Bab 2. Menuntaskan Dendam

921 Words
“Semuanya sudah saya bersihkan, Nyonya.” Eleana mengibaskan tangannya pada Ina–sang Art sesuai mengobati luka di leher dan bibirnya. Setelah perlakuan kasar yang membuat mental Eleana trauma selama dua malam, Bryan akhirnya meminta Ina mengobati serta membersihkan tubuhnya. Rasa sakit yang dirasakan Eleana di sekujur tubuhnya, tak sebanding dengan rasa nyeri di hatinya. Lelaki yang ia anggap dunianya, ternyata mendekatinya hanya untuk membalas dendam. Parahnya, ia dilanda rasa takut akan kebenaran fakta kalau papa yang ia cintai adalah seorang penjahat. Kini hidup Eleana hancur tak bersisa. Ia terombang-ambing, tak memiliki pegangan lagi. “Kata Tuan Bryan, Nyonya harus makan. Saya sudah meletakkan makanan Nyonya di atas meja. Saya mohon turuti semua perintah Tuan supaya Nyonya tidak disiksa lagi olehnya.” ART itu tampak sangat mencemaskan Eleana. Bagaimana tidak, dia melihat tubuh sang nyonya yang babak belur tak bersisa. “Pergilah, Mbak. Aku memang berharap mati saja.” Wajah Ina seketika pias. “Jangan lakukan apa pun yang akan membuat Tuan marah, Nyonya. Tuan bisa melakukan apa pun yang mengerikan.” Eleana mendengkus. Tanpa ART itu berkata apa pun, ia sudah tahu dan mengalami penyiksaan dari iblis berwujud manusia itu. Karena itu ia ingin segera mengakhiri semuanya. “Pergilah, Mbak. Aku mau istirahat.” Eleana kembali mengusir pembantunya keluar dari kamar. Ina menunduk hormat lalu meninggalkan kamar, meninggalkan Eleana yang sudah tampil cantik dengan gaun rumahan berwarna merah hati. Tepat ketika sang ART pergi, Eleana segera mengunci pintu lalu ia menatap cermin rias di kamarnya dengan hati pilu. Wajah cantik yang ia jaga selama ini serta tubuh indah yang ia ingin persembahkan pada suaminya tercinta kini penuh dengan luka. Hatinya bak diremas-remas. Semua impian dan harapan yang ia pupuk saat mulai berpacaran dengan Bryan pupus, berganti penyesalan. “Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa Papa tega menodai mamanya Bryan? Kenapa aku yang harus menanggung semua dosa ini?” jerit Eleana histeris. Ia menangis tersedu-sedu meratapi takdir buruk yang ia hadapi. Tangannya sontak memukul dadanya yang terasa sesak. Sampai akhirnya, perasaan kalut tak bisa terbendung lagi. Eleana kehilangan kewarasannya. Ia putus asa dan tak mau melanjutkan hidupnya lagi. Saat sebuah gelas berisi jus jeruk menyapa penglihatannya, Eleana bertekad akan mengakhiri semuanya. Ia pecahkan gelas itu lalu bersiap menggores pergelangan tangannya. Namun, belum sampai pecahan gelas itu menoreh luka di urat nadinya, tiba-tiba suara pintu didobrak terdengar di telinga. Tanpa sempat mencerna apa pun, Bryan telah memegangi tangannya lalu melempar pecahan gelas yang Eleana pegang sambil mendesis geram. “Jangan berani-berani mengakhiri nyawamu di rumahku!” “Biarkan aku mati. Aku tak mau hidup lagi,” pekik Eleana histeris. Tangannya yang mungil berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya. Namun, semua usahanya sia-sia. Tenaga Bryan terlalu kuat, tak bisa ia lawan. Bryan yang berencana melepas sang istri dan mengurungnya di rumah dengan pengawasan ketat, seketika mengubah niatnya. Ternyata Eleana tak dapat dipercaya. Bisa-bisanya sang istri berniat mengakhiri nyawanya, padahal ia belum puas membalas dendam. “Aku tak akan membiarkan kamu mati sebelum aku puas menuntaskan dendamku.” Bryan menyeret tubuh sang istri dengan kasar lalu melempar tubuh mungilnya ke tempat tidur. Pria blasteran Jerman itu kembali melayangkan pukulan pada Eleana. Suara jeritan pilu sang istri menambah rasa puas di hatinya. Ia membatin lega, menyebut nama sang mama yang telah tiada, meneriakkan kalau ia berhasil membuat keturunan Indra Hendrawan jauh lebih tersiksa. “Bunuh saja aku, Bryan! Kumohon habisi saja nyawaku. Aku tak sanggup lagi. Aku tak sanggup lagi hidup di dunia ini,” rintih Eleana sambil memejamkan mata saat sang suami dengan kejam memukulinya. Rintihan dan jeritannya minta dilepaskan sama sekali tak digubris oleh sang suami. Alih-alih iba, Bryan malah menyeringai lebar lalu memegangi wajah sang istri memintanya menyaksikan perbuatan kejinya. “Buka matamu, Sialan! Seperti inilah yang dilakukan papamu. Kamu harus merasakan penderitaan yang lebih dari yang mamaku rasakan. Akan kubuat kamu mati segan hidup tak mau.” Eleana menggeleng, tak mau membuka matanya. Ia tak sanggup melihat kondisi tubuhnya yang tiada berharga yang menjadi pelampiasan dendam dari suaminya. “Akhiri saja nyawaku sehingga kamu terlepas dari dendam, Bryan,” rintih Eleana putus asa. Bryan naik darah karena sang istri tak mau menuruti kehendaknya. Dengan kasar, ia menjambak rambut Eleana hingga mata sang istri terbuka lebar diiringi teriakan kesakitan. “Jangan siksa aku lagi, Bryan. Tolong habisi saja aku!” isak Eleana tak kuat lagi. Bryan tak memedulikan rintihan sang istri. Ia menuntaskan dendamnya, kemudian melontarkan kata-kata keji. “Aku tak akan mencabut nyawamu sebelum aku puas menyiksamu. Dendamku pada papamu sudah kupendam selama bertahun-tahun. Tak ada pembalasan telak yang lebih baik selain menyiksa anak dari musuh bebuyutannya sendiri. Lebih baik kamu diam dan nikmati penderitaan ini.” Suara tangis Eleana terdengar memilukan. Harga dirinya tercabik-cabik karena diperlakukan seperti binatang. Mengakhiri nyawa pun ia tak bisa lakukan. Apakah ia sanggup bertahan menerima siksaan ini? “Kenapa kamu begitu jahat padaku, Bryan? Aku tak tahu apa-apa soal dendammu pada papaku. Kenapa aku yang harus membayar semuanya?” teriak Eleana. Ia tak terima diperlakukan tak manusiawi seperti ini. Lagi, rambut Eleana dijambak oleh Bryan. “Salahkan papamu kenapa tega berbuat keji pada mamaku. Aku hanya membalaskan dendam mamaku agar semuanya setimpal. Lebih baik tutup mulutmu dan jangan melawan lagi. Aku akan membebaskanmu agar bisa berkeliaran di rumah yang full CCTV ini asal kamu berhenti berniat mengakhiri hidupmu.” Bryan mendorong kepala Eleana dengan kasar tanpa sedikit pun rasa iba. Dengan geram, pria berambut coklat itu menatap sang istri dan kembali memberi ultimatum tajam. “Jika kamu berniat nekat mencelakai dirimu lagi, maka aku akan melakukan penyiksaan dua kali lipat dari ini. Camkan itu, Sialan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD