Fatimah mengirimkan pesan pada Karisma bahwa ia akan datang siang hari nya . Karna paginya ia akan membawa sang ibu kerunah sakit untuk memeriksa kesehatan wanita yang telah melahirkannya itu. Tidak berapa lama, pesan masuk membuat Fatimah langsung melihatnya.
Ia tersenyum, kemudian membalas dengan ucapan terimakasih. Ia beranjak menuju kamar sang ibu.
"Bu, besok kita kerumah sakit ya."
"Ngapain nak?."
"periksa kesehatan ibu."
"aiish, tidak perlu. Ibu masih sehat-sehat saja."
"sekarang iya, besok? Lusa? Bagaimana? Enggak apa bu, Fatimah bekerja juga untuk ibu."
"Nak, kamu simpan uang nya, jangan terlalu foya-foya."
"enggak foya-foya bu, ini kan untuk kita juga."
"Ya sudah, baik lah. Besok kita kesana. Kapan?."
"pagi. Ibu mau kan? Siangnya Fatimah akan ke kantor."
"Ya sudah enggak apa."
⚫⚫⚫
Pagi ini keduanya telah siap, Fatimah memesan taksi online. Mereka duduk di ruang tamu.
"Ibu takut."
Fatimah mengerutkan dahi, "Takut? Kenapa?."
"Nanti kalau penyakit ibu tambah..."
"ih ibu apaan, jangan berpikir yang enggak-enggak bu."
TIN TIN!
"Ayo, taksinya sudah sampai ."
Fatma menghela nafas, ia menyusul Fatimah, kemudian mereka berangkat menuju rumah sakit terdekat diruamh mereka.
Selam perjalanan, Fatma tampak termenung, Fatimah menggenggam tangan Fatma kemudian tersenyum.
"Ibu akan baik-baik saja."
⚫⚫⚫
Setelah sampai, Fatimah membawa Fatma ke tempat pendaftaran, tampak ramai walau nasih pagi.
"ibu tunggu sebentar disini ya, Fatimah mau daftar dulu."
Fatma mengangguk, Fatimah berjalan menuju tempat pendaftaran. Disana ia memberikan persyaratan yang diminta, setelah selesai ia kembali ketempat duduk.
"Kita urutan ke lima belas bu, gak apa kan nunggu sebentar?."
"Enggak apa kok."
"Atau ibu mau beli cemilan dulu?."
"sudah, gak usah, nanti saja kalau ibu mau."
Fatimah tersenyum, ia menunggu gilirannya sengan berbincang dengan ibunya.
Sementara itu di kantor, Daniel tampak bingung saat meja Fatimah kosong. Ia mengetuk pintu Karisma dan laki-laki itu menyahut.
"Tahu gak dimana Fatimah?."
"Sedang kerumah sakit."
"APA?! SAKIT APA?."
"bukan dia, tapi ibunya."
"Astaga ibu mertua."
Karisma berdecih malas, "mimpi kamu."
"Rumah sakit mana?."
"ya mana aku tahu lah."
Daniel menepuk dahinya, "aku kan punya nomornya."
Karisma mengerutkan dahinya, "Dapat dari mana?."
"Kepo."
Setelah mengatakan itu, Daniel berlalu meninggalkan Karisma yang tengah berkelut dengan pikirannya.
⚫⚫⚫
"Ibu Fatma ya."
"Iya dok."
Dokter wanita itu mengangguk, kemudian membaca data yang ada, "Ada keluhan apa?."
"Terkadang, tangan saya mati rasa. Lalu di kaki saya juga kadang merasa kesemutan. Dan kalau sudah itu terjadi saya gak bisa ngapa-ngapain."
"Sudah berapa lama?."
Fatma tampak berpikir, "Dua tahun yang lalu atau mungkin lebih dok."
Dokter wanita itu mengangguk, "Mau kita periksa gula darah nya?."
"boleh dok."
Dokter itu menyuruh perawat untuk memeriksa nya, selagi ia memberikan daftar obat-obatan.
"gula darahnya 460 dok."
"Wah tinggi sekali ini bu."
Fatma dan Fatimah saling pandang. "lalu bagaimana dok?."
"biasanya jika gulah darah tinggi, akan susah menurunkannya. Akan saya beri obat lalu hindari makanan yang manis. Jika bisa, ganti nasinya dengan beras merah. Air putih di banyakin."
"Terimakasih dok."
"sama-sama, ini obatnya, bisa di tebus di bagian apotek ya."
"Permisi dok."
Setelah keluar dari ruangan, Fatma berkata, "feeling ibu bener kan."
"ibu pasti sembuh."
"Tapi ibu bosan meminum obat."
"ibu, demi Fatimah. Fatimah mohon."
Mata Fatimah tampak berkaca-kaca, Fatma tidak tahan dengan itu kemudian memeluk nya.
"Akan ibu usahakan nak, jangan menangis."
⚫⚫⚫
Siang ini, Fatimah sudah kembali kekantor, wajahnya tampak murung. Beberapa kali ia menghela nafas bahkan bekerja pun ia tidak fokus.
Telfon kantor berdering, ia mengangkatnya.
"Ia pak?."
"Tolong bawakan data para karyawan yang saya berikan fasilitas."
"Baik pak."
Fatimah bergerak cepat, ia mengambil berkas tersebut kemudian berjalan memasuki ruangan Karisma.
"Ini data yang bapak minta."
"Ya terimakasih."
Fatimah menunggu sebentar, mana tahu ada yang ingin laki-laki itu minta perbaiki.
"kenapa dengan mu?."
"saya? Enggak kok pak."
"wajahmu terlihat tidak bersemangat."
"enggak pak. Saya hanya capek."
"Butuh istirahat?."
"Enggak perlu pak."
"Ya sudah. Terimakasih."
⚫⚫⚫
Hari ini, Karisma telah menemukan sebuah rumah untuk karyawan nya. Lokasi tersebut tidak jauh dari kantor, sebuah perumahan yang cukup nyaman tinggali. Karna karyawan yang telah terdata berjumlah lima ratu orang, maka dari itu, ia membeli semua perumahan tersebut, mana tahu suatu saat ada karyawan nya yang membutuhkan.
Maka dari itu, mereka sebua dikumpulkan di ruangan ini, dengan maksud untuk memberi tahu dimana lokasinya dan mereka harus menyiapkan semuanya untuk pindah kerumah baru mereka.
"Jadi, saya mengumpulkan kalian semua kemari karna saya sudah menyiapkan tempat tinggal kalian yang baru."
Genuru tepuk tangan dan pekikan riang terdengar didalam ruangan tersebut.
"Maaf jika selama ini saya tidak menyadari bahwa ada yang membutuhkan bantuan saya. Terimakaish pada Fatimah yang sudah menyadarkan saya."
Tiba-tiba suara di ruangan itu menghilang, seluruh mata menatap Fatimah yang tampak kebingungan. Dari tempat duduknya ia menatap Karisma.
"dia yang menyadarkan saya bahwa banyak orang yang membutuhkan bantuan."
⚫⚫⚫
"Bapak kenapa mengatakan itu didepan semua orang?."
"Kenapa? Saya juga berterimakasih, waktu itu saya melihat nya dan saya menyadari, pastu karyawan saya juga membutuhkan bantuan."
"Tapi tidak seperti itu anda mengatakannya."
Karisma menatap Fatimah tepat di kedua mata wanita itu yang berkaca-kaca.
"Bapak tahu, saya jadi perbincangan yang enggak - enggak dengan karyawan lain."
"mereka berpikir kalau saya ada hubungan dengan anda." lanjut Fatimah.
Karisma menggeleng, "Kenapa mereka bisa mengatakan itu? Sudah jelas, saya hanya membantu mereka karna kamu."
"JANGAN MENGATAKAN ITU!."Fatimah berteriak marah.
Air matanya meluruh, wajah putih itu tampak memerah. "bapak bisa katakan bahwa ini kemauan bapak. Bukan karna saya."
"Fatimah..."
Fatimah menggeleng, kemudian mundur beberapa langkah, "Bapak mau buat saya memiliki reputasi buruk? Ini kemauan bapak?."
Wanita itu mengangguk beberapa kali. "Selamat, bapak sudah mendapatkannya."
Setelah mengatakan itu, Fatimah meraih tasnya dah meninggalakn Karisma yang mematung.
Emosi nya kini tudak stabil, ibunya tengah membutuhkan biaya untuk kebutuhan harian yang cukup banyak.
Dan sekarang, laki-laki itu dengan gampang nya mengatakan bahwa semua ini karna diri nya. Sesampainya di lobby, seluruh mata memandanginya dengan tatapan yang sinis. Ia mempercepat langkahnya kemudian menghentikan taksi yang kebetulan lewat.
⚫⚫⚫
"Loh, nak. Kok sudah pulang?."
"Besok kita ke makam bapak ya bu, Fatimah rindu."
Fatma mengangguk, dan wanita itu meninggalkan Fatma yang tengah kebingungan.
"Ada apa dengan anak itu?."
Fatma tidka mau mengganggu Fatiamh, lantas ia membiarkan anak nya itu tenang, ia beranjak menuju kamar untuk mengistirahatkan diri.
⚫⚫⚫
Semalaman Fatimah tidak dapat tidur, matanya terasa sakit dan perih, menangis sepanjang malam. Fatma hanya diam tanpa mau menanyakan, keadaan anaknya masih belum stabil.
Keduanya sudah menyiapkan tas yang berisi beberapa pakaian. Mereka meninggalkan rumah kemudian menaiki taksi yang akan membawa nya ke Terminal.
Ia tahu siapa yang menghubunginya. Lantas ia membiarkan saja. Sedari malam, laki-laki itu terus menghubunginya. Tapi ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Ia tahu, ia salah membentak laki-laki itu, tapi maafkan dirinya. Ia tidak dalam keadaan baik.
⚫⚫⚫
Karisma sebenarnya tidak mengerti, kenapa wanita itu berteriak pada nya hanya karna ucapan nya. Ia hanya berterimakasih, karna wanita itu membuka pikirannya untuk memberikan kenyamana pada karyawannya. Bukan aneh-aneh.
Laki-laki itu menghubungi terus Fatimah, tapi tak kunjung ada jawaban. Wanita itu terus mematikannya tanpa mau mendengar maksud nya.
Dan itu menyebabkan ia menjadi merasa bersalah sekali. Mengunjungi rumahnya pun tidak mungkin karna sudah malam.
Maka dari itu, ia akan mencoba kerumah wanita itu, karna pagi ini, ia tudak mendapati sekretarisnya berada di bangku nya. Ia menyusuri jalan dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Sesampainya disana ia mengerutkan dahi bingung. Lampu rumah masih menyala. Dan terlihat sepi.
Matanya tak sengaja melihat gembok yang ada di pintu rumah. Feeling Karisma mengatakan bahwa mereka tengah pergi. Dan ia tidak bisa melakukan apapun. Mungkin esok wanita itu akan kembali kekantor.