Sena melangkah lebar setelah ia lepaskan pelukan Livia dan mengusap kepalanya, ia menuju pintu depan dan kaget saat melihat pintu kamar bundanya agak terbuka, Sena menghembuskan napas perlahan saat bayangan bundanya mulai terlihat. Sena dorong perlahan pintunya dan melihat mata bundanya yang terlihat sedih lalu kedua tangannya yang perlahan dibuka semakin lebar.
Sena melabuhkan tubuhnya di tubuh mungil bundanya, ia peluk erat bundanya, selalu begini saat jiwanya lelah, hanya pelukan hangat bunda yang dapat menenangkan Sena.
"Aku tahu sakit di dadamu seperti apa anakku, menangislah jika ingin," sahut Devi perlahan. Sena hanya berusaha menormalkan napasnya, ia mengatupkan rahangnya dengan kuat dan perlahan melepas pelukannya.
Tersenyum menatap bundanya yang masih terlihat kawatir.
"Kamu yakin bisa Sena?" tanya Devi dan Sena mengangguk mantap.
"Harus bunda, ada yang lebih penting, bisa kita duduk bunda, bunda mau balik ke toko roti?" tanya Sena.
"Iya, tapi nggak papa, ada apa?" tanya Devi sambil duduk di kasurnya.
"Jika ayah ke sini, menemui bunda, bunda mau menemui ayah kan?" tanya Sena dan Devi menatap mata anaknya yang sangat berharap ia menjawab iya.
"Apa harus secepat ini Sena?" Devi balik bertanya.
"Bundaaa, apanya yang secepat ini, dua puluh tahun bunda terpisah," ujar Sena memegang tangan bundanya.
Devi diam dan menunduk menatap ponselnya.
"Mau ya bunda, kasihan ayah, dia sendiri bunda, paling nggak ketemu dulu, kalau bunda nggak siap, nggak harus bunda cepat-cepat balik sama ayah," ujar Sena.
"Bunda malah nggak berpikir balik sama ayah Sena, bunda ngeri mengingat masa lalu, siksa batin, cemoohan adik ayahmu dan juga maaf...nenekmu, bunda takut Sena, bunda nggak mau itu berulang," mata Devi memerah ada kengerian di dalamnya. Sena mendekat dan memeluk bahu bundanya.
"Kan tadi Sena bilang, ketemu ayah dulu, kalau bunda nggak siap, nggak usah berpikir yang lain," Sena merasa seperti membujuk anak kecil dan menenangkannya, ia dapat merasakan ketakutan bundanya, ia dapat membayangkan siksa batin bundanya dulu.
Devi menoleh menatap wajah anaknya dan mengangguk perlahan.
Sena terlihat bahagia dan memeluk bundanya dengan erat.
"Makasih bunda, makasih," Sena melepas pelukannya.
"Bunda masih ingin ke toko?" tanya Sena dan Devi mengangguk.
"Sena antar," mereka berjalan beriringan berdua menuju pintu depan.
****
Makan malam yang biasanya selalu ada celoteh Sena dan Livia mendadak sunyi, Devi merasakan kecanggungan Livia, sementara Ejak lebih banyak menunduk.
"Kok pada nggak ngomong sih, jadi sepi," Devi berusaha menetralkan suasana.
"Sakit gigi semua kali bunda," sahut Sena sambil tertawa, Ejak hanya tersenyum melihat Sena sekilas.
"Bunda, boleh nggak kalau saya tinggal di toko roti, kebetulan ada kamar kosong di sana?" tanya Livia yang mengagetkan Ejak dan Devi, Sena terlihat biasa saja karena itu pernah diucapkan Livi padanya.
"Kamu mau meninggalkan bunda sendiri, Ejak sama Sena di sini hanya karena mereka libur semester, bentar lagi mereka juga beberapa hari balik ke Denpasar untuk bayar UKT dan menemui DPAnya untuk ngurus KRS, ada apa kok tiba-tiba mau tinggal di sana, apa ada sikap bunda yang nyakitin kamu anakku?" tanya Devi sambil menatap Livia yang terlihat murung.
"Tinggallah di sini Livia, kasihan bunda, beberapa hari lagi kami akan balik ke Denpasar untuk Ngurus UKT dan KRS, mungkin hanya Ejak yang kembali, aku diminta teman untuk membantu di cafenya, rumah ini akan semakin sepi kalau kamu tinggal di toko roti, kamu nggak kasihan bunda?" tanya Sena dan Livia menatap wajah Sena yang selalu ingin ia sentuh namun tak bisa, Sena segera menunduk mengalihkan pada makanannya dan menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Tetap di sini ya sayang, kampusmu lebih dekat dari rumah dari pada, dari toko roti," ujar Devi.
Akhirnya Livia mengangguk perlahan.
"Jika ada hal yang terasa tak enak di hatimu, nggak papa utarakan, atau kamu cerita ke bunda, kamu sudah seperti anak bagi bunda Livi, jangan kamu pendam sendiri," ujar Devi menatap iba, wajah yang selalu terlihat murung akhir-akhir ini.
"Tapi kalau hanya beberapa hari nginap di toko roti nggak papa kan bunda, dua atau tiga harilah, udah gitu Livia akan balik," ujar Livia lagi.
"Boleh, nggak papa," jawab Devi akhirnya dan Sena menatap wajah bundanya dengan wajah tampak tak setuju.
****
Malam semakin larut saat Livia masih saja duduk di taman samping, Ejak mendekat dan duduk di samping Livia.
"Maafkan aku jika membuat kamu tak nyaman," ujar Ejak pelan.
"Nggak papa mas, Livia aja kali yang perasaannya jadi gak jelas gini," sahut Livia sambil menunduk.
"Maafkan aku yang sudah berani menyukaimu, sejak awal kamu masuk ke keluargaku aku merasa..yah begitulah, aku nggak berani mengartikan itu suka sampai akhirnya aku juga baru tahu jika abangku pun suka padamu, dan ternyata hatimu lebih memilih abang,nggak papa Livia, aku bisa menerima, tapi jangan karena masalah ini kamu jadi pengen ninggalin bunda, bikin aku makin bersalah sama kamu, aku akan berusaha untuk mengalihkan perasaan ini pada yang lain, pada kegiatanku, pada perkuliahanku, aku akan mengejar nilai terbaik, akan aku persembahkan untuk bunda dan setelahnya akan meninggalkan bunda untuk melanjutkan strata dua di tempat ayah tinggal, jadi kamu bisa merasa aman, nggak ada yang gangguin lagi," ujar Ejak mengakhiri pembicaraannya.
"Mas Ejak nggak ganggu kok, aku yang merasa nggak enak, sudah mengacaukan kalian, aku yang menyebabkan kalian jadi begini, aku hanya merasa jadi orang nggak tahu diri, sudah di asuh, dibiayai malah bikin kacau," suara Livia mendadak parau.
Ejak menyentuh tangan Livia.
"Nggak Livi, nggak ada yang kacau antara aku sama abang, kami hanya saling menjaga perasaan agar kami tetap kuat menjadi saudara," sahut Ejak sambil menatap wajah Livia yang mulai menangis.
"Aku hanya merasa aneh aja diantara kalian mas, aku jadi sungkan sama bunda, makanya lebih baik aku yang menjauh, aku yang bikin gara-gara," sahut Livia lagi.
"Nggak, nggak Livi, kamu jangan ninggalin bunda, biar kami yang memilih menjauh dari kamu," ujar Ejak lagi, dan Livia menoleh menatap wajah Ejak yang selalu terlihat berekspresi datar.
"Mas, mas Ejak jangan bilang gitu, aku semakin merasa bersalah, mas Ejak orang yang sangat sabar, siapapun kelak yang jadi pendamping mas pasti akan sangat nyaman, cuman aku, aku sejak awal memang nggak bisa akrab sama mas karena pendiam dan jarang ngajakin aku ngomong, makanya saat tahu mas Ejak suka sama aku, aku kaget banget," ujar Livia menatap Ejak yang berusaha tersenyum.
"Maafkan aku, yang sudah berani mencintai kamu, bukan cuma suka, kamu cinta pertamaku Livia, maafkan aku," ujar Ejak pelan.
Malam semakin merambat naik saat dari arah jendela kamar, Sena melihat keduanya, ia tersenyum dan berharap ada pembicaraan yang lebih baik dari keduanya, Sena sadar adiknya sangat pemalu jika berhadapan dengan wanita, berani berbicara berdua dengan Livia adalah pemandangan yang sangat jarang ia temui.
Sena kaget saat pintu kamar terbuka dan muncul wajah bundanya.
Sena tersenyum dan menunjuk ke arah Ejak serta Livia yang duduk berdua di taman, Devi menggangguk dan menyentuh bahu Sena.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Devi.
"Ya iyalah bun, lihat Ejak berani kayak gitu wah sebuah prestasi deh kayaknya," Sena menahan tawanya agar tak sampai terdengar keduanya.
"Sebenarnya di kampusnya dia juga ada yang nyukai bun, adik kelasnya, tapi kayaknya tuh anak ngeri lihat Ejak yang jalannya selalu lurus nggak nolah noleh," ujar Sena lagi, Devi tetap memandang wajah Sena.
"Bundaaa, aku nggak papa, beneran, bunda kan tahu, siapa saja yang ngejar aku, aku ntar mikir akan nerima salah satu dari mereka aja ya bun?" tanya Sena dengan wajah jenaka, Devi tetap tak bisa tersenyum karena ia tahu seberapa besar Sena berusaha menahan sakit di dadanya.
****
Keesokan harinya setelah sholat subuh, Sena dikejutkan dengan suara telpon, ia raih ponselnya dan kaget melihat nama ayahnya tertera di sana.
Ayaaah
Ayah sudah di Ubud, Sena
****