Kita dipertemukan kembali dengan seseorang
Terkadang bukan hanya untuk sebuah kebaikan
Namun juga perbaikan...
***
Ruangan kantor divisi bagian admin dan MD tampak tenang. Masing-masing duduk di balik kubikel sambil berkutat dengan layar komputer di depannya. Langkah anggun seseorang yang baru memasuki ruangan, mampu mengalihkan berpasang-pasang mata, terutama karyawan laki-laki. Mereka tampak terpana mendapati pemandangan wanita cantik yang tampak tersenyum menyapa. Sungguh menawan dan amat memikat. Bukan hal sulit bila kehadiran Ranun juga menumbuhkan kekaguman nyata bagi para pria kesepian. Jangankan yang masih sendiri dan butuh pasangan. Yang sudah beristri pun susah mengelak untuk tak terpesona akan kecantikannya.
"Permisi, saya diminta ke ruangan Pak Arya. Kalau boleh tahu, ruangan beliau di sebelah mana, Mbak?" tanya Ranum ramah pada salah seorang karyawan perempuan.
"Oh anak baru ya? Itu ruangan Pak Arya di sana. Yang pintunya ada tulisan SPV," jelas Ainun sambil menunjuk pintu yang dimaksud.
Ranum berterimakasih, kemudian langsung menuju ruangan yang dimaksud. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, hingga terdengar suara dari dalam mempersilakannya masuk.
"Permisi, Pak. Saya Ranum-"
Suara Ranum tertahan. Ekor matanya menemukan sosok seseorang duduk di depan meja kerja Arya, dan berbalik ke arahnya. Keduanya saling pandang dengan pikiran campur aduk. Ranum yang sungkan dan serba salah, harus berhadapan lagi dengan Indi yang jelas terlihat masih mengacuhkannya. Dari kilatan cara Indi menatapnya, bisa ia pahami ada kebencian tanpa dasar tersembunyi di dalam sana. Ranum bingung bagaimana harus memperbaiki hubungan mereka. Jangankan ingin kembali berteman, diajak bicara saja kesannya Indi ogah sekali.
"Masuk, Ranum. Silakan duduk," pinta Arya.
Ranum duduk di sebelah Indi. Tapi, gadis itu malah langsung berdiri dan memilih menjaga jarak. "Pak Arya cari orang lain saja untuk bantu ajari anak baru. Sepertinya saya nggak bisa kali ini," tukasnya setengah menahan marah.
"Loh, bukannya tadi kamu setuju?"
Arya bingung dengan sikap plin-plan Indi yang tidak seperti biasanya. Gadis itu terkenal tekun, selalu siap sedia, ramah, dan pintar tentunya. Ia juga paling senang mengajari anak baru. Namun, agaknya penolakan kali ini sedikit mengubah citra baiknya. "Kenapa In? Ada masalah?" tanya Arya memastikan.
"Nggak ada, Pak. Maaf, saya permisi dulu," ujarnya dan berlalu meninggalkan ruangan.
Ranum hanya bisa menghela napas pelan. Entah sampai kapan Indi akan membencinya seperti itu. Ia juga tidak menyangka harus satu tempat kerja dengan mantan sahabatnya sendiri. Hatinya diliputi gundah gulana. Ingin rasanya mundur menjauh tanpa menimbulkan kekesalan bagi Indi lagi. Namun, ia terlanjur menandatangani kontrak percobaan selama enam bulan ke depan.
"Sudah ketemu Bu Silvi, kepala bagian personalia?" Pertanyaan Arya mengembalikan kesadaran Ranum yang sempat tertuju pada lamunan tentang kawannya.
Gadis itu berusaha melukiskan senyum sebaik mungkin. Dan sialnya, jantung Arya bagai dihujani butiran salju yang menyejukkan kalbu. Terdengar bunyi detakan makin kentara di dalam palung hatinya. Senyuman ini terlalu membahayakan nurani pria yang telah lama lupa rasanya jatuh cinta. Ia mengurut kepala sebentar. Berusaha mengenyahkan rasa ketertarikan yang makin menariknya kuat. Jawaban Ranum bahkan sampai tak ia dengarkan.
"Maaf, Pak. Apa saya sudah bisa bekerja hari ini?"
"Oh iya. Kamu sudah boleh mulai kerja jika memang bisa langsung sekarang. Nanti Ainun yang akan ajari dan jelaskan tugas-tugasmu."
"Baik, Pak. Terimakasih dan mohon kerjasamanya." Ranum memasanh ekspresi penuh hormat.
"Kamu sudah berkeluarga? Saya bertanya karena khawatir data di KTP mu belum diperbaharui."
"Belum, Pak. Saya masih sendiri."
Arya mengangguk-angguk. "Pacar? Ada?"
"Tidak ada, Pak."
Ranum tidak heran dengan pertanyaan Arya barusan. Meski bukan menanyakan tentang keahliannya, pengalaman kerjanya, dan prestasi sebelumnya bagaimana. Ia seakan sudah terbiasa menerima pernyataan macam ini dari wawancara beberapa tempat kerja yang pernah mengundangnya.
"Oke. Saya akan kenalkan kamu ke tim. Dan kamu bisa langsung mulai bekerja."
"Maaf, Pak. Boleh saya bertanya?"
"Ya, silakan."
"Kenapa Anda mau memberi saya kesempatan kerja di sini? Saya dengar dari Bu Silvi kalau Anda juga yang merekomendasikan saya langsung ke beliau." Ranum mengutarakan rasa penasarannya. Terasa aneh bila baru pertama bertemu, tapi Arya seolah sangat mempercayainya. Tidak mungkin hanya karena sedang butuh tenaga kerja tambahan. Rasanya pasti banyak yang mendaftar untuk posisi kosong di perusahaan ini.
"Tidak ada alasan khusus. Saya hanya ingin sesekali jadi malaikat bagi orang yang memerlukan bantuan."
"Maksud Anda, Pak?"
"Kamu butuh pekerjaan kan? Saya membantu membuka jalan itu untuk kamu. Alasannya sederhana. Saya membaca resume kamu dan saya pikir kamu cocok untuk kerja di sini."
Setelah mendengar jawaban tersebut, Ranum hanya mengangguk saja. Kemarin ia cukup terkejut begitu mendapat telepon tentang panggilan interview kerja. Dan baru tadi ia diberitahu bahwa Arya yang merekomendasikannya.
"Terimakasih, Pak. Atas kesempatan yang Anda berikan untuk saya," ucapnya tulus.
Akhirnya, Arya memperkenalkan Ranum pada seluruh tim di divisinya. Mereka bersalaman satu per satu, sampai ada yang berebut lebih duli menjabat telapak tangan Ranum. Contoh saja Handoko, Seno, dan Bimo. Ketiganya sampai saling sikut, demi mendapatkan perhatian gadis cantik yang berdiri kebingungan melihat tingah mereka.
"Halo, Ranum. Nama kamu bagus ya, kayak bunga yang mekar," puji Seno berhasil mendapatkan uluran tangan Ranum lebih dulu.
Cepat-cepat Handoko memukul lengan kawannya. Memberi instruksi untuk gantian. Ia pun mesem sambil memperkenalkan diri. "Panggil aja saya Koko Han, kalau ada yang perlu dibantu jangan sungkan bilang ke saya," tukas pria bermata sipit dan berwajah oriental khas warga asia timur.
Belum puas menarik perhatian Ranum, ia ditarik ke belakang oleh Bimo, si jangkung yang punya bentuk tubuh proporsional mirip model. Ia membenarkan kacamata sebelum menyebutkan namanya. "Hai, saya Bimo Sandriano. Panggil aja Mas Bimo. Apapun pertanyaan kamu, saya siap menjawab dengan segala pengetahuan saya," ujarnya setengah menyombongkan diri.
"Haduh! Sudah! Sudah! Caper banget kalian!" Ainun menyuruh teman-temannya menyingkir dan kembali bekerja. "Udah Num, kamu duduk di sebelahku ya. Biar kujelaskan tugas-tugasmu ngapain aja. Yuk?" ajaknya sambil menggandeng lengan Ranum.
Para pria langsung mencibirnya karena mengganggu permulaan pedekate mereka. Memang dasarnya kaum Adam. Tak bisa lihat yang bening sedikit. Untung saja yang lain tak berani ikutan menggoda Ranum. Karena sebagian besar sudah punya istri di rumah. Tinggal trio jones ini yang gencar cari jodoh. Berhubung tipe mereka sepintas agaknya ada di Ranum, tak disia-siakan kesempatan emas untuk menggaet gadis cantik itu.
Dengan telaten dan sabar Ainun menjelaskan beberapa hal penting yang musti dilakukan Ranum. Ia juga mengajarkan cara-cara memasukkan data dan mengecek ketersediaan barang. Tak ketinggalan memberitahukan jadwal kunjungan ke beberapa toko dan swalayan yang bekerjasama.
"Biasanya, seminggu dua atau tiga kali Pak Arya akan ikut salah satu dari kita buat cek dan ricek ke lokasi langsung. Nah, ini jadwalnya ada di sini semua. Kamu bisa print atau kirim ke emailmu buat di-save."
"Oke, sip. Makasih ya udah diajarin?" Ranum tersenyum ramah.
"Sama-sama. Abaikan aja trio kwek-kwek gaje di sana. Mereka jones tahunan. Tiap ada anak baru yang bening ya pasti gitu. Kayak cacing kepanasan," seloroh Ainun melirik tiga pria yang ia maksud. Mereka masih asik memandangi Ranum sambil bertopang dagu. "Kerja kalian! Nanti copot tuh mata ngelihat cewek cantik segitunya! Katrok!" pekik Ainun sebal.
Ranum tak memperdulikan omelan Ainun pada rekan-rekannya. Ia justru tertarik menoleh ke sampingnya. Indi terlihat acuh tak acuh. Seakan tidak peduli akan keberadaannya sama sekali.
Arya kembali ke luar dari dalam ruangannya. Indi berdiri dengan rekahan senyum semangat. Hari ini adalah jadwalnya kunjungan ke area bersama Arya. Namun, anehnya pria itu malah melewati mejanya begitu saja. Dan menghampiri kubikel Ranum.
"Num, kamu ikut saya keliling ya hari ini," ucapnya lugas.
Indi kaget dan kesal. "Loh, bukannya jadwal saya bantu cek area ya, Pak?" protesnya tak terima.
"Iya. Tapi, saya sekalian mau kenalkan sistem di lapangan seperti apa. Biar dia cepat paham. Lagipula, kamu kan harus selesaikan kerjaan yang kemarin saya kasih? Hari ini juga harus beres."
Melihat cara Indi menatap Arya. Juga emosinya yang berpendar tanpa terduga, Ranum tahu ada sesuatu di antara mereka berdua. Perasaannya tak enak. Batinnya kembali diliputi sesuatu yang tak ia harapkan adanya.
Sekilas Indi melirik sinis ke arah Ranum. Ada kobaran kedengkian dari retina matanya yang tercermin menyala, layaknya api membakar hangus sebuah hutan belantara. Itu adalah makna dari kecemburuan yang nyata.
"Maaf, Pak. Boleh saya pelajari data-data dulu di sini?" pinta Ranum berusaha menenangkan keadaan. Berharap Arya tak menambah ketidaksukaan Indi pada Ranum.
"Saya nggak lagi bertanya atau minta pendapat," tegas Arya tak suka dibantah. Wajahnya jelas menyiratkan rasa enggan untuk sebuah penolakan.
=======♡ Perfection ♡=======
Sekilas sapa_
Mungkin banyak yg bertanya-tanya, kenapa tiap bikin cerita gini, aku selalu tempatkan tokoh utama di antara gosip-gosip gak menyenangkan. Alasan sebetulnya mungkin aku tanpa sadar masih kebawa sesuatu di masa lalu, hanya karena rumor jelek memang dampaknya sangat parah di mental si tertuduh.
So, harap maklum ya gais. hehe. #peace.
==============