Bab 7. Pendarahan

1463 Words
“Pak, apa Anda belum mau melepaskan istri Anda? Sudah dua tahun berlalu, apa dendam di hati Anda masih ada?” Dimas memberanikan diri bertanya pada sang atasan yang sedang sibuk di depan layar monitornya. Ia sedikit penasaran dengan rasa dendam yang dirasakan oleh sang CEO. Sudah dua tahun berlalu sejak kematian Indra Hendrawan–sang mertua dan semua aset serta harta laki-laki tua itu sudah berpindah ke tangan pada Bryan. Yang ia tahu, setiap hari laki-laki itu menyiksa istrinya. Bryan tidak membiarkannya mengakhiri hidup ataupun pergi dari rumah. Dimas jadi bertanya-tanya apakah dendam itu belum juga habis. Padahal, melihat kondisi istrinya sungguh menyedihkan. Sebagai manusia, tentu Dimas iba. Namun sebagai bawahan, Dimas tidak bisa berkata-kata dan harus menuruti semua yang diperintahkan oleh sang atasan. Bryan melirik tajam pada sekretarisnya, menunjukkan rasa tidak sukanya. “Tidak usah ikut campur urusanku. Urusanmu banyak. Kerjakan saja tugas-tugasmu!” “Maaf, Pak. Saya hanya bertanya karena sedikit penasaran tentang dendam Anda yang sebenarnya sudah terbalaskan dengan telak. Apakah tidak sebaiknya Anda melepaskan wanita itu? Dia juga akan menjadi gembel jika Anda lepaskan.” Bryan menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menatap serius pada sekretarisnya sambil berpikir. Selama dua tahun ini, ia sudah menyiksa istrinya secara fisik dan mental. Bahkan, wanita itu sepertinya sudah terbiasa mendapatkan penyiksaan darinya, terutama di atas ranjang. Namun, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Dimas secara gamblang tentang dendam yang ia rasakan. Jujur saja, ia sudah merasa puas karena laki-laki yang telah menyakiti mamanya meninggal dalam penderitaan. Di akhir hidupnya, laki-laki itu mengalami penyesalan yang teramat dalam juga merasa sangat bersalah pada putrinya karena tidak bisa menyelamatkannya dari siksaan. Namun, untuk melepaskan wanita itu begitu saja, rasanya ia belum bisa. Terkadang, ia masih mengingat penderitaan mamanya. Jika ia teringat, ia akan melampiaskannya pada wanita itu. “Aku tidak akan melepaskannya selagi dendam di hatiku belum tuntas,” ucap Bryan akhirnya. “Itu artinya Anda masih memendam dendam padanya, walaupun semuanya sudah terbalaskan?” Bryan mendengkus kesal karena merasa didesak oleh sekretarisnya. “Aku manusia biasa. Saat aku terkenang akan penderitaan Mama, ditambah saat aku kembali melihat video Mama dengan laki-laki tua bangka itu, hatiku mendidih. Saat itu terjadi, tidak ada pelampiasan yang lebih baik selain menyiksa istriku.” “Tapi setelah Anda menyiksa istri Anda, apa Anda merasa senang, Pak?” tanya Dimas, sedikit takut. Namun, rasa kemanusiaannya pelan-pelan muncul saat melihat Eleana yang tidak berdaya. Yang salah adalah Indra Hendrawan–papa Eleana. Tak sepantasnya Bryan melampiaskannya pada putrinya yang sudah bertahan sejauh ini. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menerima penderitaan. Namun, wanita itu tetap bertahan dan bersabar. Mungkin juga karena dia terlalu lemah sehingga tidak mampu melarikan diri dari neraka yang diciptakan oleh Bryan. Di sini, Dimas mengambil risiko, berharap bisa memutus dendam di hati Bryan. Selain atasannya itu akan merasa lebih baik dan tenang, ia juga bisa membantu sebuah nyawa selamat dari penyiksaan panjang. “Tentu saja aku senang dan puas. Itu karena yang kulakukan pada wanita itu sudah jauh melampaui apa yang dilakukan oleh si tua bangka itu pada Mama. Mama pasti sangat bahagia di atas sana melihatku bisa menyiksa darah daging dari laki-laki j*****m itu.” “Tidakkah Anda merasa sedikit kasihan padanya?” tanya Dimas lagi. Bryan terdiam. Di hati kecilnya terbesit rasa iba. Bagaimana pun juga, ia manusia biasa. Ada sesekali rasa kasihan muncul. Namun, ketika ia mengingat wajah sang Mama sesaat sebelum dimakamkan, hatinya kembali mengeras. “Kalau tidak ingin kupecat, berhenti bicara omong kosong. Kerjakan saja tugasmu dengan benar!” bentak Bryan garang. Bryan akhirnya memilih untuk menghindari topik. Ia tidak mau rasa ibanya mengambil alih. Wanita itu tetap akan menjadi alat untuk membantunya menuntaskan sisa-sisa dendam yang masih ada di dalam hati. “Aku tak tahu kapan aku bisa melepaskannya. Untuk sementara ini dia harus tetap bersamaku. Lanjutkan tugas-tugasmu! Aku mau pulang,” sambung Bryan lagi. Moodnya terlanjur buruk karena pertanyaan yang dilontarkan oleh sang sekretaris. “Kenapa cepat sekali pulang, Pak? Ini baru jam 12.00 siang. Apakah Anda tersinggung karena ucapan saya?” “Salah satunya itu. Makanya jangan berisik dan jangan membuatku semakin emosi!” sembur Bryan lagi. “Baik, Pak. Maaf kalau saya membuat mood Anda terganggu.” “Lain kali, jangan pernah mengusik urusan pribadiku, mengerti!” tegur CEO tampan itu lantang. “Baik, Pak,” ucap Dimas sambil menundukkan kepala. Sambil menahan kesal, Bryan bergegas mengambil kunci mobil di atas meja, kemudian menjinjing tasnya lalu ia pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, wajah sang istri yang cantik jelita menyapanya, tetapi bukan dengan senyuman, melainkan dengan tatapan sendu seperti manusia tanpa nyawa. “Kamu bisa nggak bersikap biasa saja? Jangan membuatku emosi!” ujar Bryan kasar. “Maafkan aku. Perintahkan saja apa yang harus aku lakukan, karena aku tidak tahu apa yang bisa membuatmu senang,” jawab Eleana sambil menundukkan wajahnya. Ada rasa iba yang tiba-tiba muncul dalam diri Bryan. Wanita yang dulunya begitu cantik dan ceria yang digandrungi banyak pria, kini harus menjadi budaknya. Kalau bukan karena dendam sang mama, wanita ini tidak mungkin terkurung di sini. Bryan mengalihkan pandangannya, berusaha menekan rasa iba yang akhir-akhir ini mulai mencuat ke permukaan. Ia menoleh ke arah meja makan di mana sang istri sedang berdiri sambil menunduk di sebelahnya. Bryan melihat banyak makanan tersaji di meja. “Siapa yang memasak semua ini? Mbak Ina?” tanyanya. Sang istri menggeleng pelan lalu menjelaskan. “Aku yang memasak. Aku ingin memakan masakanku sendiri. Aku melihat resepnya melalui ponsel miliknya. Kami bersama-sama mencari resep baru dan mencoba mengeksplorasinya. Aku tak menyangka kalau kamu akan pulang cepat sehingga aku belum sempat membereskan semuanya.” “Jadi ini yang kamu lakukan sehari-hari?” tanya Bryan sambil mengingat-ingat lagi kalau ia memang tidak memantau CCTV saat jam makan siang dan tak tahu kalau istrinya mulai hobi memasak. Wanita itu mengangguk sambil berkata lirih, “Apa lagi yang bisa aku lakukan selain ini? Hanya inilah hiburanku saat ini,” ucapnya sambil menundukkan kepalanya kembali. “Jika kamu berkenan memakannya, silakan. Jika tidak, masakan Mbak Ina masih tersedia,” tambahnya sambil menunjuk ke sudut meja. Bryan tertegun ketika memperhatikan masakan yang ada di atas meja. Itu adalah masakan favoritnya yang sering dimasak oleh mendiang mamanya. Seketika, dirinya murka saat mengingat sang Mama. Dengan cepat, ia menarik istrinya ke kamar dan melakukan hal keji seperti biasa. “Ada apa lagi? Aku tidak berbuat kesalahan?” jerit Eleana menahan rasa nyeri di tubuhnya. “Kenapa aku dihukum hari ini? Biasanya kamu tidak menghukumku setiap hari, setidaknya selama beberapa bulan ini.” “Diam kamu! Terserah aku mau menghukummu kapan pun. Kenapa kamu mengingatkan aku pada Mama?” teriak Bryan kasar. Yang tersisa hanyalah isak tangis karena percuma melawan. Eleana sudah tahu apa yang akan terjadi padanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah memejamkan matanya sambil menangis pilu. Sampai akhirnya, Bryan menghentikan aktivitas gilanya saat menemukan gumpalan darah keluar dari tubuh istrinya. “Kamu ... apa kamu datang bulan? Seingatku ini belum tanggalnya,” tanya Bryan kesal karena permainannya belum tuntas. “Aku tidak mendapatkannya selama dua bulan ini,” jawab Eleana masih terisak. Bryan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, ia melemparkan selimut kepada istrinya. Dalam pikirannya, hanya satu hal yang terlintas, istrinya pasti hamil dan baru saja mengalami pendarahan karena ulahnya. “Kenapa kamu tidak meminum pil kontrasepsi?” tanya Bryan dengan nada keras. “Aku selalu meminumnya. Aku juga tidak ingin punya anak darimu,” balas Eleana tersedu-sedu. “Aku jauh lebih tidak ingin mendapatkan keturunan dari laki-laki laknat seperti papamu,” hardik Bryan setengah berteriak. Eleana tidak bisa berkata-kata. Yang ia rasakan saat ini adalah nyeri hebat di perutnya yang baru ia sadari setelah suaminya menyerangnya tadi. Dia tidak merasakan apa-apa sebelumnya karena sudah terbiasa dengan rasa sakit itu. Kini, rasa nyeri itu tak tertahankan lagi. “Tolong ... tolong aku. Perutku sakit ...” ucap Eleana lirih. “Kamu benar-benar merepotkan!” geram Bryan sambil bergidik ngeri ketika melihat gumpalan darah terus keluar dari jalan lahir istrinya. Sudah pasti Eleana hamil dan keguguran karena ulahnya. Dengan cepat, Bryan menghubungi dokter pribadinya. Tak lama, dokter Ferdi pun datang dan memberikan diagnosis. “Istri Anda mengalami pendarahan hebat tanda keguguran, Pak. Dia perlu dikuret, dan kita tidak bisa melakukannya di sini.” “Maksud Anda?” tanya Bryan, mulai panik. “Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Jika tidak, nyawanya bisa terancam.” “Bagaimana mungkin aku bisa membawanya ke rumah sakit dengan kondisi seperti ini? Aku bisa masuk penjara! Kamu tahu itu, kan?” seru Bryan tak mau sampai orang tahu kalau ia menyiksa istrinya selama ini. “Saya punya kenalan di rumah sakit. Tidak akan ada yang membongkar rahasia ini, Pak.” Dokter Ferdi menenangkan lalu menatap Bryan serius. “Sebaiknya kita segera bawa Nyonya Eleana ke rumah sakit sebelum dia meninggal karena kehabisan darah di depan Anda, Pak Bryan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD