"Kami berangkat ya bun," Sena dan Ejak bergantian memeluk bundanya. Ananta mendekat dan memegang pundak Devi, mencium keningnya agak lama sampai Devi mendorong pelan d**a Ananta.
"Aku bawa anak-anak ya Dev, aku janji mereka paling lama tiga hari," ujar Nanta sekali lagi menatap wajah Devi dan tersenyum perlahan, lalu melangkah mengikuti Sena dan Ejak, Nanta menoleh lagi pada Devi dan melambaikan tangan.
****
"Rumah kok sepi bun?" tanya Livi mengagetkan Devi yang sedang mengetik di kamarnya.
"Aduuuh Livi ngagetin aja, iya nih bunda sendirian, Sena dan Ejak berangkat ke Jogja tadi siang," jawab Devi kembali serius menatap komputernya.
"Ke Jogja, kok mendadak bun?" tanya Livia kaget.
"Iya, tadi ayahnya ngajak Sena sama Ejak ketemu neneknya, bunda nggak bisa bilang apa-apa karena walau bagaimanapun beliau memang neneknya meski bunda belum bisa menghilangkan semua kesakitan bunda," Devi terlihat sedih.
"Berapa hari bun?" tanya Livia lagi.
"Tiga hari paling lama, emang kenapa, kangen Ejak?" tanya Devi menahan senyumnya.
"Ah bunda, saya merasa takut waktu Ejak marah ke saya, saat saya nginep di mess karyawan," ujar Livi duduk di kasur Devi.
"Dia kepikiran waktu kamu nggak di sini, dia mikir makan kamu gimana, kamu kan sulit makan," ujar Devi dan mata Livia perlahan berpendar mendengar Ejak yang memikirkannya.
"Masa sih bun?"tanya Livia.
"He'eh, malah maunya beliin kamu makanan, tapi dilarang sama bunda, bunda yakin kamu pengen menjauh dari semua hal yang membingungkanmu," ujar Devi tersenyum lembut pada Livia. Livia terlihat berusaha tersenyum.
****
"Ayo Sena, Ejak, masuklah, itu kamar kalian ya, nggak papakan buat berdua?" tanya Nanta setelah sampai di rumahnya.
"Sejak kecil kami terbiasa berbagi ayah, kamarpun begitu," sahut Sena sambil tersenyum.
"Ada sebenarnya beberapa kamar di rumah ini hanya yang berjajar dengan kamar utana ya hanya ini, kamar yang lain berada di samping taman di belakang sana," ujar Nanta.
"Rumah sebesar ini, ayah hanya sendirian?" tanya Ejak masih saja berdiri memandang rumah ayahnya yang sangat besar dan mewah.
"Ada dua pembantu dan tukang kebun, tapi ada di belakang semua kamarnya, mereka jarang ke sini, paling hanya saat bersih-bersih saja," ujar Nanta yang melihat Sena tertegun menatap foto pernikahan ayah dan bundanya yang sangat besar berada di ruang keluarga.
"Bunda cantik nih Jak," ujar Sena yang masih saja tertegun dan Ejak berjejer di sisi Sena ikut menatap foto pernikahan orang tuanya.
"Yah bunda kalian selalu cantik," ujar Nanta ikut melihat foto pernikahannya.
"Makanya ayah sulit melupakan bundamu, meski berkali-kali mencoba mencintai seseorang tapi bayangan bundamu selalu berada di mata ayah," Ananta menatap foto pengantinnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak lama Ananta menyuruh pembantunya untuk menyiapkan makan malam.
****
"Kalau kalian tidak capek, besok kita ke rumah nenek," ajak Ananta.
"Iya ayah, kami siap kapan saja ayah mau," jawab Sena, Ejak hanya mengangguk saja.
"Eemm ngomong-ngomong kalian sudah pada punya pacar?" tanya Ananta sambil tersenyum menatap Sena dan Ejak bergantian, Sena terlihat tersenyum lebar dan Ejak yang hanya menahan senyumnya sambil menikmati makan malam.
"Eeemmm kalau Sena sih belum yah," jawab Sena sambil tertawa.
"Belum sepuluh yah," jawab Ejak yang disambut tawa Ananta.
"Ejaaak kapan aku pernah pacaran hah?" tanya Sena sambil menyendokkan nasi dan lauk kemulutnya.
"Ya lupalah, saking banyaknya," jawab Ejak lagi.
"Nggak ayah, nggak bener Ejak, aku nggak pernah ngapelin cewek manapun, mereka yang datang ke kosanku yah, mereka yang ngejar aku," jawab Sena.
"Hmmm mana ada maling ngaku yah," jawab Ejak kalem.
"Kalau Ejak?" tanya Ananta.
"Ada yaaah ada, cuman sejak dulu dilihaaaat aja, Sena bilang ke Ejak, emang kucing dilihatin aja, ternyata pas bilang ceweknya nolak dia jadi patah semangat, ya karena Ejak kurang pendekatan sih yah, aku kasi semangat ke dia, pasti lama-lama ceweknya luluh juga," ujar Sena meraih air minum di depannya.
"Agak males aja yah, saingannya berat, abang sendiri," ujar Ejak pelan yang membuat Ananta tersedak dan segera minum.
"Ayah nggak papa?" tanya Sena.
"Nggak papa, emang bener Sena kata Ejak tadi?" tanya Nanta menatap Ejak dan Sena bergantian.
"Ck bohong yah, Ejak aja kurang usaha, kurang semangat juang," ujar Sena menatap wajah adiknya yang mulai tersenyum.
"Bener yah, Ejak nggak bohong, tapi Ejak nggak benci abang kok, namanya cinta nggak tahu ke mana arahnya, Ejak benci diri sendiri aja yang sulit bergaul dan sulit ramah sama orang, jadinya tuh cewek lebih suka ke abang yang lebih sering becandain tuh cewek," ujar Ejak pelan.
"Hhhmmm rumit juga cerita kalian, tapi ayah kagum, kalian tetap kompak dan nggak saling nyalahkan," ujar Ananta.
"Ya nggak lah yah, bagi Sena, saudara segala-galanya, Sena nggak mau masalah gini jadi ngerusak hubungan Sena sama Ejak," sahut Sena yang membuat Nanta tersenyum, kagum pada Devi yang mampu mendidik kedua anaknya dengan sifat-sifat baik.
****
"Ini rumah ayah?" tanya Sena tak percaya melihat rumah yang kurang terawat, bahkan cat di pagar terlihat sangat kusam, rumah besar yang masih terlihat sisa-sisa kemegahannya namun tampak tidak terurus.
Perlahan Nanta membuka pagar yang tampak rapuh dan diikuti oleh kedua anaknya.
Nanta mengetuk pintu dan tak lama terdengar langkah kaki lalu pintu terbuka, tampak wanita paruh baya terlihat kaget.
"Cari siapa ya tuan?" tanya wanita tersebut.
"Saya mau bertemu dengan ibu, apakah ibu saya ada?" tanya Nanta dengan wajah datar.
"Oh tuan Nanta, benar kan?" tanya wanita tersebut terlihat gembira.
"Mari-mari masuk tuan, nyonya selalu menyebut nama tuan."
"Sepi sekali rumah ini, adik saya, wulan, apa tidak di sini?" tanya Ananta mengikuti wanita yang masih terlihat sehat meski usianya tidak muda lagi.
"Anu tuan, duh panjang ceritanya, nanti saja, yang penting ketemu nyonya dulu," ujarnya lagi.
"Saya harus memanggil bik siapa ya?" tanya Nanta.
"Jamirah tuan," ujarnya membuka pintu sebuah kamar dan terlihat sesosok wanita lemah, tertidur, berselimut sampai d**a, kurus dan pucat.
Wajah Nanta tercekat, inikah ibunya yang dulu gemuk dengan wajah yang keras menakutkan, kini terlihat kuyu tak berdaya.
Ananta bergegas masuk berjongkok di sisi ibunya, matanya berkaca-kaca, hilang sudah segala marah dan bencinya, ia merasa berdosa telah meninggalkan ibunya hingga seperti ini.
"Ibu, ibuuu," suara Nanta lirih di samping ibunya. Perlahan wanita tua yang terlihat lemah itu membuka mata dan tak lama kemudian terdengar suara lemah.
"Nanta, kaukah Nanta, kau kembali nak." Nanta hanya mengangguk, mencari tangan ibunya dan menciuminya. Kedunya menangis tanpa bersuara hanya lelehan air mata yang mereka rasakan.
"Maafkan ibu Nanta, maafkan ibu," suara lirih itu kembali terdengar.
"Banyak kejadian setelah kau pergi, semua pergi, bapakmu, adikmu, harta kita, satu-satu pergi meninggalkanku."
"Maafkan Nanta ibu," sahut Nanta lirih.
"Siapa yang ada di belakangmu Nanta?" suara ibunya kembali terdengar. Nanta menoleh pada Sena dan Ejak.
"Mereka, hal berharga yang baru aku temukan ibu, mereka anak-anakku, yang terpisah dua puluh tahun dan baru aku dapatkan lagi, ke sini Sena, Ejak," suara Nanta parau dan wanita lemah di depannya terlihat semakin melelehkan air mata.
