Chapter 6: Halfthorn (Pt. 1)

2412 Words
Tangan Eurene mengepal kuat di kedua sisinya, di hadapannya para pejabat pemerintah berdiri sedang menantikan dirinya untuk memberikan sebuah tanggapan. Eurene tahu hal semacam ini cepat atau lambat akan terjadi, bahkan bisa dikatakan permintaan para pejabat ini cukup terlambat. Meski sudah menduga hal semacam ini akan terjadi, Eurene masih tak siap untuk mendengarnya. “Your Majesty.” Pria yang telah memiliki uban pada sebagian kepalanya itu menatap Eurene dengan seksama. Dia adalah Theodore Delmar, seorang Marquis, seorang penasihat Ratu Eurene sejak pertama kali dirinya menapakkan kakinya di istana dua belas tahun yang lalu. Eurene mengambil nafas dalam-dalam secara perlahan, masih bergeming tapi kali ini tatapan matanya tertuju pada Marquis Delmar. “Permintaan para pejabat bukan tanpa alasan, Anda harus mengangkat seorang pangeran untuk melengkapi kepemimpinan anda. Seperti yang anda tahu, anda adalah keturunan terakhir dari Raja Quentinus. Sebagai anggota kerajaan anda juga harus memikirkan kelangsungan keturunan kerajaan.” Eurene masih terdiam menyimak ucapan Marquis Delmar. Memang benar jika Eurene adalah keturunan terakhir, itu sebabnya dia dipilih menjadi seorang ratu. Seandainya kecelakaan yang terjadi dua belas tahun lalu itu tidak terjadi, tidak ada satu pun dari keluarganya yang akan berani mengungkit masalah kekuasaan kerajaan. Sekarang di sinilah dirinya berada, di tempat tertinggi di Valareast dan sendirian. “Lord Delmar sangat bijaksana, para pejabat juga sangat bijaksana. Saya memahami apa yang telah kalian khawatirkan … akan tetapi berikan saya waktu untuk memutuskan masalah ini.” Eurene akhirnya membuka mulutnya untuk memberikan tangannya. “Baiklah, Your Majesty.” Eurene bangkit dari singgasananya, setelah memberikan salam kepada para pejabat dan penasehatnya dia pun beranjak pergi dari aula istana. Langkahnya sangat anggun, tidak ada yang bisa mengelak kharismanya sebagai penguasa sangat kentara dan menyilaukan semua orang. Eurene sama sekali tak pernah menundukkan kepalanya meski dunia seolah-olah menghakiminya. Dia telah terbiasa, semua itu berkat ibu asuhnya yang sangat baik dan setia. Namun, sampai di kamarnya—tempat paling aman di istana—Eurene seketika melepaskan jubah kebesarannya dan melemparkannya ke sembarang arah. Membiarkan Freyja mengambilnya dan meletakkan jubah itu ke tempat yang seharusnya. Di tempat itu Eurene tak harus memasang wajah datar tanpa emosinya, dia bisa merebahkan tubuhnya tanpa takut dicibir oleh orang lain, dia bisa menjadi dirinya sendiri di dalam kamar megah miliknya itu. Lihat saja bagaimana Eurene melemparkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran King Size miliknya, ranjang yang sangat empuk itu, terlihat jika dirinya seolah-olah bukanlah Ratu dari kerajaan besar. “Ahhh melelahkan sekali hari ini,” gumam Eurene sembari membalikkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya yang telah dilukis oleh pelukis paling berbakat di kerajaannya. Lukisan yang sama sekali tidak di mengerti oleh Eurene, akan tetapi dia pernah mendengar jika lukisan yang ada di langit-langit kamarnya ini berarti kemakmuran dan kebahagiaan untuk orang yang tinggal di dalam kamarnya. “Anda sangat luar biasa sekali, Your Majesty … cara anda mengancam pejabat yang berani korupsi benar-benar sangat luar biasa!” Nivera memuji Eurene sembari membawakan secangkir s**u hangat kesukaan Eurene. Sudah kebiasannya setelah melaksanakan pertemuan pagi bersama dengan pejabat, ia harus mengisi energinya dengan segelas s**u hangat sebelum kembali bekerja. Eurene bangkit dari tempat tidurnya, duduk dengan wajah masam teringat tentang informasi yang telah dia terima dari Si Dexter. Seorang informan memberitahukan jika krisis di Halfthorn belum sepenuhnya teratasi karena sebagian bantuan yang berisi pasokan bahan pangan dan juga obat-obatan telah ditukar. Sebagai seorang manusia, Eurene sangat marah ketika mendengar hal ini, akan tetapi sebagai seorang Ratu dia tidak bisa marah begitu saja. Itu sebabnya dia ungkit berita ini di depan para pejabat, anehnya, para pejabat itu tampak santai saat menanggapinya. Mereka bahkan terkesan acuh tak acuh dengan krisis yang dialami di Halfthorn. Hal ini membuat Eurene semakin yakin jika penasehat yang paling dia percayai terhubung dengan krisis ini. “Your Majesty.” Sebuah panggilan menarik Eurene kembali pada kesadarannya. Dia melihat sosok Sir Dexter telah berdiri satu langkah di belakang Nivera. “Ada apa, Sir Dexter?” tanya Eurene sambil menenggak s**u buatan Nivera. “Saya mendapatkan kabar jika ….” Sir Dexter tampak ragu-ragu untuk memberitahu Eurene. Dari balik gelasnya, Eurene melirik Sir Dexter, gadis itu pun mampu melihat jika pria bertubuh besar yang selalu melindunginya tampak ragu-ragu. Jika sudah begini, kabar yang akan disampaikan oleh Sir Dexter pasti bukan sesuatu yang menyenangkan. “Apa yang terjadi, Sir Dexter.” Suara Eurene terdengar sangat tegas, perlahan dia meletakkan gelas bekas s**u itu di atas nakas lalu menatap Sir Dexter lekat-lekat. “Gubernur Halfthorn meninggal saat Biro Golden Eye datang untuk melakukan penyelidikan … dia meninggal gantung diri, rumor yang beredar mengatakan jika gubernur itu meninggal akibat desakan dari Biro. Selain itu ….” Jantung Eurene berdebar-debar jauh lebih kencang dari biasanya saat mendengar Sir Dexter menyebutkan nama Biro Golden Eye, yang berarti Magnus pun terkait dengan kasus ini. Eurene tidak mengerti, mengapa di saat seperti ini Magnus malah terlibat, Eurene tahu jika Magnus adalah kepala Biro, akan tetapi mengapa waktunya sangat tidak tepat. Eurene meremas pakaiannya, kini ia tahu alasan dari maksud kata-kata dari Marquis Delmar. “Apa yang kau katakan?” tanya Eurene setelah ia tersadar dan kembali dari lamunannya. “Biro Golden Eye membantu penduduk dengan menyumbang pasokan bahan pangan dan obat-obatan kepada penduduk.” “Berapa lama perjalanan menuju ke Halfthorn?” tanya Eurene tiba-tiba yang disambut tatapan keheranan Nivera dan Sir Dexter. Mereka berharap jika apa yang ada di dalam pikiran mereka bukan apa yang sedang dipikirkan oleh Eurene saat ini. “Tiga hari dengan kereta, Your Majesty.” Seketika itu juga Nivera menyikut pinggang Sir Dexter tapi karena Sir Dexter menggunakan pakaian zirah lengkap malah membuat Nivera kesakitan sendiri. “Mengapa kau memberi tahu, Her Majesty? Awas saja jika—” Tak sempat Nivera menyelesaikan kalimatnya, Eurene menyelanya. “Jika dengan kuda?” “Satu setengah hari, Your Majesty.” “Anakku, jangan berpikir untuk pergi ke Halfthorn, wabah sedang terjadi di sana.” Nivera terlihat sangat cemas. “Tolong siapkan Naaga.” * “Lucas … aku akan pergi ke pemukiman penduduk yang terjangkit wabah, kau cari informasi lagi.” Magnus mengemasi barangnya, siap untuk pergi melihat keadaan penduduk kota yang sedang jatuh sakit akibat bencana yang melanda Halfthorn. Menurut perhitungan bawahan Magnus, ada sekitar lebih dari sepertiga penduduk terjangkit wabah penyakit. Separuh diantaranya adalah anak-anak, sisanya orang yang telah lanjut usia dan wanita dewasa. Magnus ingin memastikan jika obat-obatan yang dia sediakan berguna untuk para penduduk. “Itu sangat berbahaya, My Lord.” Lucas tampak cukup cemas karena wabah yang terjadi tampaknya mudah sekali menjangkiti penduduk. Banyak dari mereka yang tewas karena wabah itu. Magnus mendekati Lucas dengan segala peralatannya, dia menepuk pundak Lucas berusaha membuat Lucas tidak khawatir meski yang dia lakukan agaknya sia-sia saja. “Aku tidak mudah sakit, wabah itu tidak akan pernah menyentuhku. Kau bisa tenang dan lakukan tugasmu.” Lucas tak rela jika tuannya itu pergi masuk ke dalam tempat yang berbahaya sendirian, apalagi tempat itu dipenuhi oleh penyakit yang mematikan. Penderita penyakit itu akan terjangkit demam, kemudian terbatuk-batuk dan sesak nafas, jika mereka tidak beruntung maka akan mati dalam beberapa hari berikutnya. Lucas tidak mampu membayangkan jika tubuh tuannya terbujur kaku hanya karena kecerobohannya dengan mendatangi sumber wabah. “Jika kau tidak mendengarkanku, aku tidak akan pernah menemuimu lagi.” Magnus menatap Lucas dengan sungguh-sungguh, namun tampaknya ancaman itu tidak berarti apapun karena Lucas bergeming di tempatnya. “My Lord.” “Pergilah, kembali padaku dua hari lagi.” “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri.” Magnus menghela nafasnya, mengapa dia memiliki bawahan yang selalu saja membuatnya harus menghela nafas dengan tingkah mereka. Di kantor biro ada Cathan yang selalu berisik dengan pertanyaan atau obrolan tak pentingnya, di luar itu ada Lucas yang mendadak menjadi sosok cengeng seperti saat ini. “Lihat ini.” Magnus mengeluarkan sebuah kain yang memiliki pengait di kedua sisinya. Mata Lucas membulat melihat benda yang terlihat asing baginya itu. “Ini adalah masker pelindung, dengan ini maka penyakit itu tidak akan bisa menyentuhku.” “Be-be-benarkah? Anda tidak berbohong, ‘kan?” tanya Lucas masih tidak percaya. “Tentu saja, kain ini diberikan oleh dokter wilayah kepadaku. Jadi kau tidak perlu cemas … sekarang biarkan aku pergi.” Lucas tampak menyerah, lagipula tidak gunanya menahan Magnus. Pria itu kepalanya jauh lebih keras dari seribu batu di dunia ini. Tidak akan ada yang bisa menggoyahkan keputusannya jika sudah bertekad. Akhirnya Lucas pun tidak lagi menghalangi langkah Magnus, membiarkan Magnus pergi dari hadapannya. Berharap jika kain yang ditunjukkan padanya itu benar-benar berfungsi dengan baik. Sebelum pergi ke tempat yang diisolasi agar wabahnya tak menyebar, Magnus sengaja berjalan di area pemukiman warga. Di sana dia melihat jika warga sedang mengantre untuk mendapatkan bantuan pangan yang disediakan oleh biro Golden Eyes. Magnus mendekat pada antrean tersebut, dia kemudian dengan sukarela membantu para warga dengan menyerahkan jatah bantuan mereka. “Pa-paman … Paman ….” Seorang anak perempuan berpakaian sangat lusuh menarik-narik ujung pakaian Magnus hingga membuat pria itu mengalihkan pandangannya dan melihat gadis kecil tersebut. Mata gadis itu terlihat masih basah, ada jejak ingus tersisa di hidungnya yang memerah. Melihat gadis itu, Magnus pun segera berlutut di hadapannya, mensejajarkan matanya pada gadis yang terlihat akan menangis lagi. “Ada apa, Nak? Mengapa kau menangis? Apa kau sudah makan?” Gadis itu menggeleng dengan air mata yang akhirnya berbulir di wajahnya. Magnus semakin bingung melihat tangis gadis ini yang pecah begitu saja. Magnus meraih tangan gadis ini, menepuknya dengan lembut berusaha untuk menenangkan tangis anak itu. “Apa yang terjadi, mengapa kau menangis? Katakan padaku, apa yang bisa paman bantu?” Bukannya menjawab gadis itu malah memegang tangan Magnus seraya menariknya, tak siap dengan hal itu Magnus hampir saja terjatuh di atas lututnya. Beruntung dia memiliki keseimbangan yang baik sehingga hal itu tak terjadi. Gadis itu masih menarik Magnus, dengan kaki kecilnya mengajak pria dewasa yang jauh lebih besar tubuhnya berjalan, menuntun Magnus melewati gang sempit hingga akhirnya sampai di ujung jalan. Sesuatu di ujung jalan membuat Magnus melepaskan tangan gadis kecil tersebut dan berlari kencang. Tangan kekarnya menarik tubuh ringkih seorang gadis yang baru saja akan menyentuh seorang wanita renta yang terbatuk-batuk dan tergolek di pinggir jalan. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Magnus dengan suara yang meninggi satu tingkat dari biasanya. Gadis itu menatap Magnus terkejut bukan main, tidak menyangka akan bertemu dengan Magnus di sini. Sementara Magnus mengacak-acak isi tas yang telah tersampir di bahunya sejak awal kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. “Pakai ini, wanita itu sepertinya sedang sakit.” Magnus memberikan kain berupa masker untuk digunakan gadis itu melindungi diri. “Apa ini?” “Masker pelindung, Kendra. Gunakan itu untuk menutupi hidung dan mulutmu. Aku akan membawa wanita ini ke tempat isolasi.” “Paman, apa kau akan membawa nenekku pergi?” tanya gadis kecil yang tadi sempat ditinggalkan oleh Magnus. Tatapan Magnus seketika itu beralih pada bocah yang tingginya tak lebih dari pinggang Magnus itu. “Apakah nenekmu sedang sakit?” tanyanya sembari menekuk lutut di hadapan gadis itu. “Kendra … menjauhlah.” Secara spontan Eurene pun melangkah mundur Gadis kecil itu mengangguk. “Apa kau juga sakit?” tanya Magnus untuk memastikan. “Tidak.” “Baguslah … aku akan membawa nenekmu ke tempat penyembuhan, kau ….” Magnus melirik sekilas ke arah Eurene. “Kau bersama dengan kakak ini dan tunggu di sini.” Gadis itu menggeleng dengan kuat, tangisnya pun semakin pecah karena mendengar neneknya akan dibawa pergi dari tempat ini. “Aku tidak mau di sini, aku mau pergi dengan nenekku!” “Nak … nenekmu sedang sakit, dia harus segera diobati. Tunggulah di sini.” Magnus berusaha membujuk gadis itu, bukannya berhenti menangis gadis itu semakin kencang menangis hingga membuat Magnus merasa bingung dan serba salah. “Nenekmu … dia tidak membutuhkan tangisanmu!” suara Eurene sungguh tegas, dia bahkan meraih bahu gadis kecil itu agar bisa menatapnya secara langsung. “Kendra … apa yang—” Magnus tak mampu menyelesaikan ucapannya karena Eurene menyelanya dengan mengangkat telapak tangannya, menghentikan apapun yang keluar dari bibir Magnus. “Lihat nenekmu! Jika kau tidak membiarkannya diobati oleh paman ini … maka kau tidak akan bisa melihatnya lagi. Nenekmu tidak akan sembuh dengan tangisanmu ini.” Kini suara Eurene lebih lembut dari sebelumnya dan mengatakannya sembari mengusap air mata gadis kecil itu. “Jika kau ikut di tempat penyembuhan itu … kau bisa sakit, jika nenekmu tahu kau sakit, bukankah dia tidak akan sembuh?” Entah bagaimana tapi perkataan Eurene seolah-olah menyihir gadis itu, isakannya hilang begitu saja. Magnus pun menatap keduanya dengan heran, tak menyangka jika ucapan pedas Eurene berhasil membuat gadis itu menurut. “Apakah nenek akan sembuh?” “Tentu saja … nenekmu … dia akan segera kembali bersamamu.” Eurene mengucapkan janji seolah-olah hal itu pasti terjadi, dirinya lupa jika kesembuhan, kehidupan, kematian, itu hanya ada di tangan Tuhan. “Nah … aku akan membawa nenekmu, kau tunggu bersama dengan kakak ini.” Kemudian Magnus beranjak mendekat pada nenek itu. Saat hendak mengangkat nenek itu ke punggungnya, Eurene menghentikannya. “Apa yang kau lakukan … di mana kain pelindungmu?” “Itu tidak penting sekarang.” Magnus tak menghiraukan Eurene, ia terus menggendong nenek tersebut ke punggungnya, tak mempedulikan jika penyakit itu bisa saja menular padanya. “Kendra … bawa anak ini ke tempatku, berjalanlah hingga belokan ke-tiga, kau akan menemukan sebuah penginapan dengan papan besar, katakan pada pemiliknya jika aku memintamu tinggal di kamarku.” Magnus mengatakannya dengan buru-buru kemudian berlari pergi dengan menggendong nenek tersebut. “Magnus ….” Eurene bahkan tak bisa menghentikan langkah Magnus yang semakin menjauh darinya, ia hanya bisa memandangi tubuh Magnus yang semakin mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangannya. “Your Majesty … saya akan memanggil dokter wilayah untuk memeriksa anda dan nona kecil ini.” Sir Dexter baru saja muncul setelah dia terus mengawasi dari kejauhan. “Ya, tolong panggilkan untuk gadis ini.” Eurene berkata lirih. “Siapa namamu, gadis kecil?” tanya Eurene seraya membungkukkan tubuhnya pada gadis itu. “Alana ….” “Alana … nama yang bagus, di mana orang tuamu tinggal?” tanya Eurene lagi. Gadis itu menatap Eurene nanar, seolah-olah pertanyaan itu telah meremukkan hatinya. Sedetik kemudian Eurene menyadari arti tatapan itu, rupanya mereka sama—yatim piatu. “Sepertinya … kita berbagi sebuah nasih yang sama, kalau begitu untuk sementara ini kau ikut denganku, ya?” Dan Alana pun mengangguk pelan, ada percikan harapan menyala di matanya yang murni. “Gadis pintar.” Eurene memujinya seraya mengusap kepala Alana dengan lembut. “Mari kita menunggu nenekmu kembali.” . . . To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD