Prolog II

1125 Words
MATA Biru pucat itu terbelalak lebar di balik celah pintu, tubuhnya membeku dengan nafas yang terengah-engah penuh teror. Ketakutan menyerang seluruh urat syaraf di tubuhnya, bukan lari, dia hanya bisa mematung bagai pahatan tak bernyawa. Dia merekam semuanya dalam kotak kecil di sudut otaknya yang terasing, cairan merah yang tercecer memenuhi ruang makan, tubuh-tubuh yang tergolek sedang meregang nyawa, beberapa kejang-kejang tak merelakan jiwanya pergi. Sampai … sebuah tangan menyambar tubuhnya, tangan yang lain membekap mulut kemerahannya. Kini tubuhnya yang tadi beku berusaha memberontak, percuma, orang itu lebih kuat darinya. Bayangan kematian mulai menggelayut dalam benak bocah lelaki berambut ikal itu, air matanya berkumpul di permukaan matanya, dia meronta, tapi ketakutan telah melemahkan dirinya. Tubuhnya didorong kuat-kuat oleh orang itu hingga tersungkur ke tanah, bocah itu mendongak untuk melihat siapa gerangan yang membekap mulutnya hingga sebuah desisan tak bisa lolos dari mulutnya. Seorang wanita paruh baya dengan beberapa helai rambut yang mulai memutih. Tatapan matanya menyiratkan banyak emosi yang tak bisa dimaknai oleh bocah lelaki itu. “Larilah, Tuan Muda!” Lidah bocah itu kelu, dia ingin berteriak mengatakan ketidak setujuannya tapi bibirnya yang terbuka malah seperti ikan yang membutuhkan air. Tubuhnya bahkan lebih parah, otaknya telah memerintahkan untuk berdiri kemudian berlari menuruti instingnya, tapi tubuhnya seolah-olah dipaku di atas tanah berlumpur yang membuat pakaiannya bersimbah lumpur. “Lari, Reagan! LARI!” Reagan tersentak, mata pucatnya kembali terbelalak dan membuat tangannya membantu dia untuk beringsut mundur tapi masih enggan berdiri. Dia masih memandangi wanita itu, tak ingin meninggalkan tempat berlindungnya selama ini. “Temukan anak itu! jangan biarkan satu pun dari mereka hidup!” Mendengar sayup-sayup suara para penjahat itu, si wanita menoleh ke belakang dengan gelisah. Keringatnya bercucuran, berpikir bagaimana caranya agar bocah itu segera lari dari tempat ini. “REAGAN! LARIII!” “Mereka di sana!” Wanita itu menatap sekali lagi pada Reagan yang tampaknya telah berubah menjadi patung, memohon pada anak itu agar segera mengangkat tubuhnya dan berlari sekencang mungkin. Mendengar langkah para penjahat itu semakin dekat, dia menutup pintu itu dan menguncinya dengan gembok lalu menelan kunci gemboknya. Reagan mulai tersadar, dia bangkit dengan sisa kekuatannya yang telah ditelan oleh rasa takut yang luar biasa. Dia tidak tahu apa yang baru saja dia lihat, tapi seperti yang dikatakan oleh wanita itu dia harus lari, ke mana saja asal jauh dari tempat tinggalnya yang saat ini telah dikuasai oleh orang-orang jahat. Nafas bocah itu terengah-engah, dia terus berlari menyusuri hutan, tak menyadari kakinya sudah terluka dan pakaiannya telah compang-camping. Dia berlari tanpa menoleh ke belakang, takut jika sekali saja dia menoleh mungkin penjahat itu tepat ada di belakangnya. Tak kuasa lagi menahan rasa lelah, kecepatan berlarinya pun berkurang, pandangan matanya mulai mengabur, tubuhnya terasa lebih ringan dan tanpa sadar dia terjatuh dan terperosok ke dalam sebuah lubang gelap yang menelan tubuh dan kesadarannya. * “Hei … hei.” “ARGH!” Reagan berteriak, tubuhnya terduduk dan beringsut mundur seketika saat sebuah sentuhan membangunkannya dari tidur panjang. Reagan menatap ketakutan pada gadis kecil berambut pirang madu yang dikepang dengan rumit itu dn tubuhnya gemetar sangat hebat, si gadis pun merasa heran apakah penampilannya sangat buruk sampai anak di depannya ini sangat takut padanya. “Hei, apa kau baik-baik saja?” Si Gadis berusaha mendekat, dia tahu anak di depannya ini tidak baik-baik saja. Pakaiannya lusuh dan sobek di beberapa tempat, rambutnya yang ikal sudah mirip sarang nyamuk, wajahnya sangat kotor, tangan dan kakinya penuh luka … luka yang juga terlihat di matanya. “Nona … astaga kau di-“ Seorang wanita tiba-tiba datang dan ucapannya terputus ketika dia melihat sosok lain di depan nonanya dalam keadaan yang bisa dikatakan … teramat buruk. “Bibi, sepertinya dia terluka,” kata gadis kecil itu dengan polosnya. “Dia juga ketakutan.” Wanita itu mendekat pada dua anak yang saling duduk berhadapan dengan emosi yang bertolak belakang itu, si gadis begitu iba tapi anak lelaki itu terlihat sangat ketakutan. “Siapa namamu, Nak?” Reagan menatap wanita itu dengan sorot mata penuh rasa takut, dia menyembunyikan wajahnya di balik lutut yang dia tekuk. Bayangan para orang jahat itu menyakiti orang-orang di kediamannya terulang dalam benaknya, membuat tubuhnya semakin gemetar. “Aku tidak akan menyakitimu, begitu juga dengan nonaku. Jadi jangan takut, Nak.” Wanita itu berusaha untuk membujuk Reagan. Dia mendekat pada tubuh penuh luka itu, menyentuh tangannya yang gemetar. Hatinya merasa pilu, bagaimana bisa ada anak yang sangat ketakutan seperti ini. Siapa yang tega melakukannya? “Jangan takut, kami tidak akan menyakitimu,” katanya lagi. Tangan itu pun mulai tenang, ketakutan dalam hati Reagan mulai pergi. Terlebih lagi melihat binar cerah pada mata gadis itu. Pancaran matanya seolah mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu seperti badai. “Baiklah, sekarang katakan siapa namamu dan dari mana kau berasal?” “Temukan anak itu! jangan biarkan satu pun dari mereka hidup!” suara penjahat itu menggema lagi di telinga Reagan. Seketika dia menarik tangannya, membangun kembali tembok pertahanannya. Bagaimana jika dia memberitahukan nama dan asalnya membuatnya dalam bahaya, dan penjahat-penjahat itu akan menemukannya? “Baiklah, jika kau tidak ingin memberi tahu.” “Apa kau sudah makan?” Si Gadis itu bertanya dengan suaranya yang cempreng. “Kau pasti lapar.” Mendadak dia duduk di hadapan Reagan, merogoh tas rajutnya dan mengeluarkan apel dari sana dan mengulurkannya pada Reagan. “Saat aku melewati hari yang sangat buruk, aku akan makan banyak. Kau tahu, bersedih itu juga membutuhkan tenaga. Jadi kau harus makan supaya bisa bersedih sesuka hatimu,” celotehnya panjang. Dia meraih tangan Reagan, merasakan getar ketakutan tapi dia tidak peduli dan meletakkan apel itu di telapak tangan Reagan yang kotor dan terluka. Reagan tertegun menatap gadis itu sejenak, tatapannya lalu beralih pada apel yang telah berpindah di telapak tangannya. Sepertinya apa yang dikatakan oleh gadis itu benar, jika tubuhnya lemas karena tidak makan dia mungkin akan segera mati dan tidak bisa berduka untuk membuatkan pemakaman yang layak untuk keluarganya yang telah direnggut. Dia segera menggigit apel itu dengan rakus, tak ingin menyisakan rongga kosong dalam perutnya. “Makan pelan-pelan, tidak ada yang akan mencurinya darimu,” ucap wanita itu. “Betul, aku masih punya lagi jika kau mau.” Gadis itu menyahut sembari mengeluarkan beberapa apel lagi dari kantong tasnya dan memberikan apel-apel itu pada Reagan. Tanpa sadar air mata Reagan menetes ketika dia mengunyah dengan rakusnya, menyadari bahwa kini dirinya hanya sendirian di dunia ini. Keluarganya sudah dihabisi dan dia adalah pelarian. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana satu persatu keluarganya dibantai habis, dia tidak akan melupakan malam kelam itu seumur hidupnya. Mengingat kembali malam itu, perut Reagan seperti diremas, apel yang masuk melalui tenggorokannya memaksa untuk kembali. Tapi dia menelannya lagi karena ucapan gadis dengan sorot mata yang berbinar itu menggema dalam benaknya, memberikan kembali kekuatan jiwanya yang sempat surut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD