#18

1272 Words
Siang sebelum menuju bandara, Ananta pamit pada Devi, Ananta memeluk Devi lalu segera ia lepaskan, Ejak dan Sena melihat keduanya yang masih saling memandang dan terdengar berbicara dengan suara pelan. "Aku pulang Dev,  seminggu lagi aku akan ke sini,  kita menikah ya,  setelah itu aku akan membawamu ke Jojga meski hanya beberapa hari," ujar Ananta, Devi hanya mengangguk tanpa bersuara. Ananta di antar Sena dan Ejak ke bandara. Devi menatap punggung ke tiganya saat mobil yang dikemudikan Sena semakin menjauh. "Bunda,  bunda kok sedih?" tanya Livia. "Bunda bingung Livi, bunda tidak mau membohongi diri sendiri kalau bunda masih sangat mencintai ayah Sena dan Ejak,  tapi untuk mulai bersama lagi banyak yang harus dipertimbangkan," ujar Devi saat keduanya sudah berada di kamar Devi. "Duh bunda,  kok jadi ribet sih, kalau sudah cinta segalanya bisa jadi mudah,  kalau bunda mikir ribet ya emang jadi ribet bun," ujar Livi mencoba menghibur bundanya. "Bunda itu cocok banget sama ayah, bunda langsing kecil mungil, gesit, ayah tinggi besar,  gagah, ganteng lagi, " ujar Livia, Devi hanya tersenyum menatap wajah Livia yang juga tersenyum padanya. "Entahlah Livi,  aku masih bimbang," sahut Devi pelan. "Paling bunda masih takut sama nenek ya, Livia temani ya nanti, mau kan, atau mas Ejak sama mas Sena ikut juga, kan rame-rame,  jadinya bunda nggak akan grogi," saran Livia dan Devi terlihat mulai tersenyum. "Boleh juga saranmu," ujar Devi dan mulai menghadapi komputer lagi karena naskah ceritanya yang terbengkalai beberapa hari ini sejak ada Ananta di rumahnya. Perlahan Devi memejamkan matanya, dan dadanya berdebar lagi mengingat bagaimana ciuman dan sentuhan Ananta mampu membuat lupa segalanya, Devi menghela napas berat,  ia harus mengakui jika ia masih sangat mencintai Ananta. Devi berusaha berkonsentrasi lagi pada naskah yang ia ketik. **** "Bunda belum tidur?" tanya Sena sambil melangkah ke kamar bundanya dan merebahkan diri di kasur. "Belum Sena,  ini masih merevisi kumpulan cerpen, ada apa,  mana Ejak?" tanya Devi namun matanya tak lepas dari komputer. "Di taman belakang sama Livia," jawab Sena. "Eeemmm bener ya bunda, bunda segera nikah sama ayah, kasihan ayah bun,  bener-bener sendiri," ujar Sena, matanya menatap langit-langit kamar bundanya. "Entahlah Sena, bunda justru merasa bimbang,  tapi bunda nggak bisa membohongi diri sendiri jika bunda masih sangat mencintai ayahmu," sahut Devi perlahan. "Apa yang bunda pikir, nenek, kalau bunda tahu keadaannya pasti kasihan,  kurus banget bun, tergolek lemah, Sena sempat lihat foto-foto nenek di dinding rumahnya,  beda jauh bun,  di foto-foto itu nenek sangat gemuk dan terlihat memang kalau keluarga ayah dari keluarga berada, kasihan banget sekarang bun,  rumahnya gak ke urus,  kelihatan sih kalau rumah itu pernah sangat megah di jamannya,  tapi cat pagar dan tembok yang memudar jadi malah nyeremin rumah itu bun," ujar Sena lagi. Terdengar helaan napas Devi,  ia pandangi Sena yang masih saja berbaring di kasurnya. "Kamu baik-baik saja Sena?" tanya Devi. Dan Sena menoleh menatap bundanya dengan tatapan penuh tanya. "Pasti bunda ngira Sena sakit hati ya Ejak sama Livi lagi di taman belakang, nggak bun, beneran nggak,  Sena nih lagi capek dan banyak kerjaan karena mulai besok sudah aktif di cafe temen Sena sebagai koki, nggak mau bantu kasihan, koki utamanya brenti karena bikin cafe sendiri," terdengar helaan napas Sena. Devi masih saja memandangi Sena, yang terlihat menatapnya sambil tersenyum, merasakan kegundahan bundanya. Sena bangkit dari kasur Devi dan pamit akan ke cafe temannya. **** Pagi-pagi Sena sudah pamit, padahal cafe teman Sena buka dari jam 10.00-24.00. "Awas capek loh kamu Sena," terdengar nada kawatir Devi. "Ah bunda,  kokinya bukan cuma Sena,  ya temen Sena itu juga bun, udah ya Sena berangkat dulu," Sena memeluk bundanya dan meraih tangan Devi, mencium punggung tangannya lalu melangkah lebar menuju motornya **** "Kemana abang bun?" tanya Ejak. "Ke cafe temannya,  mulai hari ini dia bantuin di sana, kayaknya sampe nanti kalian mulai kuliah lagi deh," jawab Devi sambil menatap makanan di meja. "Sarapan nih Jak,  Liviiii kalau sudah mandinya,  ayo sarapan," ajak Devi dan Livi muncul tak lama kemudian. "Jak, bunda minta tolong ya,  bunda mau segera nyelesain novel yang bunda bikin, liburan kamu kan tinggal sebulan, tolong kamu kerja sama dengan Livi mengenai dua toko roti kita dan awasi finishing cabang yang baru, bisa kan Jak?" pinta Devi dan Ejak mengangguk. **** Saat Devi sedang asik berkonsentrasi dengan tulisannya ia dikejutkan dengan bunyi bel berkali-kali, dengan malas Devi beranjak dari duduknya. Ia kaget saat melihat Victor di depan pintu,  segera ia berganti kaos lengan panjang dan mengganti celana pendeknya dengan celana jeans. Saat membuka pintu Devi menemukan wajah tampan di depannya, menatapnya dengan tatapan sedih juga penuh rindu. "Ada perlu apa?" tanya Devi dan Victor duduk di dalam ruang tamu tanpa ia persilakan. Akhirnya Devi memilih duduk berhadapan. "Benar laki-laki itu suamimu?" tanya Victor pelan dan Devi mengangguk. "Bagaimana ia menemukanmu?" tanyanya lagi. "Takdir mungkin Vic, anak-anakku berpraktik di hotel milik ayahnya, di Jojga sana dan akhirnya dia tahu semuanya dari biodata anak-anakkku, aku memang tetap memberi nama keluarga ayahnya di belakang nama anak-anakku," jawab Devi menatap Victor yang menghela napas dan wajahnya nampak resah. "Lalu,  kamu bagaimana?" tanyanya lagi. "Aku masih mencintainya Vic,  sangat, aku tak bisa membohongi diriku,  saat ternyata aku menikmati ciumannya," dan Devi kaget saat Victor berpindah tempat di sebelahnya dan memegang lengannya dengan kuat dengan wajah sedih. "Jangan lanjutkan ceritamu,  jika hanya akan membuatku sakit,  kau tak pernah mau,  selalu menolak jika aku akan....," Victor tak melanjutkan kalimatnya ia melumat bibir basah Devi dengan kasar, Devi memberontak dan mulai mendorong d**a Victor, namun tangan dan badan Victor yang besar dapat mengunci gerakan Devi. Victor melepaskan ciumannya saat dirasa mulai kehabisan napas. Dan Plaaaaak... Tangan mungil Devi digenggam oleh Victor setelah mendarat sempurna di pipinya, mata Devi terlihat berkaca-kaca. "Kamu...kamu lancang," suara Devi terdengar berbaur dengan tangisnya. Victor lalu memeluk Devi dengan erat. "Aku mencintaimu Dev,  sangat, ceritamu tentang ciuman itu sangat membuatku cemburu, maafkan aku,  maafkan aku jika aku lancang,  aku sangat ingin menciummu,  menyentuhmu sejak lama, bukan karena nafsu tapi karena aku mencintaimu,  jika karena nafsu,  sudah aku lakukan sejak lama," ujar Victor perlahan melepas pelukannya. "Aku sudah menikah Vic, aku bilang itu berkali-kali," ujar Devi pelan dan masih menyisakan isaknya. "Pernikahan macam apa jika dia meninggalkanmu puluhan tahun dan dengan bodoh kau menunggunya?" tanya Victor lagi. "Kami memiliki anak, itu yang membuat kami semakin sulit dilepaskan Vic," jawab Devi berusaha menggeser duduknya, menjauh dari Victor namun Victor juga semakin mendekat. "Vic, please," suara Devi terdengar memelas. "Kamu masih muda, gagah dan tampan, banyak wanita lain yang seusia denganmu, yang bisa kamu cintai, jangan aku, usiaku tak lagi muda, kamu tahu, jika kita jalan berdua aku selalu risih,  aku seperti jalan dengan Sena atau Ejak," ujar Devi lagi. "Itu hanya perasaanmu, berkacalah, di usia matangmu,  kamu terlihat lebih muda dari aku, aku tidak peduli masalah usia Dev,  kamu tahu itu,  sejak awal aku sudah bilang padamu kan?" tanya Victor. "Bahkan mamaku langsung menyukaimu saat pertama  bertemu denganmu, dia sangat berharap kamu jadi menantunya, aku mencintaimu Dev," ujar Victor semakin mendekatkan diri pada Devi. Dan Devi terdesak di sofa. "Vic, pulanglah,  aku tidak mau kita jadi saling tidak enak,  aku tidak mau kamu maksa aku,  aku menganggapmu teman,  itu saja," ujar Dev. "Tidak Dev,  sebelum laki-laki itu datang, kamu seperti memberi harapan padaku,  tapi kamu malah begini setelah dia datang dalam hidupmu, aku yakin kamu juga menyukaiku,  jika kamu tak berani mengatakan itu cinta," Victor memegang bahu Devi. "Tidak kamu salah,  aku memang menyukaimu, tapi sebagai teman Vic,  kamu orang baik,  siapapun akan menyukaimu," Devi benar-benar merasa takut saat napas Victor menerpa wajahnya. Perlahan Victor mendekatkan bibirnya pada Devi, disaat yang bersamaan secepatnya Devi menoleh hingga Victor hanya bisa mencium pipi Devi yang tertutup rambut. "Bunda," suara Ejak yang datang tiba-tiba, mengagetkan keduanya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD