10. Mengantar Viella Kuliah

1223 Words
Tidak terasa akhirnya tiga hari telah berlalu semenjak dia menikah. Viella bersyukur dia bisa melewatinya dengan tenang dan tidak begitu gugup saat berhadapan dengan Arka. Apa lagi pria itu tampak lebih sibuk dan sering keluar dalam semenjak kemarin. Tepat setelah dia tanpa sengaja menguping pembicaraannya dengan seorang wanita di telepon. Viella tidak ingin terlalu banyak berpikir, atau memiliki pikiran yang negatif tentang suaminya. Hanya saja tetap masih ada rasa penasaran dan juga pertanyaan mengenai siapa yang menelpon Arka malam itu. Bukankah wajar jika seorang istri merasa penasaran terhadap wanita lain yang menghubungi suaminya? Dia pikir itu adalah hal yang normal. Meski pun pernikahan mereka tidak dilandasi oleh cinta. Tetap saja harus ada keterbukaan dalam hal komunikasi di antara mereka. Sayangnya Viella masih belum berani untuk menanyakan hal itu pada Arka. Apa lagi dia malam itu berpura-pura tidur. "Kenapa kamu menghela napas panjang? Apa ada tugas kuliah yang belum kamu kerjakan?" Viella segera mendongakkan kepalanya, dia tersenyum canggung. Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia tidak menyadari kalau setiap gerak-geriknya tengah diperhatikan oleh orang yang sejak tadi menjadi objek pemikirannya. "Bukan apa-apa kok Mas, cuma agak khawatir aja masuk kuliah lagi dengan status yang berbeda." Viella tidak berbohong, apa lagi pernikahan mereka masih dirahasiakan. Tidak ada satupun temannya yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Meski alasan ini hanya salah satunya. "Mas paham, tapi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Mas janji tidak akan mempublikasikan hubungan kita tanpa izin dari kamu. Setidaknya, sampai kamu siap." "Setidaknya, tunggu sampai aku lulus dulu Mas." Viella merasakan hangat pada punggung tangannya yang digenggam oleh Arka. Dia tahu kalau untuk menunggunya lulus, masih memerlukan waktu yang cukup lama. Tapi dia memang belum siap. Apakah dia egois? "Tidak apa-apa, kelas kamu jam berapa?" "Kelasku jam 9, kalau Mas sendiri ada jadwal ngajarnya jam berapa?" "Mas masih nanti jam 11 jadwal mengajarnya. Tapi tidak masalah, ayo mas antarkam kamu ke kampus." Arka yang sudah selesai makan segera berdiri, dia membawa piring kotor ke tempat cuci piring dan membersihkannya sendiri. Viella yang melihat hal itu mengikuti dari arah belakang. "Mas, aku bisa berangkat sendiri naik ojek online. Lagi pula kalau kita berangkat bersama, mengenai hubungan kita nanti bagaimana kalau ada yang mencurigainya?" Viella semakin memelankan suaranya di kalimat terakhir, jujur saja ada perasaan bersalah. Tapi memang hal itu yang menjadi pertimbangannya, mengingat pernikahan mereka yang tidak dipublikasikan. Apa lagi fakultas mereka bersebelahan dan kampus mereka cukup luas. "Mas mengerti kekhawatiran kamu, tapi sebagai suami sudah menjadi kewajiban Mas untuk mengantar jemput kamu. Nanti biar Mas turunkan kamu di tempat yang agak jauh dari fakultas kamu. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan." "Tapi aku," protes yang ingin dilayangkan kembali oleh Viella terhenti, karena Arka terlebih dahulu menahan bibirnya dengan sebuah kecupan singkat. Membuat tubuh gadis itu langsung membeku kaget. "Kalau masih protes dan menolak, jangan salahkan kalau Mas akan mencium kamu." Wajah Viella memerah malu bukan main. Terasa sangat panas dan dia ingin kabur menjauh dari Arka saat ini. Untuk mengucap sepatah kata saja lidahnya terasa kelu. Meski ini bisa dibilang bukan yang pertama kali dilakukan pria itu, tapi tetap saja. Ciuman terasa sangat intim bagi gadis itu. "Aku, cuci piring dulu." Setidaknya Viella bersyukur karena dia tidak spontan menjatuhkan piring yang dipegangnya karena terlalu kaget dengan tindakan Arka yang tidak dia duga. Rasanya dia akan sering-sering mengalami spot jantung jika pria ini suka mengagetkannya seperti tadi. Arka yang melihat ekspresi lucu dari istrinya hanya bisa menahan bibirnya agar tidak tertawa lepas. Sangat lucu dan menggemaskan. Tentu saja dia sebenarnya tidak merasa cukup dengan sebuah kecupan singkat. Pastinya dia menginginkan lebih dari pada itu. Hanya saja dia tahu kalau istrinya masih perlu waktu untuk membiasakan diri. Masih ada banyak waktu baginya untuk mengajari istri polosnya lebih dari pada ini. Dia hanya perlu bersabar dan tidak perlu tergesa-gesa, meski dia sangat menginginkannya sebagai pria normal yang sudah lama tidak memiliki hubungan romansa dalam dua tahun terakhir. "Aku akan menunggu kamu di dalam mobil." Arka tahu kalau istrinya sedang malu, jadi dia tidak ingin membuatnya lebih gugup. Setelah memastikan kalau Arka sudah pergi dari dapur, barulah Viella menghela napas panjang sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Dia rasanya ingin sekali mengatai suaminya karena membuatnya mengalami spot jantung, tapi juga ada rasa berdebar selayaknya butterfly era dalam perutnya. Ingin marah tapi dia juga tidak bisa marah. Gadis itu segera berjalan naik ke atas untuk mengambil tas kuliahnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah memastikan semuanya sudah masuk ke dalam tasnya, dia segera turun ke bawah, melihat kalau mobil sudah dinyalakan dan rupanya hanya menunggu dia untuk masuk ke dalam mobil. "Maaf ya Mas kalau lama." Viella sebisa mungkin mencoba untuk tenang dan bersikap biasa saja. Tidak mengindikasikan kalau dia masih merasa gugup seperti sebelumnya saat di dapur. "Nggak lama kok, kamu dandan?" Arka memperhatikan penampilan istri kecilnya yang tampak lebih cantik dengan sapuan make-up tipis di wajahnya. Viella yang merasa diperhatikan merasa malu, dia memalingkan wajahnya ke samping. "Emangnya aneh ya Mas?" "Nggak aneh kok, malah makin cantik. Mas sama sekali nggak keberatan mau kamu pakai make-up atau enggak, selama kamu merasa nyaman Mas akan dukung kamu. Kalau kamu pengen perawatan juga jangan segan, kamu bisa pakai uang yang mas kasih untuk keperluan kamu." Viella yang lagi-lagi seolah mendapat sokongan moral oleh suaminya sendiri untuk lebih mempercantik diri merasa senang. Tidak bisa dipungkiri, wanita mana yang tidak senang kalau dipuji cantik dan didukung sepenuhnya untuk lebih mempercantik diri oleh pasangannya? Apa lagi Arka adalah suaminya sendiri, tentu saja dia merasa senang. "Terima kasih Mas, kalau itu nanti aku pikirkan lagi soal perawatan. Skincare sama make-up hantaran pengantin dari kamu aja masih banyak di rumah. Kalau ada yang aku pengen beli nanti aku bilang kamu dulu buat izin." "Nggak perlu izin Sayang, pakai aja buat beli keperluan kamu uangnya. Mas kalau udah ngasih ke kamu ya itu berarti udah menjadi hak kamu, selama kamu gunakan untuk hal-hal yang positif mas tidak akan mempertanyakan atau melarang kamu. Kalau mau kamu kasih ke ibu kamu juga mas nggak keberatan." "Terima kasih sekali lagi ya Mas, kamu baik banget ke aku." "Sama-sama, saya juga merasa beruntung karena bisa memiliki istri seperti kamu." Setelahnya Arka melajukan mobilnya menuju ke arah kampus, sambil mereka sesekali berbincang ringan di sepanjang perjalanan. Viella juga merasa nyaman dengan pemikiran Arka yang open minded dan jauh dari kesan pria patriarki. Benar-benar tipikal suami idaman setiap wanita. Jika pria ini terus menujukkan sisi baiknya seperti ini, gadis itu merasa kalau dia bisa saja jatuh cinta lebih cepat pada Arka dari perkiraannya. "Mas, aku berhenti di sini aja." Viella merasa kalau jarak ini sudah cukup baginya untuk berhenti. Karena dia tidak ingin berhenti terlalu dekat atau tepat di depan fakultasnya. "Tapi ini masih agak jauh Sayang, gimana kalau di persimpangan jalan depan aja berhentinya?" "Enggak perlu Mas, di sini aja turunnya." "Tapi ..." Arka ingin menolak permintaan istrinya, tapi perkataannya terhenti saat ponselnya berbunyi beberapa kali. Dia mrngambil ponselnya dari saku celana, melihat nama yang tertera dan membuat keningnya berkerut seketika. Antara ragu ingin mengangkat panggilan teleponnya di depan Viella atau mengabaikannya. Saat akan mengangkatnya, panggilan telepon terhenti, namun tidak lama kembali berdering. "Oke kamu berhenti di sini, mas mau angkat telepon dulu ya Sayang." "Iya Mas, kalau begitu aku keluar dulu." Viella mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Arka sebelum keluar. Sekilas dia melihat nama yang tertera pada layar ponsel pria itu; Celine. 'Wanita itu lagi ...'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD