Kadang, adanya perjumpaan bukan hanya menjadi pintu perkenalan
Tapi, bisa juga menjadi penghubung masa lalu dan masa sekarang...
***
Seseorang berlari tergesa menghindari kerumunan orang di jajaran toko sebuah jalan. Gadis itu melepas sepatu hak tingginya, untuk memudahkan tapak kakinya menginjak bumi dan terus melangkah cepat. Ia tiba di tempat parkir mobil, mencari salah satu tempat untuk dijadikan persembunyian.
Gadis itu terjongkok lesu di antara mobil Honda Jazz abu-abu, dan mobil Fortuner hitam. Ia meringkuk memegangi sepatu beserta amplop cokelat di tangan. Tas selempang ia pangku di antara d**a dan paha.
Suara ketukan sepatu beradu dengan lantai area parkir. Gadis itu berdoa dalam hati, agar bukan mantannya yang muncul dan menemukan dirinya sekarang. Sesosok pria tepat berdiri di hadapan Ranum. Pria dengan kemeja biru navi itu memicing bingung. Ranum mendongak, melepas napas lega dengan bahagia. Setidaknya, harapannya terkabul.
"Maaf, boleh saya menumpang sampai depan?" pinta Ranum menahan malu. Ia tak punya pilihan lain sekarang. Harus kejar-kejaran dengan Rendi lagi, atau meminta bantuan orang tak dikenal untuk bebas dari predator masa lalunya itu. Meski dua pilihan sama-sama menyulitkan baginya.
Pria itu tak menjawab. Ia hanya membuka pintu, kemudian masuk. Ranum mengira ia tak akan dapat tumpangan. Gadis itu berniat pindah tempat sembunyi dengan wajah lesu penuh kepasrahan.
"Hei!" panggil si pria dari dalam mobil. "Naiklah," katanya lagi.
Awalnya Ranum tak mengerti. Kepalanya sudah dipenuhi kepenatan menggunung. Dari arah lain, bisa ia lihat Rendi menatap sekeliling dengan wajah berhiaskan amarah. Gadis itu tak mau ketahuan lagi. Ia langsung masuk ke dalam mobil, dan menutup muka dengan amplop cokelatnya.
Mobil melaju hingga melewati pembayaran parkir. Sampai di luar, Arya menepikan mobilnya. Ia menatap Ranum dengan pandangan curiga. Tapi, wajah cantik gadis itu lebih dulu membius simpatinya.
"Mau nebeng sampai mana?" tanyanya memastikan. Sebab, Ranum tak kunjung mau turun. Malah masih menutupi wajahnya dengan amplop cokelat.
Mendengar hal tersebut, Ranum langsung mengintip sebentar. Memastikan keadaan aman terkendali. Ia menarik napas pendek dan menyingkirkan amplop cokelatnya ke samping, tempat Arya menaruh tisu di antara dua jok depan. "Maaf, boleh tunggu sebentar? Saya mau pesan taksi online dulu," pintanya dengan tampang was-was.
Arya hanya mengangguk. Tatapan mata Ranum begitu menyilaukan baginya. Rasanya sulit ditolak oleh siapa pun. Sebagai pria normal, wajar bila Arya mengagumi keindahan karya Sang Pencipta yang begitu luar biasa cantik. Mata yang seolah bersinar, hidung bangir yang menggemaskan, bibir sedang berpoles lipstik pink segar yang menggoda, serta suara Ranum yang lembut memabukkan. Dalam sekejap, Arya sulit mengelak dari sihir alami naluri kelelakiannya. Namun, segera ia memijat tengkuk, guna menetralisir rasa kagum yang berlebihan.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hingga taksi online yang dipesan Ranum akhirnya tiba. Gadis itu berterimakasih atas pertolongan Arya. Lalu ke luar dengan rekahan senyum manis. Jantung Arya nyaris lengser menatap suguhan tersebut. Tanpa sadar, ia memandang punggung Ranum sampai lenyap masuk ke dalam mobil Avanza.
Barulah ia menyalakan kembali mesin mobil, dan melajukannya. Hidungnya terasa gatal seperti akan kena flu. Lima jemarinya merayap mencari tisu. Ia malah menangkap amplop cokelat. Mobil direm mendadak. Tersadar kalau ada benda milik sang gadis asing tertinggal di dalam sini. Arya menghela napas pendek. Ia membuka amplop tersebut, mengecek sesuatu. Berharap ada nomor atau alamat yang bisa dihubungi.
Terdapat beberapa lembar kertas hvs berisi daftar riwayat hidup dan surat lamaran kerja. Ada foto ukuran 4x6 juga diklip rapi bersama berkas-berkas penting lain, seperti ijazah terakhir, fotokopi ktp, dan lain sebagaianya. Barulah Arya sadar, amplop tersebut pastinya akan digunakan untuk melamar sebuah pekerjaan. Pria itu tersenyum, saat selintas ide brilian mendadak muncul di kepalanya. Ia pun memasukkan kembali dokumen ke dalam amplop dan menyimpannya.
??=======??
Tiba di kontrakan barunya, Ranum memijat pergelangan kaki dan meletakkan sepatunya di samping pintu. Baru akan membuka pintu, suara sepeda motor terdengar memasuki halaman rumah kontrakan di sebelahnya. Ia menoleh tanpa sengaja. Seseorang turun dari motor dan melepaskan helm miliknya.
"Indi!" pekiknya spontan.
Gadis yang dipanggil sontak menoleh. Wajahnya terlihat kaget dan sangat tidak suka. Ranum menghampiri. Tapi Indi cuek saja melepas sepatu dan membuka kunci pintu rumahnya.
"Kamu apa kabar? Ngontrak di sini juga?" tanya Ranum ramah. Ia senang bertemu dengan sahabat lamanya kembali. Sayangnya, yang disapa tak menggubris. Masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun.
Kecewa hati Ranum, menerima perlakuan tak acuh temannya. Padahal, baru saja secerca harapan membayang dalam benak. Berpikir ia akhirnya punya teman ngobrol lagi seperti dulu kala. Agaknya Ranum harus menelan mentah-mentah kenyataan yang tak sesuai inginnya. Ia pun bergegas masuk ke dalam rumah, atau lebih tepat disebut bangsalan yang baru disewa dua hari lalu.
Sementara itu, di dalam rumah Indi melepas kemeja kerja dan kacamatanya sambil merutuk kesal. "Dunia sempit amat sih?! Kenapa juga harus ketemu lagi sama dia?! Temen tapi jadi pelakor juga! Astaghfirullah ... tahan emosi kamu, In. Tahan..." celotehnya menahan sensi.
Ingatannya memaksa kenangan lama muncul kembali. Mendatangkan reka ulang kejadian sepuluh tahun silam. Ketika usai hari kelulusan sekolah. Dari balik tembok salah satu kelas, Indi menyaksikan hal yang tak pernah berani ia bayangkan atau pikirkan sebelumnya.
"Aku suka sama kamu, Num. Jadi pacarku ya?" Dimas mengutarakan isi hatinya.
"Tunggu, Dim. Bukannya selama ini kamu suka sama Indi? Kalian kan deket?"
"Aku sengaja deketin Indi, sebenernya untuk cari informasi tentang kamu. Aku sayangnya sama kamu. Indi hanya perantara buatku."
"Tapi, Dim-"
"Jangan bahas orang lain dulu. Kita bahas soal aku dan kamu sekarang. Kamu mau kan jadi pacarku?"
Ranum tampak gugup dan bingung harus bicara apa. Sedangkan di sisi lain, ia tahu betul perasaan sahabatnya seperti apa pada pria di hadapannya ini. Indi memandang dua orang itu dengan mata penuh amarah dan kesedihan yang bercampur jadi satu. Hatinya luluh lantak bagai didera topan beliung. Porak poranda jiwanya, mengetahui cinta pertama yang selama ini ia sangka berhasil, ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Batinnya menahan letupan sakit yang mencekat ke ulu hati. Nyeri dan perih rasanya.
Dimas memeluk Ranum. Dan Indi terluka sangat dalam. Ia memutar bahu, pergi berjalan cepat dengan mengabaikan panggilan teman-temannya. Hari itu, terakhir kali ia melihat mereka berdua. Nomor ponsel pun ia ganti. Seolah benar-benar ingin melenyapkan sisa kepahitan cinta pertama tanpa balas. Lebih menyayat lagi, sahabat yang amat ia percaya, justru adalah penyebab retaknya hati Indi kala itu.
"Num, kamu harus bantu aku!"
"Bantu apa?"
"Habis kelulusan nanti, aku mau bilang ke Dimas soal perasaanku ke dia. Gimana menurutmu?"
"Ehm ... kamu yakin?"
"Kenapa? Lagian, kayaknya Dimas juga suka sama aku. Kan kamu tahu sendiri, dia sering banget sms aku, traktir aku makan, dan bahkan perhatian banget sama aku. Aku yakin dia cuma malu mau bilangnya."
"Gimana baiknya menurut kamu aja, In. Aku cuma bisa dukung kalau itu terbaik buatmu."
Rentetan kisah mengulang begitu saja. Indi mmbuka matanya dengan berat. Ia duduk di tepi kasur. Masih dengan perasaan kecewa yang tak pernah ia ungkapkan pada Ranum. Baginya, Ranum adalah pengkhianat. Baginya, Ranum adalah sahabat yang tak punya hati. Baginya, Ranum adalah momok menyebalkan. Meski faktanya, lebih banyak kebersamaan mereka terekam dalam angan. Dan semua harus pupus hanya dengan satu pelukan lelaki. Indi belum bisa memaafkan Ranum. Apalagi menerima gadis itu kembali menjadi temannya. Batinnya sungguh tak siap. Sekarang, ia malah dihadapkan pada hal baru. Bahwa ternyata, Ranum muncul sebagai tetangga kontrakannya.
Selagi asik melamun, sebuah pesan masuk dari aplikasi Whatsappnya menimbulkan bunyi.
Pak Arya_
In, besok tolong ajarin anak baru ya
Singkat, padat, dan jelas. Namun, entah kenapa perasaannya malah jadi tak karuan.
"Aneh, mendadak kok perasaanku nggak enak gini ya?" gumamnya bermonolog.
=======♡ Perfection ♡=======