Aku harus relakanmu pergi, walau aku tak mau -Renatta kehilangan mataharinya- * Sudah jelang tengah malam, tapi Fatih masih setia duduk melamun di bangku plastik berwarna hijau. Dia sandarkan leher belakang untuk bisa melihat gemintang, pendarnya kerlap-kerlip gemintang yang masih bisa terlihat jelas di kota kelahirannya ini. “Aa Fatih, sudah malam, gak mau istirahat dulu?” tanya seorang ibu paruh baya dengan penuh kelembutan padanya, “ini bibi bawakan teh hangat untuk Aa atau mau s**u hangat saja biar bisa cepat tidur? “Nanti Bi, sebentar lagi, Aa teh nunggu teman satu lagi. Sebentar lagi datang sepertinya. Oiya Bi, punten, Aa minta teh satu cangkir lagi ya untuk teman Aa.” Bibi, panggilan Fatih untuk adik dari bapaknya yang setia mengurusi sang bapak sejak ibunya meninggal hingga

