Chapter 7: Halhthorn (pt. 2)

2298 Words
Song Of Betrayal Chapter 7: Halhthorn (pt. 2)   “Beruntung sekali nenek ini, anda membawanya tepat pada waktunya.” Dokter wilayah yang menjadi satu-satunya harapan bagi penduduk Halfthorn yang sedang terkena wabah itu memberi tahu Magnus.   Beberapa saat yang lalu, dokter itu memeriksa keadaan nenek yang dibawa oleh Magnus dengan seksama. Setelah memastikan jika sakit yang diderita nenek itu tidak parah, dia membiarkannya beristirahat.   “Seandainya anda membawanya lebih lama … keadaannya pasti akan memburuk.,” imbuh dokter wanita itu.   “Syukurlah jika memang begitu, aku akan kembali untuk memeriksa seseroang.” Magnus beranjak pergi, namun dokter tersebut menghadang jalannya. Tatapan tegasnya mengatakan jika dokter itu tidak akan membiarkan Magnus melewatinya.   “Anda tidak boleh pergi dari sini.” Dokter itu sungguh-sungguh dengan perkataannya. Tampaknya dia tidak peduli jika Magnus akan marah, ia hanya menatap Magnus dengan manik cokelatnya seolah menantangnya.   “Ada seseorang yang harus aku periksa, aku tidak ingin dia tertular.” Magnus pun bersikeras, dia menghela nafasnya menghadapi dokter yang keras kepala ini. Pikiran Magnus sungguh tidak tenang, pria itu terpikir oleh keadaan Eurene yang sempat berinteraksi dengan nenek yang sakit ini.   “Apapun alasannya, aku tidak bisa membiarkan anda keluar dari tempat isolasi ini. Ada kemungkinan anda tertular, jika begitu anda bisa menularkan kepada orang lain.” Dokter tersebut tidak ingin kalah atau pun mengalah.   Magnus mengeratkan rahangnya, rasanya dia ingin sekali menyingkirkan dokter itu supaya dirinya bisa berlari kencang kembali pada ‘Kendra’-nya. Sungguh hanya dengan memikirkan jika Eurene akan tertular membuat hati Magnus begitu pilu. Banyak hal yang menggelayut di dalam pikirannya dan menambah ketakutan.   Bagaimana jika Kendra tertular? Bagaimana jika penyakitnya parah? Bagaimana jika dia sakit dan sendirian di tempat yang asing ini?   “Argh!” Magnus menggeram dalam sambil membalikkan tubuhnya. Bagaimana bisa dia seceroboh ini dan membiarkan Kendra terpapar wabah. Harusnya dia bisa menjaga Kendra jauh lebih baik.   “Siapakah orang yang ingin anda periksa? Aku akan meminta temanku memeriksanya.”   Dokter itu tampak pengertian setelah melihat betapa gusarnya Magnus. “Siapa namanya?”   “Kendra … namanya adalah Kendra. Sebelum aku membawa nenek itu, dia sempat melakukan kontak dengan nenek. Aku khawatir … aku—”   “Tenanglah, My Lord.” Dokter menyela ucapan Magnus, tak tega melihat pria itu terlihat sangat menyedihkan saat khawatir seperti ini. “Temanku akan memantaunya, dalam empat puluh delapan jam … jika dia tidak mengalami gejala maka dia tidak tertular.”   “Be-benarkah?” Mendengar kata-kata itu dari dokter wilayah membuat Magnus seperti baru saja disiram dengan air yang sejuk, harapannya pun kembali membara. Wajahnya yang semula terlihat masam berubah menjadi lebih manis karena senyumannya membuat raut Magnus menjadi lebih baik. Bahkan dokter yang melihatnya pun terlihat terpesona oleh ketampanan wajah Magnus.   “Dokter benarkah itu? Jika tidak ada gejala sama sekali selama empat puluh delapan jam itu artinya kami sembuh?”   Tentu saja senyuman dokter wanita itu langsung merekah melihat betapa antusiasnya Magnus mendengarkan kabar tersebut. Meskipun apa saja bisa terjadi dalam kurun waktu tersebut, tapi sikap Magnus yang sangat optimis membuat harapan yang semua redup menjadi menyala terang.   “Dokter Sloane….” Seseorang tiba-tiba memanggil dokter wanita yang sedang berbicara dengan Magnus. Ke-duanya, Magnus dan juga Sloane menoleh ke arah sumber suara.   “Ah, Floyd! Kebetulan sekali kau ada di sini. Aku ingin meminta bantuanmu.” Sloane beralih, mendekat pada lelaki itu namun tetap menjaga jaraknya. Sesaat kemudian Sloane melambaikan tangannya ke arah Magnus, mengisyaratkan pada Magnus untuk mendekat pada mereka.   “Ini adalah Floyd, My Lord. Dia salah satu-satunya dokter wilayah yang tersisa dan membantuku. Dan Floyd ini adalah Lord Magnus Corbet, pria yang menyumbangkan seluruh obat-obatan untuk warga di sini.”   Mata Floyd yang sewarna dengan batu amber itu berbinar cerah melihat sosok Magnus yang telah menjadi pahlawan bagi penduduk Halfthorn. Seketika itu Floyd hampir saja menghambur pada Magnus dan memeluknya, sayangnya mereka terhalan oleh sebuah penghalang tipis. Hanya senyuman lebar yang bisa Floyd berikan demi menunjukkan betapa bahagia dirinya bisa melihat secara langsung sosok pahlawan Halfthorn.   “Lord Magnus … terima kasih atas bantuan yang anda berikan, sungguh ini semua sangat berarti bagi kami.”   “Temanku akan sangat bahagia mendengar bantuannya sangat berarti bagi kalian,” ujar Magnus sungguh-sungguh. Karena semua bantuan tersebut memang bantuan yang dia minta dari temannya yang ada di Westwide. Ucapan Magnus membuat Floyd dan Sloane menatap penuh tanya. Magnus yang memahaminya pun seketika itu langsung menjelaskan situasinya, jika dirinya telah meminta bantuan kepada seorang teman lama di West Wide.   “Meski begitu jika bukan karena anda Lord Magnus, semua bantuan ini tidak akan pernah datang,” ujar Floyd.   “Benar, Lord Magnus … apa yang dikatakan oleh Floyd itu benar. Jadi anda pun harus sukarela menerima rasa terima kasih kami.” Sloane menekankan ucapannya, berharap jika Magnus tidak menolak ucapan terima kasih mereka. Sungguh, seandainya bantuan ini tidak pernah datang, Sloane tidak pernah tahu bagaimana nasib penduduk Halfthorn, bisa jadi dalam waktu sekejap seluruh penduduk Halfthorn tersapu habis oleh wabah.   Magnus hanya tersenyum simpul, tak terbiasa menerima sesuatu yang dia anggap tak pantas dia dapatkan.   “Oh iya, Floyd … boleh kuminta bantuan darimu?” tanya Sloane tiba-tiba.   “Tentu saja, apapun, dokter.”   “Lord Magnus … Floyd akan membantumu.”   Seketika itu Magnus maju satu langkah lebih dekat dengan Floyd. “Aku meminta tolong … aku memiliki seorang teman, saat ini dia sedang berada di sebuah penginapan yang ada di tengah kota, tolong periksa dan awasi dia karena dia sempat melakukan kontak dengan seseorang yang terkena wabah.”   “Mengapa tidak di bawa ke sini saja, Tuan?” tanya Floyd.   “Kita harus memantaunya lebih dulu.” Sloane menjawab dengan cepat. Tahu betul jika Magnus sangat tidak rela jika temannya itu dibawa ke tempat yang diisolasi ini. “Jika dalam empat puluh delapan jam dia baik-baik saja, kau boleh kembali. Tapi jika dia terpapar … kau harus pisahkan orang-orang yang berkontak dengannya dengan orang yang sehat.”   “Baiklah … kebetulan sekali aku juga akan pergi ke kota karena seseorang memintaku untuk memeriksa keluarganya. Jadi dimana penginapan tempat teman anda menginap, My Lord?”   “Penginapan itu ada di tengan kota, papan di depan penginapan sangat besar dan paling mencolok. Pergilah ke kamar pertama yang ada di lantai dua, di sana temanku berada.”   “Siapakah namanya?”   “Kendra.”   Floyd termenung sejenak ada sesuatu yang sangat mengganjal di dalam benaknya. Namun, dia tidak berani membuka mulutnya untuk sesuatu yang sama sekali tak dia ketahui dengan pasti. Pada akhirnya, Floyd hanya menerima permintaan tolong dan pergi dari tempat yang diisolasi itu untuk memeriksa seorang gadis bernama Kendra.   *   Floyd tertegun menatap daun pintu berwarna cokelat yang tampak usang di hadapannya. Beberapa saat kemudian ia melihat ke sekitarnya, kamar pertama di lantai dua, Floyd masih jelas mengingat instruksi dari Magnus yang diberikan kepadanya. Tidak mungkin dia salah, kamar ini tidak berhadapan dengan kamar lainnya, hanya kamar ini yang merupakan kamar pertama di lantai dua.   “Apa yang kau lakukan, mengapa hanya berdiri di depan pintu saja?” Suara serak yang begitu dalam menggugah Floyd dari angan-angannya, ia menoleh dan mendapat sosok pria bertubuh tinggi besar dengan wajah tampan yang sama sekali tidak bersahabat. Tanpa sadar Floyd yang merasa terintimidasi dengan ukuran tubuh itu melangkah minggir.   “Apa nona tidak ada di dalam?” Sir Dexter bertanya lagi tapi lebih bertanya kepada dirinya sendiri, dia tidak menunggu jawaban dari Floyd dan langsung saja mengetuk pintu yang ada di depan mereka.   Setelah ketukan ke dua sayup-sayup terdengar suara seorang wanita menjawab dari dalam ruangan itu. Sesaat kemudian Sir Dexter membuka pintunya dan meminta Floyd untuk mengikutinya. Floyd hanya mengekor masuk ke dalam kamar itu, ia melihat ada seorang wanita yang masih sangat muda dan berparas menawan bagaikan sebuah manequin sedang duduk sambil makan bersama seorang anak kecil yang penampilannya tampak bertolak belakang dengan gadis cantik itu. Pakaian anak kecil itu sangat lusuh, ada beberapa lubang di beberapa titik bajunya, wajahnya juga terlihat sangat kotor.   “Nona … ini adalah dokter wilayah di sini, dia akan memeriksa anda.”   Sekilas Eurene menengokkan kepalanya pada Floyd, tatapannya dengan mata biru yang cerah membuat Floyd menjatuhkan rahangnya. Ini pertama kalinya dia melihat seseorang terlihat begitu menawan dan memiliki kharisma yang sangat kuat, seolah-olah seluruh tubuhnya memancarkan kharisma itu.   “Tolong periksa anak ini lebih dulu,” ucap Eurene yang membuat Floyd semakin terpana, bagaimana mungkin ada suara yang begitu merdu, dan mengapa baru kali ini Floyd mendengarnya.   “Dokter?” Melihat Floyd yang terpana karena melihat Eurene, Sir Dexter tak tinggal diam. Segera dia menepuk pundak Floyd dan membawanya kembali dari alam bawah sadarnya yang dipenuhi kekaguman untuk Eurene itu.   “Ah, Iya, apakah anda mengatakan sesuatu?” tanya Floyd dengan gugup, terdengar tawa Eurene pelan melihat tingkah si dokter wilayah.   “Nona memintamu untuk memeriksa gadis kecil itu lebih dulu, silakan, dokter.”   Floyd tergagap untuk sesaat, namun dia berhasil menguasai dirinya dan berjalan mendekat ke arah gadis kecil yang duduk di samping Eurene. Gadis itu baru saja menyelesaikan makanannya, dan duduk tenang menunggu Floyd untuk memeriksanya. Segera Floyd mengeluarkan alat-alat medisnya, dia mulai untuk memeriksa detak jantung Alana, kemudian memeriksa bagian dalam rongga mulutnya.   “Apa kau merasakan sesak di d**a?” tanya Floyd sembari mendengarkan kembali deru nafas Alana. Kepala kecil Alana menggeleng perlahan menandakan jika pernafasannya baik-baik saja.   “Saya sudah memeriksanya,” ucap Floyd.   “Lalu … apakah gadis ini baik-baik saja?” terdengar jelas jika Eurene sangat cemas dengan gadis kecil ini. Seolah-olah dia lebih mencemaskan keadann gadis ini daripada dirinya sendiri.   “Gadis kecil ini tidak mengalami gejala wabah, tapi kita harus pastikan sudah berapa lama dia berinteraksi dengan penderita. Waktu yang dibutuhkan bagi orang yang terinfeksi hingga gejala pertama muncul adalah dua hari dua malam, jika selama itu seseorang yang pernah berinteraksi dengan penderita dan tidak mengalami gejalanya, maka bisa dipastikan jika orang itu kebal.” Floyd menjelaskan dengan tenang.   “Begitu rupanya, neneknya telah sakit lebih dulu, tunggu ….” Eurene kemudian beralih pada Alana. “Alana … berapa hari nenekmu sakit?” tanya Eurene dengan suara yang lebih lembut. Gadis kecil itu menggunakan jarinya untuk menghitung hari, setelah menemukan jawaban yang tepat dia mengangkat tangannya kepada Alana. Ada empat jari yang dia tunjukkan kepada Eurene.   “Empat hari, dokter.”   “Itu berarti … dia tidak tertular wabah ini,” ujar Floyd.   “Syukurlah, dia tidak harus pergi ke tempat isolasi itu.”   “Nona … biarkan dokter memeriksamu,” ucap Sir Dexter segera ketika melihat Floyd yang menunggu gilirannya Eurene diperiksa.   “Sebelumnya … bolehkah aku bertanya.” Floyd memberanikan dirinya untuk mempertanyakan apa yang telah mengganjal di dalam otaknya sejak dia menginjakkan kaki di kamar ini.   “Silakan saja.”   “Boleh saya tahu siapa nama anda.”   “Dokter.” Sir Dexter menjadi waspada, namun tatapan mata Eurene yang teduh membuat Sir Dexter menjadi jauh lebih tenang.   “Kendra. Namaku adalah Kendra.”   “Berarti anda adalah teman Lord Magnus?”   Senyum di wajah Eurene pun mengembang membuat wajahnya semakin berbinar membuat siapapun yang melihatnya menjadi tertular oleh senyumannya. Bahkan Floyd pun ikut tersenyum setelah menyaksikan senyuman Eurene.   “Iya … dia adalah temanku, bagaimana dokter mengenalnya?”   “Syukurlah, saya bertemu dengan orang yang tepat.”   Seketika itu Sir Dexter dan Eurene mengangkat alis mereka karena tak paham betul apa yang sedang dikatakan oleh Floyd. Seperti biasanya, Eurene tak tahan jika harus menahan rasa penasarannya dia pun kemudian menjawab, “Apa maksudnya itu?”   “Ahhh … Lord Magnus memintaku untuk menjagamu sampai dua hari ke depan, dia tidak bisa kembali karena dia telah memasuki kawasan isolasi, dia harus di sana hingga dua hari berikutnya untuk memastikan jika Lord Magnus tidak terpapar wabah.”   Mata Eurene melebar dengan debaran jantung yang berirama dengan sangat cepat, kecemasan pun menyelubungi hatinya. Banyak sekali hal-hal yang mengganggu pikirannya dan semuanya hanya tertuju pada Magnus.   Bagaimana jika dia terpapar wabah itu? Dia akan sendirian di tempat itu, bagaimana jika keadaannya memburuk? Bagaimana … Bagaimana … Bagaimana.   “Ba-Bagaimana jika dia terpapar penyakit itu?” tanya Eurene dengan suara bergetar menahan gejolak kecemasan di dalam hatinya. Sesaat kemudian dia menoleh pada Sir Dexter, tatapannya penuh permohonan, akan tetapi Sir Dexter menatapnya tegas seolah-olah sedang mengatakan pada Eurene jika apapun yang dipikirkan Eurene saat ini tidak akan pernah mendapatkan persetujuannya.   “Penyakit ini tergolong dalam tiga tingkat, Nona. Tingkat ringan, sedang, dan akut. Jika seseorang mengalami gejala ringan maka dia akan segera sembuh … kita hanya bisa memantau gejalanya dan memberikan obat.”   “Bagaimana jika dia mengalami gejala akut?”   Hening.   Tidak satu pun dari empat orang yang ada di dalam ruangan tersebut menjawab pertanyaan Eurene seolah-olah keheningan itu adalah jawabannya. Eurene menghela nafasnya, sekali melihat tatapan Floyd atas pertanyaannya dia pun tahu jawabannya, orang yang mengidap gejala akut dia sudah dipastikan akan meninggal.   “Nona tidak perlu cemas, Lord Magnus telah mengirimkan bantuan obat-obatan dan secara ajaib obat-obatan itu sangat manjur untuk pengobatan wabah ini.”   “Sungguh?”   “Sungguh, Nona. Sekarang biarkan aku memeriksa anda.”   “Silakan … silakan. Sir Dexter tolong carikan kamar terbaik untuk dokter Floyd.”   “Si-Sir Dexter?” mendengar nama yang diucapkan oleh Eurene, seketika itu Floyd membeku ditempatnya, nama itu bukanlah sembarangan nama yang dimiliki seseorang dan semua orang telah mengenal nama itu sebagai pahlawan Valareast yang menaklukan pasukan musuh di usianya yang masih belia, nama pahlawan yang telah terpatri di dalam hati masyarakat Valareast. Dan Floyd tahu, satu-satunya orang yang telah dilayani oleh pedang Si Dexter hanyalah penguasa tertinggi di Valareast.   Di sisi lain,  Eurene dan Sir Dexter terheran-heran melihat tingkat Floyd, mengapa ada dokter yang konsentrasinya mudah sekali terganggu. Namun, sesaat kemudian tiba-tiba saja Floyd turun dari kurs tempatnya duduk dan berlutut di hadapan Eurene.   “Ada apa? Mengapa kau berlutut, dokter?”   “Mo-mohon te-te-terimalah hormat saya, Your Majesty.”    . . . . To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD