“Magnus.”
Langkah kaki Eurene terhenti tepat setelah beberapa langkah dia menuruni tangga menuju ke aula pesta. Tepat ketika matanya tak sengaja beradu dengan manik hangat berwarna biru pucat milik Magnus yang berada tak jauh di bawahnya. Jantung Eurene terasa seperti berhenti berdetak saat itu juga, ia juga lupa bagaimana caranya bernafas. Eurene sungguh tidak tahu harus berbuat apa, jika dirinya lari saat ini juga maka Magnus akan langsung mengetahui tentang dirinya. Namun, jika dia meneruskan langkahnya … Eurene tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi jelas sekali dari tatapan mata Magnus saat ini, ada tanda tanya besar yang terpancar di sana.
“Mengapa dia ada di sini?” batinnya menggerutu. “Apa dia ingin mencari seorang gadis untuk di lamar? Ck! Ternyata dia sangat tidak sabar untuk meninggalkanku, huh?”
“Your Majesty.” Sebuah bisikan di telinga Eurene membuatnya kembali pada kenyataan yang sangat ingin dihindari oleh Eurene.
Siapa yang akan menyangka jika dari semua tempat yang ada di Castleland dia malah bertemu Magnus di tempat pesta. Selama ini Eurene mengira jika Magnus tidak tertarik untuk pergi ke pesta semacam ini, nyatanya di sinilah mereka saat ini berada saling berhadapan dengan jantung yang berpacu dengan sangat cepat.
“Apakah ada yang mengganggumu?” Ilias kembali bertanya ketika Eurene mulai masuk kembali dalam angan-angannya.
“Tidak, tentu saja … Sepertinya kau menarik perhatian banyak orang, Lord Ilias?” Eurene berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Eurene tahu betul si rambut pirang, Ilias sangat percaya diri dengan ketampanan dan pesona yang dia miliki.
“Hahaha … bukankah itu adalah kalimat yang sebenarnya kau tujukan untuk dirimu sendiri?” tanya Ilias sembari kembali menggandeng Eurene menuruni tangga. Eurene berusaha keras menutupi perasaannya yang kacau balau saat ini. Sebisa mungkin dia menghindari kontak mata dengan Magnus. Ketika melewatinya pun, Eurene hanya meliriknya sekilas dan melenggang begitu saja di samping Magnus.
“Apa yang kau lihat?” Pertanyaan itu tidak luput dari pendengaran Eurene. Sebuah pertanyaan yang ditunjukkan untuk Magnus.
“Mengapa gadis itu menggunakan topeng?” Lagi, dan Magnus pun belum memberikan tanda-tanda akan menjawab pertanyaan itu.
“Tidakkah kau lihat dengan siapa dia datang?”
Tidak ada balasan dari Magnus meski tiga pertanyaan telah terlontar untuk dirinya, sementara itu Eurene telah melangkah lebih berjauh bersama dengan Ilias. Ke-dua insan itu benar-benar menjadi pusat perhatian, bahkan mencuri semua perhatian yang seharusnya tertuju pada seorang debutante yang telah ditunjuk sebagai permata oleh Ratu pada season pertama di tahun ini.
“Lord Delmar ….” Sebuah suara nyaring terdengar begitu keras di dalam riuhnya pesta malam ini. Ilias dan juga Eurene pun menoleh kepada si pemilik suara. Seorang wanita paruh baya dengan tubuh cukup berisi berjalan ke arah mereka dengan agak tergopoh-gopoh. Reputasi Ilias Delmar sebagai Marquiss muda memang mudah sekali membuat siapapun ingin mendekat padanya, terlebih lagi Ilias adalah seorang bujangan yang belum menentukan pilihan.
“Lord Delmar, ternyata rumor yang beredar itu benar. Kau benar-benar kembali.” Wanita itu terlihat begitu antusias untuk berbicara dengan Ilias. Sebuah senyuman samar terukir di wajah menawan Ilias. Di sisi lain, sesekali Eurene menoleh ke tempat di mana Magnus semula berada, dari ujungnya melirik apa yang sedang dilakukan oleh Magnus. Menemukan pria itu dikerumuni oleh tiga orang gadis yang menawan membuat Eurene cukup kesal hingga tanpa sadar melepaskan lengan Ilias.
“Senang bisa bertemu dengan anda Lady Paddington.” Ilias meraih tangan Lady Paddington dan mengecupnya singkat. “Anda terlihat semakin cantik dari terakhir kali kita bertemu.”
“Apa kau sedang mengejekku, Lord Delmar? Lima tahun yang lalu dan hari ini tentu saja pasti berbeda.” Wanita itu meski sudah berumur masih terlihat genit. Sementara Ilias demi mempertahankan reputasinya sebagai seorang gentleman pun hanya tersenyum penuh hormat.
“Apakah gadis ini ….” Lady Paddington menatap Eurene dari ujung kaki hingga ujung kepala, menilai bagaimana penampilan Eurene yang sempurna dan berusaha untuk mencari sebuah cela agar bisa dibandingkan dengan puterinya sendiri. Namun, meski Eurene tidak melepaskan topengnya, Lady Paddington tahu betul jika Eurene tidak memiliki cela sama sekali.
“Ahhh … dia adalah sepupu jauhku, dia sedang tidak ingin menunjukkan wajah cantiknya.” Ilias menyunggingkan senyumnya yang paling menawan sambil mengedipkan mata. Eurene hanya bisa menghela nafasnya melihat kelakuan Ilias yang seperti itu.
“Begitu rupanya … Oh, hampir saja aku terlupa … apa kau masih ingat dengan putriku, My Lord?”
Eurene menatap Lady Paddington sesaat, tampaknya wanita ini sudah tidak sabar untuk mendapatkan seorang suitor untuk puterinya. Di sisi lain, Ilias hanya menanggapinya sambil tertawa rendah. “Tentu saja aku mengingatnya, di mana kah dia sekarang?”
“Ilias … aku akan mengambil minum. Kau ingin sesuatu?” tanya Eurene yang ingin segera lari dari situasi saat ini. Belum juga Ilias sempat menjawab, Eurene telah melangkah pergi meninggalkannya bersama dengan seorang ibu yang telah membidik Ilias menjadi suitor bagi putrinya.
Setengah berlari Eurene menuju ke sebuah meja untuk mengambil minumannya, mengabaikan tatapan para debutantes yang tampak terancam dengan kedatangannya dan menghindari para pria yang berusaha untuk mengajaknya berbicara. Eurene tidak menyangka menghadiri pesta dengan menyembunyikan identitasnya adalah yang terburuk. Setiap saat dia takut jika seseorang akan mengenalinya, tidak, dia takut jika di antara banyak pria yang berusaha mengajaknya bicara salah satunya adalah Magnus.
“Aku harus berhenti memikirkannya … dia tidak akan mengenaliku,” gumamnya lirih sebelum cairan bening kekuningan itu meluncur sempurna di kerongkongannya.
“Meski seribu topeng kau gunakan … mengenalimu bukan sesuatu yang sulit, Kendra. Mata tidak bisa berbohong.”
Deg.
“Uhhuk-Uhhuk.” Eurene tersedak minumannya sendiri hingga terbatuk-batuk dan menarik perhatian para tamu. Magnus yang berdiri di sampingnya seketika itu juga membantunya dengan menepuk-nepuk punggung Eurene supaya keadaannya membaik.
“Terima kasih atas bantuanmu.” Tiba-tiba saja seseorang menggenggam pergelangan tangan Magnus yang sedang menepuk punggung Eurene. Ilias berdiri di sebelah Eurene dan tersenyum dengan emosi yang tidak terbaca di wajahnya. “Anda bisa pergi sekarang, aku yang akan mengurusnya.” Nada bicara Ilias datar dan terkesan sangat dingin. Kejadian itu benar-benar menarik perhatian massa. Dua pria yang telah menjadi pusat perhatian kini terlihat siap bertarung, seling menerkam hanya untuk seorang gadis misterius yang tak diketahui asal usulnya.
“Ilias ….”
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ilias pada Eurene setelah melepaskan tangan Magnus. Suaranya yang sedingin kutub itu mendadak terdengar sangat lembut dan hangat.
“Aku baik-baik saja … sebaiknya kita kemba—.” Tak sempat menyelesaikan kalimatnya, acara dansa telah dimulai.
“Shall we?” Ilias memanfaatkan keadaan untuk mengajak Eurene berdansa. Tidak ingin membuat Magnus semakin curiga dengannya, meski sebenarnya Magnus sudah mengetahui jika dirinya memanglah Kendra-nya Magnus, Eurene berusaha untuk bersikap acuh tak acuh dan menerima ajakan Ilias.
“Apa yang terjadi?” Cathan sedari tadi mengamati situasi yang dialami oleh Magnus. Jantungnya berdebar kencang melihat bagaimana Ilias menggenggam pergelangan tangan Magnus dengan mata setajam burung elang yang hendak mencari mangsa. Apalagi semua orang memperhatikan mereka, Cathan hanya berharap jika tidak akan terjadi keributan yang fatal.
“Bukan apa-apa.”
“Tidak mungkin, aku lihat bagaimana Lord Delmar menatapmu seolah-olah dia akan membunuhmu saat itu juga.”
Magnus hanya menenggak minuman yang baru saja dia ambil, dari balik gelasnya tatapan matanya tertuju pada sosok gadis bergaun merah yang sedang bersiap untuk berdansa dengan Ilias.
“Apakah dia adalah kekasih rahasiamu itu, Mag?”
“Bukan urusanmu.”
“Apa kau tidak punya kata-kata lain, kau selalu saja mengatakan ‘bukan urusanmu’ – ‘bukan apa-apa’. Apa hanya itu kosa kata yang kau tahu?”
Magnus mengabaikan ucapan Cathan, berjalan ke arah salah seorang gadis bergaun hijau pastel. Cathan hanya bisa mengamati tingkah Magnus, matanya melebar ketika ia melihat Magnus membawa gadis itu ke lantai dansa dan ikut berdansa dengan yang lainnya.
“Menakjubkan sekali! Sepertinya dia lebih tahu apa yang harus dilakukan daripada aku,” decak Cathan.
*
“Ini adalah terakhir kalinya aku mengajakmu pergi ke pesta dansa,” bisik Ilias ketika berdansa dengan Eurene. Terdengar suara tawa pelan Eurene, bukan hanya begitu nyaman terdengar di telinga Ilias tapi juga berhasil menarik perhatian Magnus.
Hanya orang bodoh yang tidak mengenali sahabat yang telah bersama dengannya lima belas tahun terakhir. Begitu pikir Magnus ketika pertama kali dia menangkap binar yang terpancar dari mata biru Eurene. Detik itu juga dia tahu jika pemilik mata itu adalah Kendra-nya, meski bagaimana pun berusaha untuk mengelabuhinya, Magnus tidak akan terkecoh. Terlebih sekarang ketika dengan jelas dia mendengar suara tawanya, meski sangat pelan tapi Magnus mengenal siapa pemilik tawa ini.
Sepanjang berdansa dengan gadis yang tak dia ketahui namanya ini, Magnus seringkali melirik ke tempat di mana Eurene dan Ilias sedang berdansa. Tak jarang mata mereka saling bertabrakan dan membuat Magnus semakin yakin jika gadis itu memanglah Eurene. Hatinya semakin bergemuruh, ada gejolak yang membuatnya ingin sekali menarik Eurene dari aula pesta, menjauhkannya dari pria bernama Ilias itu.
Harapan Magnus seolah terkabul, saatnya bagi setiap pasangan untuk berganti pasangan dansa mereka. Magnus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera dia melepaskan teman dansanya dan meraih lengan Eurene dengan erat, tak membiarkan gadis itu memiliki kesempatan untuk lolos darinya.
“Jadi kau sudah menemukan suitor yang cocok?”
“Kukira kau salah orang.” Eurene masih mengelak. Magnus menyeringai karena dengan mendengar suara Eurene kini keyakinannya semakin besar.
“Tidak ingin mengenalkannya padaku?”
“Anda salah paham, My Lord.”
“Haruskah aku membuka topengmu di sini?”
Deg. Seketika itu juga langkah kaki Eurene terhenti, tubuhnya pun berhenti bergerak meski musik masih bergema. Magnus pun berhenti sama halnya dengan Eurene, keduanya saling menatap kemudian Eurene mendadak membalikkan tubuhnya dan berlari keluar aula pesta. Magnus segera menyusul Eurene yang keluar dari ruangan itu. Di sisi lain, Ilias melihat hal itu terjadi, namun dia masih tetap meneruskan dansanya meski hatinya begitu gusar mencemaskan sahabatnya.
Eurene tidak bisa berpikir apa-apa, keinginannya saat ini hanya pergi dari pesta itu dan kembali ke tempat persembunyiannya yang paling aman—kamar tidurnya—di istana kerajaan. Sungguh dia benar-benar menyesali keputusannya untuk datang ke pesta pertama ini. Seharusnya dia menolak dengan sungguh-sungguh permintaan Ilias dan dua pengikutnya. Sekarang Magnus pasti mengira jika dia berbohong tentang tidak ingin mendapatkan seorang suitor.
“Kakimu sudah baik-baik saja sampai kau bisa berjalan secepat ini?”
Eurene terkejut ketika sebuah tangan menarik lengannya hingga tubuhnya berbalik dan jatuh dalam dekapan d**a bidang seorang yang sangat dia kenal suaranya. Eurene mendongak, kali ini mata hangat Magnus berada tak jauh darinya, bahkan dirinya bisa merasakan hembusan nafas Magnus yang memburu.
Eurene memalingkan matanya karena debaran jantungnya yang tidak beraturan membuatnya malu, rasanya suara jantungnya yang berpacu dengan sangat cepat itu bisa didengar oleh Magnus.
“Tolong lepaskan saya, My Lord. Jika orang lain melihat mereka akan menyebarkan rumor yang buruk tentang anda.”
Magnus menulikan telinganya, berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Eurene. Malah mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Eurene dan membuat jarak mereka semakin dekat. Sebuah seringai muncul di bibir Magnus, dia akan mengikuti permainan petak umpet gadis ini.
“Kau benar-benar telah menemukan seorang suitor, Kendra?”
“Aku tidak mencari suitor!” seru Eurene sambil mendorong tubuh Magnus dengan kesal. Saat itu juga tawa Magnus pun pecah, rupanya semudah itu membuat gadisnya menyerah.
“Masih tidak ingin membuka topengmu?”
Eurene menghela nafasnya, tampaknya sia-sia saja dirinya mengelak di hadapan Magnus sekarang. Jelas-jelas dirinya telah tertangkap basah oleh Magnus. Dan siapa yang bisa mengelebahui ketua Biro Golden Eye? Nama yang disematkan untuk biro itu tentu bukan tanpa alasan belaka, bukan?
Pada akhirnya, Eurene mengarahkan jemarinya ke topeng berwarna perak yang indah itu hendak melepaskannya. Tepat ketika ujung jarinya menyentuh topeng berwarna perak itu, perlahan-lahan dia menyingkirkan topeng itu dari wajahnya. Sedikit demi sedikit wajahnya yang telah terpoles cantik pun tampak.
“Sekarang kau sudah melihatku … apa kau puas?” tanya Eurene sedikit mencibir Magnus.
Mata Magnus melebar ketika keindahan di balik topeng itu terpancar sempurna di hadapannya, tanpa sadar bibirnya menganga sedikit. Magnus terpesona, ia tersihir oleh kecantikan Eurene hingga tak mampu berpikir atau berkata apapun.
“Magnus?” Eurene melambai-lambaikan telapak tangan di depan mata Magnus.
“Ah … apa? Apa yang kau katakan?” Magnus terkesiap, dia berusaha untuk memasang wajah sedatar mungkin supaya Eurene tak mengetahui jika dirinya sedang terpesona.
“Apa kau kemari untuk mencari debutante yang pantas untuk kau jadikan istri? Itu yang kutanyakan.” Eurene sengaja mengubah pertanyaannya karena dia kesal telah dituduh oleh Magnus tentang menemukan suitor.
“Itu yang ingin kutanyakan padamu … apakah Lord Delmar adalah orang yang melamarmu?”
“Magnus.”
“Kendra.”
Keduanya saling menatap tajam, tak ada yang mengalah untuk menjawab pertanyaan lebih dulu. Sementara Magnus pun tidak tahu bagaimana dia harus berterus terang pada Eurene. Bukankah tidak lucu jika dia mengatakan, “Aku pergi ke pesta untuk memastikan kau datang ke pesta ini untuk mencari suitor atau tidak.”
“Keluarga Ilias adalah sahabat keluargaku, dia baru saja kembali setelah menempuh pendidikan di luar kerajaan. Aku hanya datang untuk menemaninya, hanya itu.”
“Begitu rupanya.” Magnus menjawab dengan suara rendah dan tersirat jika dirinya kecewa. Magnus sendiri juga tidak tahu mengapa dia kecewa, apakah karena mengetahui jika Ilias memiliki sebuah hubungan tak langsung dengan Kendra-nya, atau karena gadis itu bersedia menemani Ilias, atau karena keberadaan gadis itu di pesta ini, atau karena …
“Bagaimana denganmu? Kenapa seorang Magnus Corbet yang tidak pernah tertarik dengan pesta atau semacamnya mendadak ada di sini?”
“Itu ….” Magnus meragu karena dirinya sendiri tidak memiliki alasan yang cukup baik untuk dikatakan kepada Eurene. Lalu tiba-tiba saja Magnus teringat bagaimana serasinya Ilias dan Eurene yang sedang berdansa, Magnus tidak rela jika Eurene harus berdansa dengan pria lain.
“Itu?” Eurene memainkan ibu jarinya, berharap-harap cemas dengan kata-kata yang akan diucapkan oleh Magnus. Dengan sabar Eurene menunggu lelaki itu untuk melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
“Kau benar.” Akhirnya Magnus telah memutuskan.
“Aku benar? Tunggu … kau sungguh-sungguh ingin mencari seorang gadis untuk kau nikahi?”
“Ya.” Magnus menjawab tanpa ragu, sangat tegas dan lugas. Mendadak wajah Eurene berubah kecewa.
“Kau sudah menemukannya?” Suara Eurene bergetar, ia pun memalingkan wajahnya ketika rasa panas telah menjalar ke wajahnya. Cairan bening di matanya pun mulai mendesak untuk tumpah.
“Aku sudah menemukannya.”
Hati Eurene terasa seperti diremas dengan kuat kemudian ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum, hancur sudah. “Baguslah kalau begitu ….” Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Eurene, setelah mengatakannya ia pun berbalik pergi. Semakin lama berada di tempat yang sama dengan Magnus, dia tidak tahu sampai kapan bisa menahan tangisnya yang terus mendesak untuk dipecahkan.
“Kendra.” Panggilan Magnus membelai telinga Eurene, membuat gadis itu terlena hingga tanpa sadar dirinya telah ditarik ke dalam pelukan hangat Magnus. Saat itu juga tangis yang coba dia tahan selama mungkin pun akhirnya pecah juga dan membuat Magnus menjadi bingung. “Kendra … ada apa, mengapa kau menangis?”
Eurene tidak menjawab pertanyaan Magnus dan terus menangis hingga sesenggukan di d**a bidang lelaki itu. Magnus menepuk-nepuk dengan perlahan punggung Eurene, berusaha memberikan ketenangan untuknya.
“Apa kau sangat bahagia sampai kau menangis setelah mendengar semuanya?” tanya Magnus masih sembari menepuk-nepuk lembut punggung Eurene.
“Apakah aku harus bahagia mendengarmu telah menemukan gadis yang akan kau nikahi, ha?” tanya Eurene sambil mendongak, air matanya telah membuat riasan wajahnya menjadi luntur dan membuat wajahnya terlihat mengerikan.
“Tentu saja kau harus bahagia … aku akan menikah.”
Eurene mendorong tubuh Magnus, namun Magnus semakin erat mendekapnya, menahan kepala Eurene agar lebih dekat dengan letak jantungnya berada, ingin gadis itu mendengarkan bagaimana saat ini jantungnya berpacu dengans sangat kencang.
“Gaun warna apa yang ingin kau gunakan saat pernikahan nanti?” tanya Magnus dengan mengusap lembut rambut Eurene.
“Mengapa aku harus memikirkannya … bukan aku yang—”
“Jika bukan denganmu … aku tidak akan menikah dengan gadis lain, Kendra.”
“Tunggu ….” Eurene mendorong pelan tubuh Magnus, memberikan ruang di antara mereka. Menggunakan matanya yang memerah dan penuh dengan air itu ia menatap Magnus tidak percaya. “Apa maksudnya itu?”
“Aku sudah menemukanmu … dan aku sudah memutuskannya, aku tidak akan menikah jika bukan denganmu.”
“Kau pasti sudah gila!” decak Eurene dan kali ini dia benar-benar mendorong tubuh Magnus.
“Aku memang gila, Kendra … semua karena dirimu. Aku menyadarinya saat kau dan Marquis muda itu berdansa. Aku tidak ingin tangan pria lain menyentuhmu.”
Eurene terdiam, perasaannya kini campur aduk. Dia sangat senang hingga rasanya bisa terbang hingga ke langit, tapi dia juga merasa gusar. Statusnya yang sesungguhnya bukan sesuatu yang sederhana, jika Magnus mengetahui kebenarannya … apakah Magnus masih akan tetap berpikir untuk menikah dengannya?
“Secepatnya … aku akan segera menyelesaikan misi di Halfthorn, setelah itu kita bisa menikah.”
.
.
.
To be continued.