Chapter 14: Tiredlessly

1908 Words
Song Of Betrayal Chapter 14: Tiredlessly   Terik matahari yang cukup panas adalah hal pertama yang menyambut langkah Eurene saat dirinya baru saja keluar dari istananya. Belum juga melangkah lebih jauh, helaan nafas penuh beban itu keluar dari rongga pernafasannya. Eurene menatap halaman istana di depannya dengan lelah, tapi dengan berani dia meyakinkan dirinya sendiri jika dia pasti bisa melewati hari ini dengan baik. Tak jauh di hadapannya, di tengah halaman istana itu sebuah tenda kerajaan sudah didirikan. Tersedia meja panjang berisi jamuan yang akan membuat puas perut siapapun. Tidak hanya itu, di sana pun telah tampak sepuluh kandidat terbaik yang telah ditetapkan oleh Eurene sebelumnya.   Terpaksa Eurene menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman yang tidak sampai di matanya kemudian berjalan anggun layaknya seorang Ratu yang sangat berkuasa. Satu per satu Eurene menatap para kandidat yang telah berdiri untuk menyambutnya. Ini pertama kalinya Eurene bertemu dengan pria secara pribadi seperti ini. Para pemuda itu melayangkan senyuman terbaik mereka di hadapan Eurene, berharap jika senyuman itu akan menarik perhatian Eurene. Sayang sekali, karena pandangan Eurene hanya jatuh pada sosok Ilias yang berdiri di ujung dengan seringaian jahilnya.   “Salam, Your Majesty.” Mereka bersepuluh serempak memberikan salam kepada Eurene dengan membungkukkan tubuh mereka sedikit ketika Eurene telah sampai di hadapan mereka.   “Berdirilah, tidak perlu terlalu formal untuk acara hari ini.” Eurene memang tidak pernah menyukai hal-hal yang terlalu formal. Para pemuda bangsawan yang menawan memberikan jalan kepada Eurene.   Eurene mengambil duduk terlebih dahulu para pemuda bangsawan itu satu persatu mulai memperkenalkan diri mereka. Kelemahan Eurene adalah tidak mampu mengenal wajah seseorang dengan baik, dan kali ini dia berusaha untuk memperhatikan satu persatu dari para pemuda yang ada di hadapannya.   “Saya adalah Vincent Loughbart, jika anda berkenan saya bisa mengajak anda pergi berkeliling dunia, Your majesty.” Mendengar salah seorang yang memperkenalkan dirinya, Eurene tak bisa menahan diri selain terkekeh hingga tanpa sada tawanya telah menarik perhatian semua orang.   Di tempatnya Ilias pun tak bisa menahan senyumannya melihat tingkah Eurene yang mentertawakan Vincent. Ia tahu betul jika Eurene sedang mentertawakan gagasan tersebut. Bagaimana bisa seorang Ratu yang memiliki segudang kegiatan, yang bahkan harus mencuri waktu untuk sekedar melemaskan otot punggung memiliki waktu untuk berkeliling dunia. Memang Lord Loughbart adalah bangsawan terkemuka, seorang count yang memiliki tanah luas dan pendidikannya pun baik, dia seringkali bepergian untuk mencari pengetahuan baru. Namun, caranya memikat Eurene terlalu gegabah.   “Ah … maafkan aku.” Eurene memasang kembali wajah tegasnya. “Bukan maksudku mentertawakanmu, Count Loughbart.” Eurene bicara setenang mungkin. “Niat baikmu sudah kuterima.” Eurene melanjutkan sambil mengambil gelas minumnya. Dari balik gelasnya dia menatap Ilias yang mengedipkan sebelah mata ke arahnya yang membuat Eurene hampir saja tersedak oleh minumannya sendiri.   “Your Majesty … saya adalah Gilbert Guilian. Saya baru saja kembali dari Midasea, sengaja saya membeli kain sutra ini untuk anda. Saya rasa warnanya sangat cocok dengan kepribadian anda.” Pemuda berambut merah dengan senyuman yang sama sekali tidak menarik di mata Eurene itu menyerahkan sebuah bingkisan yang akhirnya di terima oleh salah seorang pelayan.   “Menurut anda … bagaimana kepribadianku, Viscount Guilian?” tanya Eurene sembari membuka bingkisan yang dibawakan oleh pelayan kepadanya. Di sana dia melihat sebuah kain sutra berwarna emas yang menyilaukan matanya. Sungguh pemilihan warna yang sangat tidak tepat sekali karena Eurene sangat tidak menyukai benda yang memiliki warna terlalu mencolok kecuali peralatan dan perabotan yang ada di istana.   Pemuda bernama Gilbert itu tampak terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Eurene, ia tampak gugup sembari menatap Eurene dengan takut-takut karena Eurene yang terlihat begitu kharismatik. Eurene tak sengaja menguap karena bosan menunggu Gilbert untuk memulai melancarkan serangan kata-kata manisnya, namun  yang ditunggu-tunggu tak juga mengucapkan satu pun patah kata.   “Mengapa pertanyaan mudah seperti itu tidak bisa kau jawab, Lord Gilian?” seorang pemuda lain dengan mata abu-abu dengan rambut pirang menyela, menyerobot posisi Gilbert di depan Eurene. Sekali lihat saja Eurene tahu, bahwa pemuda yang baru saja berbicara ini memiliki kemampuan yang lebih baik. Sayangnya, Eurene tidak bisa mengingat namanya.   Namun, sesaat kemudian pemuda tersebut berdiri dengan gagahnya. Di tangannya telah terdapat sebuah buket bunga mawar berwarna putih keseluruhan. Buket yang cukup besar hingga membuat beberapa orang tercengang. Pemuda itu berjalan mendekati Eurene, di hendak menyodorkan bunga tersebut kepada sang ratu tapi tangan seseorang menahan tangannya.   “Haaachiiihh!” Eurene bersin begitu keras, kemudian dia terbatuk-batuk.   “Apa kau tidak tahu jika Ratu Eurene tidak bisa menghirup serbuk sari?” suara milik Ilias begitu tenang tapi juga terdengar sangat tajam. Semua orang langsung berdiri terkejut mendengarnya dan seketika itu juga panik melihat Eurene yang terbatuk-batuk tidak berhenti. Ilias segera menghempaskan tangan milik pemuda itu, dia langsung beralih pada Eurene dan menyingkirkan para pelayan yang ada di sekitarnya.   “Your Majesty … mari saya antar kembali ke ruangan anda.” Tak mengindahkan apapun, Ilias membantu Eurene berdiri dengan merangkul bahunya. Membuat sembilan pemuda lainnya menyadari kedudukan mereka tidak lebih tinggi daripada Ilias. Karena hanya Ilias yang berani tanpa ragu menyentuh Eurene seperti itu.   Jamuan makan siang itu pun akhirnya berakhir, terlihat wajah kecewa para suitor yang meninggalkan tenda jamuan makan. Sementara itu, melihat Eurene berjalan sambil dipapah oleh Ilias pun membuat Nivera dan Freyja yang baru saja akan pergi ke halaman untuk melihat Eurene langsung menghambur cemas melihatnya.   “Ada apa? Apa yang terjadi dengan her majesty?” tanya Nivera seketika meraih lengan Eurene.   “Panggilkan dokter kerajaan, seseorang membawa bunga asli ke jamuan hari ini.”   “Astaga! Sebodoh apa orang itu sampai dia tidak mengetahui apapun tentang Ratu Eurene!” decak Freyja sambil membantu membukakan pintu.   “Jaga mulutmu, Freyja. Sekarang pergilah panggilkan dokter kerajaan,” pinta Nivera   *   “Bagaimana keadaannya, dokter?” Kecemasan Ilias tidak lekas hilang meski dokter kerajaan telah memeriksa keadaan Eurene.   “Her Majesty baik-baik saja, beruntung tidak menghirup terlalu banyak. Saya akan menuliskan resep untuk diminum olehnya,” jelas dokter tersebut sembari menulis sesuatu di atas sebuah kertas. Ilias menatap Eurene yang berusaha duduk dibantu oleh Nivera, tidak ada lagi bersin-bersin, tidak ada lagi batuk, Ilias cukup lega melihatnya setelah penjelasan dokter.   Setelah surat itu selesai dibuat dan diberikan, Freyja bertugas untuk membawanya ke tempat pembuatan obat di istana agar obatnya segera diracik. Nivera pun bergegas pergi untuk membuatkan makanan.   “Bagaimana keadaanmu … kau membuatku sangat takut.” Ilias meraih tangan Eurene, menggenggamnya dengan lembut tapi cukup erat untuk dilepaskan.   “Tenanglah, Ilias. Aku baik-baik saja … lihat.” Eurene mencondongkan tubuhnya, menunjukkan betapa sehat dirinya.   “Ha-Hachiiiih!” Namun pada akhirnya dia malah bersin lagi dan kali ini tepat di depan wajah Ilias hingga membuat pemuda itu menutup matanya.   “Kau tidak baik-baik saja … aku yakin itu,” ujar Ilias sembari terkekeh pelan. “Gadis bodoh … mengapa kau harus membuat perjamuan seperti itu?”   “Memangnya apa yang salah dengan perjamuan yang aku laksanakan? Aku harus mengenal satu per satu calon suamiku.” Eurene mengatakannya sembari menarik tangannya perlahan dari genggaman tangan Ilias. “Apa kau takut bersaing dengan mereka?” tanya Eurene menggoda Ilias.   “Aku? Takut?” Ilias menunjuk dirinya sendiri dengan mata lebar. “Hahaha! Dengan mereka?”   Eurene mengangguk, memasang wajah paling polosnya. Berusaha menahan tawanya melihat reaksi Ilias yang sangat tidak terima karena diolok oleh Eurene jika dirinya takut dengan sembilan saingannya. Itu sangat tidak masuk akal, Ilias tahu posisinya. Dirinya adalah kandidat terbaik di antara sepuluh orang kandidat yang tersisa.   “Jelas sekali kau takut bersaing dengan mereka.” Eurene masih berusaha, sudut matanya berkedut karena menahan tawanya. Namun tiba-tiba saja suasana menjadi tegang ketika wajah Ilias menjadi lebih serius, seolah-olah ucapan Eurene memang benar. “Ilias ….” Eurene memanggil Ilias, merasa tidak enak hati karena suasana yang mendadak menjadi sangat serius.   “Mereka tidak membuatku takut … tapi ada satu orang.”   “Satu orang? Siapa? Tidak mungkin kau takut pada seseorang.”   Ilias mengangkat pandangannya, menatap intens mata biru cerah Eurene yang selalu mampu membuat siapapun merasa senang. Ilias menghela nafasnya, dia juga tidak mengerti mengapa orang itu melekat dalam pikirannya dan membuatnya gusar.   “Tunggu … Ilias … kau tidak benar-benar berniat menikah denganku, ‘kan?” tanya Eurene dengan was-was. Selama ini Eurene berpikir jika keikutsertaan Ilias dalam pemilihan suitor ini adalah kehendak dari Theodore. Tampaknya dia telah salah mengambil kesimpulan setelah melihat kegusaran di wajah Ilias.   “Mengapa dia memanggilmu Kendra?” tanya Ilias secara tiba-tiba.   Waktu terasa berhenti berputar, dunia seperti berhenti berjalan, dan udara yang biasanya terhirup dengan mudah seakan-akan enggan masuk ke dalam rongga pernafasan Eurene. Nama itu, seharusnya Ilias tidak pernah mengetahui tentang nama itu, seharusnya nama itu tidak dia dengar saat ini, di sini, dengan tatapan Ilias yang tak bisa dia baca apa artinya. Seolah-olah tampak seperti orang yang sedih, tapi kenapa Ilias menatapnya dengan sedih.   “Ilias … bagaimana … bagaimana … siapa yang—”   “Eurene … apa yang telah kau sembunyikan sebenarnya?”   Nafas Eurene benar-benar tercekat mendengar pertanyaan Ilias, entah bagaimana dia akan menjawabnya. Meski Ilias adalah sahabatnya sejak kecil, Eurene bisa membagi semuanya tapi tidak jika tentang identitasnya yang lain. Bagaimana pun juga Ilias adalah putra Theodore.   “Kau masih berpikir jika aku adalah putra ayahku? Eurene ….” Mendengar Ilias memanggil namanya dengan begitu tegas membuat tubuh Eurene menegang, di tempatnya kedua telapak tangannya mengepal dengan sangat erat. Tanpa sadar Eurene menggigit bibir bawahnya, tanda ketika dirinya sangat gugup. Sungguh, Ilias selalu saja tahu apa yang dia pikirkan.   “Jika kau tidak memberitahuku, bagaimana aku akan melindungimu?”   “Aku tidak membutuhkan perlindungan siapapun, Ilias.” Eurene berhasil menguraikan kegugupannya, mengumpulkan keberaniannya, meski tatapannya pada Ilias telah dipenuhi oleh air yang siap untuk tumpah kapan saja.   “Eurene … ini bukan saatnya untuk keras kepala. Pria itu … dia datang ke rumahku kemarin, mencari gadis bernama Kendra. Gadis yang bersamaku di pesta dansa pertama pada season ini.” Ilias tidak tahan lagi, bagaimana pun Eurene harus tahu kebenarannya. “Kau tahu ayahku … jika masalah ini sampai terdengar olehnya ….”   Mata Eurene melebar mendengarnya, tidak menyangka jika Magnus akan mencarinya sampai di rumah Ilias. Lagi, dia menggigit bibir bawahnya.   “Siapa dia?”   “Dia adalah ….” Eurene masih saja ragu, ia menatap Ilias lekat-lekat berusaha mencari sesuatu untuk meyakinkan dirinya jika Ilias bisa dipercaya. Jika Ilias tidak akan menjadi salah satu orang yang akan menghadang jalannya kelak. Di sisi lain, Ilias masih menanti Eurene untuk membuka hatinya, membuka dirinya untuk sepenuhnya percaya pada dirinya jika dia sama sekali tidak sama dengan ayahnya.   “Dia adalah seseorang yang harus kulindingi, Ilias.” Suara Eurene bergetar menahan tangis yang selalu tak ingin dia tunjukkan pada siapapun. Tangannya mengepal dengan kuat. “Sama seperti Valareast … dia adalah orang yang ingin kulindungi.”   Meski sangat terkejut, meski di dalam benaknya saat ini terdapat banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan, Ilias memilih untuk diam. Saat ini Eurene tidak membutuhkan beragam pertanyaan darinya, Eurene membutuhkan sebuah pengertian yang sangat besar. Selain itu, Ilias tidak pernah melihat Eurene terlihat sangat putus asa seperti ini, bahkan jika dihadapkan pada masalah besar yang menimpa Valareast pun tidak akan sampai matanya berkaca-kaca. Tapi di hadapannya saat ini, Eurene yang tampak tangguh menjadi sosok yang rapuh dan putus asa.   “Jika memang demikian, apakah kau mengijinkanku untuk melindunginya bersamamu?”   Seketika itu juga Eurene mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Ilias yang ada di hadapannya kini. Mencari-cari keseriusan dalam kata-katanya, dan Eurene tidak menemukan kebohongan di dalamnya.   “Eurene … aku akan selalu mendukungmu.”   . . . To be continued          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD