"Berapa lantai?"
Arga mengamati dengan seksama detail gambar yang ia pampang. Matanya terfokus pada garis-garis yang membentuk kerangka sebuah gedung.
"Ini base-nya. Kata Jefri sih delapan lantai. Gue bikin empat dulu. Tapi bisa dipakai buat lebih kayak biasa," sahut Kevin.
Engineer muda itu menyeruput Americano-nya. Ia duduk santai di kursi yang tepat berseberangan dengan Arga . Tangannya yang bebas memainkan ponsel. Membalas obrolan dari kekasihnya.
"Jefri mana?" tanya Arga.
Pria berkulit putih pucat itu melepas specs yang membingkai dan membantu penglihatan matanya. Ia memijit-mijit keningnya yang mulai berdenyut. Pertanda ia sudah lelah dan pusing.
"Ketemu customer. Project baru lagi. Bareng Tommy. Sekalian makan siang juga katanya," jawab Kevin lagi tanpa mengalihkan pandangan matanya.
"Udah bilang sama Nino? Kebiasaan itu dua nggak pernah bilang ke Divisi Management kalau proses offer," omel Arga.
Kevin terkekeh. Ini dia. Ini yang akan terjadi jika Arga sedang mengalami banyak tekanan. Stress. Pria itu akan mengomel dan mengeluh ingin tidur.
"Hahaha! Ya elah, Bang! Butek bener... Tenang aja. Mereka nggak bakal nakal. Lagian kan udah ada sistem baru. Nggak bakalan kecolongan lagi."
Kevin tak dapat menahan tawanya ketika menyaksikan betapa suramnya Arga . Terutama setelah mereka minum bersama empat hari yang lalu. Atasan sekaligus sahabatnya itu terlihat sangat aneh. Mood Arga selalu dalam keadaan yang jauh dari kata baik. Pria berekspresi datar itu sering kali tak bisa lepas dari rokoknya. Padahal Kevin tahu benar, sahabatnya itu sudah lama berhenti merokok.
Arga memang sedang dalam keadaan yang sulit untuk dijabarkan. Ia sedang menyiapkan diri untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar daripada jabatannya sekarang, yaitu sebagai Kepala Divisi Engineering dan Marketing.
Mengingat ayahnya yang akan pensiun bulan depan, maka Arga harus merelakan waktu berharga yang biasa ia gunakan untuk tidur dan menyalurkan hobi-hobinya agar lebih fokus untuk pekerjaan. Dan hal tersebut membuat pria bermarga Min itu makin pusing.
Terkadang Arga menyesal telah memenuhi permintaan ayahnya untuk bergabung ke perusahaan kontruksi milik keluarganya itu. Jika ia tahu akan begini rumitnya, mungkin ia lebih memilih untuk membuka usaha yang lain. Usaha yang tak menyita waktunya untuk tidur dan menyalurkan hobi-hobinya. Misalnya membuka toko alat musik atau olahraga. Karena dua komponen itu adalah hobi utamanya.
"Makanya, Bang, dari pada bad mood mulu, mending ikutan kita. Malam ini ngumpul. Lo belakangan absen mulu sih," kata pria yang berambut hitam agak kecoklatan itu.
Kevin menambahkan lagi, "Malam ini gue mau duet sama Wanda. Tapi jangan laporin ke cewek gue ya? Hehehe."
Arga diam-diam berdecak. Rasanya puluhan paku berkarat semakin menghujam pelipis dan tembus ke otaknya. Ugh! Rokok. Arga perlu asupan tar dan nikotin sekarang.
***
Wanda melirik jam tangan hadiah ulang tahun terakhir dari almarhum ayahnya. Sudah hampir pukul setengah delapan. Dan hari ini adalah hari rabu, jadwalnya bernyanyi di Brillante. Maka ia dengan sigap mencuci piring dan alat makan lainnya.
Selesai mencuci piring, ia segera menghampiri lokernya yang berada di samping rumah makan tempatnya bekerja paruh waktu. Tak lain dan tak bukan rumah makan milik tantenya sendiri.
Wanda melirik lagi jam tangannya. Dua puluh menit lagi. Ya ampun, jangan katakan nanti dirinya tidak sempat untuk berdandan lagi. Sudah dua kali tampil di sana, dua kali juga ia tak berdandan dengan lebih spesial.
