Bab 6. Kematian Tragis Sang Papa

1254 Words
“Apa dia sudah mati, Dim?” Bryan berhenti menatap layar monitor di depan mejanya lalu kemudian menatap serius ke arah sang sekretaris yang saat ini sedang sibuk membuka beberapa map di dekatnya. Lelaki berambut coklat itu menanyakan bagaimana kabar mertuanya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit umum. Mertuanya itu dibawa oleh OB yang ada di perusahaan selepas ia pergi meninggalkannya yang tersungkur setelah menyaksikan video yang ia tunjukkan, yaitu video penyiksaan keji terhadap Eleana. Dimas menutup map-map yang sedang ia buka lalu meraih ponselnya. “Saya akan hubungi rumah sakit sekarang juga untuk mengetahui kabar selanjutnya. Namun, sebelum saya menghubunginya, apa yang akan Anda lakukan, Pak? Apa Anda akan mempertemukan Nyonya Eleana dengan papanya?” Bryan mengetuk-ngetukkan tangannya di atas meja, menimbang-nimbang apakah ia akan mempertemukan istrinya dengan laki-laki tua bangka yang sudah merenggut kebahagiaan sang mama. Sebenarnya, ia tidak ingin mempertemukan mereka berdua. Biar mertuanya mati dalam kegusaran. Namun, setelah ia pikir-pikir lagi, malah bagus kalau mereka benar-benar bertemu. Ia bisa menyaksikan penderitaan keduanya di depan matanya sekaligus. “Aku berubah pikiran. Aku akan mempertemukan mereka. Segera setelah si tua bangka itu sekarat nyaris meregang nyawa, aku akan mempertemukannya dengan Eleana. Pasti akan sangat memuaskan melihat mereka berdua menderita di depan mataku, apalagi kalau sampai pria jahat itu mati di depan putrinya sendiri. Pasti akan sangat menyenangkan.” Dimas mengangguk pelan, kemudian segera meraih ponselnya, menghubungi pihak rumah sakit. Dan, yang ia dapatkan sesuai dengan yang diinginkan oleh atasannya. . “Pak, pria tua itu sedang kritis. Kemungkinan sebentar lagi akan meninggal.” “Bagus, kalau begitu antar aku pulang untuk menjemput Eleana. Dia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana papanya menghembuskan nyawa.” “Baik, Pak.” Laki-laki berpenampilan kelimis itu meletakkan map di atas meja lalu mempersilakan sang atasan untuk meninggalkan ruangan langsung menuju ke mobil. Dengan kecepatan tinggi, ia mengantar sang atasan untuk menjemput istrinya. Setibanya di rumah, Bryan langsung menghambur ke dalam rumah mencari keluarga istrinya. Ia mendapati wanita itu tengah meringkuk di atas tempat tidur, masih berurai air mata, tetapi sudah berpakaian rapi. Wajahnya sama sekali tidak lebam karena Bryan tidak pernah melukai wajahnya. Hanya sekali ketika ia tidak sengaja mendorong wanita itu hingga wajahnya membentur lantai dan bibirnya berdarah. Saat ini, wajahnya tetap mulus cantik seperti sedia kala. Namun, sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam. Ia langsung menyeret wanita itu turun dari tempat tidur lalu memintanya untuk memakai jubah panjang untuk menutupi lukanya karena Bryan akan membawa wanita itu ke rumah sakit sekarang juga. “Ikut aku!” “Mau ke mana? Ke mana kamu akan membawaku?” tanya Eleana lirih. “Bukannya kamu ingin bertemu papamu?” Wanita itu tampak mengusap air matanya, kemudian memperhatikan wajah suaminya, menuntut kebenaran di sana. “Bertemu dengan papaku?” “Iya, aku akan mempertemukanmu, karena sebentar lagi papa kamu akan meninggal.” Bryan tersenyum puas. “Tidak! Tolong, selamatkan papaku! Jangan biarkan ia meninggal!” raung Eleana memelas. “Apa kamu sudah gila? Mana mungkin aku menyelamatkannya? Justru aku akan memberikan kenang-kenangan terindah baginya supaya dia menyesal di alam baka karena sudah melakukan hal keji pada mamaku, yaitu dengan melihat penderitaanmu di depan matanya, tetapi tidak bisa menyelamatkan kamu dari penderitaan. Itu adalah hukuman yang sangat kejam baginya, bukan?” “Kamu bukan manusia, kamu jahat. Kamu iblis,” desis Eleana. “Cukup!” bentak Bryan. “Apa kamu mau aku siksa sekarang? Apa kamu tidak mau bertemu dengan papamu?” Eleana menghentikan tangisnya. Sekuat tenaga, ia menahan rasa sakit di tubuh dan hatinya lalu menuruti kata-kata suaminya. Ia langsung meraih pakaian panjang untuk menutupi luka-luka di lengannya dan setelah semuanya siap, ia langsung meminta pada suaminya untuk mengantarnya menemui sang papa. Meski ia tidak yakin bisa bertemu sebelum papanya itu menghembuskan napas terakhirnya. “Tolong antar aku menemui papa. Aku ingin bertemu untuk terakhir kalinya,” pinta Eleana. “Tergantung nasib kamu. Kalau dalam perjalanan kita terhambat dan kamu tidak bisa bertemu dengan papa sialanmu itu. Itu artinya kamu memang memiliki nasib tidak baik alias sial.” Bryan menyeringai jahat lalu membawa istrinya keluar dari rumah langsung masuk ke dalam mobil. Eleana diam sepanjang perjalanan. Ia takut suara tangisnya membuat suaminya murka lalu melakukan hal keji yang justru akan menghambat ia bertemu dengan papanya. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping membayangkan penderitaan papa dan dirinya sendiri. Ia tak percaya laki-laki yang telah memanjakannya sejak kecil kini akan menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit murah, dibiarkan begitu saja tanpa pertolongan. Namun, apa mau dikata. Jika memang benar papanya melakukan kejahatan seperti itu, ia tak bisa melakukan apa pun. Sampai detik ini, Eleana sungguh tidak menyangka, bagaimana bisa laki-laki sebaik papanya melakukan perbuatan keji yang berujung dendam tak bertepi dari Bryan. Meski sebenarnya ia tidak ikhlas mendapatkan pembalasan untuk dosa yang tidak pernah ia lakukan, tetapi ia juga tidak berdaya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima semuanya sambil menanti kesempatan untuk pergi sejauh-jauhnya dari laki-laki jahat itu. Semoga saja Tuhan memberikannya kesempatan untuk kabur dari iblis berwujud manusia itu. “Turun, kita sudah sampai!” Tak terasa mereka tiba di rumah sakit. Dengan kasar, Bryan menarik tangan Eleana turun dari mobil lalu menyeretnya ke sebuah ruangan yang sama sekali tidak layak. Ruangan itu begitu sempit, kumuh, dan begitu menyedihkan. Di sana, sang papa terbaring lunglai dengan napas yang naik turun, begitu menyedihkan. Eleana menepis tangan suaminya, menghambur ke arah sang papa lalu menangis tersedu-sedu. “Papa! Buka mata Papa! Ini aku, Pa. Ini aku, Eleana!” Suara tangisan Eleana yang penuh haru membuat mata laki-laki tua itu terbuka. Dengan sisa-sisa napas yang ia miliki, Indra tampak berusaha menahan rasa nyeri di dadanya. “Kamu datang, Putriku. Maafkan Papa. Maafkan Papa yang tidak bisa melindungimu .…” “Tidak usah banyak bicara dulu, Pa. Atur napas yang baik. Papa pasti bisa selamat. Bertahanlah, Pa!” lirih Eleana menyemangati sang papa. Laki-laki itu menggeleng pelan. Air matanya meleleh dari sudut matanya. Dengan oksigen seadanya yang tersambung ke lubang hidungnya, ia mencoba bicara lagi. “Berjuanglah … bertahanlah … Papa tidak bisa melindungi kamu lagi .…” Eleana menggeleng cepat. Air matanya tumpah ruah tak tertahankan. “Papa ... kumohon bertahanlah! Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi, Pa!” Laki-laki tua itu tersenyum tipis. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membelai kepala putrinya. “Papa harus pergi menyusul mama kamu. Kamu harus kuat ….” Ia kemudian berbisik dengan nada lemah, “Ingatlah, Papa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan oleh suamimu .…” “Halah, berisik! Sudah mau mati tapi tidak mau mengakui kesalahan. Dasar manusia tidak tahu diri!” ucap Bryan dengan geram. Rasanya ia ingin menarik selang oksigen itu agar pria tua itu cepat mati. Namun, ia menahan diri, karena itu akan membuatnya terlihat ikut andil membunuh. Baginya, menyaksikan pria itu mati perlahan sudah cukup memuaskan. Sementara itu, pria tua itu mengabaikan ucapan menantunya. Ia tahu waktunya sudah sampai. Dengan deraian air mata, ia menggenggam tangan sang putri erat-erat dan menatapnya untuk terakhir kali. “Jadilah kuat, Sayang. Ingatlah, Papa tidak pernah melakukan kejahatan … Papa tidak bersalah .…” Dengan napas terakhir, ia mengucapkan kata-kata itu lalu akhirnya tubuhnya terkulai lemas. Sang papa telah tiada. “Papa! Jangan tinggalkan aku! Papa, aku mohon kembalilah!” jerit Eleana. Suaranya pecah di ruangan sempit itu. Namun, tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Bryan tersenyum sinis di sudut ruangan. “Lihat? Dia mati di depan matamu, kan? Aku sungguh bahagia melihat kematiannya.” Eleana hanya bisa menangis. Air matanya mengalir tanpa henti, sementara hatinya semakin hancur. Dalam pikirannya, ia hanya berharap suatu hari bisa terbebas dari neraka ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD