“Silakan dimakan, Nyonya!”
Tak Eleana indahkan lagi apa yang diucapkan oleh Ina saat datang membawakannya makanan. Hatinya terasa remuk, seremuk tubuhnya yang penuh lebam karena mendapatkan kekerasan dari sang suami setiap hari. Rasanya tak mampu lagi bernapas, tetapi tetap dipaksa hidup.
“Letakkan saja di sana, Mbak. Aku belum lapar.”
Ina memohon pada Eleana agar segera menyantap makanan yang ia bawa. “Saya mohon makanlah, Nyonya. Kita diawasi oleh Tuan. Jika Anda tidak makan, bukan hanya Anda yang akan disiksa oleh Tuan, tapi saya juga tak akan luput dari hukuman asisten Tuan Bryan. Tolong, permudah tugas saya, Nyonya!”
Wanita cantik berhidung mancung itu membelalak, tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Bryan juga menghukum kamu?”
ART yang sepertinya lebih tua dari Eleana itu mengangguk lalu menunjukkan pipi serta kakinya yang lebam.
“Ini, Nyonya. Ini hukuman yang saya dapatkan karena tak mengawasi Anda dua hari lalu saat Anda mencoba bunuh diri.”
Hati Eleana mencelos saat mendengar penuturan Ina. Ia tak menyangka suami laknatnya tega menghukum orang yang tak bersalah. Ya, dua hari lalu ia berusaha untuk mengakhiri hidupnya, tetapi yang ia dapatkan malah siksaan yang lebih perih. Dalam dua hari itu ia diperlakukan bak binatang yang disiksa secara keji.
Pada akhirnya, ia menyerah dan meminta pada suaminya untuk melepaskannya. Dan, di sinilah ia berada. Ia dibebaskan keluar kamar dan dibiarkan berkeliaran di rumah besar sang suami dengan pengawalan ketat. Di setiap sudut rumah terpasang CCTV yang terhubung langsung dengan ponsel Bryan sementara di luar sana, para pengawal disiagakan untuk menjaga agar ia tidak bisa kabur.
“Aku akan makan. Maafkan aku karena ikut membuatmu tersiksa.”
Ina menitikkan air mata lalu menatapku dengan raut prihatin. “Tak perlu meminta maaf Nyonya. Justru saya yang harusnya minta maaf karena tak bisa melakukan apa pun untuk membantu Nyonya.”
Eleana yang tadinya sudah sedikit tegar menerima nasibnya, tak bisa membendung air matanya. Ia tak mau terus disiksa, tetapi tak tahu bagaimana harus melepaskan diri dari suaminya yang jahat.
“Nyonya, jangan menangis! Nyonya pasti kuat. Nyonya pasti bisa kabur dari sini.”
Eleana menggeleng pelan, memberi kode agar Ina tak asal bicara. Wanita cantik itu takut, Ina akan kembali mendapatkan hukuman.
“Jangan bicara lagi, Mbak. Aku takut Mbak mendapatkan hukuman lagi. Bukankah semua sudut dipasang CCTV?” ucap wanita cantik itu sambil melirik ke setiap sudut rumah yang dipasang kamera pengintai untuk mengawasinya.
Ina menyeka air matanya lalu menjelaskan situasi di rumah majikannya itu. “Tenang saja, Nyonya. Semua CCTV di rumah ini tidak dilengkapi speaker. Jadi, Tuan tak akan mendengar apa yang kita bicarakan.”
Eleana mengangguk mengerti, meskipun ia heran kenapa suaminya tidak memasang CCTV dengan speaker di penjuru rumahnya. Mungkin Bryan menilai tak perlu seekstrem itu mengawasinya sehingga pria itu hanya memasang CCTV tanpa suara.
Terserahlah, pikir Eleana. Yang penting, ia harus menuruti kata-kata sang suami agar tidak mendapatkan hukuman lebih berat. Setidaknya untuk sementara ia harus bertahan sebelum mencari cara untuk kabur dari neraka.
“Terima kasih, Mbak. Aku akan makan sekarang. Aku tak akan membiarkan Mbak mendapatkan hukuman karenaku lagi.”
Wanita berparas cantik itu mulai menyantap makanannya sampai tandas lalu meminta ART-nya itu meninggalkannya. Di otaknya, terputar skenario agar bisa pergi diam-diam dari rumah suaminya. Semua harus direncanakan dengan baik agar ia bisa kabur tanpa jejak dari sang suami.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4.00 sore. Sebentar lagi Bryan akan pulang dan akan kembali memukulinya. Hati Eleana mulai merasa nyeri. Sungguh berat rasanya menjalani siksaan dari suaminya.
“Kamu kuat El. Kamu pasti bisa mencari kesempatan agar bisa pergi dari sini.”
Eleana menguatkan dirinya, berusaha keras menyugesti hatinya agar bisa bertahan selama beberapa waktu sampai ia bisa pergi sejauh-jauhnya dari hidup Bryan.
Suara mobil mulai terdengar masuk pekarangan. Hati Eleana mulai gelisah. Sebentar lagi rasa sakit dan terhina akan kembali ia rasakan.
“Nah, gitu dong. Aku senang kamu tak membuat onar hari ini.”
Suara lantang Bryan mengudara di kamar besar itu, membuat Eleana mulai gemetar. Ia sama sekali tak berani menoleh. Tangannya meremas ujung gaunnya, merasa takut pada suaminya.
“Kenapa kamu tak mau menatapku, Sialan!” Bryan mendekati Eleana lalu membawanya menghadapnya. Sorot kemarahan terpancar sangat jelas dan itu membuat wanita bertubuh ramping itu ketakutan.
“Jangan kurang ajar jadi istri. Suami sedang bicara, bisa-bisanya kamu membelakanginya,” desis Bryan meledak-ledak.
Eleana tak mampu berkata sepatah kata pun karena apa pun yang ia ucapkan akan jadi bumerang untuknya sendiri. Sang suami pasti akan menyiksanya apa pun yang terjadi.
“Kamu bisu? Kenapa tak menanggapi ucapanku?” bentak Bryan lalu menjambak rambut Eleana hingga wanita cantik itu mengaduh kesakitan.
“Sakit, Bryan. Lepaskan tanganmu dari rambutku. Aku tak tahu harus berkata apa, bukan tak mau menanggapimu,” pekik Eleana mulai meraung pilu.
Kedua tangannya memegangi pergelangan tangan sang suami, berusaha keras melepaskannya dari rambutnya. Saking kerasnya Bryan menjambaknya, kepalanya mulai terasa nyeri.
“Ini yang aku mau. Aku ingin melihatmu meraung kesakitan karena dengan begitu, aku bisa menunjukkan pada Mama yang pasti sedang melihatku dari surga kalau aku telah berhasil membuat anak dari lelaki j*****m yang telah menyakitinya jauh lebih menderita.”
Bryan menyeringai puas lalu menarik rambut Eleana, kemudian menghempaskannya ke lantai lalu memukulinya tanpa ampun.
Eleana hanya bisa meraung menahan nyeri di sekujur tubuhnya. Dalam hati ia merintih.
“Cabut saja nyawaku ya, Tuhan! Aku tak sanggup lagi diperlakukan keji seperti ini lagi."