"Mereka cucuku?" suara pelan itu semakin tak terdengar karena tangisan. Sena dan Ejak bergantian mencium punggung tangan neneknya, sebelumnya dipandanginya satu per satu cucunya dari jarak dekat, berusaha melihat meski pandangannya mulai kabur.
"Kalian cucu nenek, siapa nama mareka Nanta?"
"Anta Sena dan Anta Reja ibu, nama keluarga kita juga ada dibelakang namanya," ujar Nanta pelan dan ibunya kembali menangis.
"Lalu, ke mana istrimu, apakah dia dendam pada ibu, apakah dia tak mau menemui ibu, ibu terlalu sering menyiksanya dulu, ibu yakin ia tak akan pernah memaafkan ibu."
Semuanya diam tak bersuara, semakin meyakinkan wanita tua itu bahwa apa yang dikatakannya benar.
"Adikmu Nanta, dia tak pernah menemui ibu sejak menikah, ibu salah menjodohkan dia dengan seseorang, ia memang menikmati harta suaminya, tapi bayarannya sungguh menyakitkan, ia tak boleh menemui ibu, berkali-kali ibu berusaha tapi dihalangi oleh penjaga rumahnya, adikmu sempat melarikan diri tapi diseret kembali ke rumahnya, laki-laki itu memang memberi ibu uang yang banyak, rutin mengirim uang pada ibu, tapi adikmu tak pernah kembali setelah itu."
"Akan Nanta cari ibu," ujar Nanta.
"Tidak akan kau temukan, lima tahun lalu sebelum ibu seperti ini, dia sudah tidak di negara ini, menurut penjaga rumahnya, mereka sudah di Selangor, aku hanya pasrah pada Tuhan, dan menunggu hukuman selanjutnya dengan sabar."
"Ibu akan saya bawa ke rumah, akan saya rawat ibu," ujar Nanta pelan.
"Tidak nak, aku mau meninggal di rumah ini, ini rumah yang dibangun ayahmu, jadi biarkan ibu di sini sampai ajal ibu tiba, Jamirah mengurus ibu dengan baik."
"Bawalah istrimu ke sini, sebelum ibu meninggal, ibu ingin meminta maaf."
Ananta hanya mengangguk ragu, ia tak yakin, Devi akan menerima ajakannya.
****
Menjelang sore, Ananta, Sena dan Ejak baru beranjak meninggalkan rumah megah itu. Sepanjang perjalanan Ananta hanya diam memegang kemudi.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk nenek ya yah?" tanya Sena.
"Ya, ayah nggak tahu harus gimana Sena, ayah nggak mungkin balik ke rumah itu, terlalu sakit kenangan yang tertinggal di rumah itu Sena, ayah nggak yakin bunda kamu mau di ajak ke rumah itu," ujar Nanta.
"Yah kenapa kita nggak coba melacak keberadaan tante wulan, lewat orang yang tiap bulan ngirim uang ke nenek," ujar Sena tiba-tiba.
"Bukannya ayah tidak mau mencari adik ayah, tapi masalah ayah sendiri belum selesai Sena, biar ayah selesaikan satu persatu, ayah ingin mengajak bundamu menemui ibu, lalu kami menikah lagi secara agama, baru aku berpikir tentang Wulan, bantu ayah Sena, Ejak, agar bundamu mau ayah ajak menemui ibu," pinta Nanta.
"Iya ayah," ujar Sena dan Ejak hampir bersamaan.
Ananta membelokkan mobilnya menuju hotel miliknya, beberapa orang karyawan terlihat kaget melihat Ananta berjalan bersisian dengan kedua anak kembar yang pernah berpraktik di tempat itu. Mereka bersalaman, bahkan saat Sena menuju pantry ada beberapa koki yang langsung memeluknya.
Saat Ananta sedang asik di dalam ruang kerjanya bersama Ejak, Selgy mengetuk pintu dan memberi tahu jika ada wanita yang ingin menemui Ananta, dengan wajah penuh tanya Ananta mengangguk.
Tak lama masuk seorang wanita cantik masuk ke ruang kerja Ananta dengan langkah percaya diri, masih lengkap dengan baju kerjanya, dan tanpa di suruh, ia duduk di kursi yang berada di sebelah Ejak, di depan Ananta. Ananta terlihat kaget.
"Ada apa Miranda?" tanya Nanta.
"Bisa jelaskan padaku mengapa tiga bulan ini kau memghindariku?" tanya wanita yang menatap Ananta dengan wajah dingin.
****