Dikerjain?

1742 Words
Zeline sangat kesal pada Abrar yang mematikan telponnya begitu saja, dia benar-benar dibuat kesal oleh Seth, padahal dia berharap semuanya akan berjalan dengan sangat mulus dan tanpa ada halangan sedikitpun. Kalau tanda tangan kurang satu ya mana bisa dipindahin tuh dana sampai kapanpun! Zeline melihat lagi lembaran surat berharga itu, dia lalu memaki Seth, dia benar-benar kesal karena sepertinya Seth saat ini sedang mempermainkannya. Dia lalu membuka laptopnya dan mengetikkan sesuatu disana. Membuat draft perjanjian antara dirinya dan juga Seth tentang penempatan dana itu. Otaknya dengan cepat tersambung ke jari-jari lentiknya untuk membuat perjanjian tentang persyaratan yang disebutkan oleh Seth, bahwa mereka tak boleh menikah jika ingin terus Seth menempatkan dananya di tempat Zeline. Tak terasa sudah mendekati pukul sebelas malam, dan ketikan draft itu langsung dia kirimkan pada Seth. Dia mengirimkan hal itu agar Seth tak main-main dengannya, dia juga bisa menyanggupi syarat yang menurutnya sangat ringan itu. "Tak menikah." Zeline tersenyum singkat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "dasar laki-laki bodoh, apa dia pikir dia terlalu bagus sampai-sampai aku harus menikah dengannya?" lagi-lagi Zeline bermonolog pada dirinya sendiri. *** Seth yang masih berada di tempat Abrar ini masih membahas tentang Zahara, Abrar menanggapinya sekenanya saja, dia malas mendengar omongan orang yang sedang jatuh cinta, karena baginya percuma saja memberikan saran, ujung-ujungnya tak bakal mempan juga lebih enak dia menikmati tontonannya saat ini. Film Action yang sedang seru diputar di channel Fox Movies. “Lo dengerin gue gak sih?” Seth berkata kesal pada Abrar. “Iyes, gue denger. Kan udah gue bilang, semuanya lo yang putusin, kalo lo mau cari tahu tentang kehidupan pribadinya Zaki ya lo cari tahu aja dulu, mungkin dari temannya atau lo bisa liat di sosmednya, mungkin ada yang lo kenal.” Abrar memberikan saran sekenanya saja. Seth kesal yang hanya mendapatkan jawaban yang sangat biasa seperti itu. Tiba-tiba wajah Seth berubah menjadi sangat serius saat dia menerima pesan masuk di handphonennya. “Lo kenapa lagi? Ketemu hal yang aneh-aneh tentang Zaki?” Tanya Abrar mendekat karena dia penasaran dengan apa yang ada di handphonenya Seth. Seketika itu juga dia tertawa terbahak-bahak saat dia melihat draft perjanjian yang terkait antara Seth dan Zeline. “Dasar temen lo ini emang bener-bener gila!” Umpat Seth. “Yes! Dia harus membuktikan tentang dirinya kali ini, dia beneran tuh gak tertarik sama lo, dia itu cuma tertarik sama duit lo doang! Menurut gue dia itu profesional loh! Daripada gak ada hitam diatas putih, ya dia buat tuh perjanjian sama lo, biar dia merasa yakin kalau lo mempermainkan dia lagi.” Abrar terkekeh. “Bener-bener deh nih cewek. Menurut gue cewek model begini beneran deh gak bisa dijadiin istri. Lo liat aja, malam-malam gini aja dia sempet mikir buat beginian cuma buat mastiin kalo gue gak bohong ke dia.” “Menurut gue dia sih top!" Abrar berkata sambil mengacungkan kedua jempolnya didepan Seth, dan laki-laki itu makin kesal dibuat Abrar, "gak kayak lo yang sibuk mikirin seribu kali buat deket sama Zahara yang ujung-ujungnya dia dilamar sama cowok lain yang ternyata cowok itu ….” “Udah diem deh mulut lo jangan banyak bacot.” Dia yang kesal ini lalu menelpon seseorang yang berdasarkan tebakan Abrar adalah Zeline karena sesaat setelah tersambung dia langsung berkata-kata kasar. “Lo gak yakin sama gue?! Okay malam ini kalo mau nemuin gue disini, lo bisa dapet tandantangan Abrar!” Ucapnya dengan nada tinggi. Abrar yang menyaksikannya ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. “Taruhan?” Tanya Abrar pada Seth sesaat setelah Seth mematikan telponnnya. “Dosa!” Jawab Seth seakan mengerti maksud dari Abrar. “Ya sudah kita bermain tebakan saja.” “Sama saja!” Balas Seth, kali ini dia terlihat sangat kesal sekali. “Dia bakalan dateng!” Ucap Abrar. “Tau dari mana lo, sok tau!” “Lo nyuruh dia dateng kesini, kan?” “Ya mana mungkin lah dia dateng secara ini udah malam bro!” Seth berkata dengan sangat percaya dirinya. “Lo gak tahu siapa Zeze jangan banyak omong!” Abrar sangat yakin kalau Zeline jelas akan datang! “Udah ah gue mau cabs dulu, entar Nyokap dirumah ngamuk.” Ucapnya. “Gak nungguin si Zeze dulu?” Tanyanya. “Mana mungkin dia dateng. Udah besok pagi-pagi kita ketempatnya dia, biar dia gak resek, gue kesel kalo harus berhubungan dengan tuh orang. Bikin empet aja.” Ucapnya dengan ketus. “Kalo lo mau marah ya marah sama dia dong, masa mau lampiasin sama gue.” Abrar berkata singkat. “Okelah, gue cabut dulu.” Seth beranjak dari tempatnya, dan mengambil barang-barangnya yang ada di atas mejanya. “Bro kalo Zeze beneran dateng gimana?” Abrar menyusul Seth yang sudah berjalan keluar. “Ya tinggal lo tandatangan aja.” jawabnya enteng. “Apa?!” Kali ini Abrar benar-benar membuatnya tak habis pikir, baginya sekarang ini Seth lebih kepada mengerjai Zeline. “Lo serius? Tapi Zeze ini orang yang nekat loh.” Abrar memperingatkan sambil mengiringinya dibelakang. “Karena itu, dia harus tahu kalau dia itu sedang berurusan sama gue. Gue ini gak sama dengan orang-orang yang sering dia dekati. Ada batas antara gue dan dia. Dia itu maniak kerja. Gue gak suka sama cewek yang kayak gitu, entar dia gak bakalan bisa diatur.” Dia lalu masuk kedalam mobilnya. “Lo beneran?” Abrar tak percaya kalau Seth benar-benar masuk ke mobil dan segera pergi dari tempatnya. “Dasar gila!” Umpatnya sambil masuk kedalam rumah. *** Sepanjang perjalanan pulang, otak Seth masih terpikir tentang Zaki dan juga Zahara, dia akan merekalan Zahara jika saja si Zaki itu laki-laki yang baik dan bisa bertanggung jawab, nah kalau kejadiannya seperti ini, lebih baik dia saja yang mendampingi Zahara daripada laki-laki seperti itu. Dering telponnya berbunyi, Ibunya memanggil. “Iya Kenapa Bu, ini Aku udah mau sampai rumah kok.” Ucapnya. “Kirain kamu belum mau pulang. Ya sudah hati-hati dijalan.” Pesan Ibunya. “Siap Nyonya Marco Adelard!” Jawabnya sambil tersenyum lalu mematikan sambungan telponya. Mata Seth terhenti saat melewati sebuah club malam, disana ada Zaki! Ya benar saja, seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulampun tiba, sungguh kebetulan yang sangat pas sekali. Dia melihat Zaki yang baru saja keluar dari tempat itu bersama seorang wanita. Dia menghentikan kendaraanya lalu, mengamati Zaki yang saat ini sedang … Astaga! Bagaimana perasaan Zahara kalau dia sampai tahu tentang laki-laki ini. “Dia mengambil Video dari kamera handphonenya dengan resolusi tinggi, dia rekam apa yang dilakukan Zaki pada wanita itu, saling melumat diluar mobil, sebelum akhirnya wanita itu masuk kedalam mobil. Tak puas hanya sampai situ saja, dia akhirnya mengikuti arah mobil Zaki. “Mampus lo! Gak mungkin lo kawin sama Zahara kalau keadaanya seperti ini.” Seth berteriak girang, dia merasakan kalau keinginannya bisa cepat tercapai, meminang Zahara untuk menjadi istrinya. Semakin cepat laju kendaraan Zaki, semakin cepat juga dia mengikuti dari belakang, dia berharap bisa menemukan hal lainnya setelah ini, karena ini merupakan murni jakpot kalau dia sampai mengetahui sebrengsek apa si Zaki itu. Handphonenya kali ini berbunyi