Bab 13 - First Kiss

1013 Words
"Itulah kenyataannya, Tuan. Saya hanya menjawab sejujurnya, terlepas anda mau mempercayainya atau tidak." Zevanya tidak sepenuhnya jujur. Kenapa wanita itu beralasan tersandung karpet alih-alih kaki Nada? Ya, Reynard tahu penyebab sebenarnya Zevanya kehilangan keseimbangan, bukan karena wanita itu ceroboh, tapi karena kaki Nada yang sengaja menjegal kaki Zevanya, dan Reynard pun memanfaatkan insiden tadi untuk mengusir Nada beserta mama Lila, namun tetap menyalahkan Zevanya atas luka bakar yang ia terima itu. Reynard akan memanfaatkan kesalahan Zevanya itu untuk menghukumnya, sekaligus memancing ingatan Zevanya pada kejahatannya enam tahun yang lalu. Perlahan, Reynard melepaskan jasnya, lalu menyusul rompinya, dan terakhir kemejanya. Matanya terus tertuju pada Zevanya yang langsung memalingkan wajahnya sejak Reynard menanggalkan jasnya. Niat Reynard untuk menghukum Zevanya semakin kuat karenanya, "Kau lihat ini? Mau disengaja atau pun tidak, kau telah menyebabkan luka ini padaku!" Zevanya masih memalingkan wajahnya dari Reynard. Sepertinya wanita itu terbiasa mengabaikan masalah yang telah dia perbuat. Atau terlalu takut untuk menghadapinya? "Lihat! Kau terlalu takut melihat hasil kejahatanmu ini?" Sengaja Reynard mengutarakan pertanyaan ambigu itu untuk memancing ingatan Zevanya pada kejahatannya yang lalu. Atau setidaknya memancing perasaan bersalah Zevanyan padanya, karena telah menyebabkan luka bakar di perut bawah Reynard. Saat itu Reynard memang mendapatkan perhatian Zevanya kembali. Wajah Zevanya terlihat sepucat mayat saat melihat lukanya, wanita itu mundur beberapa langkah ke belakangnya dengan kedua mata yang membola dan napas tercekat, jelas sekali saat itu ketakutan tengah menguasai Zevanya. Entah karena luka yang Reynard dapatkan karena kecerobohannya, atau karena melihat bagian atas tubuh Reynard yang terbuka? "Takut? Ini bukan pertama kalinya kau melihat tubuh lawan jenismu, kan?" pancing Reynard. Zevanya masih terlihat syok, dan Reynard semakin tergoda untuk membuat ketakutan wanita itu bertambah besar lagi padanya. Reynard terus maju, bersamaan dengan Zevanya yang melangkah mundur, "Argh!" pekik wanita itu saat punggungnya menyentuh rak buku di belakangnya. Reynard memanfaatkan posisi wanita itu untuk mengungkungnya dengan kedua tangannya, hingga tidak ada space lagi untuk Zevanya menghindarinya, "Kenapa terus menghindar? Apa yang kau takutkan?" tanya Reynard. Ia mendapatkan kesenangan tersendiri saat mengendus aroma ketakutan Zevanya. Semakin wanita itu takut, Reynard akan semakin semangat menyiksanya. Zevanya nampak menelan salivanya sebelum menjawab, "Sa ... Saya tidak menghindar, Tuan." "Lalu kenapa berusaha menjauh dari saya? Kau tidak mau bertanggung-jawab pada luka yang kau tinggalkan di tubuhku ini?" Reynard terus memancing Zevanya, ia sungguh berharap Zevanya segera mengingatnya, agar pembalasan dendam Reynard berjalan dengan lancar. Ia ingin melihat seperti apa reaksi Zevanya saat wanita itu telah mengingat dosanya. "Biar saya oleskan lukanya dengan gel untuk luka bakar." "Gel untuk luka bakar? Kau membawanya?" "Sa ... Saya bisa membelinya di apotik terdekat, Tuan." "Tidak perlu. Saat ini Marco pasti sedang membelinya." "Kalau begitu, sambil menunggu Pak Marco datang, biar saya bantu kompres lukanya dengan air dingin." Selama percakapan mereka, tidak sekalipun mata Zevanya fokus pada mata Reynard, sampai akhirnya jemari Reynard menekan dagu Zevanya untuk mengarahkan wajah Zevanya padanya, hingga mata mereka saling terkunci, "Tataplah mata seseorang saat kau bicara dengannya, jangan berpaling darinya kecuali kau memiliki kesalahan padanya." Saat itu juga Reynard melihat sorot mata Zevanya yang panik, wanita itu tidak berani berlama-lama menatap mata Reynard, selalu saja mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, seolah takut Reynard dapat membaca jiwanya kalau mata mereka terlalu lama terkunci. "To ... Tolong lepaskan saya," pinta Zevanya. Ia baru akan menyelinap ke bawah lengan Reynard, namun Reynard dapat menahannya dan semakin mendesaknya ke rak buku, wanita itu semakin terlihat ketakutan. "Kau seperti gadis perawan saja yang belum tersentuh pria sama sekali! Tidak pernah ada kah pria lain menyudutkanmu seperti ini saat akan mencuri ciuman darimu?" sindir Reynard dengan ketus. Ia tahu betul kalau Zevanya tidak suci lagi, karena Reynard lah yang telah mendapatkan kesuciannya itu. Tapi wanita itu malah bersikap seolah tidak pernah tersentuh, bagaimana Reynard tidak semakin muak karenanya. Perlahan tapi pasti, Reynard akan membuka kedok Zevanya. Wanita jahat yang menyembunyikan kejahatannya itu di balik wajah polosnya. "Tuan, biarkan saya mengambil air dingin untuk mengompres luka anda," elak Zevanya, jelas terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan Reynard barusan. "Berapa usiamu sekarang?" "Dua puluh lima tahun, Tuan. Tertera jelas di curriculum vitae saya." Reynard mengumpat pelan, dua puluh lima tahun? Itu berarti Zevanya masih berusia delapan belas tahun saat memperkosa Reynard tujuh tahun lalu? Reynard tidak terlalu fokus pada tanggal lahir Zevanya saat melihat curriculum vitaenya. Hanya wajah wanita itu saja yang menjadi perhatiannya, wajah yang tidak pernah bisa Reynard lupakan karena selalu menghantui mimpi-mimpinya di setiap malamnya. yang terkadang membuat Reynard terbangun karena hasrat liarnya yang butuh penyaluran. Ya, bahkan di dalam mimpi Reynard, Zevanya masih bisa melecehkannya, yang terkadang membuat Reynard terbangun dengan napas memburu karena hasrat liarnya yang butuh penyaluran. Dan sekarang, Zevanyan telah berada di depannya. Setengah mati Reynard harus menahan dirinya untuk tidak menarik wanita itu ke sofa terdekat untuk bercinta dengannya, untuk menyalurkan hasratnya yang hanya bisa dibangkitkan oleh wanita itu. Reynard selalu menyiksa wanita itu dengan pekerjaan yang sangat memberatkannya, hanya untuk mengalihkan hasrat Reynard padanya. Wanita itu telah mengenalkan kenikmatan dunia pada Reynard, memaksakan kenikmatan itu padanya lebih tepatnya. Lalu menghilang begitu saja selama tujuh tahun. Mungkin saja Reynard belum berhasil menemukannya, kalau ia tidak melihat foto Zevanya di rumah Nada saat ia berkunjung. Dari sana lah penyelidikan tentang Zevanya dimulai, dan akhirnya menemukan keberadaannya. Napas Zevanya tercekat saat tanpa sadar ibu jari Reynard mengusap bibirnya, yang langsung mengalihkan perhatian Reynard dari mata Zevanya turun ke bibir ranumnya itu. Tujuh tahun lalu, mereka hanya bercinta tanpa sekalipun menyatukan bibir mereka. Dan sekarang, keinginan itu begitu besar di dalam diri Reynard, hingga tanpa bisa dicegah lagi, bibirnya sudah mendarat di bibir Zevanya, sontak saja wanita itu mendorong Reynard dengan sekuat tenaganya, "Kenapa anda mencium saya?" tanya Zevanya sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Saat itulah Reynard baru tersadar dari kebodohannya, sekarang ia malah memberikan ciuman pertamanya pada Zevanya, wanita yang sangat ia benci itu. Perlahan Reynard pun bergerak menjauh dari Zevanya, "Siapa yang menciummu? Saya hanya mentransfer sedikit otak saya supaya kau tidak ceroboh lagi! Sekarang cepat kompres luka saya dengan air dingin!" jawab Reynard datar dan tanpa ekspresi. 'Mentransfer otak, yang benar saja? Apa aku sudah tertular kebodohan wanita sialan itu?' sungut Reynard dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD