Sepanjang perjalanan pulang, Mamanya Zeline ini melihat tingkah anaknya menjadi sangat aneh. dia terlihat senyum-senyum sendiri. Padahal sebelumnya jelas sekali diwajah Zeline terlihat kekhawatiran yang mungkin tak nampak di orang lain tatkala dia melihat ke arah Seth.
"Kamu ... Apa yang dilakukan Nak Adam padamu sampai membuatmu seperti orang gila tertawa sendiri seperti ini?" Tanyanya perlahan pada anaknya yang sedang menyetir, karena takut membangunkan suaminya yang saat ini sedang tidur pulas di bangku belakang.
"Gak ada apa-apa kok Ma!" Zeline masih belum ingin bercerita tentang urusan kantornya.
"Mama menangkap sepertinya Nak Adam itu tidak tertarik padamu." Ucapan Mamanya ini tak mempengaruhinya.
"Ya kan rasa tertarik itu akan ada seiring waktu Ma, lagian emang kenapa kalau dia tak tertarik sama Ine? Ine santai aja kok, orang Ine juga biasa aja." Jawabnya masih mengkhayalkan apa yang baru saja dia lakukan.
"Ine, Kamu tahu gak sih kalau sebenarnya kami ini sedang berusaha untuk mendekatkan kalian berdua?" Tanya sang mama yang terlihat khawatir, jangan-jangan putrinya ini tidak sadar kalau dia saat ini sedang dalam proses didekatkan.
"Maksudnya?" Tuh benar saja, anaknya yang sibuk berkarir ini tidak sempat untuk memikirkan kedepan nanti dia harus hidup bersama siapa, masa iya dia harus menikahi karirnya? Ini yang orang tua Zeline tidak ingin.
"Kalian itu sedang kami jodohkan." Balas mamanya sambil mengamati raut wajah anaknya.
"Ya kalau misalnya kita sama-sama tidak tertarik ya masa iya mesti dipaksakan? Mama bisa lihat sendiri dong, ini bukan jamannya siti nurbaya atau jamannya mama yang masih diijodoh-jodohkan. Lagian juga kalau memang sudah jodoh ya akan tetap bersama, kan?" Zeline mengatakannya dengan sangat enteng sekali.
"Tapi tetap saja, kalau seandainya kamu pernah sekali saja membawa laki-laki untuk dikenalkan kepada kami, ya Mama percaya bahwa suatu saat akan ada laki-laki yang akan meminangmu, tapi Kau tidak pernah membawa laki-laki seorang pun untuk dikenalkan kepada kami. Kau itu perempuan, jangan terus-terusan mengejar sesuatu yang nantinya akan membuatmu terlihat sangat kesepian." Ucap mamanya panjang lebar, tapi ucapan ini tak mempengaruhi Zeline, dia hanya mengiyakan saja ucapan Mamanya itu. lagipula cita-cita terbesarnya belum tersampaikan! ingin mendapatkan posisi top manajemen ditempatnya bekerja sebelum usia tiga puluh lima tahun!
"Okay Ma, Aku akan temukan laki-laki itu." Jawabnya santai.
"Dari tahun ke tahun selalu itu saja jawabanmu." Kali ini Papanya menyahut dari belakang.
"Loh Papa gak tidur?" Tanya Zeline.
"Papa dengerin Kamu, tapi sepertinya kamu itu gak tertarik apa sama laki-laki?" Papanya berkata pelan tapi membuat Zeline terdiam untuk sementara, otaknya berhenti berpikir.
"Nak, kamu harus tahu, bahwa kesuksesan seorang wanita itu adalah saat dia berhasil membuat keluarganya bahagia dan dia bisa mengurus semua kepentingan keluarganya dengan baik." Ucap Papanya seperti terdengar ceramah panjang di telinga Zeline.
"Iya ... Iya, Tahun depan lah paling telat Ine akan bawa pasangan Ine sama kalian." Ucapnya asal.
"Kau hanya bicara sembarangan, asal membuat orang tua senang sesaat." Mamanya menimpali, lalu Zeline hanya tersenyum.
"Mama tau aja." Zeline tertawa.
"Udah sekarang kalau kamu bisa mendapatkan anaknya Om Marco baru papa bisa tenang." Ucapan papanya ini terdengar sangat tak masuk akal bagi Zeline.
"Ada-ada aja nih Papa." Zeline menjawab sekenanya saja, tapi dalam pikirannya baru menyadari sebenarnya apa yang sering Seth katakan padanya tentang pernikahan.
Sepanjang perjalanan Zeline semaksimal mungkin mengalihkan topik jika sudah menyinggung tentang Seth, baginya cukup hubungan bisnis saja.
***
Seth mendatangi rumah Abrar yang dia memang saat ini tinggal sendiri, karena kedua orang tuanya tinggal bersama kakaknya di Bengkulu.
Abrar yang melihat sahabatnya datang ini menyunggingkan senyumnya, jelas dia pasti akan minta cerita sampai ke akar-akar yang paling halus, gali terus sampai puas. Begitulah kira-kira moto dari hidupnya.
"Lo jelasin sama gue maksud lo." Benar saja, Seth sudah sangat bersemangat sekali saat ini.
"Gue ambil minum dulu." Abrar lalu pergi kebelakang dan Seth menunggu dengan kegelisahan super akut.
"Nih diminum dulu, yang tenang baru gue bisa ngedongeng dengan baik dan benar."
Seth meneguk air putih itu dan Abrar menunggu dengan senyum sok manisnya itu.
"Jadi sebenernya si Zaki itu dijodohin sama keluarganya dengan Zahara, kebetulan sekali keluarga Zaki ini adalah donatur tetap panti asuhan milik Ibunya Zahara, mereka akhirnya sepakat dengan Ibunya Zahara untuk menjodohkan Zaki dengan Zahara, dan itu jelas atas persetujuan Zahara."
"Maksud lo? Zaharanya memang mau? Zahara tahu agak kalo Zaki itu b******k?" pertanyaan bertubi-tubi itu muncul begitu saja dari mulut Seth.
"Mungkin saat ini dia sudah tobat bro! Orang bisa berubah karena hal yang membuatnya terjatuh.” Jawab Abrar santai, tapi jawaban ini seakan membuat Seth tetap disuruh mundur.
“Lo gimana sih, kalo cuma mau kasih tau ini mending lo pura-pura gak tau aja.” wajah Seth terlihat murung.
“Zahara tahu dia sudah menikah sebelumnya, dan dia juga tahu kalau Zaki itu memiliki anak, dan …”
“Dan?” Seth menantikan lanjutan kalimat Abrar.
“Dan mereka sudah bertemu seminggu yang lewat saat ulang tahun Sofia, ponakan gue.”
“Jadi intinya gue tetep gak ada harapan begitu?”
“Bukan gitu juga bro, gue cuma khawatir aja, Zaki itu posesif banget sama pasangan, tapi disaat yang sama dia main gila dengan perempuan lain juga, itu sepertinya yang Zahara belum tahu.” Ada keraguan dalam kalimat Abrar yang ditangkap oleh Seth.
“Ah gue gak ngerti maksud lo gimana ini.”
“Zaki itu jujur pada Zahara tentang pernikahannya tapi dia tak tahu masalah yang menyebabkan keduanya berpisah. Zaki itu sering memukul sepupu gue si Atika, dia bener-bener dikurung di dalam rumah, tak boleh kemana-mana sudah seperti tahanan saja, semua keperluan Atika dia penuhin,tapi dengan syarat kalau keluar mereka harus pergi bersama. Pulang ke tempat orang tua saja Atika tak dibiarkan sendiri, harus dia temani, karena mungkin dia juga khawatir kalau Atika bakalan bilang sama ortu kali kalau perlakuannya tidak menyenangkan.”
“Jadi intinya si Zaki ini sakit jiwa?” Seth langsung memotong ucapan panjang lebarnya Zaki.
“Mungkin.” Ucap Abrar singkat.
“Terus gimana cara gue ngomong sama si Zahara?” Tanyanya pada Abrar.
“Lo pikir aja sendiri, makanya itu gue kasih tahu ke elo.”
“Tadi lo bilang semua orang bisa berubah, siapa tahu si Zaki itu bisa tobat terus sekarang lo bilang lagi secara gak langsung kalau gue harus membuat Zahara tahu, kalau Zaki itu orangnya seperti apa. Sebenernya lo itu dukung gue apa nggak sih?”
“Gue sebagai pihak yang tahu ceritanya gue ceritain sama lo, biar lo bisa mutusin apa yang bakalan lo lakuin, cuma itu doang. Lagian juga, kalo lo gak suka sama Zahara ya ngapain juga gue capek-capek cerita sama lo.”
“Nah terus lo tahu dari mana kalo ada hubungan Zahara dan Zaki?”
“Ya elah otak lo lambat macam siput! Gue ketemu sama Zahara dan Zaki yang nyamperin Atika dan juga Sofia di bandara."
“Oh … nah terus, Zahara bedua doang sama si Zaki?” Nah bagian ini yang membuat Seth bertanya-tanya karena selama ini Zahara tak mau pergi berdua saja dengan laki-laki.
“Gak, ada dua orang lainnya juga disana, mungkin anak panti juga, yang ikut menemaninya.”
“Oh …” ada kelegaan dihati Seth, ternyata memang Zahara tak mau pergi hanya berdua saja dengan laki-laki.
“Dia nemuin anaknya dan juga mantan istrinya itu untuk sekedar say goodbye sambil memberikan anaknya hadiah, tapi setelah mereka pulang Atika sempet bilang sama gue, kalau Zaki kayaknya cuma pasang topeng aja, makanya itu gue langsung inget sama lo.” Abrar berkata santai sambil mengunyah kacang yang baru saja dia buka.
“Astagaaaaaa! Sepertinya Zahara harus tahu hal ini bro!” Seth berkata dengan penuh semangat.
“Terserah lo, apa lo mau kasih tahu atau lo mau membiarkan mereka lanjut kejenjang pernikahan.”
“Okay, gue putusin gue bakalan kasih tahu si Zahara tentang hal ini.” Ucapnya.
“Terserah lo deh.”
“Eh iya, besok lo temenin gue ke Banknya temen lo itu, karena lo salah satu orang yang berperan penting juga disana, gue ada kasih cek buat buka rekening giro perusahaan kita sama dia.” Ucapan Seth barusan membuat Abrar terperangah, baginya ucapan Seth terkait Zahara ini kalah telak dengan ucapan laki-laki yang saat ini sedang bicara padanya.
“Apa Lo bilang? Kuping gue gak salah dengar kan ya? Lo beneran kan ya? Lo yakin?” pertanyaan yang bertubi-tubi ini dilontarkan oleh Abrar.
“Lo apaan sih, kayak orang kesetanan aja.”
“Ya gue gak yakin aja, udah lama banget tuh Zeze deketin lo buat mindahin dana operasional ke tempatnya dia dan lo selalu ngata-ngatain dia.” Abarar lalu mengambil air putih dari atas meja dan melegakan tenggorokannya yang terasa seperti tersangkut kacang saking terkejutnya dia.
“Ceritanya panjang!”
“Dan gue rela mendengarkan.” Abrar berkata cepat, seakan menagih cerita itu.
“Dia itu anak dari temen bokap nyokap gue! Ternyata bonyok gue dan dia itu …”
“Temen deket dan lo dijodohin sama dia terus lo mau buat perjanjian untuk gak mau kawin sama dia?” Abrar memotong ucapan Seth.
“Lo … apa lo …” Seth memandang curiga pada Abrar.
“Gue kenapa? Apa?” Tanya Abrar seakan menantang.
“Lo cenanyang? Dukun? Atau si cewek gila itu udah cerita sama lo?”
“Jadi beneran?” Abrar tak percaya bahwa tebakannya itu benar, Seth lalu menjawab dengan anggukan tapi wajahnya mengkerut.
“Cewek gila itu cerita sama lo?” Tebak Seth.
“Cerita lo mirip sama cerita yang sering ditonton sama adek gue! Dia itu sering cerita tentang drama-drama yang sering dia tonton, dan mirip-mirip semua kisahnya, dan sekarang ternyata ajaibnya ada didunia nyata dan lebih luar biasanya ternyata sobat gue sendiri.” Dia berkata sambil terbahak-bahak.
“Gak lucu tahu!” Umpat Seth terlihat kesal.
“Gue gak ada bilang ini lucu loh ya, gue hanya gak habis pikir aja.” Abrar berkata sambil tertawa.
“Maksud lo apaan sih?”
“Besok gue akan temenin lo kesana.” Abrar berkata dengan penuh semangat.
“Eh, gue tanya lagi sama lo, lo pernah nyelidikin si Zaki gak sih sebelumnya? Misalnya latar belakang tuh anak.”
“Dia itu punya platform e-commerce, Blanjayuk yang sedang naik sekarang ini, kita juga ada kerjasama tuh sama perusahaannya dia untuk pengiriman paketnya.” Abrar berkata santai.
“What?!” Seth nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Kenapa jangan kaget, biasa aja, gue gak tertarik bahas si Zaki, gue lebih tertarik bahas masalah si Zeze sama Lo!” Dia lalu tertawa lagi.
“Menyebalkan sekali!” Umpat Seth sambil melempar bantal kursi yang dia peluk-peluk daritadi kepada Abrar.
Abrar tertawa terbahak-bahak, lalu dihentikan saat suara handphone Abrar berbunyi.
Dilayarnya muncul nama Miss Zeze.
“Itu si cewek gila?” Tanya Seth pada Abrar.
Abrar hanya mengangguk.
“Loudspeaker!” Ucapan Seth ini disetujui oleh Abrar.
“Iya Ze?” Abrar berkata sesaat setelah telponnya tersambung.
“Judi!" Panggilan yang selalu dia ucapkan pada Zuhdi Abrar ini terdengar agak sedikit aneh memang tapi sedekat itulah hubungan mereka sekarang, setidaknya sejak bertemu diacara Reuni sekolah dan dia terus mendekati Abrar untuk membujuk temannya itu memindahkan dananya ke tempatnya bekerja.
"Gue mau tanya sama lo tentang teman lo boleh?” Suara Zeline terdengar sangat santai sekali saat bicara dengan Abrar, berbeda saat dia bicara dengan Seth yang menurut Seth sangat kaku.
‘Menyebalkan!’ batin Seth sambil menunjukkan ekspresi muak.
“Tentang apanya?”Tanya Abrar lagi.
“Apa temen lo itu bisa pegang omongannya?”
“Maksud lo?”
“Dia ada janji sama gue mau masukin dana besok, lo tahu sendiri kan ya tuh orang sombongnya minta ampun, gue bicara semaksimal mungkin dia selalu ngerendahin gue, terus dia janji dia bakalan masukin dananya ke tempat gue tapi dia gak mau bunganya sama sekali, apa lo pikir ini aneh?”
“Oh … lo udah pegang ceknya kan?”
“Iya.”
“Itu kurang tandatangan gue!” Abrar berkata sambil terkekeh.
“Apa?! Maksud lo ini …”
“Tenang … sabar, lo harus sabar ya dia gak bohong kok. Besok beneran kita emang mau pindahin dana kesana.”
“Lo beneran gak bohong kan Judi, maksud gue temen lo itu gak bohong kan?”
“Iya gue tahu, tenang aja sebelum jam sembilan pagi gue dateng kesana buat tandatangan. Masalah bunga, memang dia tak mau bunganya semua akun kita juga gak pernah ada pake bunga kok, lo buatin pernyataan aja.” Seth berkata cepat.
“Lo yakin?”
“Lah, kok malah lo ragu?”
“Maksud gue apa temen lo itu gak kepentok sesuatu gitu?”
Seth yang mendengar ini sangat kesal, dia ingin membuka mulutnya dan ingin sekali marah dengan wanita itu, tapi mulutnya langsung ditutup oleh Abrar.
“Jangan ngomong macem-macem lagi, udah ya. Gue lagi ada urusan, besok pagi gue langsung ke tempat lo. Bye!” Abrar langsung mematikan sambungan telponnya.
“Halo Judi! Judi!” Teriak Zeline karena telponnya langsung dimatikan begitu saja.
***