#17

1314 Words
"Waduh Jaaaak bule Jerman itu datang lagi, padahal dah diusir-usir sama bunda, lumayan lama ngilang eh datang-datang meluk bunda lagi, kalau nggak ada ayah dah selesai tuh orang," Sena terlihat melongokkan kepalanya melihat ke taman depan. Ejak dan Livia akhirnya ikut melihat apa yang dikatakan Sena. Mereka melihat Ananta mendekati laki-laki itu dan berdiri sangat dekat. **** "Maaf, bisa lepaskan tangan anda dari istri saya?" tanya Ananta sambil menahan amarah yang masih menggelegak. Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ananta dengan sangat dekat. "Aku tidak tahu harus percaya atau tidak, atau ini hanya akal-akalan Deviana agar aku menjauh maka menyuruhmu mengaku sebagai suaminya yang tak mencarinya selama puluhan tahun, jika memang benar kamu suaminya dan tak tahu malu masih mengaku sebagai suaminya, aku tidak takut padamu, aku akan terus mendekatinya, asal kamu tahu aku tidak terikat dengan siapapun, aku belum menikah, usiaku terpaut sepuluh tahun dibawahnya dan aku tak peduli, jika aku menjadi kamu, aku akan membiarkannya bahagia dengan orang lain, terlalu lama dia menderita dan bodohnya lagi dia mau menunggumu, ingat aku takkan berhenti mencintainya, camkan itu," Victor melangkah lebar menuju pagar dan sempat menatap wajah Ananta serta Deviana yang ada di belakang Ananta, lalu berbicara sekali lagi. "Aku akan mendapatkanmu Devi, jika aku sempat menghilang dua bulan, karena aku hanya meyakinkan diriku saja, apakah aku bisa menjauh darimu, ternyata... aku tak pernah bisa," Victor melangkah ke luar pagar. **** Devi menghembuskan napas setelah minum satu gelas air hangat. Ia letakkan gelas di meja lalu menatap wajah Ananta. "Bisa kamu ceritakan, dia siapa?" tanya Ananta menatap wajah Devi yang tampak sedih. "Dia pelanggan tetap di toko rotiku, dia dosen dari Jerman yang melakukan penelitian budaya di Ubud, awalnya ya karena dia orang baru di sini aku layani dengan ramah,lama-lama kami berteman, aku tidak menyangka jika akhirnya ia menyukaiku, berkali-kali aku mengatakan bahwa aku sudah menikah, anak-anak mencari serta menunggumu, aku ceritakan semuanya agar dia menjauh dariku, agar dia mencari yang lain, jangan orang sepertiku yang sudah menikah, tapi dia tetap saja," ujar Devi lagi-lagi mendesah. Ananta meraih jemari Devi, menatap wajahnya dari dekat. "Aku takut dia benar-benar akan membuatmu jatuh cinta Dev, dia sangat tampan, terlalu sempurna secara fisik," ujar Ananta pelan. "Jika aku mau, sudah sejak awal aku akan menjalani hidup dengannya, dia terlalu muda untukku Nanta," sahut Devi perlahan menarik tangannya dari genggaman Ananta. "Mungkin karena badanmu yang mungil, dia terlihat tidak jauh beda denganmu, kamu awet muda, tampak tak jauh beda dengannya," sahut Ananta pelan. "Tidak, dia masih terlihat muda mas, aku merasa sungkan jika berjalan dengannya saat mengenalkan daerah sekitar sini padanya, seperti emak-emak yang jalan bareng anaknya," ujar Devi sambil tersenyum. "Kita segera menikah ya Dev, aku takut," ujar Nanta kembali meraih jemari Devi. "Boleh kan aku mikir dulu?" tanya Devi dan Ananta menatap wajahnya dengan ragu. "Kamu mau memberikan kesempatan padanya?" tanya Ananta dengan wajah sedih. "Mas, bukan itu, aku masih...,"kalimat Devi terpotong saat Ananta meraih Devi dalam pelukannya. "Jangan membuat aku semakin takut dan tersiksa Dev, aku merindukanmu sejak lama, aku yakin kamu begitu juga, lalu apa artinya kita dipertemukan lagi jika kita tak bisa bersatu kembali?" ujar Ananta dengan suara yang semakin pelan. Devi memejamkan matanya merasakan harum badan Ananta dan detak jantung yang berdentuman di telinganya. Perlahan ia melepaskan diri saat dirasakannya senja yang datanfdan semburat jingga mulai tampak. "Kita masuk mas, ini sudah waktu magrib," ujar Devi bangkit dari duduknya dan diikuti Ananta masuk ke dalam rumah. **** Malam hari Sena, Ejak dan Ananta berjalan-jalan bertiga dan mampir di sebuah cafe milik teman Sena, di sana mereka terlihat berbicara serius. "Maksud kamu bule itu ya Sena yaang nekat sering menemui bundamu?" tanya Ananta menyesap lattenya perlahan. "Ya, sebenarnya sih nggak masalah laki-laki menyukai wanita, hanya Victor terlalu ngepush bunda, bundanya jadi takut dan Sena juga akhirnya kawatir dia melakukan hal nekat pada bunda, aku tahu dia sangat mencintai bunda, dia serius sama bunda, pernah ngajak mamanya menemui bunda loh yah, dia sudah tujuh bulan di ubud menyelesaikan penelitiannya untuk disertasi program doktornya, dan ada sekitar dua tiga bulanan kayaknya ya Jak ngilang eh tadi datang langsung meluk-meluk bunda lagi," ujar Sena menoleh pada Ejak dan Ejak terlihat mengangguk. Ananta menghembuskan napas berat. "Ayah cuman pengen menyakinkan bunda kalian agar segera menikah kembali dengan ayah, ayah nggak masalah jika harus tinggal di sini Sena, Ejak, ayah bisa mengawasi kedua hotel ayah dari sini," ujar Ananta menatap wajah kedua anaknya bergantian. **** Saat Sena, Ejak dan Ananta kembali ke rumah, Devi dan Livia audah tidur. Keadaan rumah sudah sepi, akhirnya ketiganya masuk ke kamar masing-masing. Malam sekitar jam satu Ananta ke luar dari kamarnya ia menuju ruang makan dan meraih gelas, lalu membuat kopi karena ia merasa sulit tidur. **** Sesekali Ananta menyesap kopinya sambil memejamkan matanya. Setelah habis, ia letakkan gelas di tempat cuci piring dan melangkah ke serambi. Ananta menoleh sesaat ke kamar Deviana yang pintunya terbuka sedikit, mungkin Devi sempat bangun namun tak menutup kembali dengan rapat. Dibukanya perlahan dan melihat Devi yang tidur meringkuk, memeluk guling. Ada rada sedih saat melihat Devi yang tertidur dengan wajah sedih dan mata sembab, entah apa yang dipikirnya sampai ia menangis. Ananta duduk di pinggir kasur Devi, diusapnya lengan Devi yang terbuka. Sesaat Devi bergerak namun ia tak membuka matanya. Ananta kembali mengusap rambut Devi, lalu mencium keningnya lama. Devi membuka mata dan kaget saat mengetahui Ananta duduk di dekatnya. "Mas?" ujarnya berusaha bangun, namun Ananta tetap menahannya untuk berbaring. "Maaf jika aku lancang masuk dalam kamarmu," ucap Ananta pelan dan ia baru menyadari jika devi menggunakan hotpans yang sangat pendek. Ananta tersenyum dan mengusap paha Devi. Tentu saja Devi kaget dan memegang tangan Ananta. "Mas, jangan," ujar Devi dan napasnya mulai naik turun. Namun Ananta justru menunduk dan melabuhkan bibirnya pada bibir Devi yang terbuka karena menahan napas. Sejenak Devi terbawa kenangan lalunya saat ia masih bersama Ananta. Ananta menyusuri leher jenjang Devi yang mendesah perlahan saat Ananta mulai menyusupkan tangannya ke dalam kaos Devi, ia menemukan Devi yang tak menggunakan apapun di sana. *** Kedunya kaget saat menyadari mereka berpelukan dan kulit mereka bersentuhan secara langsung, napas Ananta terdengar menderu namun tangannya masih saja mengusap milik Devi. "Jangan mas, jangan dilanjutkan," tangan Devi memegang erat tangan Ananta, sebelum hal lebih jauh mereka lakukan. Perlahan Ananta menarik tangannya dan meraih tisu yang tak jauh dari tempatnya berbaring. Memeluk Devi lagi lalu mencium bahu terbuka Devi sambil memejamkan matanya. Mengusap rambut Devi dan berbisik perlahan. "Aku tahu jika kamu masih sangat menginginkanku, apa yang kita lakukan tadi membuat aku semakin yakin, seminggu lagi aku akan kembali, kita menikah, dan akan aku ajak kamu menyusuri kembali kenangan kita di Jogja, lalu menemui ibu," Ananta mengusap anak-anak rambut di kening Devi, menatap Devi yang juga menatapnya, perlahan Ananta melihat Devi yang menganggukkan kepalanya sambil menutupi dadanya dengan bantal. "Terima kasih," ujar Ananta sambil meraih kaosnya dan memakainya, ia masih merasakan nyeri di pangkal pahanya. "Mas kenapa?" tanya Devi saat melihat Ananta mengerutkan keningnya. "Lama tidak seperti tadi membuatmu tidak peka Dev, celana dalamku jadi sesak," Ananta menahan tawa saat dilihatnya dalam remang cahaya lampu kamar, wajah Devi memerah. "Mas ke luar sana, kembali ke kamar, aku mau pakai kaosku," ujar Devi mulai duduk namun masih memeluk bantal. "Pakailah, aku sudah pernah melihat semuanya dan tidak akan menganggumu," Ananta meraih kaos Devi dan meletakkannya di depan Devi. "Nggak, pokoknya mas ke luar dulu, aku masih belum terbiasa lagi," ujar Devi terlihat malu. Ananta tersenyum dan berdiri dari duduknya, melangkah menuju pintu. Di saat ke luar dari kamar Devi ia melihat Sena yang tiba-tiba berada di depannya, ada rasa malu pada anaknya, namun Sena terlihat tersenyum lebar. "Mau ke mana Sena ini masih jam dua dini hari?" tanya Ananta. "Ke teras aja ayah, di sana kan bisa lihat satu dua orang yang lalu lalang, Sena nggak bisa tidur, eh kaos ayah kebalik deh kayaknya," ujar Sena menyentuh kaos Ananta dan Ananta melihat senyum Sena yang semakin lebar. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD