#9

1369 Words
Sena melangkah pelan ke kamarnya, membuka dan segera menutup pintunya, namun ia kaget saat pukulan Ejak menghantam rahangnya, Sena terdorong ke pintu, ia kaget melihat mata Ejak yang memerah seperti habis menangis. "Jak ada apa?" tanya Sena. Sekali lagi Ejak menghantamkan pukulannya ke perut Sena, Sena hanya menghindar dan memegang tangan Ejak. Ejak memeluk Sena dan menangis terisak. "Aku benci abang, aku benci abang mengalah padaku, sejak kecil selalu begini, mengapa kau tidak melawan, padahal jika ada yang menggangguku abang yang menghadapi mereka, pukul aku bang, pukul aku balik," Ejak berusaha melepaskan pelukan Sena, namun Sena semakin mengunci Ejak dalam pelukannya. "Sampai masalah wanitapun abang mengalah padaku, aku benci abang, mengapa abang malah mendorong aku mendekati Livia, mengapa abang membiarkan hati abang sakit, aku benci keadaan gini bang," Ejak memeluk Sena dan memukul punggung abangnya. Mata Sena berkaca-kaca ia biarkan Ejak menumpahkan kemarahannya. Setelah agak lama ia lepaskan pelukannya. Mereka duduk berhadapan. Sena dan Ejak saling menatap tapi Ejak akhirnya menunduk sambil terisak. "Kau tahu Jak, ada yang lebih penting dalam hidup abang dari pada sekedar berpikir tentang cinta, bunda dan kamu itu yang memenuhi pikiranku sejak kecil, aku anak tertua, aku merasa harus bertanggung jawab terhadap kebahagiaanmu dan juga bunda, jika kamu sejak tadi bertanya mengapa aku mengalah, karena kau adikku, kau saudaraku, kita seperti air Jak, tidak akan putus meski dicincang, aku tidak mau mengorbankan cintaku padamu sebagai abang hanya karena masalah ini," Sena mengusap rahangnya yang sedikit nyeri. "Jawab dengan jujur bang, abang masih suka kan sama Livia?" tanya Ejak. "Iya, tapi itu nggak penting bagi aku, karena aku lebih banyak teman Jak, akan lebih mudah bagiku untuk jatuh cinta lagi dari pada kamu yang spacenya hanya orang itu-itu saja, dan yang lebih penting bagiku saat ini gimana caranya menyatukan ayah dan bunda, nggak usah merasa bersalah Jak, sudah kewajibanku sebagai abang menjagamu, membahagiakanmu," ujar Sena menatap wajah adiknya yang masih memerah. "Akan lebih adil jika kita sama-sama mematikan perasaan kita pada Livia, abang bisa, mengapa aku tidak?" ujar Ejak pelan. "Jangan Jak, berusahalah lebih keras, bersabarlah, aku yakin Livia akan luluh," Sena menepuk pundak adiknya. "Dan aku akan membiarkan abang menahan sakit, misalnya Livia benar-benar jalan denganku, tidak bang, aku tidak akan sanggup," ujar Ejak lagi. "Jaaak aku bisa mencari yang lain, ada Nira, dan yang lain, yah kamu tahu sendiri siapa saja yang sering ke tempat kos kita, aku bisa berusaha mencintai salah satunya," ujar Sena lagi. "Bisa kan kita mengakhiri pembicaraan ini, aku mau mengompres rahangku, sakit juga ternyata pukulanmu," Sena bangkit dari duduknya menuju dapur. **** Saat Sena sedang mengompres rahangnya, Devi menatap anak sulungnya dari belakang. "Bisa kamu jelaskan pada bunda Sena?" tanya Devi. Sena tertawa pelan. "Ejak marah bun, karena aku selalu mengalah padanya, dia ingin aku mukul dia balik, dia marah karena aku mengalah tentang Livia, dan yah bunda tahu gimana Ejak, dia pendiam, tapi kalau kadung bicara aduh, kecepatannya jadi sulit diukur," sahut Sena kembali tertawa. "Kamu nggak mukul balik adikmu kan Sena, sabuk hitam karate di kamarmu akan mejawab seperti apa jika kamu memukul balik dia," Devi terlihat kawatir. "Bundaaa aku nggak akan setega itu ke Ejak, tadi aku cuman ngunci tangannya aja agar ia tidak terus memukulku," sahut Sena tersenyum lebar, Devi mengambil bungkusan es batu dari tangan Sena dan mengompreskan ke rahang Sena. Livia menatap dari jauh dengan mata berkaca-kaca, Sena tahu jika Livia diam-diam melihat dirinya dan bundanya, namun ia tetap menatap wajah bundanya yang dengan sayang mengompres rahangnya. **** Ponsel tiba-tiba berdering dan mengagetkan Ananta yang sedang asik di ruang kerjanya. Matanya masih tekun menatap layar komputernya, sementara tangannya meraih ponsel. Ia dekatkan ke telinganya.. Ya halooo Ayah Ananta menatap layar ponselnya, tertera nama Sena di sana, seketika dadanya berdegup kencang, Nanta memutuskan untuk menerimanya, ia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara Ada apa Sena Boleh saya memanggil bapak dengan sebutan ayah Tiba-tiba air mata memenuhi mata Ananta, ia meneguk salivanya dengan berat. Ya, tidak apa-apa nak, aku memang ayahmu, maafkan ayah yang selama dua puluh tahun membiarkan kalian tumbuh tanpa ayah Kami tidak menyalahkan ayah, mungkin ini sudah jalan yang harus kami lalui Terima kasih Sena Apakah ayah tidak ingin bertemu bunda Ayah takut Sena, meski ayah sangat ingin Datanglah ke Ubud ayah, Sena yakin bunda juga ingin bertemu ayah Meski misalnya bisa bertemu, ayah yakin, bundamu sudah tidak akan mau ayah kembali padanya Ayah ingin kembali pada bunda kan? Yah, sangat Datanglah ke Ubud ayah, kita rencanakan berdua enaknya gimana Yah, nanti akan ayah hubungi, jika ayah siap bertemu bundamu Terima kasih yah, Sena tutup dulu, jika ayah ingin berbicara apapun, Sena siap mendengarkan. Terima kasih nak Ananta meletakkan ponselnya, menyandarkan badannya ke kursi, memejamkan matanya. Ananta merasa mungkin sudah waktunya ia bertemu Devi, hanya saja ia bingung apa yang akan ia katakan jika bertemu nanti. Sejenak Ananta mengingat Panji sepupunya yang sama seperti Devi, menghilang bagai ditelan bumi sejak peristiwa pengusiran itu, keberadaanya tidak ada yang tahu, seandainya bisa ia ingin mencari Panji. Orang yang telah menolong istrinya saat awal-awal terusir. Kebencian kembali datang pada ibu dan saudaranya, ia tak pernah pulang setelahnya, ia tak pernah tahu bagaimana keadaan ibu dan adiknya, karena sejak peristiwa itu ia menjauh dan hidup sendiri. Ananta merasa mungkin ia anak durhaka tapi kesakitan dan kehilangan istrinya selama bertahun-tahun, belum menggerakkan hatinya untuk melangkah kembali ke rumah yang telah ia tempati bertahun-tahun. **** "Bundaaa..bundaaa...," Sena berteriak memanggil bundanya, namun justru Ejak yang muncul. "Bunda ke toko roti bang, pengen jalan-jalan katanya," jawab Ejak. "Kamu mau ke mana Jak kok sudah rapi gitu?" tanya Sena. "Di suru bunda, suru ke toko roti yang satunya lagi, aku berangkat dulu bang," ujar Ejak melangkah ke luar. "Baaang kalau mau ke luar kunci yaaa, nggak ada orang di rumah," Ejak berteriak dari luar. "Yooo iiiii," Sena menuju kamarnya hendak mengambil tas kecil, akan menyusul bunda ke toko, akan membicarakan ayah mereka, dan sebisa mungkin Sena akan berusaha untuk menyatukan ayah dan bundanya. Saat Sena akan ke luar kamar ia melihat Livia yamg berdiri mematung memandangnya. "Ada apa adik kecil?" Sena berusaha tetap bersikap wajar. "Betul kan, mas Sena mencintai Livi, mengapa harus mengalah pada mas Ejak, segitu nggak berartinya Livi di mata mas hingga dengan mudah berusaha mematikan perasaan mas pada Livi?" Livia terlihat sedih. "Livia, Ejak lebih dulu menyukaimu, sejak awal kamu berada di rumah ini, Ejak sudah menyukaimu diam-diam, satu hal yang perlu kamu tahu bahwa saat ini yang aku pikirkan bagaimana caranya menyatukan ayah dan bunda," ujar Sena tersenyum lembut. "Jadi aku nggak penting buat mas Sena?" tanya Livia lagi. "Dengarkan Livi sayang, cinta Ejak padamu lebih besar dari pada aku, kamu adalah cinta pertama Ejak, sementara aku sudah pernah dengan yang lain sebelumnya, bahkan mungkin berkali-kali, kamu beruntung dicintai laki-laki seperti Ejak, dia tidak mudah jatuh cinta, dia setia menunggumu, bahkan setelah bertahun-tahun, sementara aku, aku sudah berkali-kali jatuh cinta," Sena tersenyum lagi, ia harus berbohong untuk meyakinkan Livia. Sena mengelus rambut Livia, memandang wajahnya yang tetap cantik meski hanya dipoles bedak tipis. "Aku tak peduli meski mas banyak ceweknya, aku mencintai mas Sena, tidak mudah memindahkan cintaku pada mas Sena untuk mas Ejak, tapi jika mas Sena memang tidak akan pernah membalas cintaku aku akan menerimanya, aku akan menghadap bunda nanti, aku akan pergi dari rumah ini, aku akan menempati salah satu kamar di toko roti," ujar Livia pelan. "Jangan Livia, jangan, lebih baik aku yang tidak ke rumah ini, jika aku dan Ejak masih di sini, itu semua karena kami masih libur semester genap, nanti setelah perkuliahan normal lagi,aku tidak akan pernah ke sini," ujar Sena sambil memandangi wajah Livia, mungkin untuk terakhir kalinya ia memandangi sepuasnya. Tiba-tiba Livia memeluk Sena dan menangis sejadinya. Sena diam saja tak membalas pelukan Livia, ia tahan sekuat tenaga untuk tidak membalas pelukan Livia, Sena pejamkan matanya dengan erat. Kau pun cinta pertamaku Livia, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melupakanmu, cintai Ejak jangan aku.. Devi menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca dari depan kamarnya, ia bersembunyi di balik pintu saat tiba-tiba ia harus kembali karena ponselnya tertinggal, ia tahu seberapa besar keinginan Sena untuk memeluk Livia, tapi tidak ia lakukan, Devi merasakan kesakitan anak sulungnya, ada rasa bangga di hatinya, melihat kedua anaknya yang saling menghormati dan saling mengalah dalam masalah ini meski salah satunya harus berkorban. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD