Sepanjang mata kuliah berlangsung, pikiran Viella tidak bisa konsen mendengarkan penjelasan dari dosen yang menjelaskan di depan. Pandangan matanya memang fokus ke depan, namun tidak dengan pikirannya.
"Viella, hei Viella dipanggil sama Bu Ratna Tuh."
Setelah ditegur dan ditepuk tangannya beberapa kali oleh temannya, barulah gadis itu tersadar dari lamunannya. Dia tampak kaget dan langsung menoleh ke arah temannya yang bernama Bela. "Kenapa?"
"Ekhem, Viella bisa kamu ulangi apa yang sudah saya jelaskan tadi di depan?"
Seketika perhatian gadis itu langsung teralihkan ke arah depan. Melihat senyum penuh dengan peringatan tersembunyi dari dosennya membuat gadis itu merasa sulit untuk bisa menelan ludah. Sepertinya dia kebanyakan melamun sampai hal itu diketahui oleh dosennya. Dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena telah melamun di dalam kelas. Rasanya sangat malu saat banyak pasang mata yang tertuju padanya, ini memang murni keteledorannya.
"Maaf Bu, saya kurang fokus di kelas." Viella hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sangat malu dan takut kalau dia akan diusir keluar kelas karena tidak mendengarkan dosen saat mengajar di depan
"Kali ini kamu saya maafkan, tapi tidak ada lain kali. Kalau lain kali kamu melamun lagi saat kelas saya, lebih baik kamu keluar dan tidak mengikuti kelas saya. Ini juga berlaku untuk mahasiswa lainnya. Saya tidak ingin kalian sibuk sendiri, perhatikan kalau saya menjelaskan materi di depan."
"Baik Bu!" Mahasiswa lain spontan menjawab serempak, begitu juga dengan Viella.
"Terima kasih Bu!" Viella tidak lupa mengucapkan terima kasih pada dosennya karena tidak mengusirnya keluar kelas.
Akhirnya kelas kembali kondusif, Viella juga tidak lagi melamun di kelas. Meski ada banyak pikiran dan pertanyaan yang mengambang di dalam kepalanya, tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk fokus. Sejenak melupakan mengenai siapa perempuan yang dalam dua hari ini terus menghubungi suaminya. Jelas dia merasa sangat penasaran.
Di tempat lain, Arka kembali mengemudikan mobil ke rumahnya. Dia awalnya ingin langsung ke kampus selagi menunggu jam mengajarnya dimulai, tapi panggilan dari Celine mengganggu pikirannya. Apa lagi dia mengetahui kalau wanita itu saat ini sudah berada di depan rumahnya.
Ada rasa cemas dan berdebar dalam dirinya saat mengetahui kalau wanita itu setelah sekian lama menghilang kini datang lagi. Datang kembali ketika dia telah membangun keluarga kecilnya sendiri. Membuat perasaan bersalah dalam dirinya semakin mengakar kuat. Sesuatu yang selama ini berusaha dia tutupi dari istrinya, dia takut kalau sampai Viella mengetahuinya maka gadis itu akan marah. Lebih parahnya lagi, dia takut kalau sesuatu yang tidak dia inginkan akan terjadi.
Sebenarnya dia tidak ingin menutupinya, hanya saja rasa takut akan adanya sebuah penolakan lebih kuat. Membuatnya mengambil keputusan egois dengan menyembunyikan hal ini.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil pria itu sampai di halaman rumahnya, melihat sosok yang tidak asing baginya. Setalah dua tahun lamanya, akhirnya dia melihatnya lagi. Namun perasaanya jelas telah berubah, namun jelas masih ada perasaan rumit dalam dirinya. Tidak semudah itu untuk melupakan semuanya. Kemarahan yang terpendam dalam dirinya, semua hal yang belum sempat terselesaikan di masa lalu seakan menumpuk menjadi satu. Membuatnya tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.
Arka memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, lalu dia keluar dari mobilnya. Terlebih dahulu dia menghela napas panjang, mencoba untuk memenangkan dirinya. Menghadapi sesuatu yang cepat atau lambat memang harus segera dia luruskan. Karena semakin lama dia menundanya, maka hal itu akan tetap menjadi simpul yang suatu saat bisa saja menjadi batu sandungan dalam hubungannya saat ini.
"Kenapa kamu datang lagi." Pria itu tidak ingin berbasa-basi, langsung berterus-terang di depan wanita yang menjadi masa lalunya.
"Aku tahu kamu masih marah ke aku. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi. Anak ini, milikmu." Wanita itu menggendong seorang anak kecil berusia satu tahun lebih.
Arka sejak tadi tentu saja sudah menyadarinya. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia tidak ingin membicarakan hal ini di depan rumahnya, yang bisa saja menimbulkan rasa penasaran dari orang lain.
"Masuklah." Pria itu membuka pintu rumahnya. Mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam ruang tamu dengan anak kecil di gendongannya.
"Suasananya masih sama, masih seperti dulu."
Arka yang mendengarnya hanya bisa menghela napas panjang. Merasa kesal sekaligus marah, karena dia sama sekali tidak berminat untuk membicarakan mengenai masa lalu mereka. Karena baginya, semua yang telah berlalu biarlah berlalu. Dia tidak ingin terus terpuruk dalam masa lalu yang menyakitkan dan banyak memberikannya pelajaran berharga dalam hidupnya.
"Aku tidak ingin membahas masa lalu, katakan saja apa tujuan kamu sebenarnya datang kembali?" Arka langsung mengatakannya dengan sangat jelas, dia merasa tidak nyaman jika harus membahas mengenai masa lalu yang sudah berusaha dia lupakan.
"Aku hanya ingin kamu melihat anak kamu sendiri. Apakah salah?"
"Dua tahun, kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Bagaimana aku bisa percaya kalau anak ini memang benar anakku?"
"Ayah!" Suara kecil dan lembut itu terdengar dari bibir mungil bayi dalam gendongan Celine.
"Apa kamu tidak bisa mengenalinya hanya dalam sekali lihat? Menurutmu apakah kalian tidak memiliki banyak kesamaan?" Celine mengatakannya dengan jelas, menurunkan anaknya dan membiarkan anak kecil itu berjalan ke arah Arka.
"Ayah, Mama ini Ayah!" anak laki-laki dengan wajah bulat dan pipi chubby itu menatap Arka dan juga Celine bergantian. Senyum di wajahnya tampak cerah, jelas sekali kalau dia terlihat bahagia hingga memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi.
Mendengar dia dipanggil dengan sebutan ayah oleh seorang anak kecil di depannya, bohong kalau Arka tidak merasakan getaran dalam dirinya. Dia ingin menolaknya, namun jelas dia tahu kalau memang apa yang dikatakan oleh Celine benar adanya. Tapi saat ini, jelas bukan waktu yang tepat. Ada satu hal yang membuatnya merasa semakin bimbang dan takut. Ketakutan terbesar dalam dirinya.
Bukan, tentu saja jika memang anak kecil ini adalah anaknya maka dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Anak kecil ini juga bukanlah anak haram, karena faktanya Celine adalah mantan istrinya dua tahun yang lalu. Ada banyak hal yang tidak dia ceritakan sebelumnya. Namun sekarang, keputusannya untuk menyembunyikan statusnya seakan menjadi bumerang dalam kehidupan rumah tangganya dengan Viella.
"Kalau dia memang benar anakku, kenapa kamu tidak pernah mengatakan mengenai hal ini dari dulu? Kenapa baru sekarang kamu datang dan memberitahuku?" Arka menatap Celine dengan pandangan serius, jelas dalam hati ingin menyangkal. Tapi di lain sisi dia juga bimbang.
'Maafkan aku Viella, kuharap kamu tidak akan meninggalkanku jika mengetahui kebenarannya.'