Bab 12 - Kulit Terbuka Reynard

1022 Words
Zevanya duduk menatap makan siangnya dengan tatapan kosong di lantai. Ia tidak menyentuh makanan itu sama sekali, bukan karena ia tidak lapar, tapi karena tangannya terlalu sakit untuk digerakkan. Setelah nyaris dua jam jongkok saat membersihkan seluruh lantai ruang kerja Reynard dengan sikat gigi, seluruh tubuh Zevanya menjadi luar biasa sakit, terutama kedua pahanya. Rasa nyerinya semakin menusuk tiap kali Zevanya melangkah. Sementara saat Zevanya duduk, punggungnya yang berdenyut nyeri. Ia butuh merebahkan dirinya untuk membuat otot-ototnya kembali rileks, namun bahkan mencari tempat duduk untuk makan di pantry saja tidak ada, apalagi sofa empuk untuk berbaring. Tidak mungkin ia berbaring di ruang kerja Reynard kan? Alhasil Zevanya hanya duduk bersila di lantai, hingga membuat punggungnya terasa semakin panas. 'Ada analgesik di tasmu, aku memasukkannya saat kamu tidur semalam. Minum saja kalau kamu tiba-tiba pusing atau kelelahan seperti kemarin.' Ucapan Dira pagi tadi terngiang di telinga Zevanya. Ia harus menahan rasa nyeri yang menusuk ketika menggerakkan tangannya saat merogoh tasnya untuk mencari obat itu, ia sangat membutuhkannya dan langsung meminumnya setelah menemukannya. Sambil menunggu analgesik itu bekerja, perlahan Zevanya merebahkan tubuhnya di lantai sambil meringis menahan denyutan nyeri di punggung dan juga pahanya. Ia mendesah lega saat tubuhnya telah sepenuhnya menyatu dengan lantai, sebelum akhirnya memejamkan matanya. Zevanya tertidur. Ya, ia tertidur di pantry sampai akhirnya Marco mengguncang bahunya saat membangunkannya. Saat Zevanya membuka kedua matanya, ia melihat Marco yang setengah menunduk di atasnya, sontak saja Zevanya langsung merangkak berdiri, "Ma ... Maafkan saya, Pak!" "Kau belum makan?" tanya Marco saat melihat makan siang Zevanya masih utuh. "Belum, Pak." "Makanlah dulu, setelah itu bawakan dua cangkir teh ke ruang kerja Tuan Reynard!" "Baik, Pak." Zevanya menatap punggung Marco ketika pria itu melenggang pergi, dan baru bisa bernapas lega saat Marco menghilang di balik pintu pantry. Baik Marco maupun Reynard, kehadiran keduanya sama-sama membuat Zevanya gugup. Meski Marco sedikit lebih baik dari Tuannya itu. Rupanya analgesik itu benar-benar bekerja, karena rasa nyeri dan pegal di sekujur tubuhnya lumayan berkurang. Dan Zevanya dapat menggerakkan tangannya tanpa meringis lagi. Ia memanfaatkan itu untuk menghabiskan makan siangnya sebelum melakukan perintah Marco, membawa dua cangkir teh hangat ke ruangan Reynard. Dua orang bodyguard berdiri di depan pintu ruang kerja Reynard. Zevanya mengenali mereka sebagai kaki tangan Reynard, sekaligus mata-mata yang mengawasi Zevanya saat Reynard dan Marco sedang di luar kantor. Mereka akan memastikan Zevanya melakukan perintah Reynard dengan baik. Salah satu bodyguard berwajah datar itu membukakan pintu untuk Zevanya, mungkin karena kedua tangan Zevanya sibuk memegang cangir yang berbeda. "Tuan Nicolai meminta saya memastikannya padamu perihal hari baik untuk pertunganmu dengan putri saya." Terdengar suara yang begitu familiar di telinga Zevanya saat ia memasuki ruang kerja Reynard. Matanya seketika tertuju pada pemilik suara itu, yang tak lain adalah mama tirinya, Lila. Zevanya mengumpat pelan, kenapa ia harus bertemu dengan mama tirinya itu di sini. Dan tidak hanya mama Lila, tapi juga ada Nada bersamanya. Wanita itu duduk bersebelahan dengan mama Lila di sofa panjang. Sementara Reynard duduk di sofa single di ujung meja. Setelah menguatkan dirinya, Zevanya mendekati mereka. Karena Reynard tidak menyukai teh dalam bentuk apapun, maka pastinya teh itu untuk Nada dan mama Lila. Zevanya sudah meletakkan cangkir teh Nada di depan adik tirinya itu, ia baru akan meletakkan cangkir teh mama Lila ketika kakinya tersandung kaki Nada hingga Zevanya kehilangan keseimbangannya, dan membuat teh panas itu tumpah ke meja, lalu mengalir hingga mengenai Reynard. Sontak saja pria itu langsung berdiri sambil mengibas jasnya, "Ceroboh sekali kau!" umpat Reynard sambil memberikan tatapan tajamnya pada Zevanya. "Ma ... Maafkan saya, Tuan. Saya ... " Ucapan Zevanya terhenti saat bahu Nada menyenggol bahunya dengan kencang ketika wanita itu menghambur cepat ke arah Reynard, "Ya Tuhan, Rey! Kamu tidak apa-apa? Kulitmu melepuh tidak?" tanyanya dengan khawatir sambil membantu Reynard mengibas jasnya yang basah dengan tangannya. Nada baru akan menarik keluar kemeja Reynard untuk melihat kulitnya, tapi pria itu menahan tangannya, "Pergilah!" perintahnya. Suara Reynard yang terdengar jauh lebih dingin membuat tubuh Zevanya begidik ngeri, padahal ucapan itu tidak ditujukan padanya, melainkan pada Nada. "Tapi Rey, kamu sedang terluka. Biar aku mengobati luka kamu lebih dulu." "Marco! Minta Horn dan Black mengantar mereka pulang!" "Rey, apa yang harus Tante katakan pada Kakekmu kalau beliau bertanya perihal pertunanganmu dengan Nada?" tanya mama Lila. "Tidak ada pertunangan dalam waktu dekat! Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan! Saya tidak akan membuang waktu saya untuk hal konyol seperti itu!" tegas Reynard. "Tapi ... " "Bawa mereka keluar!"' Reynard mulai terdengar tidak sabar. Horn dan Black yang sudah memasuki ruangan pun mulai menggiring mama Lila dan Nada keluar tanpa banyak protes lagi, setelah kedua wanita itu lebih dulu memberikan tatapan mengancamnya pada Zevanya. Sepertinya mereka sudah tahu, kalau Reynard tidak suka dibantah. Zevanya pun mulai melangkah keluar ruangan, tapi suara dingin Reynard menghentikan langkahnya, "Kau! Diam di tempatmu!" Seketika itu juga kedua kaki Zevanya seolah terpaku di lantai. Ia tidak berani bergerak sama sekali, punggungnya seketika menegang saat langkah kaki Reynard mulai terdengar mendekatinya. Pria itu langsung membalik tubuh Zevanya menghadapnya, "Kau menyimpan dendam pada saya?" "De ... Dendam apa, Tuan?" "Teh itu. Kau sengaja menumpahkannya kan?" "Demi Tuhan tidak, Tuan. Tadi kaki saya tersandung ... Karpet." Zevanya tidak mau mengatakan yang sebenarnya, kalau Nada lah yang sengaja menyengkatnya. Ia takut hal itu malah akan memancing pertanyaan Reynard mengenai hubungan Zevanya dengan Nada. "Apa saya harus mempercayainya?" "Itulah kenyataannya, Tuan. Saya hanya menjawab sejujurnya, terlepas anda mau mempercayainya atau tidak." Zevanya memalingkan wajahnya saat Reynard melepas jas hitamnya, membuka kancing rompinya lalu menarik lepas kemejanya untuk memperlihatkan kulitnya yang terbakar, "Kau lihat ini? Mau disengaja atau pun tidak, kau telah menyebabkan luka ini padaku!" desis Reynard dari sela giginya. Zevanya tidak berani melihatnya, ia masih memalingkan wajahnya ke arah lain, yang membuat amarah Reynard semakin memuncak lagi, "Lihat! Kau terlalu takut melihat hasil kejahatanmu ini?" Zevanya yang tidak dapat menangkap makna ambigu dari pertanyaan Reynard perlahan mulai menoleh ke pria itu, lalu turun ke bagian perutnya, refleks ia melangkah mundur saat tiba-tiba jantungnya mulai berdetak cepat dan napasnya terasa sesak. Selalu seperti itu setiap kali ia melihat tubuh terbuka pria, ketakutan seketika mencekamnya. "Takut? Ini bukan pertama kalinya kau melihat tubuh lawan jenismu, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD