Yang Penting Berhasil!

2365 Words
Seth merasa sangat bahagia hari ini, impiannya untuk mengajak keluar Zahara kesampaian juga, wanita yang dia kagumi, mungkin istilah “Jatuh cinta pada padangan pertama” berlaku padanya. “Kenapa senyum-senyum aja dari pagi tadi?” Abrar menghampirinya yang sejak datang ke kantor hanya senyum-senyum saja. “Lo tahu sama Zahara?” Seth membuka percakapan awalnya dipagi ini dengan Abrar. “Zahara?” Dia terlihat berpikir, karena hampir jarang Seth berjalan dengan seorang wanita, bahkan orang-orang mengatakan kalau dia itu penyuka sesama jenis! “Itu … anak panti yang cewek, yang cantik, yang tahun kemaren kita kesana pas bulan puasa. Acara CSR kantor Bro.” Seth berkata dengan menggebu-gebu. “Entahlah gue lupa.” Abrar malas untuk mengingatnya, “emangnya kenapa? Lo jalan sama anak itu?” Abrar menebak arah pembicaraan Seth. “Yes! Akhirnya dengan susah payah gue ketemu caranya.” “Dasar gila! Gue kira lo jalan sama temen gue yang seksi itu.” Abrar mengatakan kalau yang dimaksudnya itu adalah Zeline. “Mana mau gue sama cewek model begitu, jelas banget dia nantinya gak bakal bisa diatur! Coba aja kalo lo gak percaya.” Tiba-tiba dia sangat malas mendengar nama Zeline, apalagi mengingat kalau semalam ternyata dia mengantar orang tua dari wanita itu. “Ngapain juga gue coba pacaran sama dia?” Abrar berkata sambil melempar pamflet yang ada diatas meja Seth. “Nah itu dia ... tuh kebukti, kan? Lo juga gak mau sama tuh anak. Liat aja tuh gayanya minta ampun deh, gaya cewek kota banget, wanita karir yang sombong, bisa lo bayangin kalo lo jadi sama tuh anak, bakalan jadi kayak apa nantinya, yang ada idup lo diatur-atur!” Seth sangat kesal kalau sudah bicara tentang Zeline, dia sangat suka mengumpatnya. “Lancar bener ngatain dia, ati-ati entar lo malah jadi suka beneran sama dia, gue harus bilang berapa kali sama lo kalo benci sama suka itu bedanya tipis banget! Lo mungkin gak sadar sekarang, entar nyesel.” entah untuk keberapa kalinya Abrar memperingati Seth. “Udah ya, lagian gue itu sudah punya tipe ideal gue sendiri.” Ucapnya sambil senyum-senyum membayangkan wajah manis Zahara saat bersamanya membagikan bingkisan itu pada beberapa orang yang mereka temui dijalan. “Bayangin wanita tipe ideal lo?” Abrar telihat mengejeknya. “Apalagi kalau bukan itu, kalo gue inget sama temen lo itu bawaannya bikin mood drop!” Dia lalu membuka beberapa file yang ada diatas mejanya dan menandatanganinya berkas yang memerlukan tandatangannya. “Okelah, entar lo mau Sholat Jumat dimana? Mau bareng gak?” Tanya Abrar padanya. “Gue … gue pergi sendiri aja, mission not complete, yet hari ini.” Dia berkata sambil senyum-senyum. “Pasti mau ketemu sama si Zahara itu?” “Pulangnya, soalnya aku ada janji sama anak panti itu, buat ikut kajian dulu setelah soljum.” Ucapnya masih dengan senyum mengembang. “Ati-ati salah niat Lo! BAHAYA! Tuh mantepin hati lo dulu!”Abrar lalu keluar dari ruangannya. *** Setelah sekian lama dia mencoba untuk mencari tahu tentang wanita itu, saat itu juga dia makin jatuh cinta. Seth melihatnya di pertemuan pertama, saat ada acara CSR dikantornya untuk mengunjungi sebuah panti asuhan yang kebetulan saat itu dia bisa menghadirinya. Wanita dengan kerudung ungu menarik minatnya, matanya dengan tatapan tajam dan hidung mancungnya serta bibir mungilnya yang bewarna merah merekah, benar-benar membuat hatinya bergetar kuat. Dia tersenyum begitu manis padanya saat itu. Dia tak berjabat tangan, hanya mengatupkan tangannya di depan d**a dan segera mengalihkan padangannya dari Seth, jelas sekali wanita ini terlihat sangat sempurna seperti bidadari yang dikirimkan oleh Sang Pencipta untuknya. Sopan dan anggun, tak perlu menggunakan pakaian terbuka, tak perlu memakai make up tebal, dia sangat cantik sekali. Serta, tingkah lakunya yang dia perlihatkan tanpa sadar pada Seth membuat Seth makin mengaguminya. Dia sangat menyayangi anak-anak Panti itu, dan jelas sekali panti asuhan ini bukan panti asuhan yang memanfaatkan keadaan, Seth tahu reputasinya dari Abrar juga, karena dia sudah menyelidiki beberapa panti asuhan untuk diberikan bantuan, yang benar-benar memanfaatkan bantuannya dengan maksimal, bukan yang memanfaatkan keadaan dan menjadikannya lahan bisnis. Zahara namanya, dia adalah anak pemilik Ibu panti, Ibu Maryam yang sudah lama ditinggal suaminya berpulang. Hanya Zahara sendiri anaknya dan dia membesarkan beberapa anak yang tak mampu dan tak memiliki orang tua untuk diasuh dan diajarkan berbagai macam keterampilan, hingga membuat panti asuhan ini tak seperti kebanyakan yang hanya mengandalkan belas kasih dari donatur. Pagi tadi sukses bersama Zahara karena dia berhasil mendekati Arya, salah satu anak panti asuhan yang dia kenal dan Arya tahu kalau Seth menyukai Kakaknya ini. Akhirnya dengan motif lainnya mereka membagikan paket sembako kepada beberapa orang yang dianggap layak disekitar mereka. Seth mengikuti mereka, setelah bangun sepertiga malam, dia langsung pergi ke panti itu dan sholat di masjid di dekatnya. Setelahnya mereka membagikan paket itu. Jika diingat-ingat sudah sangat lama dia mencoba mencari cara ini, walaupun jelas Zahara tak mungkin mau bertemu dengannya hanya berdua saja, tapi bagi Seth itu sudah kemajuan yang besar. “Terima kasih Kak Adam, sudah mau bersama kita dan juga ikut menyumbang.” Ucapnya sesaat setelah dia mengantarkan mereka kembali ke Panti Asuhan itu. “Tak masalah, lagipula ini hal yang baik, harus lebih sering dilakukan.” Ucap Seth. Dia hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya dan ini membuat Seth makin penasaran dibuatnya. “Nanti sore …” Seth ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Nanti sore ditempat kita ada pengajian Kak, sekalian peringatan dua puluh tahun berpulangnya Bapak.” Arya berkata dengan cepat. “Kalau mau ikut, boleh saja.” Zahara berkata dengan suara lembut, dan itu seperti angin segar bagi Seth. “Baik, aku akan datang sore setelah pulang kerja. Jam berapa?” Tanyaya. “Acaranya abis Ashar kak.” Arya menambahkan. “Baik aku akan datang. Sampai ketemu lagi nanti sore. Assalamualaikum.” Pamitnya. “Wa'alaikumus Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.” Zahara menjawabnya dengan lengkap. Seth merasakan getaran yang sangat besar pada degup jantungnya. ‘Dia benar-benar wanita sholehah.’ Dia bergumam sendiri. Lumayan mengobati mood yang turun mendadak karena semalam bertemu dengan wanita gila itu. *** Dering telpon Seth berbunyi kencang, Ibunya yang menelpon, segera dia mengangkatnya. “Iya Bu?” Jika Ibunya menelpon dijam kerja seperti ini pasti akan mengatakan hal penting. “Kamu bisa pulang tepat waktu?” Tanya Ibunya. “Kenapa Bu?” Dia sebenarnya mau ke acaranya si Zahara setelahnya. “Kalau kau bisa pulang lebih awal, Papamu mengundang temannya yang baru datang dari luar kota untuk makan malam bersama kita dirumah.” Ucapnya. “Teman yang mana?” Tanya Seth mulai mendapatkan angin tak segar. “Yang kau antar semalam itu loh, nanti kalau bisa sekalian jemput dia di rumah anaknya, karena sepertinya anaknya sangat sibuk akhir bulan ini.” Permintaan Ibunya ini sepertinya sangat berat. “Bu, tapi aku ada janji sore ini, kemungkinan pulang cepat sepertinya tak mungkin.” Ucapnya. “Ah, tak apa kalau begitu, tapi diusahakan kau ikut makan malam ya.” “Baik Bu akan aku usahakan pulang sebelum Isya.” Janjinya. “Tapi teman papa hanya dengan istrinya saja kan?” Dia memastikan kalau wanita itu