Senyuman Iblis

2406 Words
"Papa, Mama kenapa kalian bisa sama orang itu?" Tanya Ine - panggilan Zeline saat dirumah, pada Orang tuanya sesaat setelah masuk kedalam. "Loh memangnya tak boleh?" Ayahnya langsung duduk di ruang tengah. "Bukan gitu, maksudnya Ine itu, kalian bisa kenal dimana?" Penasaran sekali dia saat ini. "Ah, dimana kamar kami? Ceritanya besok saja, karena Papa dan Mama mau istirahat dulu." Ibunya mengalihkan pembicaraan. "Sini, sudah aku siapkan kamar untuk kalian berdua. Apa Papa dan Mama sudah makan?" Tanyanya "Udah, kami cuma mau beres-beres dulu." Jawab Ibunya sambil tersenyum. Senyumanan manis Zeline ini akhirnya terlihat seperti iblis betina, tau ungkapan 'Pucuk dicinta, ulampun tiba' Ini adalah hal yang langka! Dia harusnya kali ini bisa dekat dengan manusia yang bernama Seth Adelard Adam. Laki-laki sombong yang tak perlu bank! "Kita lihat saja sampai dimana kemampuan menghindarmu itu." Zeline berkata pelan dengan penuh arti. *** Pagi sekali, Zeline sudah bersiap untuk pergi kekantornya, karena saat ini sudah mendekati ujung bulan dan juga bulan laporan triwulan pertama, dia akan jelas sangat sibuk sekali agar rapor kinerjanya terlihat sangat baik. "Kau tak sarapan dulu Nak?" Tanya Ibunya. "Gak Usah Ma, nanti Zeline beli sambil jalan saja, lagian driver udah nunggu didepan." Ucapnya terlihat buru-buru. "Baiklah, kamu jangan pulang malam-malam banget ya, Nak.” Pesan mamanya. “Kalo itu gak janji Ma, karena ini akhir bulan dan juga bulan laporan aku pasti bakalan sibuk banget. Mama sama Papa kalau ada apa-apa ngomong aja, nanti kalo mau jalan biar Zeline bilang sama Drivernya Zeline buat anter papa sama mama.” Ucapnya. “Ah gak usah, mama Gak mau ngerepotin orang lain, kamu pergi saja ya, hati-hati dijalan dan jangan galak-galak sama orang ya.” Pesan Ibunya lagi. “Siap Laksanakan! Ma bilang sama Papa, Zeline pergi dulu ya dah Mama.” Dia lalu mencium pipi kanan dan kiri Ibunya. “Bu, Berkasnya ini dibawa juga ya?” Tanya Pak Ariz -drivernya Zeline. “Oh iya pak sekalian yang diatas meja kamar atas juga ya, terimakasih.” Zeline memerintahkan tanpa melihat lawan bicaranya, karena saat ini matanya tertuju pada layar tabletnya yang menunjukkan angka-angka kinerja, dan membuat otaknya berpikir dengan cepat apa yang harus dia lakukan. Zeline lalu segera naik ke mobil dan Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat anak gadisnya yang sangat terlihat sibuk ini. *** Sepanjang perjalanan kepalanya sedikit terasa pusing karena siksaan angka yang ada disana, sambil beberapa kali dia menghitung dan hasilnya tetap membuatnya berdecak kesal. Untuk pertama kalinya Pak Ariz melihat bosnya ini seperti sangat frustasi dalam enam bulan terakhir. “Pak nanti beli sarapan ditempat biasa ya.” Ucap Zeline tanpa melepas pandangannya dari coretan tangan yang dia buat. “Pesen tiga ya Pak, Pak Ariz belum makan juga kan?” “Iya Bu.” Jelas sekali Drivernya ini sangat senang, karena setiap Zeline beli makan dia pasti kecipratan dapat juga, salah satu faktor yang mereka senang dengan bos ini, karena bosnya ini tak pernah pelit. Dia memesan tiga, jelas satu lagi untuk office boy dikantornya, Pak Pijo, karena biasanya Pak Pijo sangat tahu kebiasaan Zeline yang harus minum air hangat dipagi hari dan juga teh cap botol yang sangat dia suka harus ada sesaat setelah dia sampai dikantor. Dia tak menyadari karena kesibukannya ini membuatnya tak terasa bahwa Pak Ariz sudah selesai membelikan makanannya. “Bu, ini ada minuman dari istri saya katanya titip buat Ibu.” Ucapnya pada Zeline yang terlihat sangat konsentrasi kali ini. “Ah, Iya pak?” Dia lalu mencium bau makanan, “Ya ampunnnnn!!!” teriak Zeline sambil menepuk jidatnya. “Kenapa Bu?” Pak Ariz terlihat kebingungan dengan apa yang barusan dikatakan oleh Zeline. “Ini lupa kasih duitnya.” Dia lalu merogoh kantong blazernya mengeluarkan uang seratus ribuan dan memberikannya pada Pak Ariz. “Ya ampun Bu, cuma ini, kirain Ibu kenapa. Gak apa-apa Bu, karena Ibu pasti akan selalu ingat.” Ucapnya sambil senyum-senyum lalu mengambil kembaliannya. “Ini kembaliannya Bu.” Ucap Ariz. “Iya Pak.” Zeline lalu mengambil kembaliannya. Kebetulan sekali, tadi juga Pak Ariz mengeluarkan uang seratus ribu untuk membelinya artinya dia tak repot mencari kembalian untuk diserahkan pada Zeline. “Pak Ariz bilang tadi istri bapak membuatkan saya Air jahe?” Zeline bertanya kembali pada Pak Ariz. “Iya Bu, katanya buat Ibu, buat menjaga stamina tubuh.” Ucapnya. “Ah ... bilangin sama istrinya Pak Ariz, terima kasih ya.” Zeline berkata dengan ramah. Zeline yang merasa pusing karena daritadi hanya melihat layar tabletnya lalu saat ini melihat keluar jendela. Jalanan masih sepi, langit belum terlalu terang, tapi tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal sekali. Laki-laki menyebalkan yang selalu mengritiknya jika dia mulai sibuk menawarkan produk-produknya, Seth! Laki-laki yang semalam juga mengantarkan Mama dan papanya kerumah, kalau diingat lagi Ibunya juga belum bercerita tentang kejadian semalam. Dia sedikit penasaran, tapi sayangnya angka-angka kinerjanya membuat rasa penasaran itu tidak terlalu menggebu. Seth terlihat sedang membagikan kantong plastik kepada beberapa orang penyapu jalan, dengan cepat dia mengambil handphone lalu memotretnya. ‘Apa yang dia lakukan? Sedekah?’ gumamnya pelan. “Kenapa Bu?” Pak Ariz bertanya karena gumaman itu didengar tak jelas oleh drivernya itu. “Pak bisa putar balik dulu?” Zeline berkata sudah seperti perintah, tanpa banyak tanya Pak Ariz mengiyakannya. “Baik Bu.” Untungnya jalanan masih sangat sepi jadi mereka bisa dengan cepat memutar kendaraan ini. “Jalannya pelan saja Pak.” Ucapnya. Pak Ariz mengikuti instruksi dari bosnya ini. Benar saja, itu adalah Seth! Dia sedang membagikan kantong plastik yang kemungkinan isinya adalah bahan makanan, dia pasti sedang sedekah, batin Zeline. Tapi, lihat saja saat ini dia sedang tertawa, wajahnya sangat berbeda dari biasanya. “Pak pinggirin mobilnya.” Perintah Zeline lagi, dia tak banyak tanya, karena kalau dia banyak tanya jelas Zeline tak akan menyukainya. Yah, dia Seth Adelard Adam, laki-laki yang selalu memasang tampang dingin dan kaku saat bertemunya, sekarang sedang tersenyum dan tertawa penuh suka cita dengan orang yang … ‘Wanita?’batin Zeline. ‘Siapa wanita itu?’ Kali ini dia bertanya dalam hati karena takut nantinya Pak Ariz akan menjawabnya lagi, rasa penasarannya sangat tinggi saat ini. Wanita dengan pakaian lebar dan juga penutup kepala yang sangat lebar, bagi Zeline tampilan wanita itu sudah seperti memakai seprei dililitkan kebadan, besar sekali, tapi Seth saat melihatnya penuh dengan tatapan kekaguman, berbeda saat Seth sedang bersama dirinya, dia merasa saat itu Seth sangat jijik melihatnya dan juga Seth selalu memasang wajah kaku dan sangat sinis padanya. Berbeda dengan saat ini, sama halnya dengan raut wajahnya yang penuh kehangatan saat mengantar papa dan mamanya kerumahnya semalam, wajah Seth benar-benar bebeda, tapi saat dia melihat Zeline yang membuka pintu wajahnya kembali ditekuk masam, dan saat berpamitan pada Papa dan Mamanya laki-laki ini bisa tersenyum bagaikan seorang laki-laki baik hati. Zeline sangat kesal melihatnya, dia rasanya seperti dikalahkan orang lain saat ini, dia lalu menghela nafas panjang, kesal kalau harus melihat wajah itu. “Jalan kekantor pak.” Perintahnya. “Baik Bu.” Lalu Drivernya menjelankan kendaraannya kekantor. Untuk menghilangkan kekesalannya dia menelpon Nazifah, menanyakan rencana Dana masuk untuk bulan ini. “Bagaimana?” Tanyanya langsung. “Bu Bos, aku sedang memastikannya lagi, kita kalah nol koma lima belas dari bank lain.” Ucapnya. “Nol koma lima belas? Kalau memang dia mau rate sama seperti bank lain apa dia bersedia memindahkan dananya?” Tanyanya. “Aku akan pastikan lagi sebelum pukul sepuluh, jadi aku hari ini datang terlambat ya.” Izinnya. “Oke! Pastikan saja lagi.” Ucapnya Telpon dimatikan, lagi-lagi kali ini membuatnya dengan sukses kembali memikirkan laki-laki bernama Seth itu! Sesampainya di kantor yang masih terlihat sangat sepi ini, Zeline disambut oleh Satpam yang menundukkan kepalanya memberikan rasa hormat. “Tolong Bawakan berkas dimobil keruangan ya Pak Anton.” Ucapnya pada Satpam yang bernama Anton. Zeline ini memang terkenal paling ramah, dan dia mengenali semua pekerja yang ada dibawahnya. “Baik Bu.” Ucapnya dengan terseyum. Sampai diruangannya, Zeline terlihat sangat kesal, ya kesal dengan angka yang dan juga kesal dengan pikirannya sendiri yang tiba-tiba teringat dengan Seth! “Tolong letak di meja ujung itu saja ya Pak.” Ucapnya pada Pak Anton. “Baik Bu.” Setelah satpam ini keluar, Dia kembali melihat laporannya dan kemudian mencoret-coret sesuatu dikertas itu dan jelas saja kertas itu penuh dengan angka-angka. Pak Pijo membawakan sarapan yang dia beli lalu membawakan teh untuknya. “Ini Sarapan dan Minumannya Saya letak disini ya Bu.” Ucapnya pada Zeline sambil meletakkan nampan sarapan itu disudut belakang, berdekatan dengan berkas-berkasnya. “Iya Pak, terima kasih.” Ucapnya dan lagi-lagi tanpa melihat lawan bicaranya. Hari ini saja sudah beberapa karyawan yang melihatnya sedikit aneh, karena tiap pagi biasanya Zeline jelas akan selalu bersemangat, karena dia sendiri yang mengatakan aura positif harus disebarkan sejak pagi, tapi kali ini sedikit berbeda. Mita, sekretarisnya yang baru saja datang melihat kedalam dengan mengerenyitkan keningnya. Tumben sekali pagi ini bosnya terlihat sangat banyak pikiran. “Pagi Bu.” Sapanya. “Oh Iya pagi.” Jawab Zeline singkat. “Sarapannya belum dimakan Bu?” Tanya Mita lagi. “Iya lupa, coba tolong bawakan kemari, terus kau cek berkas-berkas itu, apa ada yang kurang atau tidak, kalau semuanya sudah kutandatangani berikan pada yang punya biar mereka bisa cepat memrosesnya.” Perintahnya. “Baik Bu.” Mita lalu membawa tumpukan berkas itu keluar, setelah memberikan nampan sarapan itu kepada Zeline. Zeline memakannya tanpa melepas pandangannya dari layar tabletnya, dan terlihat dia sepertinya bicara sendiri. Mita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Untuk pertama kalinya pagi ini Zeline sangat terlihat berbeda. Belum juga jam sepuluh pagi, Malika atau Ika yang juga sebenarnya adalah sahabatnya masuk kedalam ruangannya. “Bu Bos, ada berita urgent!” dia mengawali laporannya, perasaan Zeline sangat tak enak saat ini. “Kenapa? Sepertinya hal tidak aman akan terjadi.” Ucapnya. “Ya! Kredit Menengah kita sepertinya akan turun ke DPK*” Ucapnya dengan ragu. “Apa?!”Zeline lalu memegang kepalanya yang terasa saat ini makin sakit. “Apa tidak ada cara lain?” “Kami akan berusaha terus untuk menagihkannya, semoga saja di akhir bulan ada keajaiban, karena debitur ini memang sudah lama sekali kita tahan agar tidak turun kualitas kreditnya.” “Baiklah kalau begitu usahakan terus untuk ditagihkan, masih ada waktu sampai senin.” Ucap Zeline. “Baik, kalau begitu, permisi dulu. Ini laporaannya.” Ika meninggalkan kertas laporannya diatas meja Zeline, dan saat ini Zeline lalu memijat kepalanya yang terasa sakit saat ini. Dia melihat laporan itu dan angkanya jelas menunjukkan puluhan Milyar, mungkin sekitar lima puluh Milyar, kualitas kredit akan jatuh ke kualitas dua. Dia kembali memikirkan cara bagaimana untuk tidak sampai kesana. Ifah menelponnya lagi, kali ini dia berharap ada berita gembira dari wanita ini. “Bagaimana?” “Dia bersedia memindahkan dananya asal ratenya sama, gimana keputusannya bos?” Ifa bertanya penuh harap. “Baiklah katakan padanya rate on bilyet** tetap maksimal dan sisanya kita bayar bawah tangan saja.” “Baiklah, kalau begitu aku akan sampaikan padanya, sepertinya dia juga setuju yang penting bunga sama.” “Ya Kutunggu kabar baik darimu lagi, pastikan dia mau.” Zeline lalu kembali melihat angka-angka yang membuat mual itu lagi, berselang sepuluh menit Ifah kembali menelpon, “Dia setuju untuk dibayarkan bawah tangan sisanya, tapi …” “Ada apalagi?” Zeline sepertinya merasa dia berada dikeadaan sangat genting saat ini. “ Deposito Pak Naza dan keluarganya akan dipindahkan ke bank lain.” lapornya. “Apaaaaa?! Astagaaaa …. berapa totalnya? Apa tak bisa dipertahankan?” Tanyanya. “Tak bisa, karena keponakannya kerja di bank itu.” Ucapnya “Sial! Desisnya. Berapa totalnya?” “Sekitar dua puluh tujuh milyar.” “Yang masuk?” “Pak Haryo akan RTGS*** sebentar lagi, yang masuk tiga puluh milyar.” “Masih ada lebih dua milyar, tapi masalahnya tetap saja target masih kurang.” Ucap Zeline terdengar sedikit putus asa. “Maaf, coba nanti aku akan cari nasabah lain lagi yang bisa di prospek, semoga kita menemukan keajaiban.”Ifah berkata penuh harapan. “Semoga saja, tetap semangat ya!” Zeline memberikan semangat padanya, dan mematikan telponnya, dia kembali berpikir kemana akan mencari dana besar dalam jangka waktu yang singkat dan juga dia masih berdoa semoga saja ada keajaiban dan kelancaran usaha debiturnya agar bisa lancar membayar kewajibannya kepada bank tempatnya bekerja. Seth! Yah Seth! Dia satu-satunya orang yang terpikir olehnya untuk menempatkan dananya, bukankah orang tuanya kenal dengan laki-laki ini. Dengan cepat dia menelpon Mamanya. “Mama, Zeline mau tanya.” “Ya tanya saja kenapa sayang?” Jawab Mamanya penuh dengan kelembutan. “Seth, apa Mama bisa kenalkan laki-laki itu?” Tanyanya “Seth? Maksudmu Nak Adam?” Ulang mamanya. “Ah iya itu dia.” Ucap Zeline bersemangat. “Dia itu anak dari yang kau bilang om ganteng, om yang dulu sering datang kerumah kita loh.” “Terserah dia anak siapa, tapi apa Mama bisa memertemukan kami?” Tanyanya lagi. “Jelas kalian akan dipertemukan, kan kalian akan diperkenalkan siapa tahu jodoh.” Ucap Mamanya. “Apa?!!!” Zeline yang terkejut ini langsung berdiri dari kursinya. “Ya, kami akan memerkenalkan kalian siapa tahu kalian itu cocok dan bisa …” “Terserah mau apapun alasannya, tapi yang jelas, Mama bisa mempertemukan kami dalam waktu paling lama dua hari ini kan?” Zeline bertanya berapi-api. “Harusnya kita makan malam bersama malam ini.” “Baik, aku akan datang!” Zeline langsung memotong dan bersemangat menjawab, kemudian mematikan sambungan telpon mereka, membuat Ibunya merasa terheran-heran dengan kelakuan anaknya. 'Semoga saja keajaiban akan datang bersamaku.' Gumamnya, lalu sekarang senyum iblis betina dia tunjukkan. *** *DPK= Dalam Perhatian Khusus, Didalam kredit debitur dibagi menjadi lima kategori, 1. Kolektabilitas 1=Lancar, 2. Kolektabilitas 2= DPK (Dalam Perhatian Khusus) Debitur tak membayar kewajibannya selama 1 sampai dengan sembilan puluh hari, 3. Kolektabilitas 3=KL(Kurang lancar) debitur tak membayar kewajibannya 91 sampai dengan 120 hari, 4. Kolektabilitas 4=Diragukan, Debitur tak membayar kewajibannya 121 sampai dengan 180 hari, 5. Kolektabilitas 5= Macet, Debitur tak membayar kewajibannya lebih dari 180 hari atau lebih kurang selama enam bulan. Kolektabilitas inilah yang nantinya akan menjadi acuan Bank layak atau tidaknya calon debitur diberikan pinjaman. Laporan ini tersentral dengan database di OJK, sehingga rekaman ini tak akan hilang dari sana. Jika nama Debitur sudah ada di Kualitas 3,4 dan 5 kemungkinkan untuk diberikan pinjaman oleh bank ataupun jasa keungan lainnya akan sangat tak memungkinkan. **On Bilyet: Rate yang tertera di Bilyet deposito nasabah. *** RTGS = Real Transfer Gross Settlement, transfer antar bank dalam minimal jumlah tertetu (dalam hal ini trf ke bank lain dengan nominal besar)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD