Chapter 13: Behind

2164 Words
Song Of Betrayal Chapter 13: Behind   Rasa bosan tengah melanda Eurene, di hadapannya telah menumpuk puluhan gulungan perkamen yang berisi mengenai profil para suitor. Eurene harus memilih sepuluh kandidat terbaik agar pemilihannya tidak berlangsung lama. Setelahnya Eurene harus menemui para suitor untuk menentukan tiga kandidat terbaik yang nantinya akan menjalani seleksi tahap akhir. Helaan nafas yang dalam menggema di ruang kerja Eurene.   “Mengapa harus sebanyak iniiiii …,” keluh Eurene sambil memejamkan matanya, berusaha melarikan diri dari pemandangan yang membuatnya mual sejak tadi pagi. Eurene tidak menyangka akan ada banyak bangsawan yang mengirimkan data pribadi putra rumah mereka untuk dijadikan seorang pangeran pendamping.   “Menjadi seorang pangeran sangat menguntungkan tentu tidak akan ada yang melewatkan kesempatan ini.” Sir Dexter sejak awal menemani Eurene mendadak bicara, melihat kegelisahan Eurene membuatnya tidak tahan jika harus diam saja.   Eurene menegakkan kembali punggungnya, apa yang dikatakan oleh sir Dexter ada benarnya. Menikah dengan pemimpin Valareast akan sangat menguntungkan bagi bangsawan manapun, mereka akan mendapatkan perlindungan tak terbatas, kekayaan yang tidak terbatas pula, dan gelar sebagai keluarga kerajaan akan disandang oleh keluarga pangeran pendamping. Dengan begitu, Eurene tak bisa asal memilih suitor-nya. Dia harus bisa memilih seorang suami yang memiliki kekuasaan paling besar.   “Sir Dexter ….” Panggil Eurene, dia teringat jika Sir Dexter lebih berpengalaman dalam hal informasi sehingga akan lebih mudah jika dia memilih kandidat dengan bantuannya. “Bagaimana jika kau membantuku?”   “Saya akan senang hati jika bisa membantu anda, Your majesty.”   “Baiklah … sekarang kau bantu aku memilah mana putra bangsawan yang harus aku masukan ke dalam sepuluh besar?”   Mata Sir Dexter membulat dengan lebar, tidak menyangka jika permintaan Eurene adalah untuk membantunya dalam memilih calon suami. Bagaimana dia bisa ikut andil dalam memilih calon pasangan untuk Ratu Valareast?   “Kenapa diam saja, ayo bantu aku.”   “Ta-tapi, Your Majesty ….”   “Kenapa sekarang malah ragu-ragu, jika bekerja berdua denganmu proses ini akan lebih cepat. Ah, sekalian panggilkan bibi Nivera dan Freyja.”   Sir Dexter berkedip dua kali, menatap Eurene tidak percaya karena pemilihan calon suami ini seolah-olah hanya permainan belaka bagi Eurene dan bukannya sesuatu yang serius. Andai saja ini terjadi di kalangan para bangsawan biasa, mereka akan sangat serius dalam menentukan calon suami untuk putri mereka. Para calon suami harus memiliki rank yang setara atau lebih tinggi dari keluarga mereka, itu sudah pasti. Reputasinya tidak boleh tercoreng, sehingga para bangsawan pria yang memiliki rank tinggi namun dicap sebagai seorang pemain wanita oleh masyarakat maka akan sangat dihindari.   “Tunggu apa lagi, Sir Dexter?” Eurene menggugah Sir Dexter dari rasa takjubnya terhadap Eurene yang begitu santai menghadapi pernikahannya. Tak lama kemudian dia pun mengangguk sambil beranjak pergi untuk memanggilkan dua wanita yang selalu setia mendampingi Eurene.   Sambil menunggu, Eurene bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju ke jendela besar yang terletak tepat di balik kursinya. Eurene berdiri mengamati pemandangan di luar kastilnya, dari sini terlihat area istana di bawahnya, itu adalah sebuah taman luas dengan berbagai tanaman yang di tanam. Di sampingnya ada lapangan berlatih untuk keluarga kerajaan, dulu saat dirinya masih kecil, Eurene sering melihat ayahnya berlatih dengan pamannya—Raja Valareast. Seringkali Eurene juga akan ikut berlatih, tapi dirinya akan berlatih bersama dengan kakenya. Eurene selalu enggan jika diajak untuk bersama dengan para wanita, dia lebih memilih bersama ayahnya dan berkumpul dengan para ksatria.   Namun, semua itu kini hanya sebuah kenangan.   “Your Majesty.” Panggilan dari Nivera menarik Eurene dari bayangan masa lalu yang tak akan bisa dia lepaskan. Perlahan-lahan Eurene menoleh, melihat sosok ibu asuhnya yang telah bersamanya selama ini. Wanita yang telah mengajarkan banyak hal kepadanya, wanita yang akan selalu ada di pihaknya walau apapun yang terjadi. Eurene tak tahu, bagaimana kehidupannya jika Nivera tidak ada di dunia ini. Dirinya akan benar-benar menjadi boneka para bangsawan elit yang mengincar kekuasaan di Valareast.   “Kalian sudah datang!” seru Eurene sambil tersenyum lebar, memasang kembali wajah ceria yang selalu dia tunjukkan kepada tiga orang yang telah menemaninya selama ini.   “Apa anda ingin kami membantu memilah calon suami anda?” tanya Nivera tanpa ragu untuk memastikan. Tak disangka Eurene malah mengangguk antusias.   “Your Majesty … bagaimana anda bisa meminta kami melakukannya?”   “Jika Marquis Tua bisa maka kalian lebih bisa, kalian akan memberiku informasi tentang para suitor ini, aku tahu kalian tahu banyak tentang informasi seperti itu. Jadi keputusan akhirnya tetap ada padaku. Mengerti?” tutur Eurene sembari berjalan kembali ke kursinya.   “Jadi kami hanya memberikan informasi?” tanya Nivera.   “Ya … dan jika menurut kalian mereka memiliki reputasi yang buruk, kalian harus segera menyingkirkannya dari daftar.”   “Aku sangat suka ini, haha.” Freyja tertawa bahagia.   Kemudian mereka bertiga pun mengambil tumpukan gulungan perkamen yang ada di meja Eurene dan membawanya ke meja yang lebih besar. Setelah itu mereka bereempat duduk melingkar sambil membuka satu persatu gulungan tersebut, Freyja bertugas untuk mencatat mana saja suitor yang masuk ke dalam tahap pemilihan berikutnya.   Pertama-tama Eurene memilih berdasarkan reputasi sosial yang dibangun para suitor tersebut di antara para bangsawan. Eurene sangat pemilih, dirinya tidak ingin berurusan dengan skandal murahan yang bisa membuat reputasi keluarga kerajaan ikut tercemar. Meski terkesan sembrono, Eurene sangat memperhatikan hal yang paling terkecil sekali-pun.   Pada seleksi pertama mereka berhasil menyeleksi sekitar tiga puluh orang yang tersisa dari enam puluh suitor. Separuhnya berasal dari luar Castleland, yang paling menonjol di antara semuanya bahkan bisa dikatakan yang paling kuat adalah Ilias Delmar. Eurene tidak terkejut sama sekali saat menemukan nama Ilias berada di antara tumpukan gulungan, sudah sangat jelas sekali karena ayahnya—Marquis Tua—memiliki gairah yang besar untuk menguatkan kekuasaannya. Jika Ilias menikah dengan Eurene, maka hubungan diantara mereka akan sangat kuat sekali. Terlebih lagi, Ilias memiliki reputasi yang sangat baik, meski banyak yang mengaguminya dia belum pernah sama sekali terkena skandal, meski sangat suka bersenang-senang Ilias tahu batasannya.   Setelah melihat bagaimana reputasi para suitor ini, Eurene memilih para pria yang memiliki rank tinggi, karena semakin tinggi rank mereka maka tanah yang dimiliki oleh keluarga mereka semakin luas, orang yang mereka miliki semakin banyak, dan yang paling penting adalah tentara pribadi mereka juga semakin banyak, hal itu akan semakin menguntungkan bagi Eurene.  Dari tiga puluh profil suitor kemudian Eurene harus memilih sepuluh dengan rank terbaik.   “Akhirnya … pekerjaan menyebalkan ini sudah selesai,” Eurene meregangkan tangannya, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi.   “Anda salah, Your Majesty. Setelah ini anda harus bertemu dengan sepuluh orang ini.”   “Iya … aku tahu, aku ingin beristirahat sebentar. Kalian bisa melakukan kegiatan lainnya,” ujar Eurene yang sudah memejamkan matanya, sangat lelah setelah memilah banyak suitor hingga mendapatkan sepuluh suitor terbaik.   *   Suara ketukan pintu yang terus berulang itu membuat si pengetuk tak sabar akhirnya membuka pintu begitu saja. Betapa terkejutnya Cathan melihat ruang kerja kepala biro yang selalu rapi dan bersih mendadak seperti tempat sampah kertas. Semua lantai dipenuhi oleh kertas yang diremas-remas menjadi bentuk bulatan, ada beberapa yang tampak seperti disobek. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi pandangan mata Cathan kini tertuju pada sosok yang tampak begitu lelah sedang duduk sambil kepalanya bersandar menghadap ke atas di balik meja kerjanya.   “Jika tidak penting, keluar.” Suara Magnus terdengar sangat serak seperti orang yang benar-benar tak bertenaga. Cathan duduk di seberang meja Magnus, memperhatikan kepala bironya yang terlihat sangat frustasi. Tak pernah dia melihat Magnus se putus asa ini, bahkan masalah sebesar apapun yang menerpa biro tidak akan membuat Magnus tampak seperti ini.   “Ini sudah tiga hari kau tidak keluar dari ruanganmu. Apa yang terjadi sebenarnya.”   “Bukan urusanmu.” Magnus menjawab sekenanya, tanpa berpikir panjang karena sesungguhnya saat ini kepalanya tak bisa diajak berpikir sama sekali.   Kertas-kertas yang berserakan dengan berbagai bentuk yang tak beraturan itu adalah wujud rasa putus asa Magnus. Tiga hari yang lalu, setelah penolakan yang dialami oleh Magnus dia tidak menyerah begitu saja. Magnus memberikan waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir dengan tenang, setelah itu kemudian dirinya pergi ke pinggiran kota, ke tempat tinggal Eurene. Akan tetapi, sesuatu yang sangat tidak terduga terjadi.   “Tidak ada gadis bernama Kendra tinggal di sini.” Seorang pria renta yang menyambut Magnus saat dirinya mengetuk sebuah rumah—rumah yang dulu adalah tempatnya bermain dengan Kendra-nya.   “Lydia … bagaimana dengan wanita bernama Lydia, apakah dia juga tinggal di sini?” tanya Magnus padanya. Lantas pria itu berteriak memanggil seseorang bernama Lydia, tak lama kemudian sosok yang dipanggil itu pun keluar. Magnus tidak menyangka akan bertemu dengan wanita renta yang telah beruban dan sulit untuk berjalan, dalam bayangannya Lydia yang dia kenal adalah sosok wanita paruh baya yang masih menawan dan cantik.   “Anda Lydia?” tanya Magnus untuk memastikan lagi. Yang dirinya lihat saat ini membuat Magnus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah penglihatannya salah dan begitu juga dengan ingatannya?   “Aku Lydia.” Wanita itu menjawab dengan suara yang sangat serak, terdengar sekali jika wanita itu sangat lelah.   “Apa anda mengenal Kendra?” tanya Magnus dengan hati berdebar dengan sangat kencang dan was-was. Wanita tua itu tampak mengingat cukup lama hingga Magnus kehilangan kesabarannya. Tampaknya memang tidak ada gadis bernama Kendra di daerah ini.   Magnus yang kebingungan dengan yang dia alami kembali ke kantor biro, memanggil Lucas untuk menyelidiki tentang Kendra-nya yang menghilang tanpa jejak sama sekali. Sungguh, Magnus tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa ‘lenyap’ dalam semalam tanpa meninggalkan jejak sama sekali.   “Tuan … siapakah nama belakangnya?” begitu Lucas bertanya saat diberikan tugas untuk mencari keberadaan Kendra. Hati Magnus serasa bagai ditusuk, dia menyadari jika tidak mengetahui nama keluarga Kendra. Selama ini dia tidak pernah menanyakannya, bahkan tidak pernah peduli dengan nama keluarga gadis itu. Magnus berpikir jika itu tidak diperlukan, dia pikir Kendra akan selamanya bersama dengannya   “Aku tidak tahu, Lucas.”   “Kerabatnya?” Magnus kembali dibuat berpikir dengan sangat keras, selama ini dia hanya mengetahui tentang Lydia dan juga seorang pria yang selalu mengawal Kendra dan berdiri di kejauhan. Namun, dia kemudian teringat tentang pesta dansa yang dia hadiri sebelum berangkat ke Halfthorn. Magnus ingat jika Kendra-nya datang bersama dengan Ilias Delmar.   “Lucas … cari seseroang dengan nama Lydia yang berkaitan dengan Kendra dan … selidiki keluarga Marquis Delmar. Apakah mereka memiliki kerabat bernama Kendra … atau.” Saat itu Magnus terdiam sesaat, merasa bodoh karena tidak terpikirkan olehnya sebelum ini. Mungkinkan Kendra-nya menolak menikah karena akan menikah dengan Ilias Delmar?   Magnus berdecak marah, mengapa dia tidak menyadarinya? Ilias Delmar, pria itu memang pantas jika berdampingan dengan Kendra. Pria yang tampan, memiliki pendidikan yang baik, keluarganya pun sangat berkuasa. Kehidupan Kendra tidak akan pernah menderita. Namun … saat mengingat tentang korupsi di Halfthorn yang diduga ada sangkut pautnya dengan Marquis, kemarahan Magnus pun membuncah. Tangannya mengepal di meja, dia tidak ingin Kendra menikah dengan keluarga itu.   “Tolong Lucas, kau carikan informasi tentang Kendra dan bawa padaku secepatnya.”   Setelah Lucas pergi dan mencari tahu tentang Kendra, Lydia, dan hubungannya dengan bangsawan ternama di seantero Valareast tapi beberapa hari kemudian Lucas kembali dan tidak mendapatkan hasil apapun. Tidak ada kerabat keluarga Delmar yang memiliki relasi dengan nama Kendra. Bahkan Lucas menambahkan jika nama Kendra itu tampaknya bukan nama yang sebenarnya.   Hancur.   Hati Magnus hancur seketika mendengar penuturan Lucas. Rasanya tidak ingin dirinya mempercayai ucapan Lucas, namun Lucas tidak akan bicara jika apa yang dia katakan bukan sesuatu yang pasti. Jika Kendra bukan nama aslinya, lalu siapa nama aslinya yang sebenarnya, siapakah dia sebenarnya? Mengapa menggunakan nama palsu? Mengapa menipunya selama ini? Mengapa?   Dan pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab hingga beberapa hari kemudian, hingga Magnus tidak keluar sama sekali dari ruang kerjanya di kantor biro, hingga Magnus menghabiskan hampir separuh persediaan kertas di biro hanya untuk dia remass setelah merasa tulisan yang ingin dia kirimkan pada Kendra terasa kurang. Setiap kali Magnus menuliskan beberapa kata, dia akan meremass atau merobek kertas itu, banyak dari isi surat itu tidak bermasalah tapi Magnus selalu berpikir, kemana kah surat-surat ini dikirimkan? Dia bahkan tidak tahu keberadaan orang yang menempati seluruh isi hatinya.   “Kau tidak bisa begini terus menerus, Magnus. Biro membutuhkanmu … kami membutuhkanmu.” Cathan sangat prihatin melihat kepala biro sekaligus satu-satunya sahabat yang dia miliki mengalami hal buruk. Magnus kemudian membuka matanya, menegakkan kepalanya dan menatap Cathan dengan sungguh-sungguh.   “Menurutmu apakah aku terlalu bodoh?”   “Dengar, aku tidak tahu apa yang kau alami … tapi melihat tempat ini … ya, kau bodoh! Sangat bodoh. Untuk apa kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk meremas kertas-kertas ini? Jika kau masih bisa bernafas seharusnya kau gunakan kaki, tangan, dan otakmu itu untuk bekerja mencari sebuah solusi!”   Magnus hanya menghela nafasnya, dia sendiri pun heran mengapa dirinya sangat bodoh saat berurusan dengan masalah yang menyangkut Kendra. Semua yang dia lakukan selalu diluar pikiran rasional, dorongan hati yang membuatnya bertindak seperti ini.   “Setidaknya … sebagai seorang kepala biro, kau bisa mengendalikan hatimu meski itu sangat sulit. Karena aku tahu … sepintar apapun seseorang dia akan menjadi sangat t***l jika di hadapkan pada cinta.” Cathan merasa lega bisa memarahi Magnus.   . . . . To be continued…          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD