"Maafkan saya Pak, karena telah membuat Bapak sedih, saya pikir bapak akan terhibur mendengar cerita Ejak yang ke sana ke mari membawa akte kelahiran," ujar Sena terlihat menyesal.
"Nggak papa Sena, bapak hanya tidak membayangkan seandainya anak bapak yang mengalami siksaan itu, maafkan bapak Sena, maafkan bapak yang terpaksa menangis," Nanta tak bisa menyembunyikan kesedihannya, ait matanya bercucuran, dan Sena semakin merasa bersalah karena seumur-umur baru sekarang melihat laki-laki dewasa menangis.
Setelah mengusap air mata dengan sapu tangannya, Sena mendekatkan air mineral ke sisi Nanta dan Nanta meneguknya perlahan.
"Bapak mau pulang?" tanya Sena perlahan. Nanta menatap Sena dan mengelus rambutn Sena perlahan.
"Jaga bunda dan adikmu, bapak yakin, kamu akan bertemu dengan ayahmu, meski mungkin saat ini kalian terpisah dan hidup di dunia kalian masing-masing suatu saat nanti kalian akam berkumpul karena kekuatan doa kalian," Nanta meraih kopinya, menyesap sisanya dan meletakkan cangkir pada tempatnya.
"Kita pulang saja ya Pak, nggak usah nongkrong, bapak sedih gitu," ajak Sena.
"Maafkan bapak sudah merusak malam minggumu, kalau pulang bapak sendirian Sena," ujar Nanta menatap Sena sedih.
"Ke rumah bapak aja, saya temani di sana ya pak?" ajak Sena lagi dan Nanta menggeleng perlahan ia tidak ingin Sena melihat foto pernikahannya yang terpasang di dinding rumahnya, ia belum siap Sena tahu bahwa ia ayahnya.
"Biarlah di sini sebentar lagi Sena," sahut Nanta lirih.
"Akan saya temani bapak, sampai jam berapapun," ujar Sena mendekat ke sisi Nanta, menatap wajah laki-laki yang ada di dekatnya dan Sena baru menyadari jika sekilas wajah Ejak mirip Nanta, ia merada ada bagian wajah Nanta ada pada wajah Ejak.
"Ada apa Sena, ada yang aneh dengan wajah bapak?" tanya Nanta menyadari tatapan Sena yang tak biasa.
"Ah nggak pak, hanya khayalan kali, saya melihat banyak kemiripan wajah bapak dengan wajah Ejak," sahu Sena perlahan.
"Berarti wajah kamu mirip bapak juga dong Sena, karena wajah kamu dan Ejak kayak pinang dibelah dua," Nanta berusaha tersenyum.
"Hahahahah iya juga sih Pak, tapi kadang di wajah Ejak juga ada yang mirip bunda," sahut Sena lagi.
"Karena kamu dan Ejak anak bunda yang miriplah Sena," sahut Nanta sambil tersenyum.
"Saya aja kali yang pikiran dan mata rada aneh ya pak, masa Ejak yang bukan anak bapak kok menurut mata saya tiba-tiba terlihat mirip," Sena tertawa dan dengan d**a sesak Nanta berusaha tertawa.
Kalian anakku, Anta Sena dan Anta Reja.
Malam semakin larut, Sena dan Nanta beranjak pulang dan ke luar bersama dari cafe.
****
"Kok sampe malem bang?" tanya Ejak membukakan pintu kamar.
Sena terlihat lelah, membuka bajunya dan mulai bercerita apa yang ia alami tadi.
"Abang juga sih, sense of humor tiap orang kan beda-beda, apalagi Pak Nanta punya kisah mirip bunda, pastilah sedih denger cerita kayak gitu," ujar Ejak.
Sena menatap wajah adiknya, lalu dirinya berkaca.
"Ada apa bang?" tanya Ejak.
"Wajahmu kok mirip pak Nanta ya Jak, apa mataku aja kali yang penyakitan?" tanya Sena dan terdengar tawa Ejak.
"Banyak yang bilang kita nih mirip banget, kalo aku mirip pak Nanta berarti ya abang juga dong," ujar Ejak sambil merebahkan badannya.
"Sana mandi bang, ngomong aja, udah malem tahu, aku mau tidur," ujar Ejak mulai memejamkan matanya.
****
Tak terasa masa praktik sudah tinggal satu minggu, Sena, Ejak dan teman-temannya mulai disibukkan penyusunan laporan praktik.
Nanta mulai terlihat gelisah, rasanya ia tidak ingin berpisah dengan keduanya, anak yang baru ia temukan.
Nanta merasa beruntung disela-sela kesibukan praktik, ia selalu menyuruh karyawannya untuk mendokumentasikan semua kegiatan, dan ada banyak foto Sena serta Ejak dalam berbagai pose.
Ia pandangi foto keduanya yang tersimpan dalam komputer di meja kerjanya.
****
Akhirnya tibalah pada hari akhir mereka berpraktik, perpisahan dilaksanakan secara sederhana di ruang meeting, Sena mewakili mahasiswa yang berpraktik mengucapkan terima kasih pada pihak keluarga besar New Heritage Hotel atas kesempatan yang diberikan pada mereka sehingga memperoleh tambahan ilmu.
Sedang Nanta mewakili langsung pihak hotel menyampaikan sambutan, yang dilanjutkan juga ucapan terima kasih dari dosen pembimbing para mahasiswa tersebut.
Dosen pembimbing menyerahkan secara simbolis laporan praktik serta kenang-kenangan dari mahasiswa pada pihak hotel dan pihak hotel memberikan piagam penghargaan pada mahasiswa yang telah selesai berpraktik.
Seluruh mahasiswa bersalaman dengan pihak hotel sebelum benar-benar meninggalkan hotel.
Saat bersalaman dengan Sena dan Ejak, Nanta memeluk keduanya bergantian dan berbisik.
"Jaga bunda, suatu saat nanti, pasti bertemu dengan ayahmu."
Nanta menatap nanar saat punggung kedua putranya menjauh, ada keinginan berteriak dan memanggil keduanya. Nanta segera menuju ruangannya dan menangis sejadinya.
"Pertemukan kami kembali ya Allah, hamba tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk hadir di tengah-tengah mereka."
****
Sesampainya di bandara para mahasiswa segera menuju ruang tunggu karena pesawat delay satu jam.
"Aku kok kasihan lihat wajah Pak Nanta ya bang, kayak mau nangis tadi pas lihat wajahku," ucap Ejak lirih pada Sena.
"Iya aku juga merasakan itu, Jak," jawab Sena.
"Kasihan, dia sendiri Jak, aku merasakan jika dia kesepian," ujar Sena lagi.
Sena dan Ejak dikagetkan oleh tepukan halus dari dosennya yang membagikan piagam dari pihak hotel.
"Apa sih ini?" tanya Ejak.
"Yaaa piagam Jak, tanda bahwa kita pernah berpraktik di hotel itu," jawab Sena sambil membuka mapnya dan kaget saat membaca nama lengkap pak Nanta di dalamnya dan dadanya berdebar.
"Jak, baca nama ini Jak, apa aku salah baca," suara Sena terdengar bergetar.
"Loh kok namanya kayak yang di akte kelahiran kita bang, Ananta Satro Darsono," ujar Ejak kaget.
Sena menelan salivanya dengan berat ingin rasanya ia terbang ke hotel itu lagi menanyakan kebenaran itu.
Sena mengambil ponselnya, dengan tangan bergetar mencari nama Ananta dan memencet tombol panggil.
Lama ia menunggu belum juga terhubung, pada panggilan ketiga akhirnya diterima oleh Ananta.
Halooo ada apa Sena, ada yang tertinggal nak
Bapak saya ingin bertanya, mengapa nama lengkap bapak sama seperti di akte kelahiran kami, apakah bapak..bapak ayah kamiii
Tak ada jawaban, semua kecurigaan Sena seolah terjawab, mengapa semua karyawan hotel selalu menghindar jika ia tanya nama lengkap pemilik hotel itu, apakah memang diinstruksikan seperti itu?
Haloooo pak Ananta, kami hanya ingin tahu bahwa ayah kami baik-baik saja, bunda..bunda masih sangat mencintai ayah, kalau beliau memang masih hidup saya dan Ejak ingin mengajak kembali bersama bunda..
Suara teriakan dosen pembimbing untuk segera boarding terpaksa memutuskan pembicaraan Sena.
Saya tahu yang bapak pikirkan, jika benar bapak adalah ayah saya, terima kasih telah membuat kami ada, terima kasih telah menjaga kami selama sebulan, kami menunggu bapak di Ubud, saya dan Ejak pamit pak
Sena memutuskan pembicaraanya dan menatap adiknya dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
"Kita pulang Jak, akhirnya kita menemukan ayah," ujar Sena lirih.
Ejak tak berbicara sepatah katapun hanya berjalan menunduk, berusaha memahami skenario Allah yang sedang ia jalani.
****