tak ikut ke acara itu. “Sepertinya begitu, karena anaknya sibuk.” Sedikit lega dalam hati Seth saat ini. “Baik kalau begitu aku usahakan tepat waktu untuk makan malam bersama kalian.” Dia lalu mematikan sambungan telpon itu, baginya tak masalah untuk makan malam bersama, lagipula orang tuanya tak seperti anaknya yang sangat menyebalkan. *** Seth pulang tepat waktu, dan sudah ada kendaraan di depan rumahnya, mungkin itu adalah tamunya. Baru saja melangkah masuk kedalam dia sudah dikejutkan oleh sosok Zeline yang sudah ada di sana duduk dengan manisnya. “Ah ini dia anaknya sudah pulang.” Ibunya berkata dengan keras dan tak mungkin Seth untuk lari sekarang. ‘SIAL!’ Umpatnya dalam hati, lagi-lagi wanita itu. “Selamat malam Pak Seth.” Zeline berkata dengan ramah. “Bapak? Ada-ada saja Kau ini Ne!” Ucap Papanya Seth. “Ah, soalnya kami bertemu urusan kantor Om.” Dia sudah sangat akrab dengan papanya Seth dan membuat Seth merasakan kalau sekarang ini, dia sedang bermain peran. “Panggil saja dia Abang Adam, lagian dulu juga kau memanggilnya seperti itu kan?” Ucapnya Papanya Seth. “Ah, mungkin itu sudah lama sekali dan aku sudah lupa.” Zeline benar-benar tersenyum sangat manis dan membuat Seth menjadi muak. “Bu, Papa, Om, tante … Adam ke atas dulu ya.” Seth langsung berlari ke atas, karena jelas saat ini dia sangat kesal sekali sebelum keatas dia menatap sinis pada Zeline dan wanita itu menyadarinya. ‘Tuh, lagi-lagi tampang itu dia tujukan padaku.’ Sebenarnya Zeline sangat kesal mendapat perlakukan Seth ini, tapi demi tujuannya, dia tak mungkin marah. Sampai diatas Seth terlihat membanting jam tangannya ke atas kasur. “Menyebalkan sekali! Dia pikir dia itu siapa?” Seth berusaha untuk menahan rasa kesalnya, dia lalu mengganti pakaiannya dan segera turun. “Maaf menunggu lama.” Ucapnya sambil tersenyum ramah, saat semuaya sudah duduk manis di meja makan. “Pak Seth, ehm … maksudku Abang …” Zeline terlihat kaku untuk pertama kalinya “Panggil seperti biasa saja.” Seth menjawab dengan dingin, membuat Ibu dan papanya Seth saling lirik. “Sudah panggil Abang saja, kan sudah Om bilang sama kamu tadi.” Ucap Papa Seth, “Gak usah Om, nanti kebiasaan kalo ketemu urusan kantor jadi kebawa, Biar aku panggil Pak Seth aja.” Dia tersenyum ramah pada Seth, dan Seth lagi-lagi menlengos saat dia melihatnya. “Seth, kau tak boleh bicara seperti itu, dia ini anak teman baik papa loh.” Ucapnya. “Iya. Terserah kau saja mau panggil apa.” Seth berusaha bermanis ria, sayangnya Zeline jelas merasa perasaannya tak setulus itu. Mereka menikmati makan malam mereka dengan obrolan hangat dan juga celetukan-celetukan ringan, dan suara handphone Zeline berulang kali berdering. “Sebentar ya Ine angkat telponnya dulu, sepertinya penting.” Zeline lalu menjauh dari meja itu, dan Seth melihat dari ekor matanya. “Astagaaaa! Apa kalian tak bisa atasi dulu? Baiklah kalau begitu, seluruh Loan Officer besok datang ke kantor!” Perintahnya lalu menutup telponnya. Dia lalu berdecak kesal, dan terlihat mengacak rambutnya. Zeline mengetikkan sesuatu di handphonenya dan kemudian kembali lagi ke meja makan. “Maaf ya,” Ucapnya sambil tersenyum manis. “Tak masalah, lagipula kau itu kan wanita yang diperlukan, karena itu kau sangat sibuk.” Ibunya Seth berkata tanpa maksud apapun, tapi membuat Zeline seperti disindir. “Iya tante.” Dia lalu tersenyum. Zeline hanya senyam senyum saja dari tadi, dia bahkan belum bisa menyatakan tujuan sebenarnya dia datang ketempat ini. “Adam, kau tahu kan Zeline ini kerja dimana?” Papanya Seth kali ini membuka Awal yang bagus untuk Zeline memasukkan kalimat sakti itu. “Tahu.” Jawab Seth singkat. “Ah … mungkin Pak Seth bisa meletakkan sebagian dananya ditempatku.” Ucap Zeline sambil tertawa, dan menurut Seth itu sungguh tak lucu. Jelas sekali Zeline tak akan membuang waktu berharganya jika tak mendapatkan keuntungan dari ini. “Sudah dari awal kukatakan aku tak tertarik lagipula bank itu …” “Adam, kenapa kau ketus sekali, kenapa kau tak membantunya, bukankah nanti kedepannya kalian akan …” “Akan apa?” Seth bertanya dengan nada dingin, dan Zeline hanya diam. “Akan bisa lebih dekat lagi.” Lanjut papanya. “Apa?!” Sahut mereka bersamaan. “Maaf,” Zeline berkata langsung setelah setengah berteriak, beda dengan Seth yang hanya diam saja. “Tak perlu buru-buru.” Kali ini Papa Zeline yang berkata membuat mata Zeline sedikit membesar. “Pa …” Ucapnya pada Papanya. “Sudah … sudah … untuk sekarang ini kau coba bantu dulu Zeline ini.” Ucap Ibunya Seth. “Tapi Bu …” “Kau coba saja dulu, dikit-dikit saja dulu, bisa sepuluh atau dua puluh milyar dulu saja.” Ucap Papanya menambahkan. “Itu besar Pa!” Seth membantah. “Ya kalau begitu coba lima belas milyar saja dulu. Lagipula teknologinya juga bagus kok.” Ucap Papanya memanasi. Mungkin saat ini Zeline mendapatkan bantuan dari dewi fortuna sehingga membuatnya sangat beruntung. “Pak Seth aku tahu kau tak menginginkan bunga besar, aku akan bukakan giro saja untukmu bagaimana?” Zeline mengeluarkan jurus-jurus jitunya, lebih murah lebih bagus! Karena Deposito itu adalah dana mahal. Dia harus meningkatkan CASA* agar bisa menekan pengeluaran beban bunga yang akan dibayarkan. “Baik sepuluh Milyar! Bawa Form pembukaanya padaku.” Seth akhirnya menyerah karena bujukan papa dan juga Ibunya. Zeline menjerit dalam hati! Lumayan dapat giro sepuluh Milyar di akhir bulan! Mereka ngobrol dengan banyak hal dan Seth mendengarkan dengan bosan dan juga sama halnya seperti Zeline dia bosan mendengar guyonan dari para orang tua ini, kebetulan sekali telponnya berbunyi. “Permisi dulu ya.” Zeline menjauh dari tempat itu dan segera mengangkat telponnya. “Kenapa lagi? Siapa besok yang tak bisa datang? Tak masalah besok tak datang, asal angsuran seluruh debitur kelolaannya aman!” Dia berkata dengan suara dingin. Lalu tak lama dimatikannya telpon itu. Saat berbalik dia terkejut melihat Seth sudah ada di belakangnya. “Puas?!” Ucapan pedas keluar dari mulut Seth ini membuat Zeline tak bisa berpikir banyak, karena sangat jelas sekali laki-laki ini mengajaknya bertengkar. Dia berusaha menenangkan dirinya untuk tidak kesal. “Maaf, tapi Anda sudah berjanji.”Ucap Zeline penuh kemenangan. “Aku akan memasukkan uangku kesana hari senin, karena kau sangat membutuhkannya untuk laporan kinerjamu diakhir bulan, kan?” Ucapnya setengah mengejek. Zeline hanya tersenyum menanggapinya, dengan berkata 'sabar' dalam hati. “Mungkin Anda terlalu berlebihan.” Ucap Zeline terdengar ramah. “Kalau begitu aku akan memindahkan dua puluh Milyar dengan catatan kau sendiri datang ke kantorku dengan memakai pakaian yang sopan. Tidak seperti ini.” Tunjuknya pada Zeline. Zeline sebenarnya tak terlalu seksi saat ini, dia memakai dress berlengan diatas lutut sedikit, menurutnya hanya ini pakaian yang pantas untuk pergi kesini, karena tak terlihat terlalu formal dan juga cukup sopan. “Baik! Akan aku lakukan.” Ucapnya penuh senyum kemenangan, tak peduli syaratnya dia harus mendapatkannya! *** CATATAN: *CASA = Current Account Saving Account (Akun Giro dan akun tabungan) ini adalah dana murah yang dimiliki oleh bank, karena mereka hanya memberikan bunga kecil untuk nasabahnya, tidak seperti deposito yang mengharuskan bank membayar bunga besar kepada nasabahnya, ini bisa membuat beban pembayaran bunga lebih kecil, atau dengan kata lain kewajiban bank kepada nasabah bisa ditekan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD