“Waaah … lihat dirimu,” decak Cathan terkagum melihat bagaimana Magnus terlihat sangat berbeda dengan pakaiannya. Biasanya, Magnus hanya menggunakan pakaian kerjanya yang sama sekali tidak memiliki corak yang cerah. Namun dibalik tuxedo berwarna merah darah itu membuat Magnus terlihat jauh lebih menawan dari biasanya.
Magnus tidak menanggapi ucapan Cathan, melangkah pergi mendahului wakilnya dan masuk kedalam kereta yang telah disediakan. Tak ingin tertinggal Cathan pun segera menyusul dengan mulut yang tak bisa diam sepanjang perjalanan menuju ke tempat pesta dansa berlangsung.
“Aku yakin, para gadis akan sangat menyukaimu, Mag. Apalagi ini adalah kali pertama kau muncul di pesta.”
Magnus masih terdiam, pandangannya melihat ke luar kereta memandangi rumah-rumah para bangsawan dan mengamati beberapa orang yang masih ada di jalanan. Raga magnus mungkin berada di dalam kereta bersama dengan ocehan Cathan, tapi sungguh pikirannya saat ini sedang berada di tempat lain. Memikirkan sosok cantik Eurene.
Terakhir bertemu dengan gadis itu adalah kemarin sore, Magnus hanya berniat untuk berpamitan pada Eurene tentang keberangkatannya ke Halfthorn dan sebelum Magnus menyetujui Cathan untuk ikut dengannya ke pesta. Magnus masih ingat dengan jelas bagaimana raut wajah Eurene mendengar tentang kepergiannya, Eurene terlihat sedih, hal yang selalu dia tunjukkan setiap kali Magnus akan pergi ke luar kota untuk menjalankan misi.
“Kau tidak harus bersedih … bukankah akan ada pesta untuk para debutantes?” tanya Magnus sembari menatap mata indah Eurene yang jelas-jelas menyiratkan kesedihan dan ketidakrelaannya untuk melepas kepergian Magnus.
“Memangnya apa hubungannya kepergianmu dengan pesta debutantes?” tanya Eurene dengan mata polosnya. Ibu jari kanan dan kirinya saling bertaut, hal yang selalu dilakukan oleh Eurene jika perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
“Kau bisa datang ke pesta itu, Kendra.” Magnus mengusulkan.
“Apa kau ingin aku mencari seorang suitor?” balas Eurene dengan cepat. Saat itu Eurene sungguh merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Magnus. Bagaimana bisa Magnus memintanya datang ke pesta itu sementara Magnus sendiri akan pergi jauh ke luar kota. Dan Eurene tidak tahu kapan Magnus akan kembali.
Hati Magnus terasa seperti diremas-remas mendengar pertanyaan Eurene, entah mengapa dia pun tidak rela jika Eurene menghadiri pesta, dengan wajah yang rupawan dan mata yang sangat mempesona, tidak ada pria yang tidak akan terperangkap oleh keindahan Eurene. Magnus mengepalkan tangannya dengan erat, menahan hasrat hatinya sendiri. Dia mengambil nafasnya dan menghembuskannya pelan-pelan.
“Bukankah sudah seharusnya kau mencari seseorang yang akan menjadi kepala keluarga bagimu?”
Mendadak hening.
Tidak ada tanggapan dari Eurene sama sekali, gadis itu hanya menatap Magnus dengan seksama. Emosinya bercampur dan ia tidak bisa menguraikannya. Sesaat kemudian, Eurene mendadak bangkit.
“Apa kau sangat ingin aku menemukan seorang suitor?”
Kini Magnus bergeming, matanya tak mampu menatap Eurene, ada rasa takut di dalam hatinya, takut jika Eurene mungkin mengetahui perasaannya jika mata mereka beradu seperti sebelumnya. Kepalan di tangannya semakin erat, Magnus bangkit dari tempat duduknya dan beranjak. Tak sanggup jika gejolak hatinya diketahui oleh Eurene.
“Magnus ….” Eurene memanggilnya, berjalan lebih cepat untuk menyusul pria itu. Langkah Magnus lebar-lebar hingga membuat Eurene kesusahan untuk menyusulnya. “Magnus tunggu … kau mau ke mana?!” serunya sambil terus melangkah dengan menyingkap rok gaun bagian bawahnya agar tidak tersangkut. Namun, bagaimana pun dia berhati-hati sebuah batu berhasil membuat Eurene tersungkur.
“Argh!”
Mendengar pekikan Eurene tentu saja Magnus segera berhenti, saat menoleh ke belakang dan menemukan Eurene telah terduduk di tanah membuatnya seketika berlari kembali menghampiri Eurene.
“Kenapa kau harus berlari.”
“Kenapa kau berjalan cepat sekali ….” Tanya Eurene dengan tangis yang pecah, mata biru cerahnya berair dan membasahi seluruh wajahnya.
“Astaga … kenapa kau menangis? Sudah-sudah … aku tidak akan berjalan dengan cepat, apa kau terluka?” tanya Magnus sembari memperhatikan Eurene dengan hati-hati, berharap jika tubuh gadis itu sama sekali tidak tergores.
“Lututku … rasanya perih sekali.” Eurene sengaja menjulurkan lututnya yang terluka, terlihat semburat merah di sana. Tangisnya masih tidak berhenti dan membuat Magnus menjadi lebih merasa bersalah. Magnus berjongkok di hadapan Eurene, mengulurkan tangannya untuk menyentuh lutut mulus yang berdarah itu.
“Apakah sangat sakit?” tanya Magnus, suaranya melembut sambil mengamati luka yang sebenarnya hanya goresan saja. Eurene mengangguk sambil menghisap kuat-kuat ingus yang hampir saja meleleh di atas bibirnya. Magnus terkekeh dibuatnya.
“Apa yang kau tertawakan? Ini sakit!” rengek Eurene manja sambil menarik kembali lututnya yang terluka. Magnus tak bisa menahan tawanya tapi dia tetap kembali meraih lutut Eurene agar terjulur dengan lurus. Kali ini, Magnus mencondongkan kepalanya dan mulai meniup pelan luka goresan di atas lutut Eurene. Meski begitu, tangis Eurene tidak berhenti sama sekali.
“Mengapa kau terus menangis? Apakah sakitnya tidak hilang?” tanya Magnus usai meniup luka Eurene. Pemuda itu mendongak, terlihat di depannya mata biru Eurene yang begitu basah membuat hati Magnus terasa bagai ditusuk pisau. Tangannya kemudian terulur ke depan, mengusap jejak basah di wajah Eurene.
“Sudah … jangan menangis lagi … ini hanya luka kecil, nanti pasti akan sembuh dan tidak akan membekas.”
Eurene menghirup kembali ingusnya, dia mengangguk pelan. Melihat tangis Eurene mulai mereda, senyum Magnus pun mengembang samar. Sesaat kemudian dia membalikkan tubuhnya sambil tetap berjongkok. “Naiklah ke punggungku.” Tanpa bersuara, Eurene pun naik ke atas punggung Magnus. Keduanya kemudian berjalan kembali menuju ke panti asuhan tempat Magnus tinggal.
“Jika kau ingin mencari sui—”
“Berhenti bicara, aku tidak akan mencari seorang suitor … tapi ….”
“Tapi?” Magnus sangat ingin tahu apa kalimat yang akan dikatakan oleh Eurene selanjutnya.
“Magnus ….”
“Hmm ….”
“Apa yang kau pikirkan?” Suara Cathan merusak kenangan Magnus, kalimat yang menggantung dari Eurene itu juga masih menjadi sebuah misteri karena Eurene tidak melanjutkan percakapannya. Gadis itu hanya terdiam sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Magnus hingga mereka akhirnya sampai di tempat tinggal Magnus. Rasa penasaran itulah yang akhirnya menghantarkan Magnus menyetujui ajakan Cathan pergi ke pesta dansa, ia ingin mencari sosok Eurene di pesta itu. Apakah gadis itu ada di sana atau tidak, Magnus ingin sekali memastikan perkataan Eurene.
“Bukan apa-apa.”
“Kau pasti memikirkan gadis itu.”
“Urus saja urusanmu sendiri, Cath.”
“Siap, Lord Corbet.” Cathan hanya tersenyum tanpa arti.
Sesaat kemudian kereta yang mereka tumpangi pun tiba di sebuah rumah megah milik Lady Mandy, seorang janda dengan putra yang telah menjadi topik hangat sepanjang season lalu karena dia begitu tampan tapi tidak satu pun gadis debutantes yang menarik hatinya. Pada season kali ini, tampaknya Lady Mandy tidak sabar ingin mendapatkan seorang menantu hingga menggelar pesta pertama di kediamannya.
“Sepertinya kita sudah sampai,” ujar Cathan sambil melongokkan kepalanya ke luar jendela kereta. Terlihat olehnya rumah megah yang perlahan-lahan menjadi ramai karena para tamu undangan mulai berdatangan. Magnus keluar lebih dahulu dan disusul oleh Cathan.
Memasuki ruangan mata Magnus memandangi seluruh tamu yang hadir, terlihat ada para ibu yang begitu heboh mengenalkan putri mereka kepada para pria bangsawan, di sisi lain ada para gadis yang menatap ke arah Magnus dengan tatapan kagum dan bertanya-tanya. Apakah itu ketua Biro Golden Eyes yang terkenal sangat dingin dan tidak menyukai pesta?
Di sisi lainnya terlihat beberapa pria dengan rangking yang cukup tinggi merasa terancam keberadaannya karena kedatangan Magnus yang tiba-tiba saja. Namun, bagi mereka yang percaya diri, kehadiran Magnus tidak menjadi masalah. Sementara itu, Magnus yang telah menjadi pusat perhatian sama sekali tidak peduli. Pandangan matanya terus mengedar untuk mencari keberadaan ‘Kendra’-nya.
“Mencari gadis itu?” tanya Cathan, dia menyadari jika Magnus sama sekali tidak tertarik dengan puluhan gadis-gadis yang sedang menunggu seseorang untuk mengajak mereka berdansa.
“Hmm.” Jawaban Magnus cukup menjelaskan keadaannya. Tujuannya datang ke pesta ini pun hanya untuk mencari Eurene.
“Lihat … siapa dia? Gaunnya … sangat cantik sekali.”
“Apakah dia debutantes season ini? Mengapa aku tidak melihatnya?”
“Ya ampun, siapa designer pakaiannya … indah sekali.”
Cuitan-cuitan yang terdengar itu pun membuat Magnus terusik, mengetahui jika perhatian semua orang telah beralih pada sosok yang baru saja datang membuat Magnus pun tertarik. Siapa gerangan yang datang dan menimbulkan kehebohan selain dirinya. Magnus perlahan membalikkan tubuhnya dan melihat seorang gadis, dengan topeng silver terpasang di wajahnya, menggunakan gaun merah darah yang sangat menawan dan sangat kontras dengan kulit putihnya, sedang menuruni tangga dengan langkah yang anggun.
Tidak lama kemudian, ketika beberapa langkah sosok itu menuruni tangga mendadak kakinya berhenti. Tepat saat mata birunya yang begitu cerah bertubrukan dengan manik biru pucat hangat milik Magnus. Sementara di sisi lainnya, Magnus begitu terkejut hingga lupa untuk menghirup nafasnya.
“Kendra ….” Tanpa sadar bibir Magnus mengucapkan nama gadis itu dengan pelan.
*
“Your Majesty … apakah kaki anda baik-baik saja?” tanya Freyja sekali lagi setelah membantu Eurene dengan gaun indahnya. Di hadapan sebuah cermin itu, Eurene tersenyum lebar kepada Freyja sambil menyingkap rok gaunnya dan menunjukkan balutan di atas luka Eurene. Walau sebelumnya dia harus menangis karena luka itu, tapi di sini … di istananya, tidak pernah ada yang melihatnya meneteskan air mata, hingga Eurene pun hanya bisa tersenyum dengan lebar meski dirinya terluka.
“Lihat … kau sudah membalutnya dengan baik, jadi kakiku pasti akan baik-baik saja.” Eurene menjawab dengan suara yang begitu ceria. Freyja hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah Ratu yang masih kekanak-kanakan. Rasanya percuma saja Freyja mengomel sepanjang malam karena luka di lutut Eurene, tapi tampaknya omelan itu hanya masuk lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan.
“Memangnya apa yang terjadi?” Sebuah suara menyeruak ketika Eurene baru saja keluar dari ruang gantinya. Ilias sudah berada di ruang tamu tempat tinggal Eurene. Pria itu sedang menikmati teh buatan Nivera.
“Ratu baru saja melukai kakinya sendiri, saya khawatir jika Ratu mungkin saja tidak bisa berdansa malam ini,” keluh Freyja pada Ilias yang membuat lelaki itu meletakkan cangkirnya ke meja.
“Freyja … kau berlebihan.”
“Apa itu benar?” tanya Ilias, ia telah berada di hadapan Eurene. “Apa yang terjadi sampai kau melukai kakimu?” tanya Ilias lagi dan kali ini terlihat jika lelaki itu sangat serius dengan pertanyaannya.
“Kau tahu dia itu hanya melebih-lebihkan saja, lihat ini.” Lagi-lagi Eurene menyingkapkan rok gaunnya hingga terlihat lututnya yang telah dibalut oleh Freyja. Wajah Ilias memerah ketika Eurene tampaknya acuh tak acuh saat mengangkat roknya, Ilias berusaha untuk tidak melihat kaki jenjang Eurene dan lututnya yang terluka. Meski mereka bersahabat, bagaimana pun juga Eurene adalah seroang ratu. Tidak pantas bagi Ilias untuk melihat bagian tubuh Eurene secara terang-terangan. “Ini bukan luka serius!” decak Eurene yang kesal.
“Kita bisa membatalkannya jika kau mau, aku tidak ingin Ratu dari Valareast terluka.”
“Lord Ilias Delmar.” Eurene menatap Ilias dengan seksama, nada suaranya berubah, dan Ilias tahu jika Eurene telah memanggilnya dengan gelar dan nama lengkapnya maka itu bukan sesuatu yang baik. Entah itu Eurene marah atau kesal, panggilan semacam itu tidak membawa kebaikan sama sekali.
“Aku sudah rela duduk berjam-jam hanya untuk menata rambut ini, dan kau mengatakan kita bisa membatalkannya? Kau tidak lupa siapa yang merengek memintaku hadir di pesta itu?” Eurene menatap Ilias, lalu menatap Freyja, dan seseorang yang membuka pintu dan masuk ke ruangan Ratu pun mendapatkan tatapan yang tajam.
“Your Majesty … apakah sesuatu telah terjadi, mengapa wajah anda memerah?” tanya Nivera sambil melangkah mendekat pada anak asuhnya itu.
“Tidak ada … tidak ada, ‘kan?” Ilias segera meraih tangan Eurene dan melingkarkannya ke lengannya sendiri. “Malam ini saya akan menjadi pengawal anda, Your Majesty.” Ilias berusaha merayu Eurene supaya melupakan ucapan bodoh yang dilontarkan olehnya sebelum ini. Melihat tingkah dua sejoli yang selalu lengket itu Nivera dan Freyja hanya bisa tersenyum samar. Keduanya meski sudah dewasa tapi kelakuannya masih seperti ketika mereka masih bocah.
“Jika kau menjadi pengawalku, tidak ada yang akan berani mengajakku berdansa.”
“Meski aku bukan pengawalmu … siapa yang akan berani mengajak Ratu negeri ini berdansa?” tanya Ilias sengaja menggoda Eurene.
“Itu sebabnya aku sudah mempersiapkan sesuatu.”
“Sesuatu?” tanya Ilias sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Freyja … ambilkan benda itu.” Perintah Eurene.
“Baik, Your Majesty.” Freyja pun segera melaksanakan perintah.
“Your Majesty, kereta untuk pergi ke pesta sudah disiapkan oleh Sir Dexter.” Nivera menyampaikan pesannya, namun raut wajahnya tidak terlihat baik.
“Ada apa, Bibi? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Eurene, dia menyadari dengan jelas kekhawatiran yang tergurat di wajah Nivera.
“Apakah anda akan benar-benar pergi sendiri?”
“Pergi sendiri?” Ilias pun sama tidak mengertinya. Mengapa Eurene akan pergi sendirian ke pesta itu. Biasanya Eurene akan selalu ditemani oleh Freyja dan Nivera.
“Aku sudah menyetujui permintaan kalian pergi ke pesta dansa itu, jadi biarkan aku melakukan apa yang ingin kulakukan.” Eurene melepaskan tangannya dari lengan Ilias.
“Your Majesty, ini topeng milik anda.” Freyja datang dengan topeng perak di tangannya.
“Tunggu … Kau tidak datang sebagai ratu?” tanya Ilias yang mulai memahami situasi yang terjadi. Eurene hanya mengangguk pelan.
“Aku akan datang sebagai gadis bangsawan biasa ….”
“Mengapa kau melakukannya?” tanya Ilias dengan sungguh-sungguh.
“Karena menjadi seorang ratu itu sangat membosankan.”
.
.
.
To be continued.