17

1231 Words
Fatimah tampak syok dengan kejadian semalam. Pagi sudah datang, cahaya memasuki kamar hotel melalui celah gorden. Wamita itu tampak termenung dengan isak tangis kecil. Ia mencengkram dengan erat selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia tidak menyangka, bahwa tindakan yang ia lakukan semalam barujung akan kejadian ini. Feeling nya juga mengatakan bahwa ia ragu, tetapi mengingat ini atasannya, maka ia pun datang. Laki-laki itu tampak terlelap dengan damai di kasur sebelahnya. Seluruh tubuh Fatimah seperti ingin patah. Terutama bagian intinya, sakit sekali. Fatimah beranjak kemudian mencari pakaian yang berhamburan di lantai. Ia berjalan dengan tertarih kedalam toilet. Didalam sana, ada sebuah kaca yang tidak terlalu besar. Air matanya mengalir kembali. Seluruh tubuhnya ada bercak merah. Fatimah menghidupkan air kemudian membasuh bercak itu. "Kenapa tidak hilang..." lirih nya. Ia terus menggosok, hingga kulitnya berwarna merah. "ini harus hilang. Aku gak mau ini." Ia meluruh,"kenapa harus aku... Kenapa..." Fatimah memukul dadanya dengan kencang, "Aku harus apa setelah ini, bagaimana jika ibu tahu nantinya... Aku tidak mau ini.. Ayah ibu maafkan aku..."   ⚫⚫⚫   Karisma terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa berdenyut. Ia melihat sekitar yang tampak berantakan. Tubuhnya polos dan ia tersentak kaget. Membuang selimut dengan cepat kemudian terpaku. Ada sisa darah di samping tempat tidurnya. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam. Dengan cepat ia mengaambil pakaiannya kemudian memasuki toilet dan membersihkan diri. "sialan, apa yang aku lakukan semalam. Jika aku seperti ini, maka aku tidak jauh berbeda dengan Kinanti." Laki-laki itu dengan cepat membersihkan diri, kemudian memasang pakaian yang sama dengan malam tadi. Kemudian bergegas meninggalkan kamar yang ada di club itu. Ya, semalam Karisma datang ke sebuah Club terkenal. Entah kenapa hatinya mengatakan kesana untuk menghilangkan beban pikirannya. Dan benar, tapi hanya sejenak, pagi ini ia kembali di hantui dengan bercak darah yang ia yakini semalam terlah terjadi sesuatu.   ⚫⚫⚫   Hari ini Fatimah tidak berniat kemana-mana, ia berada dalam kamar, meringkuk layak nya janin dengan air mata yang mengalir. Fatma sempat terkejut anak nya pulang pagi hari dengan mata sembab. Dan ia tidak dapat berbicara melihat anak nya yang tampak murung. Dan siang ini, wanita itu tak kunjung keluar kamar membuat Fatma khawatir. Wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar Fatimah. "Nak, makan dulu yuk, ibu sudah masak." "Fatimah nanti aja bu, ibu makan duluan saja jangan lupa obatnya." "Kamu sakit nak?." "Enggak kok bu." "Ya sudah, tapi janji dengan ibu kamu harus makan ya nak." "Iya bu." Setelah mengatakan itu, Fatma tak lantas pergi ia berdiri sejenak disana. Tak lama terdengar isak tangis. Fatma tampak curiga, mungkin kah anak nya tengah patah hati atau lain nya. Ia tidak kuasa mendengarnya, sehingga ia memutuskan untuk pergi.   ⚫⚫⚫   Daniel menghubungi Fatimah sekedar bertanya keberadaan wanita itu. Karna siang ini wanita itu tidak ada di meja nya. Bahkan meja itu masih tampak rapi-rapi saja. "Halo?." "Hai, kamu lagi dimana?." "Dirumah pak." "Gak ke kantor?." "enggak." "emm, kamu sudah makan?." "sudah." Daniel sedikit bingung dengan nada bicara Fatimah yang tampak tidak bersemangat lalu dengan suara yang terdengar berbeda. "Kamu sakit?." "enggak. Cuma flu biasa." "Mau aku bawain apa?." "enggak perlu, aku cuma butuh istirahat aja. Terimakasih, aku tutup telfon nya." Tut!. "Ada apa dengan wanita itu." gumam Daniel. Lift terbuka, ia menoleh dan disana ada Karisma. Keduanya saling pandang dengan tajam. "Ngapain kamu kesini?." "sepertinya bukan urusan anda." Karisma melirik meja Fatimah sebentar, kemudian ia berjalan masuk meninggalkan Daniel. Begitu sampai di meja kerjanya, ia menghubungi Fatimah. Tetapi tidak diangkat bahkan untuk dering yang ke dua, panggilan itu tidak terhubung. Ponsel wanita itu mati. Dan Karisma kebingungan. "Ada apa ini?."   ⚫⚫⚫   "Aku mau kamu tanggung jawab Agum." "apa? Kamu tidak memenuhi syaratku bukan?." "Tidak bisa begitu. Aku hamil anak mu." "Cih! Kau pikir aku percaya? Kau bahkan sebelumnya juga sering bercinta dengan pacar mu itu. Upss, maksudku mantan pacarmu." "Sialan kau, aku tidak mau tahu. Kau harus tanggung jawab dengan semua ini." "Terserah, tapi aku tidak mau. Jika kau juga tidak ingin, gugurkan saja." Agum berlalu meninggalkan Kinanti yang berteriak marah. Ia menghempaskan seluruh barang yang ada didekatnya. Hari ini ia mengetahui bahwa dirinya hamil. Bagaimana dengan pekerjaan nya, orang tuanya. Seluruh dunia tahu akan kehamilan ini. Ia tidak ingin, walau dari negaranya itu tidak menjadi masalah. Tetapi untuk pekerjaan nya, karir nya. Akan hancur berantakan. "Tidak,aku tak ingin ini terjadi." ujar Kinanti. Wanita itu berjalan kearah dapur, ia mengambil pisau yang tampak tajam. Mendekatkan pisau itu ke bagian pergelangan tangannya dimana nadi berada. "Tidak, jika aku mengakhiri diri, karirku hancur. Sialan apa yang harus aku lakukan." Ia membanting pisau itu. Kemudian ia meluruh sembari meremas rambutnya. "b******n, kaparat. Sialan kau Agum. Aku begini karna kau menjebak ku."   ⚫⚫⚫   "Karisma aku mohon bantu aku." "bantu apa? Aku tidak memilik urusan lagi dengan mu. "tanggung jawab dengan anak ini." "tanggung jawab? Anak siapa yang kau maksud?." "ini diperutku. Aku hamil." "lalu?." "kau harus tanggung jawab." "kenapa aku? Kau pikir aku lupa dengan pengaman? Selama kita berhubungan aku tak melupakan pengaman." Kinanti tergagu. Rencana nya gagal lagi kali ini. Karisma lebih unggul darinya. Laki-laki itu sudah melangkah satu langkah dari nya. "Tapi aku mohon, bantu aku." "Aku tidak ingin berurusan dengan ini Kinanti. Keluarlah aku sibuk." Kinanti keluar dengan kebingungan, ia melihat Fatimah yang tak sengaja meliriknya. Ia pun mendekatinya. "Bisa bicara sebentar?." "bisa bu." "Ikut saya." Kinanti membawa Fatimah ke taman kantor. Mereka duduk bersampingan dengan angin sejuk yang menerpa. "saya bisa minta tolong dengan kamu?."ujar Kinanti tanpa basa-basi. " Apa bu?." " jauhi Karisma. " "saya gak dekat dengan pak Karisma." "saya tahu. Tapi ini demi anak saya dan Karisma." Fatimah membelalakan matanya, kemudian matanya tertuju pada perut rata Kinanti. "Disini ada anak nya Karisma. Akhir-akhir ini, dia jarang menghubungku. Dia bilang karna pekerjaan. Dan saya mohon, jauhi dia." "gak ada urusan apapun antara saya dan pak Karisma." "untuk kali ini saja. Keluarlah dari perusahaan." "APA?!." Fatimah menggeleng kuat, kemudian berdiri. "Tidak, maaf untuk itu tidak ada sangkut paut nya anda dengan saya disini. Yang berhak memecat saya haya pak Karisma." Setelah mengatakan itu Fatimah berlalu dengan mempercepat langkahnya. Kali ini Kinanti gagal lagi. Niat awalnya ia ingin memisalahkan Fatimah, karna ia sempat melihat tatapan berbeda dari Fatimah pada Karisma. Dan ia bisa menebak bahwa wanita itu memiliki perasaan lebih. Ia tidak ingin Karisma berpaling darinya. Sejujurnya, ia memang salah. Tapi ia bisa apa sebagai perempuan. Dan sekarang ia menyesal. Menyesal telah melakukan hal bodoh yang merugikan diri nya sendiri.   ⚫⚫⚫   "Dari mana kamu?." "bertemu seseorang." "Siapa?." "apa itu penting untuk anda?." "Kamu kenapa sih?." "Bapak sudah..." ucapan Fatimah terhenti. Ia tidak sanggup mengatakannya sekarang. Kemarin saat ia masuk kerja laki-laki itu tampak biasa saja tanpa ada rasa bersalah. Ia terpaksa bertahan bekerja disini karna ibunya butuh uang, mereka butuh uang untuk makan dan kehidupan sehari-hari. "Kenapa? Apa yang saya sudah?." "Tidak, permisi." Fatimah berlari kemudian memasuki toilet. Didalan sana ada sebuah cermin besar. Ia tak kuasa menahan tangis nya. Akhirnya tumpah begitu saja. Ia berdosa, ia kotor, ia tidak suci lagi, siapa yang mau dengan wanita seperti dirinya. Tidak ada yang mau dengan wanita bekas. Kakinya terasa seperti jelly, tidak sanggup menahan beban tubuhnya. Sekarang bebannya bertambah, dan kali ini lebih berat. Pikirannya terganggu. Setiap malam ia tidak dapat tidur dengan lelap. Terbangun dalam keadaan menangis, kejadian sebelumnya terus berputar dalam mimpinya. Dan itu membuat tidak bisa tenang. "Puas sekarang anda. Menghancurkan apa yang sudah saya jaga selama dua puluh empat tahun ini." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD