19

1215 Words
Udara malam yang sejuk, terasa menusuk tulang. Orang-orang sudah berada dirumah untuk beristirahat. Tetapi tidak untuk Fatimah. Kali ini ia pulang sedikit larut. Ia mengeratkan jaket untuk menghalau rasa dingin. Berjalan kaki menyusuri jalan untuk pulang kerumah. Ia butuh waktu sendiri. Menenangkan diri, dari masalah yang ada. Ada niatan dalam dirinya untuk mengakhiri hidup. Tetapi ia mencoba mengusirnya jauh-jauh. Perjalanan nya akan semakin panjang dengan mengambil jalan pintas. Sunyi dan dingin. Hanya satu dua motor yang melintas. Suara serangga kecil saling bersahutan. Ia tidak takut. Tetapi ketika berada diluar seperti ini. Seolah-olah bebannya menguap entah kemana. Begitu melintasi sebuah gang. Gang itu cukup gelap. Terdengar suara orang-orang yang sepertinya tengah mabuk. Fatimah tak menghiraukannya ia pun berjalan melewati gang itu. "Eh ada cewek tu." "Sikat bang." Fatimah mendengar percakapan itu. Ia mempercepat langkah nya. "hai neng cantik. Sendirian aja." Ada dua orang laki-laki dengan badan yang penuh tato. Mereka mengepung Fatimah. "Maaf mas, saya mau pulang." "Nanti saja, mau senang-senang dengan kami gak?." "Maaf, tapi ibu saya sudah nunggu." "Aduh, gak apa ibunya nunggu dulu. Sebentar juga kok." Mereka berdua terus mengkukung Fatimah, semakin lama semakin medekat. Dan Fatimah mencoba mendorong mereka. "Sebentar saja neng." "Lepas..." " gue suka nih yang agresif." Fatimah membelakak kaget saat tangan salah satu dari mereka meremas b****g nya. "Jangan kurang ajar ya." "Ayo bawa aja." "TOLONG!!!!."   ⚫⚫⚫   Malam ini Karisma tampa menyusuri jalan yang sudah sepi. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Harusnya ia sudah ada di kasur, tidur dengan nyenyak. Tetapi entah kenapa tubuhnya menolak. Ia ingin merasakan angin malam yang berhembus, menerpa wajah dan tubuhnya. Kali ini menghentikan mobilnya di pinggil jalan. Kemudian ia keluar, menghidupkan sebatang rokok kemudian menyesap nya. Asap menggempul di udara. Satu motor melaju, membawa asap itu menjauh. Entah kenapa ia menghentikan mobilnya di jalan ini, dimana jalan yang mengarah pada rumah karyawan yang ia beli. Ia teringat Fatimah. Wajah yang tampak memucat itu menjadi beban pikirannya. Dreet dreet! Ponsel Karisma bergetar dalam saku celana nya. Ia mengambil kemudian menggeser tombol ke warna hijau. "Ya?." "Pak, ini data yang bapak pinta ada dalam flashdisk saya. Saya antar sekarang atau bagaimana?." "antar saja sekarang saya ada di jalan Antasari." "Baik pak." Karisma tersenyum sinis, "Mau bermain-main dengan ku Kinanti? Kita lihat, siapa yang lebih unggul. " "TOLONG!!!." Karisma mengerutkan dahinya, ia menatap sekitar yang tampak sepi. Suara teriakan seseorang meminta tolong terdengar dalam pendengaran nya. Matanya menyusuri jalan itu. Suara itu berasal dari sebelah kiri nya. Ia menoleh kemudian menajamkan matanya. Ada bayangan orang diujung dekat gang. "Siapa disana?." Tidak ada yang menyahuti suaranya, rasa penasarannya kian menjadi, ia berjalan mendekat. Ada desis seseorang yang menyuruh diam. Karisma dengan sigap merogoh sesuatu di belakang tubuhnya. Kemudian menodong nya kedepan. "Angkat tangan."   ⚫⚫⚫   "Kamu bodoh ya." Wanita itu tidak menjawab. "Kalau kamu di habisi dengan mereka bagaimana?." "Setidaknya, saya bukan wanita yang pantas di jaga." Karisma mengerutkan dahi bingung. Kini keduanya ada didalam mobil Karisma. Laki-laki itu mengantar Fatimag pulang. Flashback... "Angkat tangan." "wow wow wow, kamu punya pangeran kesiangan, huh." Kedua laki-laki yang mengkungkung Fatimah berbali. Karisma terkejut, ternyata suara itu berasal dari Fatimah. Tampak sekali wanita itu ketakutan dengan air mata yang terus mengalir. "Fatimah." "Wow, namanya Fatimah. Bagus juga. Siapa lo?." "Lepaskan dia." "apa hak lo, buat larang kita?." Karisma tampak kebingungan dalam menjawab nya. Tiba-tiba kepalanya memikirkan sesuatu.. "Saya suami nya." Fatimah tampak tergugu. Ia menatap Karisma dengan sayu. "Menjauh kalian." "Gak segampang itu." Dari sana lah semuanya bermulai. Perkelahian satu banding dua. Fatimah tidak melihatnya ia hanya menutup mata serta telinga dengan rapat. "Bapak gak perlu bantu saya." "Gila kamu ya, siapapun pasti akan berterimakasih karna sudah di tolong dalam keadaan seperti itu." Fatimah hanya tersenyum kecil yang tampak sangat pasrah. "Tidur lah, lagi pula kenapa kamu pulang selarut ini." "Terimakasih."   ⚫⚫⚫   Termenung, menatap langit yang hampir menunjukkan cahaya nya. Fatimah tidak dapat tidur semalaman hanya karna ucapan Karisma yang masih terngiang di kepalanya. Jika benar, Karisma akan menjadi suaminya, ia akan sangat bersyukur. Karna laki-laki itu yang mengambil mahkotanya dan laki-laki itu pula lah yang telah menjadi suami nya. Tetapi tetap saja, dirinya telah berdosa, dosa yang sangat besar. Tanpa sada air matanya meluruh. Iasak tangis nya muncul, bahu nya bergetar. Jiwa nya rapuh. "Nak..." "iya bu." Fatimah dengan cepat menghapus air matanya. "Sudah pagi, ayo siap-siap." "Em.. Hari ini Fatimah gak kerja dulu bu." "buka dulu pintu nya." Fatimah berjalan kearah pintu, kemudian membuka nya. "kamu sakit?." "Enggak." "Tapi makin hari kamu makin beda nak, lihat mata mu..." Fatma menyentuh mata Fatimah. "Kamu tidak tidur? Ini terlihat sangat hitam." "Fatimah gak bisa tidur bu." "Kenapa? Nanti kamu sakit bagimana?." "in syaa Allah enggak kok bu." "jadi gak ke kantor?." "enggak." "Ya sudah, mandi ya, ibu masakkan sarapan dulu. Setelah itu, kamu bantu ibu tanam sayuran di belakang." "Iya bu." Fatimah menatap punggung Fatma dengan sedih. Ia berdosa, ia berbohong dan ia tidak sanggup jika suatu saat ibunya tahu tentang ini. Apa yang akan terjadi. Akan kah ia tidak dianggap sebagai anak, seperti orang-orang kebanyakan?. Tak mau Fatma menunggu nya lama. Ia pun bergegas mandi dan membersihkan diri.   ⚫⚫⚫   "Sekarang kita mau tanam apa bu?." "Ini." Fatma memberikan bibit cabai. "Ibu beli ini, kamu tanam. Jadi kalau kita mau masak sambal, gak perlu beli lagi." Fatimah tersenyum kemudian ia mengambil nya. Menyiapkan pot kecil lalu mengisinya dengan tanah pupuk. "Semua atau bagaimana?." "Sebagian saja, sisanya buatkan di tempat baru." "Kenapa gak di gabung aja bu?." "Entar tumbuhnya jelek." "Bisa gitu ya..." "Ya bisa lah nak. Enggak kok ibu bercanda. Maksud ibu biar nanti tumbuhnya bercabang, jadi banyak." "Iya iya, Fatimah ngerti kok." "Eh, bagaimana dengan kantor mu?." Fatimah terdiam sesaat. "Baik." "Punya banyak teman di kantor?." "enggak juga, soalnya jarang aja gitu ngumpul-ngumpul." ujar Fatimah berbohong. Fatma tampak menganggukkan kepalanya, "Lalu tentang lamaran laki-laki itu, bagaimana?." "Fatimah.. Fatimah tolak." "Kenapa?." "ngerasa gak cocok aja bu. Kasihan nanti kalau di jalani lebih lama. Makin kasihan dia nya." ujar Fatimah berbohong lagi. "Padahal, laki-laki itu tampan." 'ada yang lebih tampan lagi bu' batin Fatimah. 'Tapi dia b******k'. Lanjutnya. "Lalu, bagaimana dengan laki-laki yang kamu sukai itu?." Deg!. Mulut Fatimah tampak kaku, ia bahkan menghentikan kegiatannya. Matanya melirik kesana kemari mencari jawaban yang tepat. "Nak?." "Eh, iya bu. Enggak gimana-gimana. Ya gitu aja sih bu." "masih berpacaran dengan pacaranya itu?." Fatimah menghedikkan bahunya, "Enggak tahu bu. Ya, masa Fatimah ikut campur. Ya gak mungkin lah bu. Biar aja kalau memang jodoh, nanti datang sendiri." "ealah anak ini. Belajar dari mana kamu?." "Belajar dari ibu dulu." "lah, sejak kapan ibu bicara begitu?." "dulu, waktu ibu sama bapak pdkt." Tok!. Fatma mengetuk kepala Fatimah dengan gemas. "Waktu ibu pdkt dengan bapak mu, ya kamu belum ada toh nak. Gimana sih kamu." Fatimah terbahak keras, Fatma pun juga ikutan terkekeh dengan tingkah anak nya ini. Sudah berapa lama tidak melihat anak nya tersenyum. Akhir-akhir ini yang Fatma lihat hanya wajah murung dan sedih. "Rasanya lama banget ibu gak lihat kamu tersentum." Perlahan, senyum Fatimah luntur. "I—iya bu." "Nak, kalau kamu memang tidak sanggup menahan beban sendiri. Bicarakan dengan orang yang menurut kamu bisa mendengarkannya. Setidaknya beban itu terobati sedikit." "Bu, bagaimana jika..." TING TONG!. Ucapan Fatimah terhenti, wanita itu menghembuskan nafasnya lega. Ia hampir saja mengaku tentang keadaanya. "Buka dulu nak, siapa itu yang datang." "Iya bu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD