Di dalam pesawat Sena dan Ejak berjalan dengan pikirannya masing-masing, diam tak berkata sepatahpun, seolah mereka menenangkan diri mereka sendiri.
Sampai seorang teman yang duduk di sebelahnya menepuk bahu Sena barulah ia menoleh dan berusaha tersenyum, tidak mungkin mereka membahas isi pikiran mereka, sementara di dekatnya ada teman yang sedari tadi asik dengan ponselnya.
****
Kurang lebih satu jam lima belas menit mereka sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai. Ada beberapa temannya yang dijemput oleh orang tuanya, sedang Sena dan Ejak menuju gerai fast food hanya sekedar duduk membeli minuman dan memandang ke luar, melihat lalu-lalang orang yang lewat.
"Aku merasa, bunda kayaknya tahu kalau kita ketemu ayah bang, aku ingat saat pak Nanta menerima telepon dari bunda,.saat aku sedang sholat, aku juga kaget saat masuk ruangan HRD kok pak Nanta pegang ponselku dengan wajah menahan tangis, aku yakin pak Nanta dengar suara bunda karena beliau kaget banget saat aku masuk dan beliau segera menyerahkan ponselku, terus aku bilang ke bunda kalau aku sholat dan yang nerima pak Nanta, suara bunda kaget bukan main dan segera nutup teleponnya, ah kasihan bunda dan pak Nanta eh ayah ya bang," suara pelan Ejak membuat Sena menatap adiknya dengan sedih.
"Yah kisah pilu Jak, karena mereka berpisah bukan karena kemauan mereka, aku ingin dengar cerita langsung dari bunda, bagaimana mereka berpisah, dan bener kata kamu kayaknya bunda sudah tahu kalau kita ketemu ayah, sehari atau dua hari setelah aku sampe di Jogja aku cerita tentang pak Nanta eh pas tengah-tengah cerita tiba-tiba bunda mutus dengan alasan mau ke wc, kayak alasan yang terlalu dicari-cari," ujar Sena menghela napas berat.
"Kita ke kosan aja dulu bang, besok baru kita ke Ubud, nemuin bunda, berdua kita tanya bagaimana bunda dan ayah terpisah," Ejak menghabiskan minumamnya dan menoleh pada abangnya yang masih saja tertegun entah menatap apa.
****
Di tempat lain, Nanta berada di kasurnya melipat kedua tangannya di belakang kepalanya, menatap wajahnya dan wajah istrinya yang tersenyum bahagia setelah selesai akad nikah, foto lama yang akan selalu ia ingat bagaimana ia bahagia bisa memiliki wanita yang ia inginkan, meski harus berhadapan dengan penolakan ibunya, kekecewaan ibunya karena dirinya akhirnya menolak jodoh yang disodorkannya, malah menikah dengan wanita yang bukan dari turunan darah biru seperti dirinya.
Suara Sena seolah terngiang kembali, bagaimana ia harus menghadapi Sena jika tiba-tiba anak itu muncul dihadapannya.
Ada keinginan untuk menelpon Sena dan mengatakan bahwa yang ia tanyakan semuanya benar, bahwa ia adalah ayah kandungnya, ayah yang telah membuat keduanya ada.
****
"Senaaa, Ejaaak alhamdulillah akhirnya kalian pulang ke pelukan bunda,"Devi memeluk anaknya bergantian, namun ia merasakan bahwa senyum kedua anaknya tidak lepas seperti biasa.
"Ini oleh-oleh buat bunda, celana pendek tiga, kaos tanpa lengan tiga dan celana bahan katun khas Jogja satu," ujar Sena setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Ada daster bagus-bagus sih tapi aku ingat, bunda kan nggak pernah mau pakai daster, di rumah mesti baju dinasnya celana pendek sama kaos tanpa lengan," ujar Ejak sambil tersenyum.
"Mana Livia, bun?" tanya Sena.
"Ngapain abang tanya dia?" tanya Ejak.
"Mau ngasi oleh-oleh Jaaak, haduuuh si Ejak," sahut Sena menahan tawa.
"Ya ke toko rotilah si Liavia, jam segini rame-ramenya," sahut Devi sambil membuka oleh-oleh dari anaknya.
Sena dan Ejak saling pandang, lalu Sena mengangguk.
"Bun, eeemmm ada yang mau kami tanyakan, boleh nggak?"tanya Sena dan Devi melihat wajah Sena yang usil menjadi serius.
"Ok nggak papa silakan tanya, akan bunda jawab selama bunda bisa," jawan Devi.
"Gimana ceritanya sih bunda sama ayah terpisah?" pertanyaan sederhana Sena ternyata mampu membuat Devi terhenyak dan membuka mulutnya sambil menatap wajah Sena.
"Ada apa, mengapa tiba-tiba kalian bertanya itu?" Devi balik bertanya.
"Kami ingin tahu bun, kami kan sudah cukup umur untuk tahu," suara Ejak terdengar pelan namun membuat Devi semakin tersudut.
Devi menghela napas, ia menatap tumpukan oleh-oleh anaknya di pangkuannya.
"Baiklah bunda akan bercerita, namun, setelahnya kalian jangan pernah membenci atau menyalahkan siapapun, bunda sudah memaafkan mereka, bunda ingin hidup tenang, karena dengan memaafkan merekalah bunda bisa membesarkan kalian hingga saat ini, tak tersisa dendam meski kadang ada denyut nyeri tiap memori itu datang tiba-tiba," ujar Devi memandang kedua anaknya bergantian.
Devi mulai bercerita awal pertemuannya dengan laki-laki yang tak sengaja menabraknya, lalu pertemuan yang berlanjut, berusaha menghindari karena Devi sadar bahwa dunianya sangat berbeda dengan dunia laki-laki yang ia cintai. Namun semakin menghindar ternyata Devi semakin mencintai laki-laki itu, meski sadar akan ada rintangan besar akhirnya berlangsunglah pernikahan sederhana, dan saat bercerita kejadian yang membuat Devi benar-benar terpisah dari orang yang memberinya keturunan, Devi melihat wajah kedua anaknya menegang, terutama Sena, Devi melihat d**a Sena yang naik turun dengan cepat, Devi menyentuh lengan Sena.
"Sena, semua sudah berlalu, dan kamu serta adikmu baik-baik saja bukan?" ucap Devi yang dibalas Sena dengan pelukan erat.
Devi diam saja saat merasakan detak jantung anaknya yang cepat, ia elus punggung Sena, memberikan kedamaian bahwa masa itu sudah berlalu.
"Terima kasih bunda, bunda sudah bertahan demi kami, tidak ada wanita yang dapat menggantikan posisi bunda di hati kami," ujar Sena dengan suara serak dan parau.
Ejak hanya menatap nanar abang dan bundanya yang berpelukan. Devi mengurai pelukannya dan menatap kedua wajah anaknya dengan senyum meski harus ia paksakan.
Namun saat Ejak bertanya, pertanyaan yang sulit ia jawab tak ayal air mata Devi bercucuran.
"Bunda, benarkan pak Nanta pemilik hotel tempat kami berpraktik adalah ayah kami?"
Mata Devi berkaca-kaca, napasnya mulai terasa sesak, perlahan Ejak merengkuh bahu bundanya dan air mata Devi mulai jatuh.
"Benar kan bunda?" tanya Ejak lagi dan Devi mengangguk. Terdengar helaan napas lega dari Sena dan Ejak.
"Terima kasih bunda, terima kasih," ucap Ejak menatap bundanya dengan wajah sedih karena air mata yang terus menetes tak henti.
****
"Liv, ini ada kaos sama sling bag khas Jogja oleh-oleh dari aku sama Ejak," ujar Sena menatap Livia yang baru saja masuk lewat pintu samping.
"Makasih mas, oh ya bentar aku ambil titipan kak Nira," Livia melesat ke kamarnya dan memberikan bungkusan yang berlapis kertas metalic.
"Buat kamu aja," ujar Sena berlalu dan Livia menarik tangan Sena.
"Mas, ini titipan, kalau besok kak Nira tanya aku mau jawab apa?" tanya Livia lagi.
"Bilang aja sudah kamu sampaikan, lepaskan tanganmu, nanti Ejak lihat, Ejak suka sama kamu, ngerti nggak sih kamu, dia emang nggak bilang, tapi tatapan matanya sudah mengatakan itu sama kamu," Sena berusaha melepaskan tangan Livia yang tetap memegang tangannya dan perlahan mulai ia lepaskan.
Sena tersenyum meski dadanya sakit saat mengatakan itu, saat Sena berbalik, Sena merasakan pelukan Livia dari belakang, sesaat badannya menegang dan melepaskan pelukan Livia. Lalu berbalik menatapnya.
"Adikku mencintaimu Livia, aku hanya menganggapmu adik, tak lebih," ujar Sena lirih.
Mata livia berkaca-kaca dan menggeleng pelan.
"Nggak, mas Sena bohong, mas Sena juga menyukaiku," Livia kembali memeluk Sena, Sena merasa bingung namun ia kembali melepaskan pelukan Livia dan mengacak rambutnya dengan sayang.
"Aku mencintaimu, sangat, sebagai kakak pada adiknya," ujar Sena sambil tersenyum dan berbalik cepat, melangkah lebar meninggalkan Livia di depan kamarnya yang menangis perlahan.
****