Song Of Betrayal
Chapter 12: Distracted
“Apa kau sudah dengar?”
Cathan terlalu antusias untuk bertanya pada Magnus yang sedang memeriksa beberapa literatur. Mendengar suara Cathan masuk ke dalam ruang kerjanya tidak lantas membuat Magnus mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dia pelajari. Namun, bukan Cathan namanya jika dia tidak berhasil mencuri segala perhatian Magnus, apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan sebuah lirikan, ya, sebuah lirikan dari Magnus sudah cukup baginya karena itu tandanya Magnus sudah tertarik.
“Mag … lihat ini!” Cathan menghampiri meja kerja Magnus, menyodorkan sebuah perkamen yang lebar menutup buku yang sedang dipelajari oleh Magnus. Sekilas Magnus melihat ada cap kerajaan yang dibubuhkan pada sudut perkamen tersebut. Namun, dirinya benar-benar tidak begitu peduli. Apapun yang berkaitan dengan istana tidak ada hubunganya dengan biro yang dia pimpin, karena Biro Golden Eyes berdiri secara independen, didirikan oleh masyarakat yang menuntut kejujuran pemerintah.
“Lihat, Ratu Eurene telah mengumumkan jika dirinya menerima calon suitor. Dijelaskan bahwa pendaftaran ini dibukan untuk semua kalangan bangsawan.” Cathan terdengar sangat antusias mendengar berita yang baru saja dikeluarkan tadi pagi oleh Istana. Sebuah helaan nafas terhembus dari hidung Magnus, pria itu menegakkan kepalanya menatap Cathan yang berada di seberang mejanya. Magnus melipat tangan di depan tubuhnya, menatap Cathan dengan tatapan lelah.
“Apakah ini sangat penting?” tanya Magnus yang sangat muak ketika mendengar nama Ratu Eurene diucapkan. “Apakah pernikahan wanita itu sangat penting untuk kuketahui?!” Dan entah mengapa dia berkata begitu tajam, bahkan tidak merasa menyesal sedikitpun telah mengatakannya. Cathan mengedipkan matanya beberapa kali, tidak menyangka jika Magnus yang biasanya tenang terdengar sangat berlebihan saat melihat pengumuman ini.
“Wanita itu adalah Ratu di kerajaan ini, Mag.”
Magnus mengambil nafasnya dalam-dalam dengan mata yang terpejam, wanita itu memang seorang Ratu bagi seluruh penduduk tapi baginya wanita itu tidak lebih hanyalah seorang pembunuh di matanya. Pembunuh.
“Bawa keluar.”
“Baiklah … baiklah, jika kau tidak tertarik tidak apa … aku hanya memberitahumu berita paling menghebohkan di kerajaan kita.”
“Bawa keluar!” Magnus mengulanginya dengan lebih tegas. Cathan segera mengambil perkamen yang dia tunjukkan pada Magnus.
“Astaga, aku akan membawanya keluar … tidak sabar sekali.” Cathan menggerutu sambil menggulung kembali perkamen tersebut. “Tapi Mag … apa kau tidak penasaran pria seperti apa yang akan menjadi suami Ratu?”
Magnus menaikkan pandangannya dengan gerakan yang penuh aura membunuh. “Tidak.” Sebuah kata singkat terdengar begitu tajam dan mampu menyayat hati. Cathan menyadari jika satu kata saja keluar dari mulutnya maka Magnus pasti akan menggorok lidahnya dan membuatnya tidak bisa bicara lagi.
Setelah Cathan keluar dari ruangannya, Magnus menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Berusaha untuk menenangkan dirinya, setiap kali ada yang menyebut nama Ratu Eurene di depannya, entah mengapa hatinya selalu bergejolak. Dia teringat mengenai apa yang telah ditemukannya saat berada di Halfthorn dan itu membuatnya kembali teringat pada masa lalunya yang sangat tidak baik.
Magnus kemudian membuka laci mejanya, meraih sebuah kotak beludru berwarna hitam yang ada di dalam sana. Ketika membuat kotak tersebut ada sebuah kalung yang dia pesan kepada pengrajin, sebuah kalung dengan liontin bermata saphire, sangat mirip dengan warna mata Eurene. Kalung yang rencananya akan dia berikan sebagai hadiah lamaran pernikahan.
Gejolak di dalam hatinya benar-benar membuat Magnus berdiri di ujung tebing kebimbangan, setelah meyakini jika Ratu Eurene adalah orang yang mendalangi pembunuhan keluarganya, Magnus terpacu ingin segera membalaskan dendamnya. Namun … di sisi lain dirinya juga ingin segera menikah dengan ‘Kendra’-nya, membangun kehidupan layaknya orang pada umumnya, dan hidup bahagia tanpa beban. Hanya saja Magnus tidak yakin, jika dia membalaskan dendamnya apakah dia masih bisa kembali sebagai Magnus.
“Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu di sini.” Magnus teringat kembali akan janji yang telah dia ucapkan pada Eurene ketika berada di Halfthorn. Bagaimana pun dia tidak akan pernah meninggalkan gadis itu, karena gadis itu yang telah memberinya hidup tanpanya Magnus akan tiada.
Kemudian Magnus beranjak dari tempatnya, mengantongi kotak beludru berisi kalung itu dan pergi dari ruang kerjanya. Melewati beberapa anggota biro, Magnus hanya berjalan begitu saja dan menyapa sekedarnya.
Menelusuri jalanan Castleland, Magnus menunggani kudanya menuju ke area pinggir kota yang terletak agak jauh dari pusat kota. Semakin ke pinggir kota ia melihat jika bangunan rumah semakin jarang, jarak satu rumah dengan rumah yang lainnya cukup jauh. Tak lama kemudian, setelah melihat sebuah rumah yang cukup besar tapi terlihat sederhana Magnus melambatkan laju kudanya. Sampai di depan pekarangan rumah itu, Magnus kemudian turun dari kudanya.
“Harusnya aku membeli bunga,” gumamnya lirih setelah menyadari jika dirinya sama sekali tidak membawa buah tangan apapun. “Haruskah aku kembali?” Magnus menimbang keputusannya sebelum melangkah lebih jauh. Pada akhirnya dia tetap melangkah menuju ke arah pintu masuk dan tak jadi kembali untuk membeli bunga atau oleh-oleh lainnya.
Belum sempat Magnus sampai di depan pintu seseorang membuka pintu kayu berwarna kemerahaan itu, muncul seorang pria paruh baya dan seorang wanita yang masih terlihat sangat menawan meski usianya tak lagi muda. Senyum wanita itu sangat menawan ketika melihat sosok Magnus ada di depannya. Pria di sampingnya pun terlihat senang dengan keberadaan Magnus. Mereka adalah Margoth Corbet dan Marcus Corbet. Keluarga baron yang mengadopsi Magnus setahun setelah dia berada di panti asuhan.
“Magnus … Nak, kau datang?” Margoth itu segera berhambur ke arah Magnus, memeluk putra yang telah tumbuh jauh lebih tinggi darinya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan saya karena tidak sering datang berkunjung,” ucap Magnus setelah Margoth melonggarkan pelukannya.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” Marcus juga mendekap putra angkatnya penuh kasih sayang, meski Magnus hanyalah anak yang mereka adopsi. Tapi kasih sayang mereka sangat tulus, terlebih lagi mereka tidak memiliki anak lainnya.
“Baik, Ayah … Bagaimana kabar ayah dan ibu?”
“Kita masuk dulu, ahh harusnya kau mengabari kami jika akan pulang hari ini. Jadi aku bisa memasakkan makanan kesukaanmu.” Margoth menuntun putranya masuk ke dalam rumah mereka dengan menepuk punggungnya.
“Apapun yang ibu masak adalah makanan kesukaan.”
“Aha! Kau dan mulut manismu itu … kau lebih pintar daripada aku dalam hal merayu ibumu.” Marcus menyahut dengan tawa renyah yang mengiringi langkah mereka menuju ruang keluarga rumah sang Baron.
Magnus memperhatikan setiap sudut rumah itu, rumah yang sama sekali tidak berubah, baik cat rumahnya, desain interiornya, bahkan penataannya pun masih sama seperti saat terakhir kali Magnus akhirnya memilih untuk tinggal di panti asuhan tempatnya ditampung. Kira-kira sudah empat tahun yang lalu, meski Magnus dulu sering berkunjung akhir-akhir ini kesibukannya membuatnya tidak memiliki waktu untuk mengunjungi orang tua angkat yang telah memberinya nama dan kedudukan di masyarakat.
Langkah Magnus terhenti saat dirinya melihat potret keluarganya, itu adalah sesuatu yang sangat baru. Sebelumnya potret itu tidak ada, tapi kini ada di tengah ruang keluarga, cukup besar sehingga tidak mudah untuk diabaikan.
“Bukankah ini adalah potret saat aku baru saja masuk ke dalam biro?” tanyanya pada sang ayah yang baru saja masuk sambil membawa sebotol champagne.
“Iya benar sekali … Ibumu mengatakan sangat merindukanmu akhir-akhir ini, jadi aku mencetaknya menjadi besar agar dia bisa melihat putranya setiap saat.”
“Bukan hanya aku, ayahmu juga sangat merindukanmu,” sahut Margoth dengan senyuman yang meneduhkan, di tangannya telah ada nampan berisi makanan. “Kemarin aku membuat pie apel, makanlah.”
Magnus segera beralih untuk duduk di salah satu kursi, melihat ada pie apel di meja dan sebotol champagne yang belum dibuka oleh ayahnya. Sesaat dia menatap ayah dan ibunya dengan seksama, Magnus sangat bersyukur sekali memiliki keluarga yang utuh setelah kehilangannya yang luar biasa, keluarga yang sangat hangat meski rasanya tidak sama dengan keluarganya dulu. Magnus pun tidak ingin kehilangan keluarganya lagi, dengan segenap hatinya ia ingin melindungi ayah dan ibunya sekuat tenaga.
“Ayah … ibu ….”
“Ya?” Margoth dan Marcus menjawab dengan serentak sambil menatap putra mereka. Sebagai seorang ibu, Margoth merasa ada sesuatu yang begitu membebani sang putra. Namun, dia mengenal putranya dengan baik. Magnus tidak mudah membuka diri tapi jika sudah tiba saatnya dia akan bercerita sendiri.
“Aku akan menikah.” Akhirnya Magnus mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Eurene. Dia menatap kedua orang tuanya lekat-lekat. “Aku juga akan membalaskan dendam orang tuaku,” lanjutnya di dalam hati.
“Menikah?” serempak Margoth dan Marcus bertanya dengan tatapan penuh emosi yang bercampur aduk.
“Siapa gadis sial yang menerima lamaranmu, Magnus?” tanya Margoth sambil mengusap air mata yang tanpa sengaja menetes dari sudut mata cokelatnya yang hangat.
“Benar … gadis itu dia pasti sangat sial karena mendapatkanmu.” Setali dua uang, Marcus pun sepakat dengan istrinya. Magnus tersenyum mendengar orang tuanya yang sangat bahagia mendengar kabar pernikahannya.
“Dia akan sangat kerepotan menghadapimu, pastikan kau tidak bersikap dingin dengannya nanti, kau harus bersikap baik dengan istrimu.” Margoth menasehati putranya, dia tahu betul jika Magnus sangat irit dalam berbicara. Mengatakan sesuatu lebih dari lima kata dalam sekali bicara adalah keajaiban bagi seorang Magnus.
“Kapan kau akan membawanya kemari? Kau tidak ingin mengenalkannya pada kami?” tanya Marcus.
“Kalian sudah mengenalnya,” ujar Magnus dengan wajah sedikit memerah.
Marcus dan Margoth saling pandang satu sama lain, mereka saling bertukar pikiran yang sebenarnya pikiran mereka sama. Mendengar Magnus mengatakan jika mereka mengenal gadis itu hanya ada satu nama yang terpikirkan oleh mereka.
“Kendra?” keduanya bertanya dengan serempak. Magnus mengangguk pelan.
“Tunggu … kau bukannya ingin mengajukan diri sebagai suitor Ratu Eurene?” tanya Marcus denga hati-hati. Seketika itu juga raut wajah Magnus berubah, aneh sekali rasanya karena nama orang yang menduduki tahta Valarest begitu mempengaruhinya.
“Tidak ayah, aku hanya akan menikah dengan Kendra.”
