"Bisakah anda menjauh dari bunda saya, saya menghargai anda, karena anda tamu di rumah ini, harusnya anda juga begitu, bertamu ke rumah orang dengan sopan, beruntung anda bertemu saya dan bukan Sena abang saya, silakan pergi, itu pintunya, tidak saya tutup," ujar Ejak berusaha menormalkan napasnya.
"Saya mencintai bunda anda, dan setahu saya dia tidak sedang dekat dengan siapapun, jika dia mengatakan sudah menikah apakah pantas dikatakan sebuah pernikahan jika dia tidak pernah dinafkahi lahir dan batin, permisi," Victor melangkahkan kakinya menuju pintu.
Devi memeluk Ejak dan menangis, Ejak memeluk bundanya dengan ragu.
"Maaf kalau Ejak lancang bunda," ujar Ejak pelan.
"Nggak papa Jak, bunda berterima kasih, maaf jika kamu menganggap bunda tidak layak jadi bunda yang baik, dia orang baik Jak, berlaku lembut pada bunda, tapi jika menyangkut ayahmu dia jadi marah, dia selalu mengatakan bunda terlalu naif," Devi melepaskan pelukannya dan duduk di samping Ejak di sofa ruang tamu.
Devi mengusap air matanya yang berlelehan, ia merasa malu pada Ejak, ia merasa tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai orang tua dari anaknya, harusnya ia membiarkan saja Victor pergi tanpa harus membuka pintu saat ia menekal bel berulang.
Ejak memeluk bahu bundanya, dan mengusapnya perlahan.
"Nggak bundaa, nggak, bunda adalah bunda yang hebat, bunda yang tetap menjaga kehormatan bunda, sejak dulu banyak yang suka sama bunda, Ejak dan abang sangat tahu itu, tapi sampe sekarang bunda sendiri aja, bahkan bunda selalu menjaga jarak jika sudah ada yang mendekati bunda, hanya bule satu itu yang agak nekat bunda, bunda nggak usah punya pikiran sampe kayak gitu," ujar Ejak menenangkan bundanya.
Tak lama Livia datang melihat Devi menangis dan Ejak yang menenangkannya, Livia segera berlalu menuju kamarnya.
Setelah berganti baju, ia menuju ruang makan, membuka kulkas dan mengambil air minum.
Livia menoleh saat Ejak duduk tak jauh dari tempat dia berdiri, mendekati Ejak dan meraih gelas lalu menuangkannya dan meneguknya perlahan.
"Kenapa bunda mas, duh sedih banget wajah bunda," ujar Livia pelan.
"Tadi pas aku pulang, aku lihat bunda terkurung di pojok sofa dengan wajah tegang, bule itu deket banget ke wajah bunda, seandainya aku terlambat nggak tahulah Livi, untung bukan abang yang ngelihat itu, sendainya abang yang nemuin tuh bule duh nggak tahu lagi dah," Ejak meraih gelas Livia dan meminumnya.
"Bunda jadi kayak malu lihat aku, makanya aku tenangkan bunda, dari tadi dia nangis Livi, ah kasihan bunda disaat masih bingung sama tawaran ayah eh bule itu gangguin aja," Ejak memutar-mutar gelas yang dipegangnya.
"Mas, jadi belum pasti bunda mau balik sama ayah?" tanya Livia terlihat kecewa.
"Nggak tahulah," ujar Ejak menghela napas berat.
"Mereka cocok banget cantik dan tampan, bunda yang mungil tapi gesit dan ayah yang tinggi menjulang tapi kalem, perpaduan yang bagus" Livia tersenyum membayangkan wajah Devi dan Nanta.
"Kayak kita Livi," ujar Ejak tiba-tiba. Wajah Livia memerah seketika.
"Ih mas Ejak," Livia menepuk bahu Ejak perlahan dan berdiri namun kakinya mengenai kaki kursi dan hampir jatuh hingga Ejak segera berdiri dan memeluk bahunya.
"Sakit?" tanya Ejak cemas, tanpa sadar wajahnya menunduk dan sangat dekat dengan Livia, keduanya bertatapan sangat dekat.
Ejak mendekatkan bibirnya dan mencium Livia sekilas lalu memeluk Livia dengan erat.
"Maafkan aku, jika aku lancang, aku mencintaimu Livi, mungkin ini untuk kedua kalinya aku bilang, aku nggak mau kamu jawab, dan nggak perlu," ujar Ejak melapaskan pelukannya dan berusaha menenangkan debaran di dadanya, menatap wajah Livia dan mengangkat dagunya mendekatkan lagi bibirnya pada bibir Livia, mengulumnya pelan dengan bibir bergetar.
