Bab 8. Secercah Harapan

1010 Words
“Bagaimana keadaan istriku, Dok?” Rasa panik masih menghiasi wajah Bryan ketika melihat begitu banyak darah yang keluar dari tubuh istrinya. Meskipun ia membenci wanita itu, tetap saja rasa takut itu tidak bisa ia tutupi. Selain takut membunuh istrinya dengan tangannya sendiri yang bisa berakibat fatal di mana ia akan masuk penjara, hati kecilnya juga terusik dan merasa gusar terhadap hal yang menimpa istrinya tersebut. Dokter Ferdi segera menerangkan pada Bryan kalau ia harus melakukan tindakan terlebih dahulu. Saat ini ia dan Eleana sudah berada di ruang tindakan sebuah rumah sakit mahal dan lelaki itu segera meminta pada Bryan untuk meninggalkan ruang tindakan karena ia ingin segera menyelamatkan Eleana. “Lebih baik Anda tunggu di luar, Pak. Saya akan memastikan istri Anda selamat,” katanya bijak. Bryan terpaksa menuruti kata-kata dokter lalu menunggu di ruang tunggu, sedangkan Eleana yang berada di dalam ruang tindakan, merintih pilu. “Dokter, jangan selamatkan saya,” ucap Eleana dengan nada lemah. “Apa maksud Anda, Nyonya?” tanya dokter, merasa sedikit bingung. “Saya mohon, biarkan saya pendarahan sampai meninggal.” “Kenapa Anda bicara begitu?” Dokter Ferdi kembali bertanya. “Anda tahu masalah saya, Dok. Saya hanya berpura-pura minta diselamatkan agar suami saya menghubungi Anda. Tapi dalam hati kecil saya, saya benar-benar ingin mengakhiri hidup saya,” tandas Eleana menyuarakan rasa putus asanya. “Anda tidak boleh berkata begitu, Nyonya.” Dokter Ferdi begitu prihatin melihat kondisi pasiennya. “Dokter sudah tahu bagaimana keadaan saya selama ini. Saya benar-benar tersiksa karena suami saya. Saya tidak bisa mengakhiri hidup saya karena dipantau dan diawasi CCTV 24 jam penuh serta dikontrol ketat oleh beberapa pengawal dan ART. Apa Dokter tahu kalau saya terus berdoa agar nyawa saya lepas dari tubuh saya sehingga saya bebas dari penderitaan ini? Sekarang sepertinya Tuhan mengabulkan permintaan saya. Biarkan saja saya meninggal karena kehabisan darah di sini, Dokter.” Eleana memohon sambil mengatupkan kedua tangannya, berharap permintaannya dikabulkan. Sungguh ia tak sanggup lagi menerima perlakuan tak manusiawi dari sang suami. “Maaf, saya tak bisa, Nyonya. Biar bagaimanapun, saya harus menyelamatkan Anda karena saya adalah seorang dokter. Tidak mungkin saya membiarkan Anda meninggal.” “Ini permohonan saya yang terakhir, Dok,” rintih Eleana berurai air mata. “Saya sudah tidak sanggup lagi hidup bersama suami saya. Saya benar-benar ingin meninggal menyusul Papa saya. Tolong, jangan lakukan tindakan apa pun pada saya. Biarkan darah ini terus mengalir hingga membuat saya meninggal di sini, sehingga saya tidak akan merasakan sakit lagi karena suami saya.” Sebagai seorang dokter, Ferdi merasa jahat karena membiarkan perlakuan kejam yang dilakukan Bryan berulang kali pada istrinya. Ia mengetahui persis apa yang terjadi dalam rumah tangga pria itu. Bryan, yang begitu berkuasa, memiliki banyak uang dan relasi di mana-mana memang tergolong lelaki kejam. Bukan sekali dua kali Ferdi berniat menyelamatkan wanita itu dari penyiksaan. Namun, kekuatannya tidak cukup untuk melawan Bryan. Sedikit saja dokter Ferdi mengusik urusan pria itu, maka karir dokternya akan tamat. Izin prakteknya bisa dicabut dan ia tidak akan diterima bekerja di mana pun, baik di kota ini maupun di luar kota. Sebegitu besarnya pengaruh Bryan