Lagi, kedua orang tua Magnus saling berpandangan, kebahagiaan yang tadinya terpancar kuat dari wajah mereka entah mengapa berubah menjadi kebingungan. Magnus menyadarinya, akan tetapi Magnus tidak ingin merusak suasana, dia lebih memilih untuk mengambil satu potong pie apel dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Ini enak sekali,” ujarnya untuk mengalihkan perhatian orang tuanya dari pembahasan tentang pernikahannya.
“Ah … tentu saja, makan sepuasmu.”
*
Cahaya matahari yang berwarna jingga itu memantul sempurna di atas permukaan air lauh, pantulannya menghangatkan tubuh Eurene, membuat semua amarah yang dia tahan di dalam hatinya seolah lenyap begitu saja. Pagi ini, dengan mulutnya sendiri Eurene telah mengumumkan tentang pemilihan para suitor yang akan menjadi suaminya kelak.
Mata birunya terpejam menikmati hangatnya sinar matahari yang telah separuh tenggelam di cakrawala, menikmati deburan ombak yang menjadi melodi indah di telinganya dan mampu membuat hatinya yang bergemuruh karena pemilihan itu menjadi lebih tenang. Semua kenyamanan ini membuatnya berandai-andai jika dirinya adalah putri bangsawan biasa, mungkin dirinya tidak akan merasa segundah ini. Hidupnya mungkin akan lebih mudah karena tidak perlu bertanggung jawab atas keberlangsungan pewaris tahta.
Eurene kembali pada kenyataan ketika telinganya mendengar suara langkah kaki yang menyentuh tanah mendekat ke arahnya membuat Eurene waspada. Meski begitu matanya masih terpejam, ia tahu pemilik langkah ini adalah orang yang telah merebut seluruh hatinya.
“Apa yang membuat hatimu resah?” tanya Magnus setelah mengambil duduk tepat di samping Eurene. Gadis itu membuka matanya kemudian menoleh ke arah Magnus yang sedang menatap lurus ke arah laut. Pantulan cahaya matahari senja itu menerpa wajah Magnus, membuatnya terlihat hangat sekali.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Eurene yang melupakan fakta jika Magnus bisa mengetahui apapun yang ada di dalam benaknya tanpa dia mengatakannya. Tentu saja Magnus mengetahuinya, pulang dari rumah orang tuanya, seorang anak mengatakan padanya jika ‘Kendra’-nya baru saja mampir dan menanyakannya. Gadis itu tidak menunggu dan Magnus tahu kebiasaannya, jika gadis itu tidak menunggu berarti dia sedang dalam suasana hati yang tidak baik dan pasti berada di pantai.
“Laut dan senja adalah pelarianmu saat hatimu sedang resah, tentu aku tahu.” Perlahan-lahan Magnus menoleh, menatap birunya mata Eurene yang semakin indah karena pantulan cahaya matahari. Keindahan itu menghanyutkan Magnus dalam gelora di dalam hatinya, perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya pada Eurene. “Apapun penyebab gelisahmu saat ini … aku akan selalu di sampingmu,” bisiknya dengan suara yang begitu serak sebelum akhirnya bibir hangatnya menyatu dengan bibir merona milik Eurene. Keduanya saling memagut, saling menuntut, dan saling melengkapi satu dengan lainnya. Bibir mereka bergerak dengan harmoni yang sangat indah, menunjukkan jika mereka memang diciptakan untuk menyatu.
“Hari ini … hingga esok hari, aku akan tetap bersamamu, dan melindungimu.” Magnus berbisik lirih dengan bibir basahnya.
“Ini ….” Eurene menyadari jika sebuah kalung telah disematkan ke lehernya.
“Ya, ini sebagai hadiah untuk lamaranku padamu. Setelah ini aku akan pergi untuk menemui keluargamu, Kendra.”
Mata Eurene membelalak dengan lebar, dia tidak berpikir sejauh ini. Tidak menyangka jika Magnus akan menemui ‘keluarga’-nya untuk melamarna secara resmi. Jantung Eurene berdebar dengan sangat kencang, bagaimana jika Magnus mengetahu kebenarannya sebelum Eurene mengatakannya sendiri. Tapi apakah dia mampu mengatakan kebenarannya pada Magnus, pada orang yang menganggapnya sebagai pembunuh keluarganya?
“Magnus ….” Eurene tidak tahu harus mengatakan apa pada pria yang ada di hadapannya kini. Jantungnya berdebar sangat kencang sekali. “Magnus aku … aku tidak bisa … aku tidak bisa menikah denganmu.” Pada akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Sebuah kalimat yang terasa bagai sebuah bom yang meledak di depan wajah Magnus.
Magnus tertegun dibuatnya, berhari-hari hatinya berbunga-bunga membayangkan pernikahannya dengan Eurene, membayangkan melihat pengantin wanitanya dalam balutan gaun berwarna putih, membayangkan kehidupan mereka yang bahagia, dan kini mendadak ada sebuah bom yang meledak tepat di depan mukanya, tidak hanya menghancurkan mukanya tapi seluruh tubuhnya hingga hatinya menjadi berkeping-keping. Bahkan bicara saja Magnus tidak mampu.
“Maafkan aku.” Hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh Eurene. Dia pun berusaha untuk melepaskan kalung berliontin biru saphire yang tergantung di lehernya, namun tangan Magnus menahannya.
“Jangan lepaskan.”
“Magnus.”
“Jangan lepaskan kalung itu, kurasa aku sudah membuatmu bingung. Kau pasti merasa jika ini terlalu cepat. Tidak apa-apa, kita bisa menikah setelah kau siap.” Magnus mengatakannya dengan mata yang menampung banyak air.
“Oh Magnus … aku tidak bisa melakukan ini, maafkan aku.”
“Kendra … aku sangat mencintaimu.” Magnus tertunduk, tangannya menggenggam pergelangan tangan Eurene seakan-akan jika dia melepaskannya maka Eurene pasti akan pergi dari hadapannya.
Hati Eurene pun tercabik-cabik melihat air mata yang berusaha ditahan oleh Magnus itu menetes tepat di atas kulitnya. Ini pertama kalinya Eurene melihat Magnus menangis seperti ini, ingin sekali rasanya Eurene memeluk tubuh besar pria ini dan mengatakan hal yang sama, bahwa dia pun sangat mencintai Magnus tapi kenyataan menampar Eurene begitu keras.
DIA MENCINTAI KENDRA BUKAN DIRIMU, EURENE. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di dalam telinga Eurene.
Perlahan-lahan, Eurene berusaha melepaskan genggaman tangan Magnus dari pergelangan tangannya. Dia harus bisa melakukan ini, apa yang dia lakukan adalah demi kebaikan bersama.
“Selamanya aku akan menjadi sahabatmu, Magnus.” Eurene kemudian berdiri, melangkah pergi meninggalkan Magnus yang tertunduk pilu dengan kucuran air mata yang enggan berhenti. Beberapa langkah setelah menjauh dari Magnus, Eurene berhenti, hati kecilnya mendorongnya untuk berbalik dan kembali pada Magnus, melarikan diri dari tahta Valareast dan membangun kehidupan bersama dengan Magnus.
Tak jauh dari tempatnya, Eurene melihat sosok Sir Dexter yang sedang menunggunya bersama dengan Naaga. “Jika aku tidak pergi … kau akan berada dalam bahaya, aku akan melindungimu dengan caraku, Magnus.” Dan Eurene mengepalkan tangannya, membulatkan kembali tekadnya, lalu melangkah. Kini benar-benar menjauh dari Magnus.
Sir Dexter melepaskan jubah yang dia kenakan, menyampirkannya pada bahu kecil Eurene. Tidak ada kata apapun yang keluar dari bibir Sir Dexter, sejak melihat Eurene berjalan mendekat ke arahnya dengan tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya, Sir Dexter tahu jika lebih baik untuk membiarkan Eurene menenangkan diri dengan caranya sendiri. Ingin rasanya sir Dexter memeluk tubuh mungil yang tampak rapuh itu, tampaknya semua beban yang ada di dunia ini ditanggung oleh tubuh kecil Eurene, sir Dexter ingin sekali membagi bahu lebarnya untuk mengangkat beban bersama. Akan tetapi, Eurene tidak pernah mengeluh, gadis itu tidak tahu caranya mengeluh, dan tidak membiarkan orang di sekitarnya tahu jika sebenarnya beban yang dia pikul terlalu berat.
“Kita kembali, sir Dexter.”
“Baik, Your Majesty.”
.
.
.
To be continued.