“Bagaimana keadaannya?”
Bryan langsung mendekati dr. Ferdi saat melihatnya keluar dari ruang tindakan dan segera menanyakan kondisi sang istri. Sejak tadi hatinya gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit, sesekali mengusap rambutnya dengan kasar.
“Rahimnya sudah dibersihkan, tapi istri Anda tidak bisa pulang sekarang. Dia masih harus dirawat beberapa hari untuk memantau kondisinya pasca keguguran.” Wajah dokter Ferdi terlihat tenang, meskipun hatinya mulai bergemuruh memikirkan nasib pasiennya.
Sementara Bryan menatap tajam dokter Ferdi, tak setuju dengan permintaannya. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya tidur di rumah sakit sementara ia harus bekerja.
"Apa tidak bisa dirawat di rumah saja? Aku tidak bisa meninggalkannya di sini. Aku tidak mau dia kabur!" sergahnya lebih tegas, menatap dokter dengan mata tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
Dokter Ferdi menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga ketenangannya. "Tidak mungkin Nyonya bisa kabur, Pak? Dia juga susah untuk berjalan. Tubuhnya masih sangat lemas. Lagi pula, ada saya di sini yang menjamin agar Nyonya tidak kabur."
Bryan menatap dr. Ferdi dengan tatapan curiga. "Apa kamu yakin bisa menjaga istriku? Karirmu taruhannya. Kamu akan hancur karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu bekerja lagi. Akan aku hambat karirmu sehingga kamu menjadi gelandangan. Apa kamu yakin bisa mengambil risiko itu, Dokter?"
Ferdi sebenarnya ragu, tapi sisi kemanusiaannya sudah mengambil alih. Memang ia tidak bisa membantu Eleana kabur sekarang, tapi setidaknya ia bisa membuka jalan yang lebar untuk wanita itu pergi dari suaminya. Dengan bantuan dan arahan dari kenalannya, ia yakin Eleana bisa pergi selama-lamanya dari laki-laki ini, walaupun itu butuh proses.
Dalam pikirannya, Ferdi sudah merancang strategi terbaik untuk mengakhiri penderitaan wanita itu. Akhirnya, dengan penuh keyakinan, dr. Ferdi menegaskan pada Bryan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Nyonya Eleana tidak akan mungkin kabur dari rumah sakit, Pak Bryan,” tegas Ferdi mantap. “Karena bukan dari sini dia akan pergi, tapi dari rumahmu setelah mengumpulkan bukti-bukti untuk terlepas selama-lamanya dari lelaki jahat sepertimu,” lanjut Ferdi dalam hati.
Bryan mengerutkan dahi, mencoba mencerna ucapan dokter itu. Ia lalu mengonfirmasi sekali lagi. “Apa Anda berani ambil risiko, Dokter?”
"Saya berani, Pak. Saya jaminkan karir saya dan saya pastikan Nyonya tidak akan kabur dari rumah sakit."
Bryan tampak menimbang-nimbang. Ia gelisah juga ragu. Namun, ia juga tidak mungkin membawa Eleana pulang ke rumah kalau nyawa taruhannya. Entah kenapa, ia tidak mau istrinya mati. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengabulkan permintaan dokter itu.
"Ya sudah. Kalau bisa, usahakan cepat. Jangan terlalu lama dia di sini," katanya sambil melipat tangan di d**a.
"Maaf, Pak, kalau saya harus mengatakan ini. Setelah pulang nanti, Anda tidak bisa menyentuh istri Anda."
"Apa maksud kamu? Kenapa aku tak boleh menyentuhnya? Dia itu istriku!" bentak Bryan emosi.
Ferdi menelan salivanya. Bryan benar-benar sosok jahat yang menyeramkan. Pelan-pelan dokter muda itu menjabarkan alasan kenapa Bryan tak boleh menyentuh istrinya dalam waktu dekat.
"Rahimnya harus dipulihkan terlebih dahulu kurang lebih sekitar dua minggu. Dalam masa itu, biarkan Nyonya beristirahat.”
Bryan menyugar rambutnya, merasa kesal. “Sial, kenapa dia bisa hamil, sih? Padahal dia bilang dia minum kontrasepsi terus-menerus."
"Ada kalanya dia lupa, Pak," sahut Ferdi mencoba menenangkan.
"Terus bagaimana solusinya?" Bryan menatap dokter dengan tatapan dingin, penuh tekanan.
"Saya akan menerapkan kontrasepsi suntik saja nanti, sehingga tidak ada kemungkinan kehamilan terjadi.”
"Ah, benar-benar menyusahkan!" Bryan menjambak rambutnya dengan kasar. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan. Dia juga tidak mau menyentuh istrinya dalam keadaan masih kotor dan berdarah.
"Kalau begitu, aku pergi. Aku titip istriku padamu. Awas kalau sampai dia kabur dariku. Kamu sudah tahu apa akibatnya."
"Iya, Pak, saya tahu akibatnya. Dan, saya tidak akan mungkin membiarkan istri Anda pergi. Serahkan semuanya pada saya." Lagi, dokter muda itu menjaminkan karirnya untuk meyakinkan Bryan.
Bryan pun pergi membawa rasa kesal. Dan, setelah laki-laki itu tidak tampak dari pandangan, dokter Ferdi segera kembali masuk ke dalam ruangan. Ia memandang Eleana yang tampak pucat dan penuh ketakutan.
"Nyonya, suami Anda sudah pergi?" ucapnya lembut, mencoba meredakan kecemasan wanita itu.
"Syukurlah, Dokter. Sekarang tolong bantu saya agar bisa kabur dari sini. Saya mohon, selamatkan saya. Biarkan saya pergi!"
Ferdi menggeleng pelan. Rasa iba sungguh mencabik-cabik hatinya. "Bukan begini caranya, Nyonya. Kalau saya menyelamatkan Anda sekarang, bukan hanya akan gagal, tapi nyawa kita berdua akan terancam."
Tangis Eleana kembali pecah. Ia tak menyangka dokter yang ia percaya ternyata tak bisa menepati janjinya.
“Kenapa Anda berbohong, Dokter? Kalau saya tahu Anda akan ingkar janji, saya tak mau diselamatkan tadi.”
Ferdi mendekati Eleana lalu meyakinkannya. “Saya tidak berbohong, Nyonya. Saya akan membantu Anda."
"Bagaimana caranya Dokter membantu saya, sedang Dokter tak membiarkan saya pergi?" raung Eleana frustrasi.
Ferdi kembali berusaha menenangkan Eleana yang tampak panik. "Sekarang, tarik napas dalam-dalam. Tenangkan pikiran Anda terlebih dahulu. Saya sudah menghubungi kenalan saya. Dia seorang pengusaha besar yang tidak ada hubungannya dengan profesi kedokteran."
"Apa maksudnya, Dokter?" Eleana akhirnya menghentikan tangisnya.
"Dengarkan dulu penjelasan saya, Nyonya."
Ferdi mulai menceritakan apa saja yang harus dilakukan Eleana. Ia memaparkan rencana besarnya untuk membiarkan wanita itu lepas dari suaminya.
"Apa saya bisa melakukan itu, Dok?" Eleana tampak tak yakin dengan kemampuannya.
"Anda bisa, Nyonya. Reno sangatlah cerdas. Setelah saya bercerita tentang kondisi Anda padanya, dia sukarela ingin membantu Anda. Dia akan membantu Anda mandiri secara finansial."
"Tapi berapa lama sampai saya bisa mengumpulkan semua bukti-bukti untuk menyerang suami saya dan apa saya bisa?" ucap Eleana sedikit gentar. Ia tahu betapa berkuasanya suaminya.
"Kenapa tidak? Yang perlu Anda lakukan hanyalah memantau jadwal kapan suami Anda pulang dan pergi bekerja."
"Maksud Anda, Dok?"
"Saat suami Anda pergi ataupun pulang, otomatis dia ada di dalam kendaraan, kan? Tidak mungkin Pak Bryan akan memantau Anda jika dia sedang menyetir. Saat itulah kesempatan bisa Anda ambil untuk menyalin rekaman CCTV penyiksaan Anda. Anda juga bisa mencuri buku nikah supaya bisa mengajukan gugatan cerai." Ferdi menjelaskan.
"Tapi saya tidak punya uang." Rasanya sulit untuk bertahan hidup tanpa sepeser pun uang di luar sana.
"Jangan khawatir. Kenalan saya akan membantu. Anda boleh membayar jasanya setelah Anda bisa menghasilkan uang sendiri. Dia juga akan membimbing Anda di belakang layar karena tidak mungkin baginya untuk memperkerjakan Anda di perusahaannya yang otomatis akan mempertemukan Anda dengan laki-laki itu. Setidaknya sebelum perceraian terjadi, Anda tidak boleh muncul ke permukaan."
Harapan mulai dirasakan oleh Eleana. Sepertinya Dokter Ferdi beserta kenalannya bisa menyelamatkannya keluar dari neraka.
"Tapi bagaimana caranya kenalan Anda menghubungi saya sementara saya tidak diberikan ponsel sama sekali. Saya benar-benar terkurung bak tawanan di rumah suami saya!"
"Gunakan ponsel ini!” Ferdi menyodorkan ponselnya. “Ini ponsel yang tidak selalu saya gunakan. Simpan di baju Anda, dan pastikan Anda mematikan suaranya sehingga tidak akan ada yang tahu kalau Anda memiliki ponsel. Ketika sampai di rumah, segera simpan ponsel itu di tempat yang sekiranya tidak akan diketahui oleh suami Anda. Jika Anda memiliki waktu luang, hubungi Reno untuk meminta arahan darinya terkait pengumpulan bukti-bukti untuk menjebloskan suami Anda ke penjara."
Eleana menggeleng ketakutan. "Saya tidak mau berurusan dengannya lagi. Saya tak berani menjebloskannya ke penjara. Saya takut, Dokter."
"Tenang. Dengan bukti-bukti yang cukup, Anda bisa melepaskan diri darinya. Kalau pun Anda tidak mau menjebloskannya ke penjara, setidaknya rekaman itu bisa digunakan untuk mengancamnya supaya mempermudah proses perceraian.”
Ferdi menatap lembut pasien yang akan ia selamatkan lalu kembali bertanya. “Bagaimana, apa ide ini cukup bagus untuk dipertimbangkan, Nyonya Eleana?"