terhadap bisnis sehingga apa pun yang ia lakukan bisa memengaruhi karir seseorang. Karena itu, Ferdi tak bisa bergerak dan hanya menahan pedih dalam hati melihat kezaliman yang dilakukan oleh pria itu. Namun sekarang, jika ia diminta untuk membiarkan wanita itu meninggal di depannya, ia juga tidak sanggup. “Saya mohon, tolong saya, Dokter. Tolong lepaskan saya dari penderitaan ini!” pinta Eleana lagi. Dokter Ferdi dilema. Ia tak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya ia teringat seseorang yang cukup pintar dan sepertinya bisa membantu wanita ini keluar dari penderitaannya. Namun, masalahnya, apakah wanita ini mau melanjutkan hidupnya jika ia tahu tentang pertolongan yang akan ia berikan? Ferdi sendiri tidak bisa dan tidak akan mampu menolong wanita ini seorang diri. Ia memiliki istri dan anak yang harus dinafkahi. “Yang tenang, Nyonya. Kita akan pikirkan jalan keluarnya. Yang jelas, Anda harus selamat terlebih dahulu. Mohon maaf, saya dengan sangat terpaksa harus membantu Anda untuk membersihkan sisa-sisa darah dan serpihan janin yang ada di dalam rahim Anda agar tidak terjadi hal buruk pada tubuh Anda.” “Saya tidak mau diselamatkan,” ucap Eleana lemah sambil menggelengkan kepalanya. “Saya berjanji, setelah menyelesaikan tindakan ini, saya akan membantu Anda terlepas dari laki-laki itu.” Ferdi menerangkan. “Mana mungkin Dokter bisa menyelamatkan saya? Tidak ada seorang pun yang berani menyelamatkan saya karena mereka lebih peduli pada bisnis dan karir mereka dibandingkan menyelamatkan wanita seperti saya yang bukan siapa-siapa,” teriak Eleana histeris. Kesabarannya sudah sampai pada batasnya. Ia tak sanggup lagi menerima siksaan dari lelaki j*****m itu. “Itu benar. Saya memang tidak pernah menolong Anda selama ini karena saya takut kehilangan pekerjaan. Saya memiliki keluarga yang harus saya hidupi. Tapi kali ini, saya akan membantu Anda.” Ferdi berusaha meyakinkan Eleana bahwa kali ini, ia akan membantu wanita ini melarikan diri dari neraka. “Bagaimana caranya Dokter membantu saya?” Eleana meragukan perkataan dokter yang selalu mengobati lukanya selama ini. Itu karena Bryan terlalu berkuasa dan tak akan bisa dikalahkan oleh siapa pun. “Izinkan saya menyelamatkan nyawa Anda terlebih dahulu, Nyonya. Setelah itu, saya akan menerangkan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melarikan Anda dari kekejaman suami Anda.” Eleana berpikir sejenak. Rasa nyeri di perutnya yang ia tekan sedemikian rupa masih terasa, tetapi kalah dengan tekadnya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, mendengar kata-kata dokter itu, tumbuh sebuah pengharapan dalam dirinya. Akhirnya, ia mengangguk pelan, mengizinkan dokter itu melakukan tindakan kuret padanya. “Lakukan saja, tapi berjanjilah pada saya, Anda benar-benar serius untuk menyelamatkan saya. Jika tidak, biarkan saya mati di sini karena saya sudah tidak sanggup lagi menanggung derita.” Dokter tampan itu mengangguk pelan lalu tersenyum pada Eleana. “Saya pastikan Anda akan selamat dari laki-laki itu. Tapi perlu digarisbawahi, ini tidak akan instan. Saya akan membuat rencana dengan seseorang yang bisa menolong Anda. Setelah ini selesai, saya akan menghubungi kenalan saya, menceritakan permasalahan Anda lalu kita akan bahas semuanya. Sekarang, biarkan saya melakukan tugas saya terlebih dahulu untuk menyelamatkan nyawa Anda, ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD