#8

1058 Words
"Udah dikasih ke Livia oleh-olehnya bang?" tanya Ejak. "Udah tadi, eh Jak,  kamu ini ya,  udah aku bilangin,  ngomong ke Livia kalau kamu suka, masa suka sejak jaman batu sampe jaman milenial gini,  dieeeem aja, cewek itu butuh kepastian tahu, kalau kucing tetangga cuman kami liatin aja gak papa karena dia gak ngerti bahasa kamu,  nah ini cewek Jaaak yang kamu suka cuman kamu anggurin, kamu nih laki-laki apa bukan sih?" wajah Sena terlihat berang. "Ah abang,  masa aku harus bilang bang,  masa dia nggak ngerti dari tatapan aku,  dari perhatian aku?" tanya Ejak. "Itu cara kuno, sampe kapan kamu dieeem, nunggu diembat orang baru kamu nyesel," ujar Sena kesal. "Hmmm biarin,  aku nggak akan nyesel kalau yang ngambil abang, heheh abang sih mana mau sama Livia ya bang,  selama ini cewek abang fuiih seksi,  cantik, yang terakhir ngejar abang si Nira, cewek blasteran Bali-Spanyol," Ejak tertawa pelan. "Kapan aku punya cewek Jak?" tanya Sena. "Ya Allah bang, sejak sma gonta ganti gitu,  berapa lusin?" tanya Ejak kalem. "Mereka kan yang bilang cewek aku,  aku nggak pernah pacaran Jak,  mereka yang ke sini,  bukan aku yang mendatangi mereka,  terus terakhir si Nira,  Chokorda Nirayani Pemayun duh anak orang kaya Jak, langit dan bumi bedanya sama aku, nggak lah,  aku nggak mau sakit hati, sainganku terlalu berat Jak," ujar Sena membuka bajunya dan bersiap mandi. "Ngapain mandi lagi bang?" tanya Ejak. "Dinginin kepala,  maunya marah aja, punya adek bebal dikasi nasihat nggak mau, kalau ada waktu temui Livia,  bilang kalau kamu suka, sekalian kamu tahu,  dia suka kamu apa nggak sama kamu, ngerti!" Sena menuju kamar mandi dan terdengar air mengalir dari shower. **** "Kamu kenapa Livia, sakit nak?" tanya Devi pada Livia yang matanya terlihat sembab. "Nggak papa bunda,  tiba-tiba aja ingat papa mama," sahut Livia pelan saat makan malam. Sena sekilas melirik, dan memberi kode dengan matanya pada Ejak agar pindah duduk dekat Livia, Ejak menggeleng pelan. "Kirimi doa sayang agar mama papa tenang di alam sana," ujar Devi lagi. "Iya bunda," sahut Livia. **** Selesai makan Livia membawa piring kotor ke dapur dan Devi melangkah ke ruang kerjanya lagi. "Jaaak temani ke dapur,  cepet sana pura-pura bantuin trus ngomong," bisik Sena dan Ejak terlihat bingung. Sena meletakkan piring miliknya dan mendorong Ejak ke arah dapur. Perlahan Ejak menuju dapur dengan langkah ragu, meletakkan piring kotor di samping Livia yang sedang memberi sabun pada spon cuci piring. "Taruk aja mas Ejak," ujar Livia dengan lirih. "Eeemm tadi kaos dan tasnya cocok Livia?" tanya Ejak,  Livia mengangguk. "Terima kasih mas," ucap Livia pelan. "Liv,  aku ganggu nggak, kalau kamu cuci piring akunya sambil ngomong?" tanya Ejak. "Nggak papa,  ngomong aja mas," Livia mulai membilas piring dan meletakkannya di rak. "Kamu udah punya pacar Livia?" tanya Ejak dan Livia menoleh menatap Ejak sekilas. "Belum mas, tapi aku mencintai seseorang," sahut Livia yang cukup menohok hati Ejak. "Oh ya,  dan laki-laki itu tahu jika kamu mencintainya?" tanya Ejak berusaha sekuat tenaga meredam sesak di dadanya. "Ya, dan ia juga mencintai aku mas,  cuman dia menyangkal,  selalu menyangkal, aku sampe menurunkan harga diriku,  aku mengatakannya berulang, tapi dia selalu menyangkalnya," suara Livia terdengar serak menahan tangis, Enjak mendekati Livia dan Livia menatap mata Ejak. "Aku mencintai laki-laki itu mas,  sangat,  tapi sepertinya sampai kapanpun,  ia akan berusaha membunuh perasaannya padaku." Livia meninggalkan Ejak yang menatap punggung Livia menjauh meninggalkannya. Sedang Sena dari balik pintu samping menuju taman, memejamkan matanya, berusaha menahan napasnya lalu menghembuskan perlahan. Aku tidak akan pernah mengambil milikmu Jak,  tidak akan,  kau adikku,  lebih dari segalanya. Sena bergegas ke kamarnya dan merebahkan dirinya,  memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya, ikut merasakan kesakitan adiknya. **** Pintu kamar terbuka terlihat wajah keruh Ejak. "Kok gitu wajahmu Jak?" tanya Sena menatap wajah adiknya yang terlihat datar,  duduk di kursi dan menatap Sena. "Dia sudah mencintai seseorang bang," ucap Ejak lirih dan Sena bangun dari tidurnya. "Apa, nggak salah denger,  kata siapa?" tanya Sena kaget. "Ya kata Livia bang,  tapi setidaknya aku jadi tahu,  bener kata abang, jadinya aku tidak akan memupuk perasaan ini semakin besar," sahut Ejak menatap lantai dan sesekali mengerjabkan matanya. "Lalu siapa laki-laki itu, temen kuliah Livia?" tanya Sena lagi. "Aku nggak nanya bang,  dan nggak perlu, aku cukup tahu dia sudah mencintai orang lain, itu saja," sahut Ejak sambil berdiri,  membuka kaosnya dan menuju kamar mandi. "Kok mandi lagi Jak?" tanya Sena. "Niru abang,  siapa tahu dengan mandi, pikiranku jadi lebih dingin dan lebih tenang," Ejak masuk ke kamar mandi, terdengar air mengucur di bathup. Maafkan aku adikku, sekali lagi abang janji, selamanya ia akan jadi milikmu, aku akan mengalah, kau adikku satu-satunya. **** "Duh Sena ngagetin bunda aja," Devi menepuk pundak Sena yang tiba-tiba merebahkan kepala di bahunya. "Bunda,  Sena telpon ayah ya,  Sena pengen beliau ngaku kalau ayah Sena dan Ejak, Sena kasihan beliau sendirian di rumahnya, Sena pernah diajak nongkrong tapi moodnya jadi nggak bagus gara-gara Sena cerita Ejak yang bawa akte kelahiran ke mana-mana,  ayah nangis bunda, nggak pengen ketemu ayah?" tanya Sena. Devi memandang wajah Sena dan membelai rambut lebat anaknya. "Teleponlah kalau kamu ingin, bunda belum siap kalau harus bicara sama ayahmu,  apalagi ketemu," sahut Devi terlihat sedih. "Bunda masih cinta sama ayah kan?" tanya Sena lagi. "Bunda sendiri sampe sekarang,  itu tandanya nggak ada yang bisa menggantikan ayahmu," jawab Devi. "Kalau ayah pernah nyoba deket sama beberapa wanita katanya bun,  dan kayaknya hubungan ayah sama mereka sudah jauh, bunda nggak merasa dikhianati?" tanya Sena menatap bundanya yang tersenyum lembut. "Nggak Sena, wajarlah,  dia laki-laki, malah bunda kaget ayahmu belum nikah lagi, bunda pikir dia sudah punya keluarga baru bahkan mungkin sudah memiliki anak lagi, ternyata dia masih sendiri," ujar Devi kembali membelai rambut anaknya. "Lalu, kamu, bunda kagum sama kamu anakku, menahan perasaanmu demi adikmu, bunda tahu jika kamu dan Livia saling menyukai, tapi kamu takut melukai adikmu karena adikmu sangat menyukai Livia bahkan mungkin lebih dulu adikmu menyukainya," ujar Devi mengusap pipi Sena dan Sena tiba-tiba memeluk Devi. "Sena bener kan bun, saudara segala-galanya bagi Sena,  Ejak adikku,  sampai kapanpun,  aku nggak pernah mau dia sakit karena aku bunda," suara Sena memenuhi kamar Devi. Tanpa mereka sadari Livia menangis di depan kamar Devi saat dia akan mengantar teh hangat kesukaan Devi. Akhirnya ia tahu alasan Sena mati-matian menolaknya. Livia segera membalikkan badannya dan melihat wajah Ejak mematung di belakangnya. "Diaaa, dia, abangku kan Livi?" tanya Ejak dengan wajah sendu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD