Irma PoV

1856 Words
Irma PoV Bukan Irma jika apa yang aku inginkan tidak bisa aku dapatkan. Apapun itu jika aku ingin pasti aku dapatkan Aku benar-benar tak terima ketika tau jika cowok yang aku incar selama ini ternyata menyukai seorang cewek yang aku kira dan aku lihattak ada apa-apanya dibandingkan denganku Cowok mana yang bisa menolakku? Tidak ada, hanya saja aku heran kenapa Arya tidak tertarik denganku sama sekali. Dan hal itu pula lah yang membuatku semakin penasaran untuk bisa segera mendapatkannya Entah bagaimana caranya, dia harus jadi milikku Setelah kemarin aku tau jika dia mengajak Karina jalan, sampai dirumah pun aku sama sekali tidak bisa tidur dan itu yang menggangguku Kenapa aku harus bersaing dengan anak seperti itu? Apa kelebihannya dibandingkan denganku? Belum lagi hari ini aku dikagetkan dengan sikap Shinta yang ternyata mulai berubah lama –kelaman Irma yang melihat Nita yang terus menempel pada Karina pun jengkel Baginya jika Nita masih ada bersama Karina maka dia tidak akan bisa memberikan perhitungan kepada Ina “kenapa harus di kawal terus sih tuh anak?” ucap Irma dengan emosi “ya suka-suka ajalah, kenapa kamu kudu marah coba?” jawab Shinta dengan santai “kamu ini kenapa sih? Dari kemarin kayaknya udah nggak suka aja yah kalo aku mau ngasih perhitungan ama tuh anak?” tunjuk Irma “dikira akuntansi kaleeee perhitungan segala” “Shinta!!!” tegur Mina “dimana-mana itu yang namanya perasaan itu nggak akan bisa dipaksain, mau kamu kayak gimana berusahanya kalo dia nya nggak suka sama kamu mau apa? Nggak usah jauh-jauh dech, misalkan nech ada orang yang maksain perasaannya sama kamu, kamu mau nggak? Hidup itu nggak sesimple itu Ma, ada batas-batasan yang harusnya bisa kamu ngerti, nggak semuanya bisa kamu paksain” ujar Shinta “sok bijak tau nggak !” sanggah Irma “aku bukan sok bijak tapi ngomong masalah kenyataan, aku tau kamu punya prinsip kalo semuanya harus bisa kamu dapetin, tapi ini beda, ini perasaannya orang bukan mainan, nggak bisa kamu paksain, seberapa besar mau kamu pegang atau kamu pertahanin kalo hati dan perasaannya bukan buat kamu, kamu bisa apa?” “terlalu teoritis nggak kamu itu? Apa kamu pernah pacaran memangnya?” “bukan masalah pernah pacaran, tapi aku tau gimana rasanya sakit hati itu kayak gimana rasanya, ngerti nggak?” “kamu mungin nggak ngerti ma, lantaran apa yang kamu pengen semuanya bisa kamu dapetin dengan segitu gampangnya, tapi ini yang kita omongin ini masalah hati dan perasaan, kayaknya kamu harus bener-bener bisa ngerti gimana rasanya patah hati dan kehilangan orang yang bener-bener sayang sama kamu” ujar Shinta sambil meninggalkan Irma dan Mina Bukan tanpa alasan memang Shinta bicara seperti itu, walaupun apa yang dia biacarakan semua itu benar, tapi entah kenapa,seakan-akan aku benar-benar tidak bisa terima Aku berusaha untuk tidak mengindahkan apa yang sudah Shinta katakan tadinya Aku memutuskan untuk memberikan Karina pelajaran Akupun ada ide untuk menyiramnya dengan seember air, apalagi aku pun tau jika air di kamar mandi khan juga nggak bersih-bersih banget tuh Bodo amat lah mau Shinta bantuin apa nggak, toh juga masih ada Mina Mina pasti khan nantinya juga akan menuruti apa yang aku omongin Setelah jam pelajaran usai Aku, mina dan shinta ke kantin terlebih dahulu untuk membeli minum, lalu Aku yang melihat Karina dan Nita sedang bercanda dan entah menunggu apa dan Karina terlihat sedang sendiri karena Nita yang membeli minum Aku pun menitipkan kopi yang tadi aku beli pada Mina, langsung bergegas menuju kamar mandi mengambil seember air lalu menyiramkannya pada Karina Byuuuurrrrrrrr............. Tak lupa juga kopi yang tadi aku beli pun aku siramkan kepadanya “ini hukuman buat kamu, ini belum apa-apa, ngerti nggak kamu!!!!” ancam Irma kepada Karina “Ma.... gila kamu yah, sampe segininya kamu yah, kalo ketauan sama guru-guru gimana?” teriak Shinta yang membantu Karina untuk berdiri “bodo amat, mau ngelaporin????? Laporin aja,,,, nggak takut tuh, yang ada mereka semua yang akan dipecat dari sekolah!” “gila kamu yah, aku bener-bener nggak nyangka kalo kamu bakalanngelakuin sesuatu sampe sejauh ini” kata Shinta “ngapain kamu pake acara ngebelain dia? Mau jadi pengkhianat kamu? Hah?” teriak Irma “denger bukan masalah pengkhianat atau nggak, tapi kamu udah bener-bener keterlaluan Ma, nggak pantes tau nggak, Cuma masalah cowok sampe begininya kamu yah?” “ohh jadi sekarang kamu ngebelain dia gitu? Mau cari masalah kamu sama aku? Dan kamu bilang Cuma masalah cowok? Cuma kata kamu? Buatku penting tau nggak, aku cinta sama Mas Arya, kalo aku nggak bisa ngedapetin dia maka orang lain pun juga nggak akan ada yang bisa buat dapetin dia, paham itu!!!” teriak Irma dan penekanan dalam bahasanya “cinta sama obsesi itu beda tipis, kamu sudah gila tau nggak? Dan buatku obsesimu sudah terlalu jauh Ma?” “ayo aku bantuin kamu, udah nggak usah nangis, nggak ada yang luka khan” Aku yang masih benar-benar tak percaya akan sikapnya shinta pun langsung emosi Aku yang benar-benar tidak bisa terima jika teman yang sudah kubantu dan aku bela dulu nya malah akan mengkhianatiku Ya... aku memang bukan tipe orang yang bisa ikhlas dalam membantu orang Tapi balik lagi bodo amat dengan semua itu Sampai tak mengira jika Nita akan membalas aku dengan menyiramkan kopi yang sudah dibelinya kepadaku “brengsek... siapa yang berani-beraninya nyiram aku?” teriak Irma dengan emosi “aku...kenapa???” Aku yang sadar pun semakin emosi dibuatnya, karena baru kali ini ada yang sebegitu beraninya denganku dan sama sekali tak punya rasa takut Dan aku pun sadar jika Nita sama sekali tidak bisa diremehkan sama sekali dan ketika akan menamparnya aku kaget karena ternyata dia dengan sigapnya menangkap tanganku “beranilah, kenapa nggak, aku sudah bilang khan sama kamu, kalo sampe kamu macem-macem lagi kamu berhadapan sama aku tau nggak” kata Nita sambil mengibaskan tangan Irma Aku yang sudah emosi langsung teriak “akkkkkhhhhhhhh...... awas kalian!!” teriakku Aku yang sudah jengkel karena tak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh Nita, hanya bisa memendam emosi sambil mengibaskan rambut yang sudah bercampur dengan aroma kopi yang di siramkan oleh Nita “arrggghh... kurang ajar banget sih tuh anak pake acara siram-siram kopi segala?” kataku pada Mina “ta-pi... kalo aku pikir kamu juga keterlaluan Ma” ujar Mina sedikit terbata karena ketakutan jika nantinya Irma akan marah kepada dirinya “apa katamu!!!! Aku keterlaluan kamu bilang?!!!! Dia yang keterlaluan tau nggak?!!! Ngerebut apa yang sudah jadi punyaku,ngerti nggak kamu!!” jawabku dengan emosi sambil menunjuk pada Mina Mina yang sudah ketakutan dan tadinya memilih diam akhirnya berbicara, “Ma, egois sama arogan tuh boleh, tapi bukan berarti kamu bisa maksain semuanya sesuai dengan apa yang kamu mau khan? Bener apa kata Shinta, kamu ga bisa teru-terusan maksain apa yang jadi kehendak kamu Ma, selama ini memang kamu ngejar Arya,tapi apa? Dia sama sekali ga bisa respect sama kamu khan? Walaupun kamu ngedeketin mamanya pun itu nggak ada artinya Ma” “jadi kamu sekarang ngebelain pengkhianat itu intinya?” jawabku yang tak terima “bukan masalah ngebelain atau nggak, coba kamu pikir, apa ini sama sekali nggak ngerugiin kamu? Apa iya kamu akan bersikap seperti ini seterusnya? Kalo makin banyak orang yang nggak bisa nerima perlakuan kamu gimana? Pernah kamu pikir ga?” kata Mina sedikit menekan pada Irma “bodo amat, mau mereka nggak suka sama aku atau sakit hati khan juga urusannya mereka, nggak ada urusannya sama aku, aku sama sekali ga peduli” jawabku sambil membersihkan baju dengan tissue “bener-bener nggak waras kamu Ma jadinya, berarti kamu juga rela kalo harus kehilangan temanmu hanya demi obsesi sama keinginan kamu yang nggak wajar itu?” tanya Mina dengan jengkel Aku yang terhenyak dengan apa yang dikatakan oleh Mina benar-benar tak mampu menjawab Aku benar-benar tak sampai terpikir akan kehilangan teman atau sahabat, ahhh sahabat? Apa aku punya? Dan apa aku bisa dikatakan sebagai sahabat yang baik buta mereka yang aku anggap sebagai sahabat aku? Aku terlalu bingung akan pikiranku sendiri, sambil terus membersihkan dan mengeringkan bagian-bagian yang basah, aku mendengar seseorang memanggil namaku “Irmaaaaaaaaaaaaaa” teriak Arya dengan penuh emosi Ketika aku melihat dan memutar kepalaku, antara senang dan tidak, Arya ... Ya sosok Arya yang memanggilku, orang yang selama in yang aku idam-idamkan tapi entah kenapa sulit sekali untuk aku dapatkan “ahhh,, mas... akhirnya ... kenapa kok sampe nyamperin aku ke parkiran, khan bisa bilang biar aku yang nyamperin mas di depan” kataku yang seolah tak ada apa-apa dan mengubah nadaku menjadi seorang yang manja Sambil menggebrak kaca mobil, aku dan Mina yang langsung terhenyak “nggak usah pura-pura kamu, mau kamu apa?!!! Apa maksud kamu jawab sekarang?!!!” tanya Arya yang sudah benar-benar emosi “maksudnya apa sih mas?” aku yang memaksakan senyum dan masih bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa Aku pun juga melihat Mina yang sudah ketakutan melihat amarah Arya mendadak mundur secara perlahan “masih bisa kamu berlagak nggak ada apa-apa hahhhhh?!!! Karina!!” Arya yang sudah emosi “ohhh dia, ya dia pantes kok ngedapetinnya” aku yang merasa tak bersalah sambil terus membersihkan beberapa bagian yang masih basah “pantes? Kamu bilang pantes? Kamu tau kenapa aku ilfeel sama kamu? Ya ini, kamu menghalalkan segala cara buat ngelakuin apa yang pengen kamu dapetin, aku jadi eneg dan muak liat cewek model kayak kamu?” sambil mencengkeram lenganku dengan kuat Aku yang sudah meringis kesakitan, “maksud kamu apa mas? Kamu liat aku sekarang, apa kurangnya aku? Aku cantik, pintar,seksi dan punya semuanya, kenapa kamu sama sekali nggak pernah tertarik sama aku? Apa kurangku?” aku yang akhirnya mengatakan itu sambil menahan air mataku agar tak tumpah di hadapan orang yang benar-benar aku cintai “kamu tau yang nggak kamu punya itu apa? Attitude,dan satu lagi.... kamu nggak waras tau nggak?” sambil menunjuk padaku “aku nggak waras? Ya mas aku nggak waras, itu juga karena kamu mas, bukan karena orang lain” aku akhirnya menumpahkan air mataku dihadapannya “karena aku? Yang ada semuanya karena ego kamu sendiri yang akan ada habisnya, aku ingetin sama kamu, sekali lagi kamu gangguin karina atau kamu mau nyelakain dia sama seperti tadi aku bakalan bener-bener bikin perhitungan sama kamu!!!” ucapnya dengan nada yang sangat emosi dan menunjuk padaku “semakin kamu ngelindungi dia, semakin aku bersemangat buat ngehancurin dia atau bikin kamu jauh dari dia mas, buatku, kalo kamu nggak bisa aku dapetin, orang lain juga nggak boleh untuk ngedapetin kamu” kataku dengan menahan tangis lagi “dasar sakit jiwa kamu, ingat, cam kan omonganku!!” katanya sambil berlalu Aku yang tadinya menahan tangis, sekarang menahan emosi hinggak napasku tersenggal-senggal Mina yang langsung mendekat dan berusaha menenangkanku “kita pulang aja dulu Ma, kamu tenangin pikiran kamu dulu Ma” katanya sambil mengelus lenganku “aku bener-bener nggak terima diperlakukan kayak gini, bener-bener ga terimaaaaaa” teriakku Sambil menatap Mina, “ aku bener-bener akan ngebales si karina, mas arya ga akan pernah aku lepasin sampe kapanpun” kataku pada Mina Aku pun berakhir “menyedihkan” hari ini dan membiarkan Mina yang menyetir mobilku sedangkan aku yang masih diselimuti oleh perasaan marah, hanya bisa terdiam sambil memikirkan cara untuk membalas mereka yang sudah menyakitiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD