Bab 5. Ratapan Pilu Eleana

1001 Words
“Mana istriku?” Bryan buru-buru masuk lalu mencari keberadaan istrinya di kamar dan tak menemukannya. Terakhir saat ia memantau CCTV, ia melihat sang istri sedang berada di kamar. Tak mau repot memeriksa ponselnya lagi, CEO tampan itu langsung mencari Ina–sang ART ingin menanyakan keberadaan sang istri. “Nyonya ada di balkon atas, Tuan.” Ina menunjuk sang nyonya yang sedang duduk tenang di balkon, tengah memandangi taman bunga yang ada di belakang rumah. Bryan langsung berlari menuju tangga lalu mendekati sang istri. “Ternyata kamu di sini.” Eleana seketika gemetar saat melihat lelaki jahat itu pulang sepagi ini. Ia belum menyiapkan diri untuk menerima siksaan seperti biasanya. Sang suami selalu menuntaskan dendamnya saat pulang bekerja. Ia tak menyangka suaminya akan pulang sepagi ini. “Kenapa kamu menatapku begitu?” Bryan menyeringai jahat. “Bukannya istri itu seharusnya menyambut senang saat suaminya pulang?” Eleana tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Apa yang diucapkannya juga tak akan didengar oleh sang suami. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah mempersiapkan batin sebelum diperlakukan bak binatang hina oleh sang suami. “Kenapa kamu tidak menjawab? Apa kamu bisu?” Bryan menarik tangan sang istri lalu memegangi pipinya dengan kasar hingga pipi mulus itu langsung berubah warna menjadi merah. “Ampun, Bryan. Aku hanya tak tahu harus menjawab apa,” rintih Eleana beruraian air mata. “Jawab saja apa yang kutanyakan! Jangan membuatku murka,” desis Bryan mendorong Eleana hingga membentur lantai. Wanita dengan tubuh penuh lebam itu pun hanya bisa meringkuk sambil menangis tersedu-sedu. Sungguh tak sanggup lagi rasanya untuk bertahan. Namun, ia tak pernah memiliki kesempatan untuk mengakhiri semuanya. Para pengawal di luar sana sudah siap siaga mencegahnya menghabisi nyawanya sendiri karena suami iblisnya ini selalu melaporkan semua yang ia pantau melalui CCTV. “Menangislah yang keras. Aku suka mendengar rintihanmu itu. Sebentar lagi, tangismu akan jauh lebih memilukan lagi,” seru Bryan terbahak-bahak. Pria berambut coklat itu lalu mendekati Eleana, kemudian menunjukkan rekaman saat ia menyerang batin papa mertuanya dan itu sukses membuat sang istri meraung pilu. “Papa ... aku mau ketemu Papa.” Bryan menyeringai puas. Hatinya yang diliputi dendam seketika merasa lega melihat penderitaan Indra dan putrinya. “Merataplah sepuasmu. Namun, aku tak akan mempertemukanmu dengan jasad papamu lagi.” Eleana merebut ponsel dari tangan suaminya lalu menatap ke arah layar, kemudian kembali meraung memanggil papanya. “Tidaaak ... Papa tak mungkin meninggal. Tolong pertemukan aku dengan Papa!” Bryan terbahak-bahak melihat penderitaan istrinya lalu ia menjambak rambut sang istri yang masih meringkuk di lantai. “Dia belum meninggal. Dia terkena serangan jantung dan aku telah mengirimnya ke rumah sakit murah dan tak akan membiayai pengobatannya. Dia akan mati tersiksa di sana karena penyesalan dan rasa bersalah, terutama saat ia melihat video penyiksaan yang aku lakukan padamu.” “Kamu benar-benar jahat. Kamu iblis. Kenapa kamu tunjukkan video itu pada Papa?” Eleana tanpa sadar memukul d**a Bryan. Hatinya hancur membayangkan penderitaan sang papa saat melihat video dirinya yang disiksa keji oleh suaminya. Bryan menahan tangan sang istri yang terus menepuk dadanya lalu ia memuntirnya hingga Eleana mendesis kesakitan. “Bunuh saja aku dan Papa sekarang! Jangan sakiti kami lagi Bryan!” rintih Eleana. Suara jeritannya terdengar serak akibat terlalu sering meraung, menangis, dan meratap. “Aku tak akan mengabulkan keinginanmu. Enak saja mau mati begitu cepat, padahal mamaku menderita cukup lama sendirian sampai ia menghabisi nyawanya sendiri. Aku akan menyiksa kamu seumur hidup, tahu kamu.” Eleana hanya bisa menangis tersedu-sedu, tak bisa lagi melakukan apa pun selain meluapkan semua kesedihannya dengan jeritan dan raungan yang terdengar begitu memilukan. Sampai akhirnya ia kehabisan tenaga hingga sehingga isak tangisnya tak lagi terdengar. Hanya bahunya saja yang terlihat naik turun menahan sesak di d**a. Sampai akhirnya suaminya kembali mendorongnya, membuatnya tersungkur ke lantai. Eleana hanya bisa meringkuk lalu menangis sejadi-jadinya meratapi semua nasib buruknya. Kenangan-kenangan saat ia bersama dengan sang papa, saat ia begitu dimanja dan disayang, dibelikan semua keinginannya, terputar dengan jelas. Sebentar lagi papanya akan meregang nyawa, sementara dirinya akan hidup selamanya sampai tua melayani kegilaan Bryan, sebagai alat penuntas dendam suaminya seumur hidupnya. “Tuhan ... jika Engkau masih menyayangiku, sekarang juga tolong cabutlah nyawaku. Aku sungguh tidak sanggup lagi menerima penderitaan ini. Kalau memang aku harus menebus dosa-dosa yang Papa perbuat di masa lalu, aku rela. Tariklah nyawaku sekarang juga!” batin Eleana meratapi takdirnya. Sebentar lagi suaminya pasti akan kembali menyerangnya dan memaksanya untuk melayaninya dengan kekerasan dan mungkin itu akan berlangsung sampai malam. Ia terus berdoa semoga nyawanya segera putus saat sang suami menyiksanya. Rasanya, ia tidak sanggup lagi menahan semua derita. “Menangislah ... menangislah sepuasnya. Asal jangan mati saja. Aku akan kembali ke kantor karena aku memiliki meeting penting dan aku akan kembali memberimu pelajaran ketika aku pulang nanti. Jangan ke mana-mana, Istriku sayang. Nikmatilah penderitaan ini. Karena lagi-lagi kuingatkan, ini tidak sebanding dengan yang aku rasakan,” teriak Bryan lantang sambil menatap nanar pada sang istri yang terlihat menyedihkan. “Ini tidak sebanding dengan yang mamaku rasakan. Kalian hidup bersenang-senang di atas penderitaan keluargaku. Semua yang kulakukan ini tidak ada artinya dan tidak sebanding dengan semua yang kurasakan sama bertahun-tahun hidup sendirian di asrama tanpa orang tua. Tunggu saja kabar dariku. Sebentar lagi Papa kamu pasti akan meregang nyawa.” Eleana merangkak, kemudian meraih kaki suaminya lalu bersimpuh di depannya. “Pertemukan aku dengan Papa meskipun untuk terakhir kali. Jangan sampai kamu menyesal melakukan ini padaku, Bryan.” Bryan menepis tangan Eleana dari kakinya lalu ia membentak istrinya dengan garang. “Aku tidak akan pernah menyesal melakukan ini padamu. Justru aku menyesal tidak dari dulu saja melakukannya. Kenapa aku butuh waktu lama untuk memikat kamu untuk memanfaatkan kepercayaan papamu? Apa kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku pura-pura mencintaimu selama ini hanya untuk melakukan aksi ini padamu setelah aku menikahimu.” Tangan Bryan dengan kasar mencengkeram dagu Eleana sambil menyeringai puas. “Aku tidak akan pernah menyesali apa yang aku lakukan karena semuanya sudah benar. Inilah pembalasan yang cukup sepadan untuk membuat almarhumah mamaku tenang di alam sana.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD