"Aku bukan menghindarimu, tapi memang sebaiknya kita tidak bertemu, jika kita sebelumnya sering bertemu karena perusahaanmu terikat kontrak dengan hotelku, tiap ada pelatihan selalu di sini tempatnya, hanya sebatas itu, lagi pula kau masih terikat pernikahan meski katamu sudah dua tahun berpisah rumah, apakah ini harus dilanjutkan, sementara aku juga masih terikat pernikahan," ujar Ananta dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Heh semua orang di kota ini tahu jika puluhan tahun kau sendiri sejak istrimu meninggalkanmu, tidak usah berdalih, katakan saja jika ada wanita yang lebih menarik," ujar Miranda sersenyum mengejek.
"Terserah kau, yang jelas aku merasa kita tak ada hubungan, jika aku melayanimu dengan ramah karena kita terikat pekerjaan," ujar Nanta terlihat menatap berkas yang ada di mejanya.
"Bisakah kau menyuruh ke luar anak muda di sampingku ini?" tanya Miranda menatap Ejak sekilas dan kembali menatap wajah Ejak lalu menatap wajah Ananta, ia merasa ada yang mirip pada keduanya.
"Tidak apa-apa, tak masalah dia di sini, kenalkan, dia Anta Reja anakku," ujar Ananta samar-samar mulai tersenyum. Miranda terlihat kaget.
"Anak, anak dengan siapa, apakah ini caramu mengusirku, atau caramu agar kita bisa benar-benar tidak berhubungan lagi?" tanya Miranda dan disaat yang bersamaan Sena masuk.
"Ini saudara kembarnya, Anta Sena, keduanya anakku Miranda, dari istriku Deviana, yang katamu pergi meninggalkanku, aku tahu jika kita dulu akan dijodohkan, tapi aku sudah memilih siapa yang akan menjadi istriku, maaf jika aku menolakmu dulu dan mungkin sampai kapanpun," ujar Ananta.
Miranda bangkit dari duduknya dan menatap Ananta sambil berdiri.
"Jangan pikir aku tak tahu hubunganmu dengan beberapa wanita, namun selalu gagalkan kan, jadi jangan menggunakan alasan kau masih terikat pernikahan untuk menolakku, aku tahu aku kurang menarik bagimu, tapi aku bukan orang yang mudah menyerah, akan aku cari kelemahanmu," Miranda melangkah lebar ke luar dari ruang kerja Ananta.
"Haduuuh ayaaah godaan ayah berat banget, wanita seusia itu bajunya nakutin, kurang bahan apa gimana, baju kantor kok ngundang orang buat nyentuh-nyentuh gitu," tawa Sena memenuhi ruangan Ananta.
Ananta hanya tersenyum lebar dan Enjak geleng-geleng kepala.
"Abaaang, nyentuh-nyentuh gimana, wajah orang itu aja sudah nakutin, nggak mungkin lah ada yang mau nyentuh dia," ujar Ejak menahan tawa.
"Heeeem Jaaak Jak, lihat aja roknya pendek segitu, meski pake blazer dalemannya loh berkrah rendah gitu, nawarin apa gimana?" ucap Sena lagi sambil tertawa.
"Sudah-sudah, Senaaa, Sena, ada-ada aja," ujar Ananta menahan tawa mendengar celoteh Sena dari tadi.
"Ya gitu abang yah, makanya dia tuh disenengi cewek-cewek, dia tahu aja hal-hal menarik dari mereka," ujar Ejak yang bahunya ditepuk pelan oleh Sena sambil terkekeh.
****
Devi terlonjak kaget saat ponselnya berdering, ia sedang asik mengetik cerita anak. Diraihnya ponsel yang tak jauh dari tempatnya duduk. Terlihat nama Nanta di sana.
Yaaaa ada apa, anak-anak baik-baik saja
Hmmm mereka sehat, ini keduanya tak jauh dari tempatku duduk, tadi kami menemui ibu, ibu sakit Dev, stroke, membuatnya tak bisa apa-apa, semua upaya penyembuhan ditolak kata bi Jamirah yang merawatnya
....
Dev, mau ya aku ajak menemui ibu, ia menanyakanmu tadi, beliau ingin minta maaf
.....
Dev, maukan memaafkan ibu
Aku memaafkan beliau sejak lama, tapi untuk bertemu aku merasa belum sanggup, aku..
Ibu sangat kurus Dev, sangaaat kurus, pucat dan lemah, akan aku bawa ke rumahku, beliau tidak mau, ingin meninggal di rumah itu katanya
.....
Aku tidak akan memaksamu, tapi aku ingin kita segera menikah, aku ingin kita segera bersama, kita lebih lama terpisah dari pada bersama Dev, aku mencintaimu, selalu mencintaimu, kamu mau kan kita bersama lagi Dev
Yah
Terima kasih, aku telpon lagi besok, love you Dev
Eeemm yah
Devi membawa ponselnya ke dadanya, memejamkan matanya dan menghembuskan napas berat.
Aku mencintaimu mas, selalu mencintaimu, sampai saat ini aku masih sendiri karena aku hanya mencintaimu, tapi mengapa jadi sulit jika berbicara tentang ibumu, karena kenangan buruk itu seolah berulang dikepalaku..
****
"Gimana kata bunda yah?" tanya Sena melihat ayahnya yang memejamkan matanya, Ananta diam saja.
"Bunda pasti nggak mau ke sini ya yah, bunda pasti masih enggan bertemu nenek," ujar Sena lagi.
"Ya, bundamu masih enggan, dari tadi dia lebih banyak diam, bundamu benar-benar berubah Sena, dan aku merasa semakin bersalah, dulu saat berkuliah, dia wanita yang ceria, cuek pada penampilanya, dia agak tomboi dan cerewet, sekarang jadi pendiam dan cenderung berhati-hati saat berbicara," Ananta menatap lurus pada pintu kantornya.
****
"Kapan mas Ejak balik ya bunda?" tanya Livia.
"Lah nggak kamu telpon, coba tanya," ujar Devi menahan senyumnya.
"Mas Ejak cuma kirim pesan singkat bun, saya jangan lupa makan," ujar Livi terlihat malu. Devi tersenyum semakin lebar, mendengar perkembangan Ejak yang mulai berani berkirim pesan singkat.
"Cuman itu aja pesan Ejak?" tanya Devi.
"Titip bunda katanya bun, dan tadi malam juga pesan agar saya jangan tidur terlalu malam," jawab Livia.
"Hmmm baguslah, Livi nggak kemana-mana sekarang?" tanya Devi melihat Livia yang terlihat rapi.
"Mau ke toko roti bun, janjian sama teman-teman, ngobrol-ngobrol aja," jawab Livia.
"Ok, hati-hati ya Livi," ujar Devi sambil melanjutkan mengetik naskah ceritanya di komputer.
****
Devi memeluk Sena dan Ejak bergantian saat keduanya menyusul Devi ke toko baru yang masih dalam taraf finishing dan senyum Devi terhenti saat melihat wajah Nanta yang muncul kemudian.
"Mas ikut lagi?" tanya Devi pelan.
"Kamu nggak suka, aku bisa pulang besok kok Dev," ujar Nanta pelan, entah mengapa rasa sakit tiba-tiba menyeruak di dadanya. Devi juga terlihat bingung, Sena dan Ejak segera meninggalkan mereka berdua.
Ananta mendekati tempat Devi berdiri, berdua di dalam ruangan seperti itu membuat Devi bingung harus berkata dan berbuat apa.
Mereka saling menatap sesaat dan Devi memilih mengalihkan tatapannya pada jendela yang menghadap ke jalan raya. Saat posisi Ananta tepat berada di sampingnya, perlahan Nanta menarik bahu Devi menghadapkan wajahnya hingga mereka kembali saling menatap.
"Katakan jika kamu tidak menginginkanku, maka aku akan benar-benar menjauh darimu, kita bisa mengurus surat perceraian kita jika yang kamu mau seperti itu," suara Ananta terdengar bergetar namun sesaat kemudian ia merengkuh badan Devi ke dalam pelukannya dan membiarkan Devi menangis di sana.
"Aku bingung mas, aku masih sangat bingung, bagiku terlalu cepat jika aku harus segera menemui ibu, aku mencintaimu dan akan selalu tetap mencintaimu, jika aku belum menikah lagi sampai saat ini bahkan belum pernah berani mencoba dekat dengan siapapun, itu semua karena aku terlalu mencintaimu,"ujar Devi sambil sesekali mengusap air matanya. Ananta melepas pelukannya, menangkup kedua pipi wanita yang telah memberinya anak, menatap wajah penuh air mata di depannya.
"Jika kami masih belum siap menemui ibu, aku tak akan memaksamu, aku hanya ingin segera menikah kembali secara agama denganmu, berkumpul lagi denganmu dan tentunya dengan anak-anak kita," Ananta mendekatkan bibirnya pada bibir Devi, menyentuhnya perlahan, ia merasakan bibir Devi yang gemetar, setelah dua puluh tahun ia tetap merasakan manisnya bibir wanita yang telah membuatnya benar-benar merasakan bagaimana artinya berjuang mempertahankan cinta mereka meski ditentang seperti apapun.
Devi mendorong perlahan d**a Ananta saat dirasakannya tangan laki-laki itu mulai mengarah ke dadanya, karena merasakan aliran darahnya yang tak biasa dan semakin membuatnya lemas.
"Jangan," bisiknya pelan dan Ananta memeluk Devi kembali dalam pelukannya.
"Kita segera menikah kembali Dev, segera, aku tahu jika kau juga menginginkanku, hanya traumamu yang membuat kau takut bertemu ibu, aku yakin jika kau melihat kondisi ibu saat ini akan berubah pikiran," ujar Nanta parau setelah berhasil meredakan gemuruh di dadanya.
****
Berempat mereka pulang menuju rumah Devi.
"Bun, ayah biar nginap di rumah ya, kan masih ada kamar satu lagi bun, ayah cuman dua hari di sini kok," ujar Sena, Devi merasa tak enak jika menolak.
"Ya nggak papa silakan saja jika mas mau nginap di rumah tapi nanti antarkan ayahmu pada pak rt ya Sena, para tetangga tahu jika bunda lama sendiri dan belum menikah lagi," ujar Devi yang diiyakan oleh Sena.
"Jika kau merasa tak enak aku akan menginap di hotel Dev, ada hotel tak jauh dari rumahmu kok," ujar Nanta.
"Nggak papa mas, toh kamar mas nanti bersebelaham dengan kamar Sena dan Ejak, dan segera ke rumah pak rt setelah sampai rumah," ujar Devi.
****
Selama dua hari Ananta melihat dan menemani semua kegiatan Devi. Mulai dari mengawasi dua tokonya yang dibantu Livia serta melihat-lihat persiapan toko barunya yang lebih besar dari dua toko sebelumnya.
"Jika seperti ini, aku seperti melihat kembali Devi yang selalu aktif di kampus," ujar Ananta menatap wajah Devi yang baru saja duduk di kursi, di sebelahnya, senyum Devi mulai terlihat.
"Aku terbiasa apa-apa sendiri begitu lama, jadi sudah terbiasa mas, nggak boleh capek, sakitpun nggak boleh lama-lama," ujar Devi kembali rasa sakit berdenyut di d**a Ananta. Direngkuhnya kepalanya Devi ke bahunya.
"Maafkan aku yang baru menemukan kalian, akan aku bayar duapuluh tahun kesendirianmu Dev, mau ya kita segera nikah lagi, aku sudah menyiapkan mas kawinnya, kita hanya perlu pemuka agama, seorang yang mengerti agama kita, aku mengucapkan akad lagi dan kita sah sebagai suami istri kembali, mau ya Dev," meski perlahan dan terasa ragu, Devi mengangguk, bersamaan dengan ponsel Ananta yang berbunyi, terpaksa ia angkat telpon dengan wajah kesal.
Ada apa
....
Aku sedang bersama istri dan anakku
.....
Terserah kamu
.....
Ananta menutup ponselnya dan memasukkan ke saku celananya.
"Pekerjaan mas ya?" tanya Devi kawatir.
"Bukan, wanita yang dulu dijodohkan denganku, hadir lagi, dia sudah menikah, sudah punya anak juga tapi entahlah dia...," kalimat Nanta terpotong saat Devi menatapnya tanpa senyum.
"Dia mengejar mas lagi?" tanya Devi terlihat kawatir.
"Kamu kawatir, ibu lebih memilih dia lagi?" tanya Ananta dan Devi mengangguk
"Situasinya sudah beda Dev, beda jauh, ibu sudah tidak berdaya, beliau sakit, itu yang harus kamu tahu," ujar Nanta pelan memahami kekawatiran Devi.
"Aku mengalami hal yang menyakitkan dalam pernikahan kita mas, makanya aku ragu kita melanjutkan ini," ujar Devi dan Nanta merengkuh bahu Devi lagi, menatap wanita yang sangat ia cintai.
"Jangan bilang kamu akan mundur lagi, tadi kamu sudah mengangguk Dev," terdengar kekawatiran Ananta melihat Devi menunduk lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Mungkin lebih baik mas menjauh, kami sudah hidup layak, kami akan tersakiti jika berada dekat denganmu mas Nanta, Anta Sena dan Anta Reja sudah besar, mereka bisa bertahan hidup tanpa bantuan mas, seorang bunda sudah lebih dari cukup untuk mereka....."
Ananta tercekat, menatap Devi dengan pandangan tak percaya dan menggeleng dengan keras, lalu menarik Devi dalam pelukannya, ia peluk dengan erat.
"Jangan katakan itu lagi, jangan Dev, aku bersusah payah menemukanmu dan anak-anak, aku tidak akan pernah melepaskan kalian lagi, tidak akan," ujar Nanta, akhirnya luruh juga air matanya.
****