Waktu berlalu terlalu cepat, Viella saat ini kembali bingung karena hari sudah beranjak malam. Kemarin dia masih bisa terselamatkan dari suasana canggung karena tertidur lebih awal. Tapi sekarang beda cerita. Memang seharian ini mereka banyak berinteraksi di rumah dan mulai mengenal karakter satu sama lain. Tapi tetap saja, membayangkan dia akan kembali tidur di satu ranjang yang sama dengan Arka, membuat gadis itu merasa gugup.
"Apa aku tidur lebih dulu saja? Siapa tau bisa lebih tenang dan tidak terlalu gugup." Viella berjalan mondar-mandir di depan ranjang, merasakan gugup yang tak terkira.
"Sayang, kenapa kamu mondar-mandir dan belum tidur?"
Langkah kaki Viella seketika terhenti, dia menoleh ke arah Arka yang baru masuk ke dalam kamar. Dia mencoba untuk tersenyum, meski jelas terlihat canggung.
"Nggak apa-apa kok Mas, cuman agak gugup aja." Gadis itu tidak tahu harus mencari cara apa, alhasil dia hanya bisa menjawab dengan jujur. Meski terdengar agak memalukan, tapi mau bagaimana lagi.
Tawa renyah seketika terdengar dari bibir Arka. Dia berjalan mendekat pada Viella. Mengambil sebelah tangan gadis itu, menggenggamnya dengan gerakan lembut.
"Jangan khawatir, saya gak gigit kok. Kalau pun iya, saya sudah vaksin. Jadi aman saja." Arka mencoba untuk mencarikan suasana dengan bergurau. Dia lalu membimbing Viella untuk duduk bersama di atas ranjang. Anggap saja membiasakan diri untuk saling berinteraksi lebih dekat satu sama lain.
"Mas, bukan gitu maksud aku." Wajah gadis itu jangan ditanyakan bagiamana, sudah pasti merah karena merasa malu. Pikirannya tidak begitu polos dan murni, bahkan sudah ada banyak bayangan hal-hal yang sering dia dapati di dalam novel di kepalanya. Membuat aliran darahnya berdesir tanpa bisa dia kendalikan.
"Mas paham, canggung itu wajar kok. Lagi pula kita ini masih pengantin baru. Kita ini juga memutuskan untuk pacaran setelah menikah kan? Ayo sini, lebih dekat duduknya. Jangan terlalu jauh, biar kamu lebih terbiasa dan gak canggung lagi ke depannya." Arka dengan sabar membimbing Viella. Merapatkan jarak di antara mereka.
"Mas, aku ke kamar mandi dulu." Tanpa menunggu respon dari Arka, Viella segera berlari turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Pintu kamar mandi yang sebelumnya rusak engselnya telah dibenahi oleh Arka. Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Viella segera mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya terlalu nano-nano.
"Tenang Viella, tenang jangan gugup. Itu suami kamu sendiri, kalau gugup terus gimana nantinya kalian bisa lebih akrab. Apa lagi untuk berhubungan intim, baru dipegang tangannya aja udah mau pingsan rasanya."
Viella hanya bisa bergumam dan menyemangati dirinya sendiri. Entah karena sebatas efek gugup atau dia mulai menaruh rasa pada pria itu, tapi seperti ada sesuatu yang berterbangan di dalam perutnya. Apakah ini yang biasanya dinamakan butterfly era? Perasaan gugup bercampur bahagia yang bercampur aduk hingga dia tidak bisa membedakannya?
Gadis itu memutuskan untuk mencuci muka di depan wastafel. Menepuk pipinya beberapa kali. Menguatkan dirinya sendiri untuk tidak bertingkah memalukan di depan Arka.
"Pasti bisa, yuk bisa yuk bersikap biasa aja. Kan masih pacaran, gak harus langsung berhubungan intim. Jadi gak perlu sampai terlalu gugup."
Bukannya merasa tenang, justru wejangan pada dirinya sendiri malah membuat pikiran gadis itu semakin liar. Menggelengkan kepalanya beberapa kali, akhirnya Viella memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Tentu saja dia mencoba bersikap biasa saja.
Namun saat keluar kamar, dia tidak mendapati keberadaan Arka. Membuat kening gadis itu sedikit mengerut heran. Tapi dia samar-samar mendengar suara seseorang dari arah balkon kamar. Dia langsung menyimpulkan kalau Arka ada di balkon kamar. Dia awalnya merasa lebih lega dan ingin langsung mencoba tidur untuk mengurangi rasa gugupnya. Namun entah mengapa justru dia merasa penasaran.
"Tidak mungkin, kamu pasti berbohong kan?"
Viella menguping sedikit apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Suaranya tidak begitu keras, hanya saja pria itu tampak agak tegang dan terlihat tidak begitu tenang dalam menanggapi lawan bicaranya. Gadis itu tidak pernah melihat sisi lain dari Arka yang seperti ini. Entah mengapa dia merasa agak takut dan khawatir.
"Bagaimana bisa? Anak itu, kenapa saya tidak tahu sebelumnya? Ini bahkan sudah dua tahun lamanya, kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Jangan coba-coba membohongi saya dan mengganggu kehidupan rumah tangga baru saya Celine."
Kening Viella yang berdiri di balik jendela kaca semakin berkerut. Dia tidak paham hal apa yang bisa membuat Arka yang biasanya lembut dan penuh pengertian tiba-tiba menjadi lebih emosional dan tidak sabaran seperti itu. Jujur saja dia merasa semakin gugup. Firasatnya juga mengatakan padanya kalau ini mungkin akan memiliki pengaruh padanya, namun dia tidak tahu apa hal itu.
"Siapa Celine yang dimaksud Mas Arka?" Pikiran Viella sibuk menebak-nebak apa maksud dari perkataan suaminya tadi.
Meski rasa penasaran dalam dirinya masih terlalu kuat, namun dia perlahan berjalan menjauh. Tidak ingin menguping terlalu jauh untuk suatu hal yang mungkin tidak ingin dikatakan oleh pria itu padanya. Meski sebenarnya dia merasa mungkin ada suatu hal yang memang belum sempat dibicarakan dengannya dalam hal ini. Hanya saja firasatnya merasa kalau masalah ini bukan hal yang mudah.
Viella mencoba untuk tertidur, mengabaikan segala firasat tidak nyaman dalam dirinya. Hingga lima belas menit kemudian, dia akhirnya mendengar langkah kaki mendekat. Gadis itu dengan segera berpura-pura sudah tertidur untuk mencari aman. Dia tidak ingin suasana menjadi canggung . Terutama dia tahu kalau suasana hati Arka kemungkinan masih buruk pasca menerima panggilan telepon dari seorang wanita yang entah siapa.
Gadis itu dapat merasakan Arka turut naik ke atas ranjang. Memastikan apakah dia sudah tertidur atau belum. Tidak ada banyak kata yang diucapkan oleh pria itu. Namun Viella dalam pura-pura tidurnya merasa kalau Arka terus menatapnya sejak tadi, tapi dia tetap tidak berani membuka mata.
"Maafkan saya Viella, mungkin saya bukan suami yang baik untuk kamu. Saya harap setelah apa yang terjadi nanti, kamu tidak marah dan masih bisa menerima saya." Arka bergumam dengan pelan, sebelah tangannya terulur mengelus surai lembut dan halus milik Viella.
Ekspresi mata pria itu jelas cukup sulit untuk bisa ditebak. Jelas sekali ada banyak pikiran yang menghantui benaknya saat ini. Rasa takut yang selama ini dia pendam sendiri. Dia tahu kalau tindakannya ini tidak bisa dibenarkan. Dia yang sejak awal tidak terbuka dengan status dan kondisinya pada gadis lugu di sampingnya ini. Membuat perasaan bersalah dalam diri Arka semakin dalam.
"Sekali lagi maaf, jangan pergi meninggalkan saya apapun yang terjadi nantinya. Saya mohon."
Arka menundukkan kepalanya, mengecup kening istrinya dengan gerakan lembut dan ikut berbaring sambil membawa Viella masuk ke dalam pelukannya. Mencoba untuk tertidur meski dengan pikiran yang gelisah dan tidak tenang.
"Maaf. Tapi saya benar-benar sangat mencintai kamu dengan tulus."
Berbeda dengan Arka yang tidak lama kemudian tertidur, setelah Viella merasakan dengkuran napas halus di sampingnya. Gadis itu kini yang bergantian membuka mata. Jelas ada banyak pertanyaan dalam benaknya.
Tidak hanya sekali pria itu mengucapkan kata maaf. Bahkan sampai tiga kali, tapi kenapa Arka justru mengatakannya saat dia sedang dalam kondisi tertidur? Hal apa yang membuat pria ini sampai merasa bersalah dan tampak memiliki begitu banyak beban pikiran?
Apa ada sesuatu yang coba disembunyikan darinya? Tapi apa? Seberapa besar kebohongan itu sampai membuat Mas Arka merasa sangat bersalah padanya? Apa ini berhubungan dengan wanita bernama Celine yang disebut oleh Mas Arka tadi? Mengenai apa?
Berbagai macam pemikiran dan kemungkinan buruk terus berkeliaran dalam benak Viella. Jelas ada rasa takut dalam dirinya. Karena dia tanpa sadar mulai merasa nyaman dan menerima pria ini. Tapi dia tidak yakin akankah rasa nyaman ini akan bertahan lama atau hanya perasaan semu sesaat sebelum badai datang melanda.