Livia merasakan bibir Ejak yang bergetar sama dengan dirinya, ia tahu Ejak tidak berpengalaman untuk hal seperti ini, dan bagi Livia ini juga untuk yang pertama baginya.
****
Sena tersenyum melihat keberanian Ejak mencium Livia, meski ada rasa sakit di dadanya ia segera berbalik, masih dengan baju kokinya, ia kembali karena ponselnya tertinggal tapi ia urungkan karena melihat Ejak dan Livia yang sedang berpelukan.
Sena melangkah sambil berjingkat dan membuka perlahan kamar bundanya, bunda menatap Sena dan Sena meletakkan telunjuk dibibirnya lalu berbisik.
"Bun, Sena berangkat lagi ya, mau ambil ponsel ketinggalan maunya, tapi nggak jadi, ini ada cap cay hangat kesukaan Ejak, Sena balik lagi ya bun," Sena mencium kening Devi dan melihat mata sembab bundanya.
"Bunda kangen ayah ya, Sena balik cafe ya bun, nanti minta tolong bilangkan ke Ejak suru nganter ponsel Sena ya bun, bai bun," Sena secepatnya melangkah dan hilang di balik pintu.
Devi masih bingung dengan Sena yang datang tiba-tiba dan cepat pergi, mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel.
Perlahan Devi bangkit dan duduk, mengusap matanya dan mengikat rambutnya.
Ia meraih bungkusan dari Sena dan melangkah ke dapur, menemukan Ejak dan Livi yang duduk bersisian tanpa bersuara tangan mereka saling menggenggam namun Livia segera menarik tangannya dari genggaman Ejak.
"Ini sayang, kiriman dari abangmu, eh iya dia minta tolong ponselnya nanti antarkan ya, ketinggalan katanya tapi aneh, dia nggak jadi ambil malah nitip makanan itu sama bunda, suru kasikan kamu," ujar Devi.
Ejak dan Livia berpandangan dengan wajah memerah.
"Ok bun Ejak antar ke cafe sekarang, aku tinggal dulu Livi," Ejak menyentuh bahu Livia, Livia mengangguk dan menatap Ejak dengan wajah bingung, Ejak hanya tersenyum dan menenangkan Livia lewat tatapannya.
Devi merasakan ada hal yang aneh dari tatapan anak-anaknya, tapi ia tak tahu apa itu.
****
Ejak melangkahkan kakinya masuk ke Artline Cafe, masuk lewat pintu samping dan terlihat abangnya ya sedang asik memasak dengan cekatan, selesai menyajikan pada piring segera diletakkannya di troly makanan.
Sena kaget melihat adiknya yang mengacungkan ponselnya. Sena melangkah cepat dan meraih ponselnya lalu memasukkan dalam tas kecil yang ia gantung di dinding.
Sena tersenyum lebar saat adiknya terlihat bingung menatapnya.
Tanpa berkata-katapun mereka sudah tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.
"Bang," suara Ejak terdengar pelan, Sena menepuk bahu adiknya dan terdengar tawanya.
"Hebat, ada kemajuan besar."
"Maafkan aku, aku...," Ejak semakin bingung.
"Apanya yang minta maaf, lanjut, wanita perlu hal yang pasti Jak, jangan ragu, yakinkan Livia bahwa kamu bersungguh-sungguh," ujar Sena.
"Ok, aku kerja lagi Jak, pesanan sudah mulai datang," Sena menuju tempatnya, menatap lembar oderan dan ia mulai memasak.
Ejak menatap punggung kakaknya yang menghilang di pintu samping.
****
"Livia minta maaf bun," suara Livia terdengar pelan. Devi mengusap rambut Livia.
"Jadi kamu memastikan pada Ejak atau Sena, sayang?" tanya Devi.
"Mas Sena sejak awal sudah menolak saya bunda, jika dengan mas Ejak lama-lama saya merasa nyaman karena dia sabar, selalu mau jadi pendengar jika Livi curhat, akhirnya ya kayaknya Livia dikit-dikit mulai suka ke mas Ejak," Livia menunduk dan memainkan kedua tangannya.
"Baiklah, kamu hanya harus memastikan bahwa kamu mulai serius dengan Ejak, jangan buat Ejak bingung dengan sikapmu, ia sangat perasa," ujar Devi menatap wajah cantik Livia.
Livia mengangguk dan menatap wajah Ejak yang tiba-tiba berdiri di belakang Devi.
****