Chapter 1: Debutantes

2344 Words
Di depan sebuah cermin besar Eurene memutar tubuhnya, gaun berwarna salem itu sangat cocok dengan warna kulitnya. Mengibaskan rok gaunnya dengan ceria, mengagumi keindahan tubuhnya dibalut gaun tersebut dan betapa cantiknya dia. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan untuk dirinya—memuji diri sendiri—karena orang lain akan melakukannya hanya sebagai bentuk formalitas belaka. “Freyja … lihat gaun ini sangat bagus ‘kan?” gadis bernama Freyja itu mengagumi gaun indah yang digunakan oleh junjungannya itu. Dia hanya mengangguk menyetujui ucapan Eurene karena tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa paduan setiap detail dari gaun itu sangat padu di tubuh Eurene. “Anda sangat cantik seperti biasa, Your Majesty.” Seorang wanita tua berkomentar sesaat setelah dia masuk ke kamar Eurene dan melihat raut wajah kebahagiaan yang terlukis di wajah manisnya itu. “Aku tidak ingin cantik seperti biasa, Bibi Nivera. Aku harus cantik luar biasa.” Eurene meregangkan ke dua tangannya sembari sedikit mengangkat dagunya. Nivera dan Freyja saling menatap, mereka telah terbiasa dengan kepercayaa diri Eurene yang seperti ini. ada kalanya, kepercayaan diri itu melebihi batasnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu yang membuat tiga orang tersebut seketika menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Seorang pria berpakain zirah baru saja masuk ke dalam kamar Eurene. Pria itu adalah sir Dexter, pengawal pribadi Eurene. “Sir Dexter! Lihat gaunku, bagaimana menurutmu?” tanya Eurene, tanpa malu dia memutar tubuhnya di depan Sir Dexter. Bagi Eurene, pengawal pribadinya ini sudah seperti kakak. Sir Dexer telah ditempatkan di sisi Eurene sejak gadis itu menjadi seorang ratu dua belas tahun yang lalu dan waktu itu Sir Dexter baru saja kembali dari perbatasan dan usianya pun masih sangat muda, delapan belas tahun. Itu sebabnya, Eurene tidak merasa canggung atau malu jika bertanya soal apapun termasuk penampilannya pada Sir Dexter. Sementara Eurene terus memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri sembari menunggu jawaban dari Sir Dexterdi sisi lain, wajah Sir Dexter memerah saat dia memperhatikan Eurene. Gaun itu memang sangat indah, terlebih lagi dikenakan oleh Eurene sehingga membuat kecantikan gaun itu terpancar dengan jelas. “Bagaimana?” Eurene tidak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Sir Dexter. “An-anda ….” Walau bukan pertama kali bagi Sir Dexter mendapatkan pertanyaan acak di sela-sela tugasnya, dia selalu saja gugup. Pria itu tegas, kuat, dan sangat rasional, tapi jika berhadapan dengan Eurene maka dia tidak akan mampu menyusun kata-kata dengan benar. “Ini akan lama,” gumam Freyja. Di sampingnya Nivera mengangguk pelan. Mereka terbiasa melihat pemandangan seperti ini, Eurene yang bersemangat dan Sir Dexter yang tiak bisa berkata-kata. “Aku tahu, kau ingin mengatakan kalau aku cantik luar biasa, ‘kan?” Eurene mengambil kesimpulannya sendiri. Sir Dexter tak bisa mengatakan apapun lagi, dia hanya mengangguk menyetujui Eurene. “Lalu … ada apa, Sir Dexter?” “Itu, Your Majesty … Acara para debutantes akan segera dimulai.” “Oh, tidak.” Eurene tampak enggan untuk keluar dari kamarnya walau dia begiu percaya diri dengan pakaiannya. “Harus sekarang ya?” “Benar sekali.” “Setiap tahun aku selalu menghadiri acara debutantes tapi aku tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi seorang debutantes.” Nivera dan Freyja terpaksa menahan tawa mereka karena keluhan yang terlontar dari bibir Eurene. Itu sangat lucu, karena acara itu memang diperuntukkan untuk para puteri bangsawan yang hendak melakukan debutnya pada kehidupan sosial. Sementara Eurene telah dinobatkan sebagai seorang satu sejak umurnya sembilan tahun, dia sama sekali tidak membutuhkan acara debut seperti itu karena dia yang memimpin acara-acara tersebut. “Karena aku tidak pernah menjadi debutantes, tidak ada satupun pria yang melamar.” Kini tiga orang di sisi Eurene tercengang mendengar pernyataannya. Ini pertama kalinya mereka mendengar Eurene menyinggung persoalan tentang pelamar. Selama ini dia begitu tenang dan tidak pernah membahas masalah pernikahan, bahkan ketika para Dewan dan Menteri membicarakan masalah tersebut, Eurene mengalihkan topik pembicaraannya. “Jadi anda sudah ingin menikah, Your Majesty?” Freyja terlihat senang sekali. “Freyja.” Nivera mengingatkan Freyja. “Bukan begitu.” bahu Eurene merosot, tak ada semangat lagi. “Ah, sudahlah. Aku tidak ingin merusak gaunku yang indah ini dengan berwajah muram. Mari kita temui para debutantes dan lihat siapa yang kecantikannya bisa melebihi diriku?” Melangkah keluar dari kamarnya, Eurene dikawal oleh Sir Dexter dan ditemani oleh dua dayangnya, Freyja dan Nivera. Keceriaan yang dia tampilkan saat berada di dalam kamar mendadak musnah seiring dirinya keluar dari kamarnya, yang terlihat hanya keanggunan, ketegasan, dan kharisma seorang ratu. Hingga siapapun yang bersimpangan jalan dengannya memberikan hormat pada Eurene. Ballroom istana telah dipenuhi oleh keluarga bangsawan, Eurene tak bisa memperhatikan satu per satu dari mereka, terlebih lagi tidak ada satu pun dari keluarga bangsawan itu yang menarik perhatiannya. Selain itu, Eurene telah menghadiri acara para debutantes ini ratusan kali selama hidupnya. Ingin merasa bosan pun Eurene tak bisa, ini telah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang ratu. “Bibi Nivera … apakah masih banyak daftarnya?” Eurene berbisik sembari berusaha menjaga keanggunannya sebagai seorang Ratu. Memaksa bibirnya untuk tertap tersenyum, banyak sekali gadis muda yang telah ditampilkan oleh para mama di hadapan semua orang. Tidak satu pun dari mereka yang berhasil membuat Eurene terpukau dengan penampilannya. “Ada dua list terakhir, puteri Count Windrehm dan puteri Marquis Romanox.” “Baiklah,” ujar Eurene pelan. Setelah menunggu beberapa saat gadis muda yang telah disebutkan oleh Nivera pun memasuki ruangan. Gadis yang pertama terlihat cantik, gaun putihnya indah dan membungkus tubuhnya dengan baik, dia diperkenalkan sebagai puteri Count Windrehm. Mata biru terangnya berbinar cerah, bagian pipinya kemerahan tampak seperti baru saja dicium oleh matahari. Menarik, pikir Eurene. Tapi tidak cukup cantik untuk menjadi bintang utama pada musim pertama pada tahun ini. “Gaunmu cantik,” ucap Ratu Eurene dengan nada yang dia usahakan terdengar seramah mungkin dengan senyuman canggungnya. Walau bukan pujian yang diinginkan dari sang ratu, tapi gadis itu menekuk lututnya untuk berterimakasih. “Your Majesty, tidakkah anda terlalu pemilih tahun ini?” tanya Freyja berbisik lirih. “Ini masih musim pertama, Freyja. Aku harus memilih permata yang sangat berkualitas.” Freyja ber-oh sambil menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. Acara tersebut masih berlangsung, setelah puteri Count Windrehm beranjak pergi. Seseorang lagi masuk ke dalam ruangan. Begitu langkah pertamanya memasuki ballroom, semua mata tertuju padanya, mereka telah mengira jika gadis terakhir ini akan menjadi bintang dalam musim pertama tahun ini. Selain itu, penampilan gadis ini tak bisa dibilang biasa. Alih-alih menggunakan gaun putih biasa, dia menggunakan gaun yang senada dengan milik Eurene hanya dibedakan oleh desainnya. Gadis ini, begitu memukau dengan kecantikannya yang tidak biasa, kulitnya kecokelatan tapi bukan karena terbakar matahari. Mata cokelat hangatnya bersinar bagai permata yang langka. “Siapa namanya?” Eurene bertanya pada Nivera. Nivera agak terkejut, sejak awal acara dimulai Eurene belum menanyakan satu pun nama gadis yang tampil di depannya. Sepertinya, puteri dari Marquis Romanox benar-benar menarik perhatian Eurene. “Nama gadis itu Fladeia, Your Majesty.” Pandanga mata Eurene hanya tertuju pada gadis bernama Fladeia itu, memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh gadis itu, seolah-olah gadis itu adalah sebuah harta berharga dan Eurene takut kehilangannya. “Indah …,” ucap Eurene saat gadis itu baru saja memberikan hormat padanya. “Kau seperti sebuah permata yang berkilau dengan indah.” Semua orang berdecak kagum, akhirnya mereka menemukan bintang utama dalam musim pertama ini. Fladeia pun tersenyum penuh terimakasih pada Eurene. Kali ini senyuman Eurene untuk Fladeia terlihat begitu tulus. Fladeia pantas mendapatkannya, begitulah pikir Eurene sebelum akhirnya Eurene melarikan diri dari acara tersebut. “Pilihan yang bagus sekali, Your Majesty.” Freyja begitu girang akhirnya setelah puluhan debutantes yang tampil hari ini ada satu yang menarik perhatian Eurene. “Tentu saja, gadis yang tampil berbeda, pantas mendapatkan hadiah kecil bukan?” * Di balik meja yang begitu penuh dengan dokumen dan berkas-berkas penting itu seseorang duduk sembari menulis dengan sangat serius. Sering kali keningnya berkerut begitu dalam, begitu hanyut pada pekerjaannya. Setelah beberapa saat pemuda itu melihat pada dinding yang melekat di atas dinding tepat di seberang meja kerjanya. Melihat jam tersebut mendadak dia bergegas menutup semua dokumen yang baru saja dia kerjakan, buru-buru mengambil mantel kashmirnya dan berjalan cepat keluar dari ruangannya. “Magnus!” Seseorang tiba-tiba saja menghadang jalannya pemuda itu. Terpaksa Magnus berhenti, menahan kesal pada pria yang menghentikannya tapi dia tidak bisa marah begitu saja padanya. “Tidak sekarang, Cathan.” Magnus tahu, Cathan akan selalu mengusiknya dengan berita atau kabar yang bisa membuatnya bertahan di ruang kerjanya sampai pagi untuk menyelesaikan penyelidikan awalnya. Mereka bekerja pada biro penyelidik yang disebut Golden Eye. Sebuah biro penyelidik yang bertugas untuk menginvestigasi dugaan korupsi atau tindak kejahatan pejabat-pejabat pemerintahan di Valareast. Magnus merupakan kepala biro Golden Eye, di usianya yang baru menginjak 29 tahun ini prestasinya cukup mengesankan. Setelah menjabat sebagai kepala biro, dia telah mengungkapkan lima belas kasus pejabat korup di seluruh penjuru Valareast. “Tidak … aku tidak akan mengganggumu di waktu-waktu yang genting seperti ini.” Cathan sengaja menghentikan langkah Magnus hanya untuk menggodanya. Mereka telah berteman sejak mereka mendaftar untuk menjadi pegawai biro tujuh tahun yang lalu. Sejak masuk ke biro ini, Cathan memperhatikan jika Magnus selalu pergi dari kantor biro tepat pada pukul enam sore pada hari-hari tertentu. Belakangan dia tahu, itu karena Magnus menemui teman wanitanya. “Lalu … kenapa kau masih berdiri di sini?” tanya Magnus tak sabar ingin segera berlari keluar dari tempat ini. “Magnus ... kapan kau akan menikahi gadis ini?” Cathan bertanya tanpa berpikir panjang. Namun, pertanyaan tersebut sudah mengganjal di hatinya begitu lama. Mengapa berhubungan begitu lama dengan seorang wanita jika tak ingin menikahinya? Jika wanita itu berasal dari keluarga bangsawan, seharusnya dia sudah debut dan akan ada pria yang melamarnya. “Kudengar Ratu Eurene telah mengadakan acara debutantes untuk musim pertama, apakah dia tidak mengikutinya?” tanya Cathan lagi. “Itu bukan urusanmu, Cath.” “Baiklah … apa boleh buat?” Cathan merasa cukup menggoda Magnus hari ini. Segera setelah Magnus menatapnya dengan tajam, dia menyingkir dari jalan Magnus. Membiarkan pemuda itu berlari keluar kantor denga terburu-buru. Setelah beberapa lama berlari hingga dia berakhir di tempatnya dibesarkan dulu, sebuah panti asuhan di sebuah gereja yang terletak di ujung kota ini. Langkah kaki pria itu melambat, dia mengatur nafasnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan merapikan pakaiannya. Magnus menuju pada sebuah pintu, sekali lagi dia mengatur nafasnya. “Kau sudah pulang!” seru sebuah suara yang begitu nyaring di telinga. Eurene tersenyum ceria menyambut kedatangan Magnus. Dia berjalan ke arah Magnus, menatap pria itu dengan seksama. Ke dua orang itu, Eurene dan Magnus telah bersahabat lama. Suatu hari, Eurene bersama Nivera menyelamatkan seorang anak lelaki yang ketakutan di sebuah gua dalam hutan. Nivera menyarankan Eurene untuk membawa anak lelaki itu ke tempat sahabatnya yang mengurus sebuah panti asuhan. Sejak saat itu, hampir setiap hari Eurene mengunjungi Magnus dan akhirnya mereka tumbuh bersama sebagai seorang sahabat. “Kemarilah.” Eurene menyelipkan tangannya pada lengan Magnus, menariknya masuk ke dalam dan membiarkan Magnus duduk pada sebuah kursi yang di depannya terdapat meja dengan banyak makanan. Tatapan Magnus terlihat bingung, dia menatap makanan di meja dan menatap Eurene secara bergantian. Tidak biasanya, gadis ini begitu semangat menyiapkan banyak makanan untuknya. “Ada … apa?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar pada bibir Magnus. “Kenapa kau menyiapkan banyak makanan, Kendra?” “Tentu saja untuk merayakan!” Eurene benar-benar terlihat antusias sekali. Akan tetapi, Magnus masih tidak mengerti perayaan apa yang harus dirayakan. “Jangan katakan kau lupa.” “Apa ini hari ulang tahunmu?” tanyanya pada Eurene. “Tapi ini bulan Februari, kau berulang tahun pada bulan November.” Eurene menepuk keningnya, tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. “Bukan tentu saja!” tukasnya. Menggunakan telunjuknya, Eurene menunjuk di d**a Magnus berkali-kali. “Ini hari ulang tahunmu! Daaaaan … untuk merayakan keberhasilanmu telah mengungkapkan korupsi menteri urusan luar negeri.” “Aku baru ingat jika hari ini ulang tahunku,” gumam Magnus, tak terlihat raut bahagia sama sekali di wajahnya. “Dan bagaimana kau tahu jika aku berhasil mengungkapkan korupsi menteri urusan luar negeri?” Eurene mengerutkan keningnya, dia telah terbiasa jika Magnus selalu lupa dengan ulang tahunnya. Bahkan terkesan tidak menyukai hari bahagianya itu, setiap tahun saat Eurene ingin merayakannya Magnus selalu mencegahnya. Itu sebabnya dia merencanakannya diam-diam supaya Magnus tak bisa mencegahnya. Namun, merayakan keberhasilannya dalam mengungkapkan pejabat yang korup bukankah itu sesuatu yang membanggakan dan pantas dirayakan? Tapi kenapa tampaknya, tidak ada perubahan emosi dari raut wajah Magnus. Di sisi lain, Magnus mengepalkan tangannya dengan erat sambil memandangi wajah Eurene. Merasa bersalah karena Eurene terlihat kecewa. Sejujurnya, dia pun senang karena Eurene telah bersusah payah menyiapkan segala hal untuknya, selalu perhatian padanya, dan peduli padanya walau itu adalah hal terkecil sekalipun. Saat ini, Magnus menahan diri untuk berdiri dan tidak memeluk gadis itu. “Beritanya sudah tersebar luas di kota, Magnus! Bukankah kau ini kepala biro, apakah berita-berita semacam ini tidak terdengar olehmu?” Kekecewaan itu disingkirkan oleh Eurene. Dia tidak ingin merusak suasana yang sudah susah payah disiapkan olehnya ini. “Aku hanya mendengar tentang acara debutantes untuk musim pertama ini sudah digelar.” “Oh … aku baru tahu kau peduli pada hal-hal semacam itu,” balas Eurene lagi. “Apakah kau sudah berniat untuk menikah.” Eurene duduk di samping Magnus, menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik. “Kau tidak mengikutinya dan melakukan debutmu?” Pertanyaan tersebut cukup memengaruhi Eurene, dia terdiam seketika dan memikirkan jawaban yang paling masuk akal dan bisa diterima oleh Magnus. “Menurutmu jika aku melakukan debut, apakah aku aka menjadi bintangnya?” Eurene menemukan cara yang lebih baik daripada harus memberikan sebuah alasan. Magnus sama sekali tidak tahu tentang identitas dirinya yang sebenarnya. Di sisi lain, Magnus memandangi Eurene dengan seksama. Jika Eurene melakukan debut pertamanya, Magnus sangat yakin jika gadis ini akan menjadi bintang dan akan banyak pria bangsawan dari berbagai ranking akan melamarnya. Lihat saja betapa mata birunya terang menggambarkan kebaikan dan keceriaan, senyumannya begitu lembut dan manis, rambut pirang madunya yang bergelombang indah membingkai wajahnya yang menawan. Jelas sekali, Eurene akan menjadi sorotan dalam acara debutantes karena dia begitu menawan. “Tidak. Kau jelek sekali.” To be continued ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD