Chapter 11: Flip The Card

2021 Words
Song Of Betrayal Chapter 11: Flip The Card   Mata Eurene menatap nanar dokumen kerajaan yang ada di hadapannya, tangannya yang memegang pena terdiam di atas wadah tinta membiarkan setiap tetesnya kembali dalam wadahnya. Setelah beberapa hari masa pemulihan pura-puranya Eurene kembali menghadiri rapat istana, hal pertama yang dibahas oleh seluruh dewan adalah mengenai pemilihan suitor untuk menjadi suaminya. Eurene tidak memiliki apapun lagi yang bisa dia katakan untuk menunda perihal pernikahan tersebut. Dan pada dasarnya, Eurene memang tak bisa menolak apapun yang diucapkan oleh Theodore. Selama dirinya memimpin, Eurene selalu mengikuti apapun kata Theodore.   “Your Majesty.” Sir Dexter sejak awal telah berada di samping Eurene berusaha untuk menarik gadis itu kembali dari lamunannya.   “Ah, ya … apa kau mengatakan sesuatu, Sir Dexter?” tanya Eurene yang terkesiap.   “Apakah ada sesuatu yang memberatkan pikiran anda, Your Majesty?”   Seketika itu juga Eurene menatap Sir Dexter dengan seksama, sungguh hebat pria yang selalu ada di sampingnya dua belas tahun terakhir ini. Selalu saja tahu jika ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Eurene menghela nafasnya sambil meregangkan tangannya, membebaskan diri dari tubuhnya yang terasa sangat kaku.   “Apa kau mau menemaniku berkuda?” tanya Eurene tiba-tiba.   Sir Dexter tersenyum melihat mata yang memiliki binar cerah itu, bagaimana dia bisa menolaknya jika Eurene memintanya dengan tatapan mata itu. Tentu saja, Sir Dexter langsung saja mengangguk mengiyakan permintaan Eurene.   “Saya akan mempersiapkan Naaga. Anda bersiaplah, Your Majesty.”   “Asiik!” Eurene langsung melompat dari meja kerjanya, berlari keluar dari ruangan kerjanya langsung menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian berkuda.      “Mengapa hari ini anda ingin pergi berkuda?” tanya Nivera sembari membantu Eurene mengenakan pakaian berkudanya yang berwarna putih. Berkuda bukan salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh Eurene, biasanya ada sesuatu yang membutuhkan pertimbangan matang jika Eurene ingin melakukan berkeliling dengan kudanya. Di sisi lain Freyja mempersiapkan topi dan sarung tangan milik Eurene.   “Bibi … jangan berpikir berlebihan, aku hanya ingin menghirup udara segar karena sudah berpura-pura dan terkurung di kamar ini rasanya pengap sekali.” Eurene bukan seseorang yang pandai berbohong, apalagi di hadapan wanita yang telah mengasuh dan membesarkannya selama dua puluh tahun itu. Meski begitu Nivera tidak ingin memaksa Eurene untuk menjelaskan apa yang menjadi beban pikirannya.   “Saya akan menyiapkan minuman kesukaan anda setelah anda pulang nanti, Your Majesty.” Freyja tampak begitu antusias.   “Mintalah pada pelayan dapur untuk dibuatkan yang banyak dan kirimkan kepada para prajurit yang sedang berlatih dan para pelayan istana.” Freyja pun mengangguk, bukan pertama kalinya Eurene memperhatikan seluruh bawahannya. Ada saja yang dia lakukan untuk menyenangkan hati semua orang, pernah sekali waktu Eurene membagikan kepingan perak dari tabungan pribadinya. Saat dirinya sedang berulang tahun alih-alih hanya melakukan perjamuan istana dengan para pejabat tinggi, Eurene juga mengundang seluruh orang yang bekerja di istana untuk makan bersama. Dia juga membeli banyak kambing untuk diberikan kepada prajurit agar mereka bisa berpesta di kamp pelatihan. Tidak hanya kepada orang yang setia melayaninya, Eurene juga memperhatikan setiap keluarga dari mereka. Tidak satupun luput dari perhatiannya. Itu sebabnya meski Eurene jarang sekali menampakkan senyumannya di depan semua orang di luar ruang tidurnya, semua orang sangat menyayanginya.   “Aku akan segera kembali!” seru Eurene sambil keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya.   Naaga adalah seekor kuda besar berwarna hitam legam, Eurene mendapatkan kuda itu hadiah dari Sir Dexter ketika pria itu pertama kali datang ke istana dan memberikan sumpahnya kepada Eurene. Kata Sir Dexter, kuda yang dia dapatkan itu adalah kuda kuat yang hebat dari kerajaan tetangga. Pertama kali melihatnya, Eurene langsung jatuh cinta bahkan tanpa ragu dia menamakannya sebagai Naaga karena tatapan kuda itu sangat tajam tapi juga menenangkan sekaligus layaknya tatapan seekor naga yang pernah Eurene bayangkan ketika mendiang sang ibu menceritakan sebuah dongeng.   “Anda sudah siap, Your Majesty?” tanya  Sir Dexter.   Eurene mengangguk, dia menghampiri Naaga yang telah dipersiapkan oleh Sir Dexter. Tangannya terulur menyentuh wajah Naaga, menyapa kuda itu dengan hangat. “Apa kabar, pria besar!” ucapnya sambil menepuk pelan wajah Naaga. “Kita akan bersenang-senang hari ini.”   Sir Dexter tersenyum hangat di sampingnya ketika melihat interaksi Eurene dengan kudanya. Tak lama kemudian, Eurene pun hendak naik ke atas kuda besar miliknya, Sir Dexter segera membantunya untuk menaiki tubuh Naaga.   “Aku tidak ingin berkuda di lapangan istana … aku ingin pergi ke tebing.” Dan Sir Dexter pun mengangguk, apapun yang dikatakan oleh Eurene tidak akan pernah ditolak olehnya.   Ke-duanya kemudian segera memacu kudanya melewati jalan istana menuju ke gerbang belakang istana, beberapa pelayan dan pengawal pun melihat hal tersebut. Mereka tersenyum melihat ke arah Eurene dan juga Sir Dexter, ke-duanya tampak seperti saudara yang sedang bermain-main. Kepergian Eurene pun tidak luput dari mata para pejabat istana yang masih bertugas di istana.   “Setelah sakit beberapa hari pasti membuatnya hampir mati bosan di ruangannya,” lirih salah seorang pejabat istana yang melihat kepergian Eurene dan sir Dexter keluar dari gerbang belakang istana. *   Angin menerpa wajah Eurene seiring dengan kencangnya laju lari Naaga di padang yang sangat luas, Eurene sangat menyukai angin yang menerpa wajahnya, angin segar itu seolah mampu membawa kesegaran bagi pikirannya. Di sampingnya sir Dexter pun memacu kudanya dengan sangat kencang. Sesekali memperhatikan Eurene di sampingnya. Cukup lama ke-duanya memacu kuda mereka dari istana hingga saat ini mereka telah berada di sebuah padang yang sangat luas.   “Sir Dexter … apakah hanya itu kemampuanmu?” ejek Eurene sambil terus memacu kudanya. Ada seringai jahil di wajahnya kemudian dia memacu Naaga lebih kencang, tak ingin dikalahkan oleh sir Dexter.   Sir Dexter terkekeh melihat tingkah kekanakan Eurene, namun dia paling suka sisi Eurene yang seperti itu. Sangat alami, sangat apa adanya. Selama ini, Eurene selalu memasang wajah besinya, hingga banyak yang berpikir jika pemimpin Valareast itu tak bisa tersenyum, padahal di balik itu ada gadis berusia dua puluh tahun yang sangat ceria. Hanya saja, Eurene tak pernah mau menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya, selalu memasang topeng dihadapan orang lain.   Lama mereka berkuda akhirnya sampai juga di atas sebuah tebing, Eurene masih duduk di atas punggung Naaga sembari memperhatikan lautan biru yang terhampar sangat luas di hadapannya. Pandangannya menerawang jauh seakan lautan di hadapannya menunjukkan semua jawaban dari kemelut di dalam pikirannya. Tidak lama kemudian, sir Dexter pun sampai dan berhenti tepat di sampingnya.   “Oliviere ….” Seketika itu sir Dexter menoleh ke arah Eurene, mendengar nama yang disebutkan itu tidak biasa terdengar olehnya. Eurene hanya memanggil nama aslinya saat dirinya masih kecil, itupun Nivera harus selalu mengingatkan Eurene untuk memanggilnya dengan sebutan sir Dexter.   “Bukankah sudah lama sekali aku tidak memanggil namamu?” tanya Eurene sambil menoleh ke arah sir Dexter. Tatapan matanya sangat sendu, entah apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Eurene saat ini, yang jelas pikirannya sedang sangat kacau dan sir Dexter tahu penyebabnya.   “Your Majesty  ….”   Eurene memalingkan wajahnya kembali ke arah lautan. “Jika kita mengarungi lautan, apakah kita bisa sangat jauh dari istana?”   “Your Majesty … mengapa anda menanyakan hal itu?”   Sebuah senyuman samar tersemat di wajah menawan Eurene. “Aku sangat lelah.” Suaranya begitu lirih, meski begitu angin yang berhembus pelan berhasil membawanya menyentuh gendang telinga sir Dexter.   “Kita bisa pergi ke manapun yang anda inginkan, saat musim panas kelak anda bisa melakukan perjalanan untuk beristirahat di rumah musim panas milik kerajaan.”   “Ya … suatu hari ini,” balas Eurene. “Tapi sepertinya akan lebih nyaman jika memiliki rumah musim panas di pinggir laut, bagaimana menurutmu, Oliviere?”   Jantung sir Dexter berpacu semakin kencang tiap kali Eurene menyebut namanya dengan suara yang begitu merdu. “Tentu saja … anda bisa mendengar deburan ombak yang menenangkan, hamparan laut sebagai pemandangan pertama anda saat membuka mata di pagi hari akan membuat hari-hari anda menjadi lebih baik.”   Eurene terdiam untuk sesaat, ya … kenyamanan seperti yang dijelaskan oleh sir Dexter itu terasa begitu mewah untuknya. Selama ini setiap kali terbangun, Eurene harus berlatih menjaga emosinya, mengenakan kembali topeng untuk menjadi seorang ratu yang bijak meski usianya sangat belia, tidak pernah sekalipun Eurene mengatakan keinginan hatinya, ketika anak-anak bangsawan lain bermain dengan boneka mereka, Eurene harus duduk tenang membaca semua dokumen kerajaan. Kali ini … ya kali ini … Eurene menghela nafasnya tapi terlihat sedang menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya dengan lembut, hembusan angin yang membawa aroma laut yang asin tapi juga begitu candu. “Oliviere … tampaknya aku akan membalik kartu.”   Sir Dexter mengencangkan pegangannya di tali kekang, ucapan Eurene berarti sangat besar sebagai seorang yang menduduki tahta Valareast.   “Aku tidak ingin lagi hidup dibawah bayang-bayang Marquis Tua.”   Sir Dexter menatap sosok Eurene lekat-lekat, meski tatapannya tampak sendu menikmati hamparan lautan dapat dirasakan oleh sir Dexter jika Eurene saat ini sedang bertekad sangat kuat.   “Aku ingin melindungi orang-orang yang aku sayangi, meski hanya sekali saja.” Eurene memalingkan wajahnya, tersenyum ke arah sir Dexter. “Apapun yang kau lakukan setelah mendengar hal ini … aku akan berusaha memakluminya.” Kini jantung sir Dexter seolah berhenti berdetak hingga rasanya sangat menyakitkan.   Siapapun mengetahui jika sir Dexter sebenarnya adalah prajurit asuhan Theodore, hanya pria itu yang bisa memanggil seorang Jenderal muda hanya untuk menjadi pengawal pribadi seorang anak kecil yang baru saja naik tahta. Di awal-awal kehidupannya menjadi pengawal pribadi Eurene, sir Dexter selalu saja melaporkan apapun yang dilakukan oleh Eurene kepada Theodore. Namun, lambat laun, keceriaan yang ditampilkan oleh Eurene hanya ketika berada di ruangannya membuat hati sir Dexter tergugah, pria itu tidak ingin kehilangan tawa riang Eurene dan memilih untuk memberikan laporan palsu kepada Theodore. Bahkan sir Dexter menjadi sosok yang jauh lebih protektif pada Eurene, pria itu juga menjaga rahasia kecil Eurene tentang Magnus.   “Pedangku … adalah milik anda, Your Majesty. Telah lama saya meninggalkan Marquis Tua.”   “Hahaha.” Mendadak tawa Eurene pecah begitu saja, bersaut-sautan dengan suara hembusan angin. “Kau harus lihat ekspresi wajahmu, sir Dexter! Mengapa kau serius sekali!”   “Your Majesty.”   “Aku tahu apa yang kau lakukan untukku selama ini. Aku sudah mengetahuinya sejak lama.”   Wajah sir Dexter semakin merah saat Eurene menggodanya seperti itu. “Ba-bagaimana anda mengetahuinya … ehm.” Sir Dexter berdeham membersihkan tenggorokannya.   “Marquis Tua tidak mengetahui tentang Magnus, meski begitu aku juga tahu kau berusaha melindungi Marquis Tua.”   Sir Dexter tak bisa membalas apapun, memang benar apa yang dikatakan oleh Eurene.   “Kau ingat simbol itu … sejak beberapa tahun lalu ketika aku menyelidiki tentang pembunuhan keluarga Sylvestre, kau memberikanku sebuah petunjuk … apa kau mengingatnya?” tanya Eurene.   Sir Dexter tidak akan pernah melupakannya, saat itu dirinya melakukan penyelidikan secara diam-diam untuk menemukan petunjuk tentang pembunuhan besar-besaran yang dilakukan kepada keluarga Duke Sylvestre, sebuah keluarga yang sangat berpotensi untuk menjadi penerus kerajaan jika keluarga kerajaan tidak ada yang tersisa. Setelah Eurene naik tahta kabar buruk itu tersebar ke seluruh negeri, banyak yang menuding jika pihak Ratu Eurene yang mendalangi pembunuhan tersebut. Namun, bahkan penyelidik kerajaan pun tidak bisa mendapatkan sebuah petunjuk. Tapi Sir Dexter dapat menemukan petunjuk dan menemukan sebuah kain yang ditandai dengan darah, tanda itu menunjukkan sebuah simbol yang sama persis dengan yang ditemukan di Halfthorn, dan simbol yang sama dengan simbol yang ada di lengan kanan sir Dexter.   “Kau sudah melindunginya selama ini.”   “Your Majesty …  saya tidak bermaksud untuk menutupi kebenaran. Akan tetapi pembunuhan di kediaman Duke Sylvestre adalah sebuah jebakan untuk Marquis dan anda.”   Mata Eurene kini melebar, menatap tak percaya pada sir Dexter. Mengapa selama ini sir Dexter menutupinya?   “Saya ingin mengumpulkan bukti, saat ini saya masih mencarinya. Akan tetapi saya sangat yakin jika pembunuhan itu … tidak dilakukan oleh Marquis Tua.”   Eurene menghela nafasnya. “Kau telah bekerja dengans sangat keras, berada di antara aku dan Marquis pasti sangat tidak nyaman, ‘kan?”   “Maafkan saya, Your Majesty.”   “Tidak … kau tidak perlu melakukannya. Hanya saja saat ini aku ingin menjadi sosok yang serakah, aku ingin kau Oliviere Dexter untuk setia kepadaku ….” Eurene menatap sir Dexter penuh dengan harapan. “Tapi … apakah itu mungkin?”   . . . . To be continued                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD