang ada orang yang lo tembak kabur."
"Banyak maunya ya lo!"
"Harus lemah lembut dan semangat. Gue mau lo ulangin."
"Ulangin?! Lo gila."
Mario menggeleng. "Nggak, gue cinta sama lo."
"Sinting lo."
Mario terkekeh. "Ayo ulangin, pake kata-kata yang puitis."
"Banyak maunya banget sih."
"Ya udah terserah lo, tapi harus romantis."
"Ayo Ta!"
"Gece njir."
Mungkin sekiranya seperti itulah orang-orang yang menyorakinya.
Agatha menghela napasnya, lalu menatap Mario dengan lebih santai dari sebelumnya. "Gue gak bisa berkata-kata intinya lo mau gak jadi pacar gue?"
"Enggak."
Dahi Agatha berkerut samar, begitupun orang-orang yang mengerubunginya. Agatha menatap Mario dengan penuh tanya.
Raut Mario yang serius lambat laun mulai berubah menjadi jenaka. "Maunya langsung jadi suami lo."
"Gila ya lo!" sewot Agatha yang di susul dengan suara 'cieee' dan tepuk tangan dari penonton. Dikira Agatha sedang ijab qobul apa pake di tontonin segala.
"Bubar gak lo!" teriak Agatha pada para siswa.
"Yah, gak asyik lo Ta," dengusan demi dengusan masuk ke dalam gendang telinganya. Namun, tak ayal para siswa mulai meninggalkan Agatha dan Mario berdua.
"Puas lo!" sentak Agatha pada Mario.
Mario terkekeh. "Puas apanya? Kan kita belum ngapa-ngapain," ucapnya sembari mengerlingkan sebelah matanya.
"Gila!"
° ° °
"Ngapain lo di situ? Jaga pintu?!"
Mario terkekeh, kemudian menegakan tubuhnya yang sedari tadi bersandar di dinding samping pintu kelas 12 IPA 3.
"Jaga bidadari di kelasnya," sahutnya asal.
"Di jemput doi nihyeee," celetuk Sandi yang baru saja keluar dari pintu kelas dan langsung mendapat pelototan maut dari Agatha. "Eh, enggak Ta enggak. Sory sory ... kaburrr,"
Agatha menggelengkan kepalanya, gila emang.
"Katanya lo mau ketemu kakek gue," interupsi Mario yang membuat Agatha kembali fokus pada cowok yang ada di hadapannya.
"Sekarang banget gitu?"
"Kakek gue sibuk, gak selalu ada di rumah. Besok aja mau ke Dubai, lusa mau ke New york, minggu depan mau ke Vue ...."
"Ya udah ayok!" sela Agatha, daripada makin lama mendengar ocehan gak guna Mario.
Mario nyengir lebar. "Kuy," serunya sembari menarik sebelah tangan Agatha.
"Eh, jangan kurang ajar ya!" Agatha menyentak lengan Mario yang memegangnya.
"Baru juga di pegang tangannya, gimana kalo yang la ...."
"Bisa diem gak!"
"Eh, lo mau kemana Yang?" tanya Mario begitu Agatha membelokan langkahnya ke jajaran motor yang berbaris rapi.
"Gue bawa motor," ucap Agatha sembari menghampiri motor bebek berwarna merahnya.
"Lo naik mobil gue aja," ucap Mario.
"Ogah."
"Ya terus kita jalan masing-masing gitu?"
"Ya iyalah pake tanya lagi," Agatha memparkirkan motornya.
"Lo ngapain masih di situ?" tanya Agatha begitu melihat Mario masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi.
Mario berjalan mendekat, kemudian dengan tiba-tiba duduk di jok belakang motor Agatha.
"Eh, eh, ngapain duduk situ. Turun gak!"
"Udah sih Yang, kuy jalan!" seru Mario.
Agatha menghela napas, ada yang jual stock sabar gak sih? Karena rasanya stock sabar dirinya sebentar lagi akan habis.
"Kalo gitu lo yang nyetir."
“Gak mau," tolak Mario.
"Gak tahu malu ya lo, masa cewek yang nyetir," sewot Agatha.
"Lo aja tadi nembak gue gak malu, masa nyetir doang malu."
BRUMM
Tanpa babibu lagi Agatha langsung saja menggas motornya hingga membuat Mario tertawa lebar. "Lewat mana nih?" tanya Agatha.
"Belok kanan," sahut Mario.
Agatha membelokan stang motornya ke arah kanan, jalanan lumayan sepi jadi Agatha bisa dengan leluasan mengendarai motor tanpa hambatan. Namun sedang asyik-asyiknya menyetir, ada sebuah tangan kurang ajar yang melingkar sempurna di perutnya.
"Lepasin!" sentak Agatha sembari menyentak tangan Mario yang melingkar sempurna di perutnya dengan menggunakan sebelah tangannya.
Bukannya melepaskan Mario malah menyenderkan kepalanya di bahu Agatha dan dengan terang-terangan menatap muka cewek itu. "Yo, lo kalo cari mati jangan ajak gue juga anjir," gerutu Agatha karena motor sedikit oleng karena ulah Mario.
"Btw, perut lo keknya kecil ya," celetuk Mario yang makin membuat Agatha naik pitam.
"Lepasin, atau gue teriak!" ancamnya.
Mario terkekeh. "Lucu deh pacar gue."
"Gue serius!"
"Udah sih tinggal fokus ke jalan aja," ucap Mario.
"Awas aja kalo udah sampe!"
Mario terkekeh sebagai jawaban.
Hingga sekitar 15 menit kemudian keduanya telah sampai di kediaman kakeknya Mario. Agatha langsung turun dari motor dan tanpa babibu lagi langsung memukul kepala Mario dengan ranselnya berisi beberapa modul yang tebalnya gak kira-kira.
"Kurang ajar, lo! Rasain!"
BUK ... BUK ... BUK ...
"Aws, Yang sakit," ringis Mario sembari melindungi bagian kepalanya.
Agatha menghentikan aksinya dan menatap Mario dengan bengis. "Mati aja san ...."
"Siapa yang mati?" tanya sebuah suara berat di belakang Agatha.
Agatha sontak menoleh ke belakangnya. Ups, sepertinya Agatha dalam bahaya.