Kebahagiaan yang terpancar dalam diri Eurene cukup membuat seisi istana menjadi jauh lebih ceria dan penuh dengan perubahan. Eurene meminta kepala rumah tangga istana kerajaan untuk merenovasi beberapa bagian istana. Merubah warna yang mendominasi di istana, merubah beberapa jendela yang dia rasa telah usang, mengganti karpet yang menutupi tangga, mengecat ulang beberapa pilar dan patung-patung di istana.
“Apakah akan ada perayaan besar di istana kita?” tanya salah seorang pelayan yang bekerja di dapur istana. Setelah melihat banyaknya pekerja untuk merenovasi istana.
“Mungkinkah Ratu Eurene akan menikah?” sahut gadis pelayan lainnya.
“Benarkah? Siapakah pelamarnya? Apakah ada pangeran dari negara tetangga?”
“Kurasa … pasti Lord Delmar muda, bukankah mereka Lord Delmar muda selalu ada di sisi Ratu Eurene?”
“Benar … pasti mereka akan segera menikah.”
“Ehem.” Dehaman Nivera membuat para pelayan di dapur istana itu terkejut dan terdiam membisu saat melihat kehadirannya. Nivera memperhatikan satu per satu wajah pelayan yang menunduk takut karena telah ketahuan membicarakan ratu di belakang mereka.
“Apakah dengan bicara hidangan kalian akan matang?” tanya Nivera dengan nada datar.
“Maafkan kami, Lady Nivera. Kami akan segera menyelesaikannya.”
“Bagus … ingat, kalian di sini bekerja bukan menggosip.” Nivera mengingatkan mereka. Para pelayan itu kemudian kembali ke tempat mereka bekerja dan melanjutkan pekerjaan mereka. Nivera mengambil sebuah nampan lalu mengisinya dengan segelas s**u dan beberapa helai roti.
Permintaan Eurene pagi ini benar-benar membuat Nivera terheran-heran. Biasanya Eurene tidak peduli dengan makanan yang disediakan untuknya, gadis itu pun makan dengan sangat lahapnya. Namun, pagi ini mendadak Eurene meminta pada Nivera untuk menyediakan hanya segelas s**u dan beberapa helai roti saja dan mengatakan jika tubuhnya sudah terlalu gemuk.
Rasanya ingin sekali Nivera menyeret Eurene ke hadapan sebuah cermin yang sangat besar supaya gadis yang menjadi junjungan seluruh kerajaan Valareast tahu jika tubuhnya sangat ideal, tidak kurus kerontang, tidak juga gemuk. Tubuh Eurene adalah tubuh yang menjadi mimpi setiap gadis. Tapi sebagai seorang abdi, Nivera pun menuruti saja kemauan Eurene selama itu tidak membahayakannya.
Setelah mengambil sebuah pisang dan kiwi dan meletakkannya di atas nampan bersama dengan s**u dan roti, Nivera segera bergegas pergi. Sebelum dia meninggalkan dapur istana, Nivera berhenti di ambang pintu dan menoleh ke belakang.
“Aku tidak ingin mendengar rumor murahan seperti itu terdengar lagi.” Nivera memperingatkan para pelayan kemudian melenggang pergi.
Berjalan menuju ke ruangan Eurene terlihat oleh Nivera para pekerja yang sedang merenovasi lorong istana. Sebenarnya Nivera juga ingin tahu apa maksud renovasi yang mendadak ini, seperti bukan Eurene karena tidak biasanya jika Eurene melakukan sesuatu tanpa rencana dan perhitungan yang matang. Sempat terbesit di dalam benaknya hal yang sama seperti para pelayan lainnya, jika renovasi ini ada kaitannya dengan sebuah perayaan di Istana.
“Your Majesty … sarapan anda.” Nivera membawa makanan Eurene ke dalam ruangannya. Satu hal lagi yang diminta oleh Eurene, karena memiliki rencana di pagi hari dia tidak ingin membuang waktunya untuk berjalan menuju ke ruang makan istana yang jaraknya cukup untuk membuatnya berkeringat di pagi hari.
“Terima kasih, Bibi.” Eurene masih duduk di depan cermin riasnya, Freyja baru saja menata rambutnya. Mengikat bagian atas rambutnya dan membiarkan bagian bawahnya tergerai.
“Apakah anda memiliki rencana lain pagi, Your Majesty?” tanya Nivera setelah meletakkan sarapan Eurene.
Eurene mengangguk, setelah rambutnya telah selesai dirapikan oleh Freyja dia pun bangkit dan berjalan ke arah meja. Senyum menawannya mengembang membuat suasana menjadi jauh lebih cerah. “Hari ini aku ingin menemui Marquiss Delmar.”
“Lord Ilias?” Nivera agak terkejut, setelah mendengarkan gosip yang dibicarakan oleh para gadis pelayan di dapur istana membuat pikirannya pun menjadi penuh dengan gosip tersebut.
“Marquiss tua, Bibi.” Eurene menekankan kata tua sambil tertawa pelan. “Sepertinya gosip sudah menyebar di istana, ya?”
“Anda menyadarinya?” tanya Nivera.
“Anda benar, Your Majesty. Banyak orang telah membicarakan perayaan besar yang akan diadakan di istana, mereka mengira anda akan menikah dengan Lord Ilias.”
“Freyja … jaga mulutmu.” Nivera mengingatkan.
“Kenapa Lady Nivera? Tapi itu kenyataannya.”
Nivera melotot pada Freyja dan meminta gadis itu untuk menutup mulutnya. Sementara Eurene dengan tenang menikmati satu helai roti sambil mendengarkan perdebatan Ibu asuh dan dayang setianya.
“Jadi, Your Majesty … apakah ada alasan mengapa anda merenovasi istana?” tanya Freyja tanpa pikir panjang.
“Freyja ….” Nivera sungguh tidak habis pikir dengan Freyja, gadis muda itu sangat berani sekali.
“Aku akan menikah.”
“APA?!” Bersamaan Nivera dan Freyja memekik terkejut hingga membuat Eurene berhenti menenggak gelas sussunya dan melirik ke dua orang yang sedang menatapnya dengan mata lebar dan bibir yang menganga lebar.
“Your Majesty … Anda sedang bergurau, ‘kan?”
“Jadi benar anda akan menikah dengan Lord Ilias? Itu sebabnya anda akan menemui Marquiss?” tanya Freyja bagai seorang yang sedang menginterogasi seorang penjahat. Eurene meminum kembali sussunya hingga habis, lalu menatap Nivera dengan penuh arti.
Selama ini hanya Nivera dan Sir Dexter yang mengetahui rahasia kecil Eurene, rahasianya sebagai seorang Kendra yang selalu menyelinap keluar istana diam-diam untuk bertemu dengan Magnus. Tatapan Eurene benar-benar membuat Nivera tak bisa berkata-kata selain ikut bahagia. Tanpa sadar air matanya pun menetes.
“Bibi kenapa kau menangis?” tanya Eurene setelah bangkit untuk beranjak pergi.
“Ah … saya sangat bahagia, Your Majesty.”
“Saya juga sangat bahagia … anda akhirnya akan menikah, Your Majesty.”
“Baiklah aku akan pergi menemui Marquiss Delmar untuk membicarakan masalah ini.” Eurene melangkah pergi dengan senyuman yang terpasang di wajahnya. Sungguh, kebahagiaan itu benar-benar tidak meninggalkan raga Eurene meski hanya sesaat. Suasana hatinya yang sangat baik itu membuat seisi istana cukup terkesan, hingga para pelayan, pengawal, hingga pejabat istana terheran dibuatnya karena selama ini mereka yang menjadi abdi istana hanya akan melihat Eurene yang hampir tidak pernah tersenyum, sekalinya tersenyum itu hanyalah sebuah seringaian yang tidak tulus sama sekali.
*
Kotak rusak di hadapan Magnus benar-benar menyita perhatiannya hingga hampir lima belas menit lamanya dirinya terdiam di depan kotak yang ia temukan di dasar sungai setelah penyelidikannya beberapa hari ini. Sebelumnya, Magnus mendapatkan laporan dari mata-mata yang dia tempatkan, bahwa saat ini Halfthorn sedang mengalami krisis kelaparan. Anehnya, Magnus mengetahui jika pihak kerajaan telah mengirimkan bantuannya lantas mengapa krisis tersebut belum teratasi masih menjadi sebuah misteri.
Ketika Magnus sampai di sana, kedatangannya memang disambut sangat hangat oleh gubernur Halfthorn. Setelah melakukan penyelidikan beberapa hari, Magnus juga mengetahui jika banyak rakyat yang kelaparan di Halfthorn, hal ini sangat mencurigakan karena Magnus tahu tentang ekpedisi bantuan tersebut sebelumnya.
Gubernur Halfthorn pun mengatakan jika mereka hanya menerima kotak yang isinya tidak seberapa dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk Halfthorn. Magnus juga dibuat terkejut, isi kotak itu tidak penuh, beberapa kotak hanya dipenuhi jerami. Apakah pemerinta berpikir jika rakyat akan kenyang dengan jerami saja?
Magnus tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja, dia memutuskan untuk tinggal lebih lama dan melanjutkan penyelidikannya. Hingga akhirnya dia mendapatkan beberapa petunjuk yang bisa dia gunakan untuk mengumpulkan bukti. Magnus menemukan beberapa kotak yang dikirim memiliki segel yang sedikit berbeda dengan segel asli kerajaan. Jika dilihat sekilas, segel tersebut terlihat sama persis, tapi jika diamati dengan baik, segel tersebut berbeda. Magnus bisa melihat bahan pembuatan segel palsu itu berbeda dari segel asli yang terbuat dari emas murni. Seseorang pasti telah mengganti kotak bantuan tersebut, pikirnya.
Penyelidikan terus berlanjut hingga Magnus kembali menemukan petunjuk, diam-diam dia mencuri buku besar karena merasa buku besar yang dia terima dari gubernur sangat mencurigakan. Dugaannya benar, ketika mata-mata Magnus mencuri buku besar itu, Magnus menemukan perbedaan yang sangat mencolok.
“Mereka telah melakukan kecurangan sebesar ini,” pikir Magnus setelah melihat perbedaan buku besar itu. Amarahnya memuncak melihat kecurangan yang ada di depan matanya.
“Di luar sana banyak sekali penduduk kelaparan dan orang ini … dia hanya memikirkan pundi-pundinya! Bajingann!” Magnus mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya tampak memutih.
Selagi melakukan penyelidikan itu Magnus membantu para penduduk untuk mendapatkan pasokan makanan, ia mengirimkan surat kepada temannya yang bekerja di Westwide untuk mengirimkan bahan makanan dan Magnus membayarnya dengan uang pribadinya. Menggunakan bantuannya ini, Magnus memiliki sebuah rencana untuk memancing penjahat yang melakukan kecurangan terhadap kotak bantuan.
Magnus mengatasnamakan bantuan yang dia berikan itu dari pemerintah kerajaan Valareast, ia ingin memancing penjahat itu keluar. Magnus mencurigai jika gubernur atau salah satu bawahannya yang berbuat curang seperti itu.
Dugaan Magnus benar, ketika kotak bantuan itu datang ke Halfthorn beberapa orang mencegat pembawa bantuan. Mengatasnamakan diri mereka sebagai pegawai pemerintahan Halfthorn. Magnus dan bawahannya mengikuti orang-orang tersebut, yang membawa mereka masuk ke dalam sebuah kastil tua yang usang di dalam hutan. Magnus dan bawahannya mengintai kegiatan di dalam kastil itu, dan benar saja mereka menukar isi kotak tersebut dengan jerami dan sedikit bahan makanan.
Magnus yang terlampau marah pun tak bisa menahan diri, bersama dengan bawahannya dia menyerang kumpulan orang-orang itu dengan niat untuk menangkap mereka dan menginterogasi mereka. Namun, hal yang tidak terduga pun terjadi, orang-orang itu menenggak cairan racun hingga akhirnya meregang nyawa.
“Mengapa … mengapa tanda mereka ada di sini?” Magnus frustasi karena penjahat itu rela mati untuk melindungi tuan mereka.
Tidak bisa kehilangan buruannya, Magnus memeriksa seluruh kastil tersebut, ia juga memeriksa tubuh para penjahat dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Magnus melihat sebuah tanda di pergelangan para penjahat itu, sebuah tanda berbentuk simbol seperti ular yang melingkar. Magnus sangat terkejut melihatnya karena simbol itu mengingatkannya dengan pembanntaian yang terjadi di rumahnya sekitar sebelas tahun yang lalu.
“My Lord … apakah anda baik-baik saja?” Lucas, bawahan Magnus tampak cemas melihat wajah pucat Magnus.
“Apa kau mengetahui tanda ini, Lucas?” tanya Magnus berusaha untuk tidak menunjukkan kegusaran hatinya setelah melihat simbol tersebut.
“Saya akan mencaritahu lagi, My Lord.”
“Baiklah. Sebaiknya kita melanjutkan penggeledahan. Aku yakin pasti ada petunjuk lagi.”
Pada akhirnya pencarian itu bermuara pada bekas roda yang menuju ke sebuah danau di balik kastil usang itu. Magnus dan Lucas serta beberapa bawahannya yang lain pun mencari tahu apa yang ada di dalam danau tersebut dan akhirnya menemukan kotak-kotak bantuan yang telah rusak.
“Mereka membuang kotak ke danau … tapi ke mana mereka membawa isinya?” gumam Magnus.
Lama Magnus termenung di depan kotak-kotak yang dia temukan itu akhirnya memilih untuk kembali ke pusat kota untuk menemui gubernur. Berharap dengan semua bukti yang dia miliki, Magnus bisa menangkap gubernur Halfthorn. Namun, harapan tinggalah harapan karena gubernur Halfthorn telah ditemukan gantung diri di kamarnya.
*
Asap mengepul tipis dari air hangat yang digunakan Magnus untuk merendam dirinya. Kematian gubernur Halfthorn membuatnya frustasi, selain itu Magnus teringat tentang simbol yang ditemukan di pergelangan tubuh para penjahat.
Magnus memejamkam matanya sambil bersandar pada pinggiran bak mandinya, menikmati kehangatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Saat matanya terpejam, kenangan dua belas tahun lalu di malam berdarah ketika semua penghuni rumahnya dibantai habis oleh penjahat dan dirinya sebagai anak tidak bisa menyelamatkan orang tuanya. Kenangan menyakitkan itu … meski dirinya dilahirkan kembali, Magnus tidak akan pernah melupakannya. Kenangan menyakitkan itu yang membuatnya bertahan, karena ia bertekad untuk membalaskan dendamnya pada orang yang menjadi dalang pembunuhan orang tuanya.
Mendadak mata Magnus terbuka lebar, ia juga menegakkan punggungnya. Beberapa tahun lalu dia mendapatkan informasi jika Ratu Eurene-lah yang memerintahkan pembantaiann terhadap keluarganya, lalu dia melihat tanda dari orang-orang yang membunuh keluarganya pun ada pada penjahat-penjahat itu. Magnus pun berusaha untuk menyatukan kepingan-kepingan informasi itu.
“Apakah ini artinya Ratu yang mengambil kembali bantuan-bantuan itu?” tanya Magnus bergumam. “Wanita kejam.”
.
.
.
To be continued.