Hari ini adalah kali ketiganya untuk tampil di Pub itu. Mengingat jadwalnya yang sudah ditentukan, yakni setiap rabu, sabtu dan minggu. Dari pukul delapan hingga setengah sepuluh malam. Ia akan tampil selama satu setengah jam. Dan setelah tugasnya selesai, Wanda akan segera pulang.
"Lho, berangkat sekarang? Nggak nunggu Indra dulu?"
Wanda menoleh dari lokernya seraya mengeluarkan tas gitarnya. "Nggak, Tante. Kalo nunggu Indra pasti bakal kelamaan. Nanti akunya yang telat. Masa nunggu dia pulang ngantor dulu baru berangkat kerja? Lagian bolak-baliknya ngerepotin banget."
Shella hanya bisa menghela napas saat mendengar penolakan dari keponakannya itu. Ia tak ingin memaksakan kehendaknya. Walaupun ia selalu merasa khawatir jika Wanda berangkat ataupun pulang sendiri nantinya. Ia takut jika keponakannya itu mengalami hal yang buruk.
"Memangnya kamu nyanyi di mana lagi sih? Kayaknya uang yang Tante kasih nggak cukup ya?"
Wanda segera menghentikan tangannya yang sibuk merias wajahnya. Ia segera menoleh pada tantenya yang bersandar dan bersedekap di salah satu loker pegawai rumah makan yang lain.
"Nggak. Nggak kok, Tante. Cukup. Berlebihan malah. Wanda cuma mau nyalurin hobi aja, Tante. Beneran deh."
"Emangnya nyanyi di mana?" tanya Shella sekali lagi.
"Di Pub-nya temannya Indra--"
"Ooh, pasti di Pub-nya Sony ya?" potong Shella.
Wanda mengangguk.
"Ya sudah, tapi nanti pulangnya biar diantar Indra ya?"
Wanda mengakhiri riasan tipisnya dengan mengoleskan lip gloss di bibirnya. Kemudian ia menyumbangkan senyumnya pada satu-satunya saudara almarhum ayahnya tersebut.
"Nggak ah, Tan. Males. Soalnya Indra pasti asyik ngumpul sama teman-temannya. Aku males ganggu," tolak Wanda.
Shella menggeleng-gelengkan kepalanya. Pada akhirnya ia harus mengalah. Ada-ada saja cara Wanda untuk menolak segala tawaran yang ia berikan. Sifat Wanda yang memang keras kepala benar-benar merupakan warisan dari ayahnya. Dan terkadang dengan berinteraksi bersama Wanda, Shella merasa seperti sedang berbicara bersama almarhum kakaknya.
"Itu anak emang ya... Nggak pernah peduli sama saudara sendiri. Nanti biar Tante omelin."
Wanda tertawa kecil mendengar gerutuan tantenya. Ia menggendong tas gitarnya seraya menutup pintu lokernya. Kemudian menghampiri tantenya untuk memberinya satu ciuman di pipi. Kebiasaannya. Salah satu cara unik Wanda untuk berpamitan pada tantenya.
"Wanda berangkat dulu, Tan," pamitnya.
"Hati-hati di jalan. Ingat ya, jangan kemaleman."
Gadis itu mengangguk seraya berjalan menuju pintu belakang rumah makan tradisional milik tantenya itu. Ia melangkahkan kakinya dengan agak terburu-buru menuju halte jalur tiga yang akan membawanya ke Senayan.
Semoga tidak terlambat lagi. Begitulah doa yang terus ia panjatkan selama perjalanan menuju Public House milik Sony. Dan pada akhirnya ia tetap terlambat.
Dua puluh menit. Wanda terlambat dua puluh menit dan hal tersebut sungguh membuatnya jengkel. Ia segera berlari cepat dari halte menuju Pub. Untung saja ia memakai sepatu flat kesayangannya. Jadi dia bisa berlari dengan mudah.
Sesampainya di depan pintu masuk, Wanda disapa oleh petugas Security dan gadis bertubuh mungil itu membalas sapaan ramah itu dengan senyuman. Ia sudah tak sempat untuk mengobrol dengan Bapak itu.
"Eh, Kak Wanda. Ayo, ayo, Kak! Udah telat banget. Nanti Kak Sony bisa ngomel."
Itulah sambutan untuk Wanda ketika ia berpapasan dengan Lia. Gadis itu juga ikut panik saat melihat Wanda tergesa-gesa melangkah menuju panggung tempatnya akan tampil.
Wanda mengeluarkan gitarnya dari softcase dan segera duduk di kursi yang sudah disiapkan Arif untuknya. Ia menyalakan dua mic yang posisinya sudah sangat pas untuk gitar dan mulutnya.
Oksigen dihirup sebanyak mungkin untuk membuang rasa panik yang masih tersisa di relungnya. Menenangkan diri sejenak sebelum menyapa para pengunjung Pub dengan kasta tinggi itu.
"Selamat malam."
***
Arga tak mampu melepaskan pandangan matanya dari gadis yang bernyanyi dengan gitarnya di sana. Suaranya yang merdu dengan iringan musik akustik dari gitar sungguh memanjakan indra pendengaran pria itu.
Entah mengapa semakin ia terhanyut dalam lantunan indah tersebut, semakin besar rasa ingin memilikinya. Memilikinya untuk selalu mendengar suara indah itu setiap saat. Dan rasa itu semakin kuat ketika Arga membuka matanya dan melihat bagaimana wajah cantik itu. Kecantikan seorang gadis bernama Wanda saat mendendangkan lagu-lagunya.
Arga tak sadar bahwa ia sudah menopang dagunya pada lengan sofa lounge tempatnya duduk sekarang. Ia juga tak tahu bahwa teman-temannya mulai menatapnya aneh. Bahkan ia tak mendengar bagaimana teman-temannya mulai berbisik dan membicarakannya. Arga terlalu hanyut akan apa yang ia saksikan dan dengarkan.
Dan tatkala nyanyian Wanda berakhir, Arga tak mampu menahan senyumnya. Pipinya tertarik. Dua sudut bibirnya terangkat. Matanya menyipit dan ujungnya mengerut lucu. Giginya yang putih bersih dan rapi pun dipamerkan. Ia ikut tertawa kecil saat melihat gadis itu tersenyum malu karena tepukan tangan dari pengunjung Pub itu.
Namun senyuman Arga segera sirna ketika mendengar celetukan k*****t dari Tommy.
"Duileee, Bang. Biasa aja ngeliatinnya. Nggak usah berbunga-bunga gitu."
Ekspresi datarnya kembali lagi dalam sekejap mata. Sikap yang membuat teman-teman sejawatnya semakin terbahak. Menertawakan dirinya.
Ah, sial!
Dia ketahuan.
Di sisi lain, Wanda yang baru selesai mendendangkan lagu dari Jessie J berjudul Who You Are itu merasakan sesuatu yang aneh. Apalagi setelah ia melihat dengan jelas pria berkulit putih pucat yang beberapa hari lalu berperilaku dingin terhadapnya itu tersenyum. Tersenyum untuknya.
Entahlah. Sesungguhnya Wanda tak ingin terlalu memikirkan senyuman itu. Ia tak ingin menjadi delusional hanya karena sebuah senyum dari pria dingin seperti Arga . Ah, mungkin ia salah sangka. Bisa saja pria itu sedang tersenyum karena mendengar lelucon dari Indra dan teman-temannya, bukan? Mungkin saja.
Kendati tak ingin terlalu memikirkan senyuman itu, Wanda tetap saja seorang gadis yang memiliki perasaan. Gede rasa? Terlalu percaya diri? Haha. Bisa saja hal itu terjadi pada siapa pun. Wanda juga seorang manusia. Seorang perempuan. Walaupun ia tak pernah menjalin ikatan kasih dan jatuh cinta sebelumnya, namun tak dapat dipungkiri jika ia merasakan degupan jantung yang berbeda ketika memergoki dengan jelas saat Arga menontonnya.
Ugh! Hentikan!
Come on, Wanda! Jangan pikirkan hal-hal aneh seperti itu. Kau terlalu berlebihan. Apa kau lupa bagaimana pria itu mengacuhkanmu dengan dingin saat pertemuan pertama kalian? Lupakan saja. Jangan terlalu percaya diri!
Mengingat hal tersebut membuat d**a Wanda sedikit nyeri. Hmm. Mungkin segelas minuman dingin mampu menghilangkan rasa aneh ini.