Dengan secangkir kopi Reynard di tangan kanannya, Zevanya mengetuk pintu ruang kerja Reynard dengan tangan kirinya. Ia telah mempersiapkan dirinya atas pertanyaan Reynard tentang alasannya mengundurkan diri dari Star Group.
Itu pun kalau bagian HRD memang memberitahu Reynard perihal niat pengunduran dirinya barusan. Karena tadi Zevanya memohon pada Nila agar tidak memberitahunya pada Reynard maupun Marco. Ia tidak mau mendapatkan banyak pertanyaan karenanya.
Setelah berkali-kali mengetuk, pintu itu akhirnya mengayun terbuka dengan Marco yang berdiri menjulang di depan Zevanya, pria itu melipat kedua tangannya di depan dadanya. Jantung Zevanya pun berdegup kencang, mungkinkah pada akhirnya Nila memberitahu Marcodan Reynard?
Seketika otak Zevanya menjadi beku. Jawaban yang telah ia persiapkan pada apapun pertanyaan yang diajukan Reynard mengenai pengunduran dirinya nanti menghilang begitu saja. Ia seperti anak playgroup yang tidak tahu harus melakukan apa di hari pertamanya sekolah.
"Kenapa kemarin tidak kembali ke kantor?" tanya Marco. Pria itu malah bertanya masalah yang lain. Diam-diam Zevanya menarik napas lega.
"Ke ... Kemarin saya sakit, Pak," jawab Zevanya.
Ia memang sakit, tapi jawaban sebenarnya atas pertanyaan Marco itu adalah Zevanya yang sudah bertekad untuk mengundurkan diri keesokan harinya. Meski akhirnya realitanya tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya. Ia tetap bekerja di Star Group, untuk selamanya.
"Masuk!"
Mematuhi perintah Marco, Zevanya melangkah masuk, Reynard sedang berdiri di dekat kaca dengan telapak tangan kanannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Siluet tubuhnya saja sudah dapat memanjakan mata. Bohong kalau Zevanya tidak mengagumi CEO dinginnya itu, meski hanya sedikit.
"I ... Ini kopinya, Tuan."
Zevanya meletakkan kopi Reynard di atas meja kerjanya. Memang sudah terlambat untuk Reynard meminum kopi paginya, tapi jika Zevanya datang tanpa membawa kopi itu, ia pasti akan semakin disalahkan lagi nantinya.
"Apa kau tahu saya tidak pernah memberikan kesempatan kedua pada siapapun?" tanya Reynard tanpa menoleh sedikitpun padanya.
"Saya tidak tahu, Tuan," jawab Zevanya sejujurnya.
"Karena sekarang kau sudah tahu, pastikan kau tidak mengulangi kesalahan yang sama! Karena untuk yang selanjutnya, saya tidak akan mentolelirnya lagi!" tegas Reynard.
Zevanya tidak tahu apa lebih tepatnya kesalahan yang Reynard maksud. Masalah kemarin ia tidak kembali ke kantor? Atau masalah pengunduran dirinya tadi?
Namun mau apapun itu, Zevanya tetap menjawab, "Baik, Tuan. Saya akan selalu mengingatnya."
Saat Reynard balik badan, matanya menatap langsung ke mata Zevanya, lalu berkata dengan nada dingin,
"Saya tidak yakin kau akan mengingatnya dengan jelas!"
Untuk alasan yang tidak Zevanya ketahui, dirinya seketika dicekam ketakutan. Sorot mata Reynard seolah mengingatkannya pada sesuatu, namun ia tidak tahu apa tepatnya.
Sekali lagi, instingnya memerintah Zevanya untuk menghindari pria itu sejauh mungkin. Namun logikanya berkata ada kontrak kerja yang harus Zevanya patuhi.
"Sa ... Saya akan pastikan kalau saya akan selalu mengingatnya, Tuan," ulang Zevanya berusaha meyakinkan Reynard. Ia harus melakukan itu, atau Reynard akan tetap mencecarnya hingga pria itu mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Tatapan Reynard semakin menusuk saat pria itu perlahan mendekati Zevanya, sontak saja secara alami Zevanya melangkah mundur dari pria yang sangat mendominasinya itu untuk melindungi dirinya sendiri.
Reynard seperti binatang buas yang tengah mengincar mangsanya. Dan sebagai yang terlemah, reaski Zevanya terus mundur menjauhinya, namun dengan tangannya yang berkuasa, Reynard mengisyaratkan supaya Zevanya tetap diam di tempatnya, hingga pria itu berdiri menjulang di depannya, menyisakan jarak satu jengkal saja di antara mereka.
Napas Zevanya terasa sesak karena kedekatan mereka, seolah Reynard telah menyedot habis oksigen di sekitar mereka.
"Saya pernah bertanya padamu, kesalahan terbesar apa yang pernah kau buat pada orang lain? Dan saya tahu, bukan jawaban jujur yang kau berikan pada saya saat itu, ya kan?"
Memang bukan jawaban yang jujur, tapi sudah mendekati kejujuran. Zevanya bukan hanya harus melindungi dirinya sendiri, tapi juga putranya, Abercio.
Jika terjadi hal yang buruk padanya, siapa yang akan menjaga Abercio? Tidak mungkin Dira bisa menjaganya sepanjang waktu, mengingat sahabatnya itu juga memiliki kesibukannya sendiri.
Belum lagi sanksi sosial yang akan Abercio terima dari teman sekolahnya, atau dari lingkungan tempat tinggalnya.
"Jawab saya!"
Zevanya tersentak saat suara Reynard yang menggelegar itu menyadarkannya dari lamunannya. Sorot tajam pria itu kini berubah menjadi sorot membunuh. Seolah hanya dengan tatapan matanya itu saja Reynard dapat mengirim Zevanya ke alam lain.
"Saya tidak berbohong, Tuan."
Reynard menutup jarak di antara mereka hingga Zevanya dapat merasakan panas tubuh Reynard yang menempel padanya, juga hembusan napas kesal pria itu. Sontak saja Zevanya mundur beberapa langkah ke belakangnya, rasanya ada yang aneh dengan kedekatan mereka barusan. Seperti mimpi buruk yang selalu mendatangi Zevanya di setiap malamnya.
"Kenapa menghindar?" tanya Reynard dengan suara yang sangat dingin. Jari telunjuknya memberi perintah pada Zevanya untuk mendekatinya, namun Zevanya menolak dengan menggeleng pelan.
Zevanya mencari keberadaan Marco untuk meminta bantuannya. Tapi ternyata ia hanya berdua saja dengan Reynard di dalam ruangan itu. Zevanya semakin ketakutan karenanya.
Reynard tidak mungkin berniat buruk padanya, kan?
Bermacam pikiran negatif terus berputar di benak Zevanya. Membuat ketakutannya semakin menjadi-jadi.
"Satu!" seruan Reynard mengalihkan perhatian Zevanya pada pria itu. Sorot matanya benar-benar membuat bulu kuduk Zevanya berdiri, apa pria itu tengah kerasukan arwah Vale?
"Dua!"
Melihat wajah tampan Reynard begitu menyeramkan, dengan sedikit gemetar Zevanya melangkah maju. Ia memekik pelan saat tiba-tiba tangan Reynard melingkari pinggulnya dan menariknya merapat pada pria itu,
"A ... Apa yang anda lakukan, Tuan!" pekik Zevanya sambil memberontak di dalam dekapan Reynard.
"Kau tidak merasa Deja Vu?" tanya Reynard masih dengan nada dinginnya, sedingin sorot matanya pada Zevanya.
"Tuan, tolong lepaskan saya. Ini tidak pantas," pinta Zevanya masih terus berusaha melepaskan diri dari Reynard. Namun Reynard malah semakin mengeratkan lengannya di pinggul Zevanya, sudut bibirnya membentuk senyum sinis,
"Wanita sepertimu tahu juga mana yang pantas dan mana yang tidak rupanya ya!"
"Tu ... Tuan, saya tidak mengerti yang Tuan maksud barusan. Tolong lepaskan saya, Arrghht!" Zevanya menjerit kesakitan saat Reynard melepaskannya begitu saja, hingga Zevanya jatuh ke belakangnya dengan bokongnya yang mendarat di lantai lebih dulu.
Alih-alih membantu Zevanya berdiri, Reynard malah mengeluarkan perintahnya,
"Bersihkan seluruh lantai di ruangan ini!"
"Baik, Tuan."
"Dengan sikat gigi!" lanjut Reynard.
"Si ... Sikat gigi?"
"Kau tidak tuli kan?"
"Ta ... Tapi ... "
"Lakukan sesuai perintah saya, kau tahu betul saya paling tidak suka dibantah!" potong Reynard tajam.
Membersihkan ruangan sebesar itu dengan menggunakan sikat gigi? Butuh berjam-jam pastinya untuk menyelesaikan tugas aneh Reynard itu. Namun apa daya Zevanya tidak dapat membantahnya, ia hanya dapat menerimanya dengan pasrah.
"Dalam dua jam harus sudah selesai!" tegas Reynard sebelum melangkah keluar ruangan.
Dua jam? Apa pria itu sudah gila? Dengan kain pel dalam waktu kurang dari dua jam juga Zevanya dapat melakukannya. Tapi dengan sikat gigi?
'Tuhan ... Ada dendam apa sebenarnya Reynard padaku hingga menyiksa aku sedemikian rupa? Apa pria itu sengaja ingin membuatku mati pelan-pelan?'