“Apa semuanya sudah siap?”
Bryan bertanya pada sekretarisnya tentang persiapan untuk menghancurkan Indra Hendrawan hingga meregang nyawa setibanya di pelataran parkir perusahaan sang mertua.
Laki-laki blasteran itu berharap papa mertuanya terkena serangan jantung lalu pelan-pelan meninggal meratapi perusahaannya yang bangkrut serta menangisi putrinya yang akan jadi b***k pemuas nafsu dan dendamnya seumur hidup.
“Semuanya sudah siap, Pak. Kita hanya perlu menunjukkan dokumen yang menyatakan bahwa Anda yang telah membeli perusahaan mertua Anda yang pailit lalu tinggal Anda tunjukkan video istri Anda padanya, kemudian kita usir dia dari perusahaan. Anda juga bisa menyampaikan padanya kalau rumah dan beberapa asetnya sudah disita karena tak mampu membayar hutang.”
Bryan menyeringai puas. Ia tak sabar ingin menyerang mertuanya lalu menunjukkan video saat sang mertua tumbang pada Eleana. Sungguh pembalasan dendam yang sempurna.
“Kalau begitu mari kita masuk, Dim. Aku tak sabar menyaksikan lelaki sialan itu bersujud di kakiku.”
Dimas mengangguk lalu membukakan pintu mobil, mempersilakan Bryan turun, kemudian dengan langkah mantap mereka menemui Indra Hendrawan.
“Bryan, syukurlah kamu datang. Papa benar-benar pernah khawatir. Perusahaan ini tidak bisa dipertahankan lagi. Para karyawan sudah di-PHK. Harapan Papa hanya kamu. Bisakah kamu membeli perusahaan ini dari Pak Ardi yang sudah membeli perusahaan ini dengan harga sangat murah? Papa sudah mendirikan perusahaan ini dengan keringat dan darah bersama mendiang mama mertua kamu.”
Bryan mulai tersenyum jahat lalu ia melirik pada sekretarisnya yang kemudian mengeluarkan sebuah map. Lalu dengan kejam, ia menyodorkan map tersebut pada papa mertuanya.
“Maksudnya ini?”
Kening Indra mengernyit. “Apa ini, Bryan?”
“Perusahaan ini sudah kubeli dari Pak Ardi,” sahut Bryan.
Wajah Indra berubah ceria. “Syukurlah kalau kamu membelinya.”
“Iya, tapi ini tidak akan menjadi milik Anda lagi.”
“Maksud kamu?” Indra sedikit heran. Kenapa menantunya bicara formal padanya?
“Perusahaan itu akan menjadi milikku dan tidak akan aku serahkan pada Anda lagi.”
Indra Hendrawan menggelengkan kepala sambil tersenyum, sepertinya mengira kalau menantunya sedang bercanda.
“Jangan bercanda di saat genting begini, Bryan. Papa bisa terkena penyakit jantung. Kalau Papa mati, bagaimana?”
“Memang itu yang aku inginkan,” seloroh Bryan santai.
“Apa!?” Indra tercengang mendengar ucapan sang menantu. Ia tak percaya kalau Bryan tega mengatakan hal jahat begitu.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Pak Indra Hendrawan. Apa Anda belum sadar siapa aku?”
“Kamu menantuku. Jelas aku tahu siapa kamu,” sahut Indra lantang.
Ia tahan kemarahan yang sudah membuncah di d**a karena saat ini ia sedang tidak berdaya. Perusahaannya sudah jadi milik menantunya. Karena itu ia harus bersabar menghadapi sikap aneh menantunya hari ini.
“Apa Anda tidak tahu siapa mamaku?” tanya Bryan mulai membuka jati dirinya.
“Kamu bilang kamu sebatang kara, tidak memiliki orang tua sejak kecil dan kamu dibesarkan di sebuah asrama dalam pengawasan pamanmu, yaitu adik dari papamu hingga berhasil mewarisi perusahaan ini ketika kamu cukup umur. Hanya sampai di sana saja yang Papa tahu,” jelas Indra.
Bryan tersenyum miring. Ya, laki-laki tua ini tidak akan tahu siapa dirinya karena ia mengganti nama perusahaan sang papa. Perusahaan itu, yang dulunya dibeli oleh papanya, masih menggunakan nama pemilik terdahulu. Setelah ia mengambil alih perusahaan ketika dewasa, ia menggantinya dengan nama belakang papanya. Tentu, laki-laki tua bangka ini tidak tahu siapa dirinya.
“Aku akan mengingatkan kamu tentang seorang anak kecil yang terpaksa kehilangan orang tuanya karena perbuatan jahat seorang laki-laki j*****m yang sudah menghancurkan keluarganya.”
“Kamu bicara apa, Bryan? Papa sedang pusing saat ini. Kalau perusahaan ini sudah kamu beli, Papa tidak akan takut lagi karena perusahaan sudah jatuh ke tangan yang tepat, yaitu kamu. Papa berharap Papa masih bisa menjadi CEO-nya agar tetap berjalan dengan baik dan memberikan keuntungan untuk kamu. Setidaknya, Papa tidak akan merasa sedih karena perusahaan itu tetap akan menjadi milik putri Papa, mengingat dia adalah istrimu.”
“Apa Anda pikir aku sedang main-main? Aku sedang membahas hal penting saat ini,” seru Bryan menaikkan nada suaranya.
“Papa nggak ngerti kamu ngomong apa.”
“Aku adalah anak Amelia Schweitzer, istri dari Edward Schweitzer, yaitu pemilik perusahaan besar yang sangat berjaya 25 tahun yang lalu.”
Wajah Indra seketika pias. Ia buru-buru mengonfirmasi menantunya. “Apa? Kamu putra Amelia?”
“Kenapa? Anda baru ingat apa saja yang Anda lakukan pada Mama saya?” cetus Bryan geram.
Indra menatap serius menantunya. “Apa yang kamu dengar tentang kami? Papa akan meluruskannya.”
“Tidak perlu!” desis Bryan emosi. “Aku sudah mengetahui kebusukan kejahatan Anda pada mamaku yang mengakibatkannya bunuh diri. Setelahnya, papaku meninggal karena serangan jantung setelah mengetahui apa yang terjadi pada mamaku.”
Indra menggeleng pelan. “Jangan katakan kalau kamu menuduh Papa melakukan hal buruk pada mamamu, ya.”
“Tidak usah berbohong dan berkilah! Aku sudah memiliki bukti-bukti. Itulah mengapa aku berusaha mendekati Anda, membuat putri Anda tergila-gila padaku lalu menikahinya dan puas menyiksa jiwa dan raganya.”
Indra spontan menarik kerah baju Bryan. “Jadi kamu hanya menjadikan putriku sebagai alat penuntas dendam tanpa menyelidiki yang sebenarnya terlebih dahulu?”
Bryan menepis tangan mertuanya dengan kasar lalu ia meluapkan semua kemarahan yang telah lama ia pendam. “Tidak perlu menyangkal lagi. Aku sudah mengetahui semuanya dengan pasti. Laki-laki tua bangka tidak tahu diri seperti kamu, harusnya membusuk di penjara. Namun, penjara terlalu mewah buat Anda. Sewajarnya Anda jadi gembel dan terhina seumur hidup Anda.”
Bryan lalu mengambil ponselnya, kemudian dengan kejam ia menunjukkan video penyiksaan terhadap Eleana dan itu sukses membuat Indra syok setengah mati.
“Apa yang kamu lakukan pada putriku? Kenapa kamu tega melakukan itu? Kenapa kamu ...?”
“Kenapa? Anda juga melakukan itu pada Mamaku?” cetus Bryan geram.
“Aku tidak pernah melakukan apa pun pada mamamu,” teriak Indra memegangi dadanya, tak sanggup lagi melihat video penderitaan putrinya.
“Aku sudah menemukan semua bukti, tapi Anda masih bisa menyangkal. Oke, tidak masalah. Perlu Anda tahu, aku tidak akan menyerahkan perusahaan ini pada Anda karena perusahaan ini sudah menjadi milikku. Rumah serta beberapa aset Anda sudah dilelang karena Anda tidak mampu membayar hutang. Sementara, putri Anda akan menjadi b***k nafsu dan dendamku seumur hidupnya. Bagaimana? Apa ini cukup setimpal dengan semua perlakuan kejam dan keji pada mamaku?”
Pria berusia 50 tahunan itu jatuh tersungkur ke lantai, masih memegang dadanya. Ia seketika sesak napas hebat. Benar-benar hancur perasaannya melihat putrinya dirudapaksa. Dirinya juga tak bisa terima ketika mengetahui rumah, aset, kendaraan serta perusahaannya telah menjadi milik Bryan yang tega melakukan perbuatan keji pada putrinya.
“Kenapa kamu tega menyakiti Eleana? Dia tidak bersalah,” lirih Indra tersengal-sengal. Ia merasakan nyeri hebat di dadanya.
Bryan tertawa jahat. “Ya, dia memang tidak bersalah, tapi dia akan menanggung semua akibat dari perbuatan b***t yang telah dilakukan oleh Anda, Pak Indra Hendrawan. Nikmatilah semua karma yang sudah kamu tanam sendiri. Aku tidak akan membiarkan Anda membusuk di penjara, tapi aku akan membiarkan Anda menjadi gembel di jalan dan mati perlahan karena penyesalan.”
Laki-laki tua itu tak sanggup lagi menahan kepedihannya. Rasa sesak itu semakin parah. Ia mencengkeram dadanya, mencoba mengatur napasnya, namun gagal. Pelan-pelan, matanya tertutup. Yang ia inginkan hanyalah bertemu dengan putrinya untuk terakhir kalinya.
“Harus kita apakan dia, Pak?” tanya Dimas saat melihat Indra mulai kehilangan kesadarannya.
“Biarkan saja. Biarkan dia mati di sini. Aku harus segera pulang untuk menunjukkan video ini pada istriku terlebih dahulu. Aku ingin membuat batinku puas. Sekarang antar aku pulang, Dim. Tak sabar rasanya ingin melihatnya histeris mengetahui papanya sekarat meregang nyawa.”