lagi, dari wanita itu, malas sekali dia mengangkatnya lalu segera dia matikan panggilan itu, dan terus-terusan saja telpon itu berbunyi, membuatnya sangat kesal sampai akhirnya dia kehilangan jejak kendaraannya si Zaki! “AH! Nyebelin banget nih cewek! Dia ini gila atau kenapa sih!” Gerutunya. Pesan masuk di handphonenya, dan tak dia hiraukan, dia segera putar arah untuk pulang dengan kekesalan yang sangat memuncak. *** Benar saja seperti dugaan Abrar, Zeline datang ke tempatnya! Dia berulang kali menghubungi Seth Sayangnya selalu dia matikan! Dia mengirim pesan pada Seth mengatakan kalau dia sudah ada di depan rumah itu, tempat dimana Seth melakukan share lokasi kepadanya setengah jam yang lalu! Karena kesal telponnya tak diangkat dia lalu menelpon temannya itu. “Judi, lo lagi sama si Seth itu gak sih?” Tanyanya sedikit kesal. “Dia barusan pulang, Lo udah di depan rumah?” Abrar menebak. “Ini rumah lo?” Zeline berkata tak percaya. "Emang mau rumah siapa?" Abrar berkata santai. "Gue pikir ..." Kali ini Zeline benar-benar terlihat sangat kesal. Dia hanya berpikir bahwa itu adalah rumah Seth yang lain, tahu sendiri, orang kaya itu biasanya selalu memiliki banyak aset. “Tunggu bentar gue keluar.” Abrar segera keluar dari rumahnya dan benar saja disana sudah ada mobil lain didepan rumahnya, jelas sekali kalau itu adalah mobil Zeline. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Seth yang menyuruh seorang wanita berkendara semalam ini, dan ini bahkan sudah lewat tengah malam. “Astaga Zeze! Apa lo gak bisa nunggu sampe besok? Dia udah balik daritadi.” Ucapnya pada Zeline, jelas sekali saat ini Zeline terlihat sangat kesal. “Sabar … lo sabar ya, nih gue bawain air mineral buat lo, tenang gak gue masukin apa-apa.” Ucapnya pada Zeline, jelas sekali saat ini Abrar merasa tidak enak hati dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini. “Bener-bener deh tuh orang, ampun banget deh, dia dari tadi gue telpon gak diangkat malah dimatiin, kan empet banget gue!” Dia sangat kesal sekali dengan laki-laki bernana Seth itu. “Udah lo santai aja Ze dia itu pada dasarnya emang sombong, lagian lo juga ngapain juga sampe beneran dateng kemari.” “Dari kemaren tuh orang emang beneran kelewatan Judi!” Kali ini Zeline memperlihatkan tampang imutnya kalau sedang kesal, dan inilah yang sangat disukai oleh Abrar pada Zeline sejak dulu. Yah ... sejak mereka berteman pada saat sekolah menengah. “Udah, mana sini yang mau gue tandatanganin, biar abis ini lo langsung pulang. Lo jangan tersinggung, gue bukan ngusir lo tapi ...” Abrar ingin segera menyuruhnya pulang. "Iya ... gue tahu ini juga udah malem, kan? lo takut digrebek warga didatengin cewek cantik malam-malam kaya gue ini." Zeline tertawa sangat manis, Abrar makin menyukainya. "Itu Lo tau." Jawabnya sambil tersenyum. “Ini.” Zeline lalu menyerahkan cek itu padanya lengkap dengan penanya. “Lo mau gue temenin pulang gak?” Kali ini Abrar menawarkan kebaikannya pada Zeline sambil membubuhkan tanda tangannya, walaupun dia tahu jawaban Zeline jelas tidak perlu. “Gak usah, dan lo istirahat aja, gue tau lo capek.” Zeline lalu masuk kembali ke dalam kendaraannya. "Yang harusnya bilang capek itu gue. Gue tau lo capek Ze. Hati-hati dijalan ya! begitu sampe rumah kabarin gue!" pesan Abrar dengan suara yang terdengar lembut. “Okay, sebelumnya bilang makasih sama temen lo itu ya! Bye!” Ucap Zeline lalu melajukan kendaraanya dengan cepat. Saat ini Zeline benar-benar benci banget sama yang namanya Seth, dia bersumpah dan berdoa semoga saja tidak ada yang mau sama laki-laki itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD