Kakek Mario

1223 Words
"Jadi gimana?" tanya Panji a.k.a kakek Mario. Hampir saja Agatha kehilangan kesempatan berharganya karena telah menyumpah serapahi cucu Donatur utama itu di hadapannya sendiri. Untungnya Mario paham situasi, dan langsung memberitahukan maksud dan tujuan Agatha datang ke sini. Hingga di sinilah Agatha sekarang, duduk dengan agak canggung di bawah gazibo yang di sediakan dekat kolam berenang samping rumah, hampir saja Agatha berkeinginan suatu saat untuk berenang di situ jika saja ia lupa kalau pak Panji ini adalah kakek dari seorang cowok gila bernama Mario. "Stt, Yang. Lamunin apa'an sih," tegur Mario sembari menyenggol sebelah lengan Agatha karena sejak tadi cewek itu hanya terdiam dengan tampang bloonnya. Agatha memelototi Mario yang malah terkesan bercanda pada keadaan genting seperti ini. "Mm ... gini pak ...." "Panggil kakek aja," sela Panji sembari tersenyum ramah. Bahkan di usianya yang hampir berkepala 6, Panji masih tetap terlihat bugar. Agatha mengangguk menyetujuinya. "Gini kek, maksud kedatangan saya ke sini itu ...." "Mau ngelamar gue kan?" sela Mario sembari nyengir lebar yang hampir-hampir saja Agatha melayangkan pukulan mautnya jikalau ia tak mengingat di depannya ada Panji. Maka akhirnya yang mampu Agatha lakukan adalah menahan segala bentuk kekesalannya dengan tersenyum. "Rio, jangan gitu. Tuh liat, pacar kamu malah salting," tegur Panji yang sebenarnya tidak membantu sama sekali. Yang ada Agatha malah ingin meledak-ledak saat ini juga. Pacar? Hell no! Mario mah emang dasarnya udah gila, dia cuma cengengesan gak jelas. Agatha yang sudah sangat kesal, dan kebetulan Mario duduk di sampingnya akhirnya tak lagi bisa menahan tangan mulusnya untuk mencubit paha Mario. "Aws, sakit Yang," ringis Mario sembari mengelus pahanya yang barusan kena elusan sayang dari Agatha. Agatha memelototkan matanya, tanda kalau Mario harus segera diam atau ia akan melakukan yang lebih dari ini. "Diem, lo," desis Agatha sepelan mungkin. Ya walaupun Panji masih bisa melihat interaksi di depannya ini. Ia tak ambil pusing, ia malah terkekeh geli menyaksikan kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. "Ekhm," Panji berdehem hingga membuat Agatha kembali menolehkan tatapan padanya. "Jadi gimana?" "Eh, maaf kek." Agatha sudah jelas sangat malu, ia dengan kurang ajarnya malah membuang-buang waktu orang yang sangat sibuk seperti Panji secara cuma-cuma. "Jadi gini kek, SMA kita bakal adain acara  penggalangan dana buat penderita kanker, tapi masalahnya kita masih belum punya donaturnya." Agatha menatik napasnya. "Saya selaku ketua osis, berharap kakek datang di acaranya nanti." Panji tersenyum. "Jadi kamu butuh dana?" Agatha belum terbiasa dengan perkataan yang sangat prontal seperti itu, ya walaupun memang benar ia mengharapakan suntikan dana dari Panji tapi mungkin basa-basi terlebih dahulu akan sedikit sopan. Maka dari itu Agatha hanya mampu mengangguk dengan malu-malu. "Kapan acaranya?" "Nanti lusa kek," sahut Agatha cepat. "Mmm ...." Panji terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu, mungkin ia tengah memikirkan jadwalnya yang menggunung. "Kamu siapanya Mario?" Eh, kok gak nyambung. Dahi Agatha berkerut samar. "Maksudnya kek?" "Gak usah pura-pura b**o deh Yang, lo kan pinter," celetuk Mario. Sekali menatap wajah Mario, Ada keinginan besar untuk mendaratkan telapak tangannya di sana dengan keras-keras. Agatha mengusap dadanya secara perlahan, kemudian kembali menatap Panji yang tengah menunggu jawabannya. "Dia ...." "Kita pacaran lah, emang apalagi," sahut Mario cepat, ia gemas karena Agatha yang sangat lamban untuk menjawab pertanyaan sesimple itu. Panji terkekeh. "Okey, kalo gitu. Kakek dateng ke acaranya," ucapan Panji barusan mau tak mau membuat mood Agatha yang sudah di dasar jurang kembali terbang ke atas awan. Mata Agatha berbinar-binar. "Beneran kek?" Panji mengangguk sembari terdenyum. "Makasih banyak kek, saya tunggu kedatangannya." Panji terkekeh. "Ya udah kalo gitu, kakek masuk duluan ya. Ada kerjaan, kalian juga masuk ya," pamit Panji yang langsung di angguki dengan sesopan mungkin oleh Agatha. Setelah Panji hilang dari jangkauannya, tanpa fikir panjang Agatha langsung saja melayangkan jurusan 1000 bayangannya pada Mario. BUGH BUGH BUGH "Akh… kok gue di pukul sih Yang," protes Mario sembari menghindar dari serangan mendadak Agatha. Agatha menghentikan aksinya, ia terlebih dahulu