Halaman satu
One
"Ini semua gara-gara kau!" Suara penuh nada kebencian yang terdengar keras memenuhi lorong rumah sakit, berdengung hingga ke telinga dan tepat menusuk jantung siapa saja yang mendengarnya. Seorang gadis kecil berdiri termangu, usianya mungkin belum mencapai enam tahun, gadis kecil dengan wajah bulat dan sepasang mata jernih menatap diam seorang pria yang jauh lebih dewasa darinya. Gadis kecil tidak tahu kesalahan apa yang ia lakukan sehingga pria di hadapannya ini begitu membencinya, gadis kecil tidak paham apa maksud perkataan Si pria dan kenapa Si pria berteriak keras padanya. Gadis kecil tidak merasa ia tengah melakukan kesalahan, ia juga tidak ingat jika ia memecahkan sesuatu atau merusak sesuatu dan harus dimarahi karenanya. Yang dapat ia lakukan hanya diam, menatap wajah Si pria dan menggenggam erat ujung pakaiannya yang kotor karena tanah.
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal demikian di hadapan putriku!? Kau yang tidak tahu diri! Alexander melakukan hal yang harus ia lakukan! Ia menyelamatkan putrinya! Ia tidak membiarkan putrinya terluka dan dia adalah pahlawan untuk keluarga kami! Kau tidak berhak berkata seperti ini pada kami!" Seorang wanita yang wajahnya basah dan matanya sembap mendorong Si pria dengan kasar dan segera memeluk gadis kecilnya yang terlihat jelas jika tidak mengerti apa yang telah terjadi. Wanita cantik dengan rambut mengombak dan berwarna gelap itu tersedu, ia berlutut di hadapan gadis kecil dan membiarkan tubuhnya menutupi wajah gadis kecil, kedua tangan wanita yang sedang sibuk membalas teriakan Si pria tampak menutupi telinga gadis kecil agar tidak lagi mendengar hal-hal yang tidak seharusnya ia dengar.
"Kau tidak seharusnya berada di sini, kau tidak seharusnya ada di keluarga kami. Sejak kali pertama Alexander membawamu dan mengenalkanmu pada kami, aku sudah curiga. Bagaimana seorang anak bisa membenci orang tua sendiri dan mencaci mereka di belakang! Bagaimana seorang dewasa sepertimu menyalahkan kematian yang tak dapat diduga dan dihindari pada anak kecil yang bahkan belum berusia enam tahun!? Tidak punya hati! Tidak punya perasaan! Alexander adalah suamiku! Dan Alexander adalah ayah dari putri kecilku yang malang! Kau, kau yang bukan siapa-siapa di sini dan kau tidak berhak ada di sini!" Teriakan wanita itu lantang, begitu keras dan tegas. Ia baru saja kehilangan suaminya, ia baru saja mendapat luka atas kepergian suaminya yang sangat tiba-tiba.
Wanita yang belum lama menikah dan baru saja merasakan jadi seorang Ibu itu masih mengingat dengan jelas ketika pihak rumah sakit menghubunginya, ketika suara ramah dari seberang sana yang memberikan sebuah informasi jika Alexander Monche; suami sahnya yang ia nikahi enam tahun lalu itu tengah berada di ruang perawatan intensif dan membutuhkan konfirmasi segera dari pihak keluarga untuk menjalani proses operasi. Lebih sakit dari ditusuk pisau dan lebih mengejutkan dibanding kabar apa pun yang ia terima. Wanita yang baru menginjak usia dua puluh empat tahun itu tidak dapat lagi berkata apa-apa terkecuali bergegas menuju Rumah Sakit dengan mengucap doa di sepanjang langkahnya. Pihak Rumah Sakit berkata jika Alexander mengalami luka robek di bagian perut kiri dan terus saja pendarahan, mereka harus segera melakukan tindakan lebih lanjut untuk menyelamatkan nyawa suaminya.
Meghann; istri Alexander dan Ibu dari Rosalynd, hanya bisa pasrah ketika pihak rumah sakit tidak dapat menjelaskan secara detail mengenaik kecelakaan yang menimpa suami dan anak perempuannya tersebut. Pihak Rumah Sakit berkata, jika warga sekitar yang tengah melewati jalanan ke arah bukit mendengar suara tangis Rosalynd, dan setelah mengikuti suara tangis anak perempuan yang tak kunjung berhenti itu, para warga menemukan sosok Alexander tengah berbaring di atas tanah dengan sebuah ranting yang menembus bagian perutnya dengan kondisi setengah sadar. Meghan ingat, hari ini adalah hari libur Alexander, dan setiap hari libur, Alexander akan mengajak putri kecil mereka jalan-jalan di daerah bukit yang ada di belakang rumah. Biasanya, Alexander dan Rosalynd akan pulang pukul tiga sore, dan pada hari di mana peristiwa buruk itu terjadi, keduanya tidak juga kembali meski waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit sore. Meghann hanya beranggapan jika Alexander terlalu memanjakan Rosalynd dan membiarkan anak perempuan mereka itu bermain lebih lama. Meski pada kenyataannya, ada kejadian tidak menyenangkan terjadi pada suami dan anak satu-sarunya itu.
"Lebih baik kau pergi dari sini, apa yang terjadi memang sangat mengejutkan bagi siapa saja. Namun, apa yang kau katakan sungguh tidak pantas dan tidak seharusnya kau ucapkan pada seorang anak-anak. Dan seperti yang Meghann katakan, Alexander; putraku telah melakukan apa yang harusnya ia lakukan. Ia menyelamatkan nyawa putri satu-satunya yang ia punya, ia adalah pahlawan, dan Rosalynd, permata kami yang sangat berharga tidak memiliki kesalahan sedikit pun karena masih tetap hidup hingga hari ini. Jika bukan Alexander sekali pun, maka aku atau Meghann, atau siapa saja yang ada dalam keluarga kami akan menyelamatkannya dari kematian, dari keburukan dan dari semua hal jahat di dunia. Tidak akan kami biarkan Rosalynd menderita dan kesakitan. Untuk ketentraman semuanya, untuk kebaikan semuanya, aku harap kau meninggalkan keluarga kami sesegera mungkin." Pria tua dengan rambut putih seutuhnya itu menatap tegas remaja laki-laki yang masih berdiri di sana, berdiri tegap menutupi tubuh Rosalynd kecil dan Meghann.
Remaja lelaki itu tertawa, sedikit juga ia tidak merasa bersalah atas apa yang ia katakan pada Rosalynd. Ia merasa, hal yang terjadi sungguh tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan anak kecil di hadapannya. Hatinya masih terbakar, emosinya masih menguap, jangankan maaf dan menerima dengan lapang d**a, saat ini yang ingin ia lakukan adalah melemparkan Rosalynd ke jurang agar Alexander dapat hidup kembali seperti biasa.
"Anak kecil atau apa, salah tetap saja salah. Ada banyak sosok Ayah dan anak di luar sana, kenapa hanya anak itu yang membuat Ayah kandungnya mati? Kenapa hanya anak itu yang merebut kehidupan keluarganya? Tidakkah tandanya anak itu adalah anak pembawa s**l?"
"Tutup mulutmu! Satu kali lagi aku katakan padamu atau aku sendiri yang akan menggeretmu ke gerbang luar. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali." Pria tua itu menghentakkan tongkat pembantu jalannya ke lantai, menimbulkan suara keras yang dibarengi dengan sergahannya. Si remaja lelaki hanya menggeleng, air matanya masih menyisa di pelupuk mata.
"Baiklah, baik. Aku akan pergi, tapi ingatlah, karma itu akan datang. Karma itu akan selalu datang cepat atau lambat, dan karma itu akan menemui pembunuh yang kalian lindungi dengan segera!"