menormalkan deru napasnya. "Selalu emosi gue deket lo!" "Harusnya lo berterimakasih sama gue, karena lo pacar gue. Kakek mau nerima tawaran lo." "Tapi lo gak usah ngaku-ngaku jadi pacar gue segala!" Dahi Nario berkerut samar. "Gue emang pacar lo." "Mimpi sana lo!" Agatha beranjak dari duduknya. "Mau kemana?" Mario menahan sebelah tangan Agatha yang tengah menyampirkan ransel di salah satu bahunya. "Pulang lah, lo fikir?" "Masa langsung pulang?" rutuk Mario. "Temenin gue dulu dong," pinta Mario. Agatha memutar bola mata jengah. "Udah bosen hidup ya lo!" Mario meringis pelan, pokoknya kalau Agatha sudah melotot dan berkacak pinggang seperti ini, keberanian Mario entah langsung lari kemana. Rasanya, setan saja gak semenakutkan Agatha. "Ya udah, kalo gitu biar gue anterin lo pulang." "Plis deh, gue itu bawa motor," ketus Agatha. "Ya udah gue yang bonceng." "Ogah, tadi aja lo kagak mau ngebonceng gue." "Yang, masa lo gitu. Gue kan pacar yang baik, mana bisa biarin pacarnya pulang sendirian." "Pacar, pacar, gue bukan pacar lo." "Iya deh, lo kan isteri gue." "Istri dari hongkong! Gue itu senior lo!" Mario menghela napas. "Senior apanya, kita satu angkatan." "Satu angkatan? Lo aja kelas 11, gue udah kelas 12 ya!" "Pas kelas 10 kan kita satu angkatan." "Itu mah dulu, lagian suruh siapa tinggal kelas," ketus Agatha. "Yang, pliss. Gue anterin lo pulang yaa," pinta Mario sembari meraih-raih tangan Agatha. "Ngeyel banget sih jadi cowok!" "Ya lagian, lo nya juga susah banget nge'iyain. Gak akan rugi kok di bonceng cowok ganteng kayak gue. Ya ya ya ..." Agatha memejamkan matanya, Mario ini kalau terus di layani maka tidak akan pernah berhenti. Oke, kali ini saja Agatha akan mengalah. Lain kali, big NO! "Ya udah, ini pertama dan terakhir kalinya lo bonceng gue," ucap Agatha yang langsung di sambut seruan riang dari Mario. Mario tersenyum lebar. "Ya udah, kuy masuk dulu," ajak Mario yang berjalan terlebih dahulu. "Eh, eh." Agatha menarik belakang seragam Mario hingga si empunya memberhentikan langkahnya. "Mau kemana lo?" "Ke rumah lah." "Lo bilang mau nganterin gue pulang?" "Emang iya." "Terus ngapain masuk?" tanya Agatha yang sudah mulai jengah. "Gue mau ganti baju dulu lah, ya kali gue pake seragam kayak gini. Gerah," ucapnya. "10 menit, gue tunggu di sini." "Masa nunggu di sini, ya lo ikut lah." "Ogah!" "Emang lo gak mau pamitan ke kakek gue?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya. "Ntar kakek gue nyangkanya lo cewek gak sopan lagi, dateng cuma ada mau ...." "Ya udah iya!" Mario terkekeh, kemudian membiarkan Agatha berjalan mendahului dirinya. Mario mengekor di belakang tubuh Agatha. "Gue tunggu dimana?" tanya Agatha begitu keduanya telah sampau di ruang tamu. "Ikutin gue," kini giliran Mario yabg berjalan terlebih dahulu dab di ikuti oleh Agatha. CEKLEK "Lo tunggu di situ," Mario menunjuk ranjang ukuran king size miliknya. "Masa gue nunggu di kamar?!" protes Agatha tak rerima. Mario mendorong pelan tubuh Agatha hingga sepenuhnya masuk ke dalam kamar dan langsung menutupnya. "Eh, eh. Ngapain di tutup," panik Agatha. "Yailah panik amat, emang mau gue apain." Agatah menatap tajam pada Mario yang juga tengah menatapnya. Kemudian selanjutnya ia mendorong tubuh cowok itu agar menjauh dari tubuhnya dan ia akhirnya memilih untuk duduk di atas ranjang yang tadi Mario tunjuk. "Cepatan, gue kasih waktu 5 menit. Kalo belum beres juga, gue balik sendiri," ucap Agatha sembari menyilangkan tangannya di depan d**a. Mario terkekeh, kemudian melemparkan ranselnya dengan sembarang. Kemudian cowok itu melarikan diri ke arah lemari untuk mengambil satu setel pakaian dan selepasnya langsung lergi ke kamar mandi. 2 menit 3 menit 5 menit Agatha kesal, Mario entah sedang apa di dalam sana. Kenapa lama sekali sih! "Yo, gece! Lama amat sih!" "Bentar!" Agatha berdecak kesal. Namun mau tak mau ia akhirnya menunggu lagi. 5 menit 7 menit Kesabaran Agatha telah sirna. "YO CEPETAN! GUE PULAN ...." "Bawel banget sih cewek gue." "Yo lo cari mat .... AAAAAAA .... ngapain lo gak pake baju!!" Jerit Agatha sembari menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak, tahu-tahu Mario berjalan ke arahnya dengan hanya mengenakan bawahan saja, yang intinya ia tak mengenakan baju, gila gak sih! Mario terkekeh melihat reaksi cewek favoritnya itu. "Lagian, gue belum siap lo udah teriak aja." "CARI MATI YA LO!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD